Dhandhanggula DHARMA Leiden DHARMA_CritEdKidungSurajaya.xml

This work is licenced under the Creative Commons Attribution 4.0 Unported Licence. To view a copy of the licence, visit https://creativecommons.org/licenses/by/4.0/ or send a letter to Creative Commons, 444 Castro Street, Suite 900, Mountain View, California, 94041, USA.

2015

Encoded in TEI according to the Conventions of Project DHARMA

Converting the edition into XML

Dhandhanggula Om. Semoga tiada halangan.

Maafkanlah! Saya (hendak) menggubah menampilkan hakikat cinta. Ujudnya kata-kata yang ingin dicapai oleh orang bodoh yang tidak tahu pada perbuatannya, hasrat turut merangkai keindahan. Janganlah tidak dimaafkan oleh orang yang sudah mahir. Berlagak bagai penyair berusaha memperoleh keindahan. Berlagak hendak menyatakan, meniru munculnya hal rahasia peninggalan dari dia yang sudah sempurna.

ø Mengikuti bentuk si indah, Dhandhanggula bunyi tembangnya. Pupuhnya mencontoh saja karena tidak mengetahui cara untuk mendapatkan keleluasaan tembang untuk mengalihkan perhatian atas berkelananya pikiran. Hasratnya besar pada keindahan, yang muncul dari hati yang disusun. Hancur, lenyap pikiran pun menerawang, diputus selalu oleh yang rahasia yang mengalihkan perhatian indriya.

ø Berlagak mengerti mengikuti suara hati kecil, tetapi pikiran sangat sedih. Kini sangatlah (...?), tambahan lagi ada pertanda merindu. Kurang (melakukan) yoga, terlalu sembrana untuk dimuati pada olah kesaktian, samadi bisa menimbulkan salah pengertian. Khayalan cinta kasih tetap tidak goyah, memenuhi dengan rayuanrayuan cinta, tujuannya untuk bercerita.

ø Demikianlah akhirnya hal ihwal menggubah cerita. Dia yang menemukan kebahagiaan dalam memelihara kebangsawanan di Wilatikta tempatnya. Sang Raja yang berkuasa berhasil melakukan berdana yang berharga bermurah hati penuh kasih, memegang teguh kesusilaan, nyata-nyata berbudi halus. Sira mpu Sakala(?) yang mashur. Terdengar bahwa ia banyak memberi makanan sebagai pemberian, (hal itu) sudah biasa.

ø Telah puas ia mereguk kebahagiaan penuh cinta, disudahi oleh Dia yang mengatur, karena ia pun telah tua usianya. Sudah puas (Sang Raja) pada aktifitas hidup kini bebas, selalu bahagia. Dengan diam-diam, kini tibalah batas waktu yang telah ditentukan (takdir) untuk berjumpa dengan jiwanya (?). Ekspresi wajahnya hilang, Kekuatan bentuk halusnya dari badan wadag. (Sang Raja) menderita sakit tiga hari lamanya menyebabkan meninggal dunia.

ø Tinggallah dua anaknya perempuan dan seorang anak laki-laki yang berbeda cara pandang. Anak laki-laki kecil itu mengetahui semua bahwa Sang Ayah meninggal. Hal ini membuat terpukul seluruh istana, yang mengabdi. Anak laki-laki dimusuhi masih muda, tidak tahu apa maunya , tidak diberi bekal agar patut menjadi raja, menyebabkan iba, selalu sedih sebab masih kecil. Sangatlah tiada akhir,

ø segala hakekat sakitnya hati. Dasar anak muda, jangan berlagak tahu jika berbuat. Siapa yang memulai baru-baru ini, benar-benar itu membuat kagum. Anak laki-laki muda itu tampaknya marah, dapatlah diperkirakan kini, akan maksud melakukan rencananya. Tindakan bersamadi didengungkan. Adalah Ki Singamada kecil, tidak mengetahui bahwa saudaranya tidak (...?), meski satu ayah tetapi (mereka) tidak menyayangi.

ø Diceritakan Ki Singamada yang ditinggal mati ayahnya, sedih menyebabkan kesulitan. Ayah dan ibu yang berbudi luhur meninggal. Menimbulkan belas kasihan, sedih dan prihatin. Ibunda turut berbela mati. Tinggallah (Singamada) tidak lagi menyusu, menderita, menjadikannya sakit, sedih, menangis siang malam Ayah ibu diratapi.

ø Dua kakak perempuannya hidup senang, sombong, mereka bersenang-senang menjadi-jadi. Semakinlah adiknya tidak diperhatikan, Ki Singamada tidak berdaya. Siapa saja, orang-orang, dengan murah hati menolong. Semakin dewasa (Singamada) , Yang ada dalam pikirannya adalah mengembara. Kesengsaraan raganya terasa, diketahui bahwa duka nestapanya sangat besar, demikian suara hatinya.

ø Sanak saudaranya tidak ada yang bermurah hati. Singamada dianggap pembawa bencana, karena itu akhirnya ia pergi ke desa, tanpa tujuan. Ia pergi diam-diam dengan nekad, tidak memberi tahu. Pergilah ia dari pusat kerajaan. Tak terhalang jalannya, ke hutan belantara yang diinginkan, tempat yang sulit dimasuki. Alangkah sulitnya, luas tidak terkira. Sangatlah besar penderitaannya.

ø Semakin laju jalannya tidak ada yang diperhatikan lagi. Pikirannya melamun, nekad penuh hasrat. Nelangsa, raga memilih mati, sebagai jalannya. Kesengsaraan raganya sangat besar tan wruḥ riṅ rama rena,/ nastapa huwuḥhuwuḥ haƞīṅ kawasa parana, mon kagug̈u kag̈oraweṅ twas aṣiƞit. raga tan wruḥ/ ƞenaka

ø kunaṅ yeṇn ana kĕsĕliṅƞ ati, bayā luhuṅ aƞuƞṣiya waṇāśramma nusuṅpa ƞoṅ, maƞke pjaḥha luhuṙ/ guṇuṅ yan mijilā waçanā ṇiki, wiṇiweka ri nala, rumupekeƞ ayu, datan kawaṙṇnaheṅ maṙga tlas/. laris lamṗaḥnya hasaƞu taƞis, prapta jĕṅṇiṅ prawata

ø hamaƞgiḥ ḍukuḥ welāhaṙja miṅkiṅƞakĕn maṙga, mulat ki siƞā/... sakṣaṇa reren jĕṅ rapuḥ cipta ƞliḥ kapaƞgiḥ saṅ tapa liƞgiḥ riṅ made, sambrama kī paƞuwusan ha/tanya risniṅ waṇca, bageya saṅ tamī ḍataṅ mara ṅke hañaṙ wīkan. ƞoṅ kaki, lwiṙ tan ṣmaṅ priyatin ṗolahe ......./pa .... hamarantiya, wri naya ki siƞāmada, sami haliƞgiḥ ki haḃĕt liṅṇya taken ḋī sakan teku kaki, sumahuṙr a/lon mawaraḥ pinaṅkaṇe

ø tuhu tan wikan. wṛtinta kami ƞoṅ bapā taṇya śwapa namanta, waraḥ jati kami maṅke, siƞāmadḋa wriṅ smu ṣaṅ tabe haranak ta kaki, hapajara/ ri nama, nawi tuhu tan wruḥ siƞāmada haraniṅ wwaṅ dahat ḋeni/ hamukti nastapa ḷwiḥ kawlasṙṣa nityasa

ø aƞuṅsi kadḋaṅ wraga tan ṣudi tuhu dinaliḥ tikṣna wiruda, ḋataṇn ana śudi ka/beḥ, pjaḥ bapā rama hibu karakasa ƞgyaṇ i kari, ki habĕt mawacana, haƞṛś. twaskoruƞu, samono/ denta waçana, ki paƞuwusan aƞliṅ haƞṛta wiṣṭi ki baru maraƞkeya

ø saṅ śipwa praṗta wot skaṙ ṗunapi kaṙyya ƞawe bwa/ha dan ṗala boga..., depunasereg saṅ tami hasmu ƞliḥ tan laƞgana ki baru mitaṙ lākw age, haglis lam/. paḥhiƞ utusan mĕdala runaṅ puṗunḍutan ṣkul hiḍan kalawan bitutu tetep laḥ ta byaksa saṅ tami, tuwwa samun bapa deṇira puṗuḍe

ø ta... wuwus_n deṇya byaksa prapti heṙtaliṅ muṅgwiṅ talakā maḍaṅ samya wusan taṇ aṣuwe hyaṅƞ aṙka/ mwaṅ kasumurup. wu<la>n saṅ tapa haƞliṅ depunsanteseṅ manaḥ śunya ṇikaṅ tukuḥ siƞāmada mawacaṇa, hantyanta pān akaṙyya di/bya matitis tuhw amṛtaṇi diwa

ø ƞ kapiluḥ śwaranira ki waksi, tan ṣipi maṙmmanirā tumiƞāl haƞṛṣ rasane/ hatine mulat. waṙṇnaniṅ tamu ya ḍuḥ heman taṇ ana kṛti nayā solaḥ jatmika, rupane habagus ṗunapa saṅka/ne luƞa, pasewaka priḥ ragaṇira nak mami laṙ hamaṅgwa lāba

ø Singamada menerima kesulitan itu, tahu pada petunjuk pembicaraan yang (merupakann dasar) untuk mengetahui dengan jelas akan dunia, tentang pasang surutnya laku. Tidak terperhatikan indahnya keadaan. Yang ada pada pikirannya adalah bertapa. Tujuannya untuk mengubah tingkah laku, segala nafsu yang bernoda, tetapi yang terhitung yang menyebabkan duka cita, karena menyebabkan raga sengsara.

ø Agar tidak (banyak) keinginan, mengurangi makan. (Karena ketika) menghadap banyaklah bahayanya, menambah kesusahan dengan sangat pada dia orang yang unggul. Orang yang tercela mempunyai kesulitan (karena) mudah marah. Dia yang mulia tak tahu pada kearifan, diam bagai orang bodoh, ucapan yang dibuat-buat tidak terpakai, tanpa basa basi, diam, lagi pula angkuh, tambahan lagi tanpa sarana untuk mencapai kesempurnaan.

ø Lain orang yang menghadap berusaha Melakukan tindakan terpuji (....?). Menginginkan kaya banyaklah jalan menjadi papa- karena itu menunggu hasil perbuatan pada kehidupan yang lalu. Itulah yang dicari. Bertekad mengadu untung, keuntungan yang diharapkan tetapi masakan tercapai- (seperti) merangkak. Nafsunya menakutkan sulit untuk mendapatkan kepuasan.

ø "Alasan raga ini mengungsi ke gunung berhutan untuk mengubah besarnya nafsu, supaya jangan seperti sekarang kesusahan dan kesedihan yang didapat. Segala yang melekat di badan ini hina, jika sudah keadannya demikian, sudah menjadi bagian badanku yang menginginkan kelebihan. Raga ini hina, terikat, tidak dapat bertindak apa-apa, merasa sulit kalau pun untuk mengupayakan.

ø Seumpama takaran beras, tenggelam di samodra masakan mengembang isinya, karena memang sudah ukurannya. Menambah kesusahan dan kesedihan jika melihat hal (...?) masih menikmati berkehidupan bermasyarakat luas Tidak baik bila daya hidup hilang. Di gunung di ngarai sebagai tempat persembunyian yang sulit. Untuk mendapatkan keuntungan dengan bernaung di bawah mata uang, hina benar, tidak ada karmanya pada kehidupan yang lalu"

ø Takjub hati Ki Wasi mendengar gencarnya kata-kata. Muda, unggul kata-katanya. (Ia) terabaikan menurut pikiranku. Yah dasar anak muda, mahir, pergi dengan tidak berpikir jauh, tidak lekat pada dunia, bertekad ingin menjalani laku yang mengagumkan. Karena itu ia akan bertapa di pertapaan dalam hutan, tempat pertapa sakti mencapai tingkat ke empat dalam mereguk kesucian.

ø "Sangat memaksa saya, Angger, menghalangi perbuatanmu yang sangat tidak serius. Aku sepertinya tidak mengizinkan. Sulit, Ngger, dalam menjalani laku itu, apalagi seusiamu, Anakku. Untuk melakukan brata, banyak halangannya karena pengaruh sepuluh indriya. (Hal itu juga) diakui oleh pertapa, Ngger, yang menjalani sebagai pertapa yang mahir dalam yoga.

ø Bercerminlah padaku dalam hal laku, Ngger. Orang tidak boleh hanya mengaku. Patuhilah, karena semakin lama tanpa batas kesulitannya, rumit, sulit, untuk mencapai perbuatan yang berguna. Tidak boleh menarik perhatian, dia Sang Pembuat Kebaikan; tidak (pula) diselingi dengan perselisihan. Terlanjur merasa kuat melakukan kebaikan, tetapi tidak didapat yang diangankan. Lakukanlah, pergilah.

ø Singamada anakku, Angger, besarkan hati, cermatlah dalam berkata-kata, sadar akan laku, petunjuk mulia - tetapi selalulah kuasai nafsumu, Ngger. Usahakanlah berkata-kata yang baik. Duhai bercerminlah kepadaku. Besarnya kelekatan itu bersatu dalam nafsu. (Hal itu) tidak dapat dikuasai bahkan oleh pertapa sakti (sekalipun) yang sudah menguasai aturan-aturan".

ø Tengah malam mulai menjelang. Ki Habet sedang berkata, memberi nasehat cara yang baik (caranya) menjalani laku. Singamada menerima, takjub hatinya diberi tahu tentang keadaan (tapa). "Janganlah engkau tidak serius. Mulailah melakukan tapa dengan gembira. Waspadalah pada cara laku yang dipilih, hilangkan sifat cepat bosan. Berdanalah jika tidak paham pada hal lain.

ø Hal lain lagi, Ngger, dasar-dasar untuk berprihatin itu banyak macamnya. Mulai dari : tidak bertapa, tidak bersemangat dalam melakukannya. Yang lain lagi: sang wiku banyak yang tidak memperhatikan laku, Ngger, jarang yang mahir sampai pada intinya. Kata-katanya sangat sopan dan tertib unggul seperti orang menelan hal yang suci; tidak lain yang diinginkan adalah kesenangan, kekuatan dan kekayaan sebagai hasilnya bertapa brata.

ø Ada (tapa) yang dikuasai nafsu yang membuat sulit dan tidak berdaya yang selalu berusaha memegang rahasia untuk memberi kesenangan. Itu tapa yang membingungkan. Besarnya "tamah" yang diupayakan, menghidup-hidupkan indriya, (...?) yang melekat . Seperti (orang) mencari umbi-umbian yang tersembunyi . Dalam menjalani laku jika tidak mengetahui tujuan rahasia, mengaku menemukan anugerah.

ø Bukan demikian tujuan berprihatin itu. Dia yang menemukan kesejatiannya petunjuk, hilang segala kesenangan dan kenikmatan, hiasan -hiasan dimusnahkan, (juga) kesenangan pada perempuan yang berlebihan. Sorganya orang yang berderajat tinggi adalah tidak lekat (dan) tidak nekat, mengalihkan perhatiannya tapa yang terus menerus. Tidak sulit, Ngger, untuk mulai menjalani (tapa), usahakanlah dengan perasaan senang.

ø Singamada, dengarkan nasihatku. Jika menemukan inti (tapa) janganlah menolak, aturlah dalam ucapan yang ungul. Bertapalah terus menerus. Jika ingin kembali untuk bersenang-senang, sesudah menjadi wiku yang sempurna jangan dilakukannya, meski (hal) itu menghibur hatimu. Pikiran lupa bahwa sedang bertapa , memikirkan kenikmatan cinta, ingin kembali seperti semula dalam menahan diri.

ø Dahulu bersatunya kekuatan sangatlah terkuasai. Mulailah dengan merasa bodoh di lereng gunung yang dingin. Hendaknya diikuti dengan, kegembiraan dalam membangkitkan kekuatan, terdorong, tercampur dalam kesulitan. Hyang Asmara mengalihkan perhatian, sempurna, terbagi dalam samadi. Simpang siurnya pikiran tercampur dengan rasa cinta, yang kemudian tersesat pada perbuatan buruk.

ø Tidak terkuasainya budi, hanuƞgal. ñaṇa mara riƞ ala, wyaṙ ta tutuṙ tanṗa gawe sṙṇiṅ lulut ṣumaput ṗamañcaṇanira sakti, hawalī mariṅ/ƞ amṗaḥ, kesaḥ kapalayu punikā mewĕhiṅ brata, hiƞĕtiƞĕt ṣiƞāmadā hayo lali, denwruḥ ri lawa/n rowaṅ

ø lamṗaḥ hala hanak mami, kapuraṅ deṇiṅ kṙtisamaya, sarira yen saƞarane tan wuruṅ katmu, hanacad. ṛgĕ/piƞ ati, hapan wĕtuṇiṅ dyuka, maṅkoliya tutuṙ tan koṇiƞa maniƞ ulaḥ saṅ prasidḋa tuhun i widya lamṗahiṅ,/ budī tan kaslan.

ø wasṗadakĕn ṗekaṅ was.mṙti, yaja tiniru wiku gomaṇ iṅ daraḥ yyakta ñoloṅ basarane, saṅ hyaṅ/ƞ āgamma putus natarira samaḥ hakikīn. ñaṇa depuṇatuwa, ṛgĕp kaṅ ṗamutus mapan wus ṗratamo, sa, duluṙra/na kṛtī jatmikaja silib. pet saraṣaniṅ taya

ø ki [-] <śi>ƞāmada gaṙjitaƞ ati, manamṗane wĕƞanikī swara, wira cip.ta mirage maṅko maƞgiḥ pamuwus tutuṙ lwiḥ mawaraḥ yukti sabḋa paṅruwat mala, siƞāmadḋa muwus ṗaƞeran tulusakna/ dera waraḥ kaçaṙyyan rasaniṅƞ ati¡, manira ṇuta lamṗaḥ

ø yen ṣirameta riṅ luhuṙ wukiṙ nora kapaƞgiḥ jatiniṅ sabḋa, tapa/ boƞoḥ kaky araṇe hawis kaṅ wraḥ riṅ gati, saṅ tapa meƞādiya, tan kabteṅ wuwus mewĕḥ kaṅ jatī wikana, nadyan hu/daksinahā denipunkari tan amāƞgiḥha lamṗaḥ

ø lwiḥ hutamaṇiṅ tapa saṅ wruḥ pamutusiṅ di ta pṛnaḥhiṅ ya pa itarane nora/ bawa saṅ ṛśi, mulwiḥ tutuṙ walakā tan saṅśaya hame twan aƞel kasniṅ tapa, sira saƞ āmriḥ kasidan hakumanḋuṙma lawaṙ/ brata niṙ kabeḥ senaka muṙwwa kitri, jatī pralina tanṗa mastu glare

ø kaliƞaṇe wuwusiṣun kaki, hawis tuh niƞ amaƞun./tapa, hakweḥ wiku paṗaranten kalawīsaya giṇuṅ kanuragan kaṅ deṇulati, hawis amriḥya śuṇya, ƞī kawiṙyyan./denguṅ haƞukweḥ daṙmma kalaban mayoga samady amriḥ wijiliṅ ketri daṙmma kasuka wakyan.

ø t_hu panutune hyaṅ hamṛdi ki paƞuwu saṇn adan awaraḥ sawƞi taṇ ana kule ki siƞāmadḋa muwus rānakirā winaraḥ jati¡, ywage kumaliƞā, sawaṅṇ iṅ pamuwu/s mewĕḥ kaṅ jaẗw araha twasni raṣā maṅsa wuruƞa kapaƞgiḥ, lamon. kṙtasamaya

ø waniḥ saṅ wruḥ wiwaraṇiṅƞ aji, tinata glariṅ mahapa/dma, pan iya hiku ḍapure pati ṗatitisipun sīk winaṙṇa rakutīṅ kawi, puṗuse kumalamaṙ wite maṅkin tan wruḥ hawis ba/pa kaṅ wikana, saṅƞ ātapā riṅ sukṣma ñanā wirati, wruḥ panuṇuƞgale sabḋa

ø prasidakna lamṗaḥta kaki, huṅsinĕ sira saṅ yogiswara/, saṅ sahāpurusa wrīṅ reḥ, hana pamitraniśun haṅlamṗaḥhī muninḋra lwiḥ makadiniṅ prawwata, kaṅ minaka guru, liṅga/neƞ adi patapan ṣukla pawītra wiku brahmanacara jaja hudaksina

ø sakti wiseṣa riṅ brata lwiḥ ta pinakā purohitaniṅ tapa,/ sḍĕṅ tilasĕṇniṅƞ akweḥ haƞi ta hanakiṅsun ḋepunbaktī hanamṗa waƞṣit ḋasaśila denkĕna, ulat ḋentumuṅkul me/wĕḥ riƞ amet nugraha, kula hilaṅ bapā riƞ amet kadaḋīn haƞel. raga nastapa

ø priḥ waṅsitira saṅ daṙmmajati, petĕn sarāsaniƞ ādiḋrawa, kombala g̈ni hurube surupa tan katuduḥ kuruƞan mas niṙ tanṗa cantri, pasuk. wtuniṅ tiga, kabun ṣuwuṅ/ kuwoṅ munī riṅƞ ambara, takoṇakĕn siƞāmadḋa hayo lali, wkasiṅ paḍaṅƞ awa

ø Jelas caranya melakukan samadi kini menikmati kegembiraan. " Jika ditemukan caranya dan penyesuaian diri (serta) rahasia hati dia Sang Utama, segala tanda-tanda di badan tidak terasa sulit. Besar halangannya tapa, jika meleset menjadi perselisihan. Aturlah, hati-hatilah, jangan mengandalkan (apa-apa). Kuasailah ajaran yoga itu, namun, Ngger, memang sulit jika bukan haknya.

ø Demikian nasehatku Ngger, bersegeralah wahai engkau yang mengabdi pada Dharma. Badan harus berani menghadapi kesulitan. Perbuatan baik dijaga, jangan tidak bersemangat dalam menerima ajaran rahasia. Dharma pun segera akan menyertai bersegeralah menangkap, kuasailah jangan sampai gagal, temukanlah yang menjadi tujuan akhir mati dan hidup kerumitan samadi pun terkuasai"

ø Sudah selesai ia memberi nasehat. Larutnya malam tidak diceritakan. Segera menjelang pagi, di timur matahari terbit, agak samar-samar, sepertinya menyelinap. Lemah keadaan jiwanya (Singamada) sebab tidak tidur. Ki Singamada berkata, "Duhai, yang mulia membuat hatiku terbuka. Mana jalan ke arah gunung?"

ø "Tidak ada halangan yang perlu disingkiri di selatan situ. Tanah datar luas dihiasi andong, jalannya landai, segera (Singamada) ke arah gunung. Ingat-ingatlah jangan lupa, Anakku, Angger, engkau anakku, semoga berakhir baik. Urungkanlah niat untuk mati, ḋuluṛn iƞ ayu denira hakikin boƞniṅ sukṣma tatya

ø rahina tatas kāwaṙṇna hyaṅ prabaƞkara kumñaṙ hasahu/ran kaṅ paksī humyaṅ śwarane cakora swara munya ñ jrit. kadya seṅṣeṅ ṗanaṙ kaww amiṇreg̈e, samṗunya basukī soça hamu/hun. kī siƞāmāda hawot lepanā hamlas aṙśa wuwuse laḥ kantuṇa gĕg̈nepa, naww ana dṛbe kasiṣe

ø/ aṅliṅ saṅ tapa hasmu taƞis hanaƞoṇi ayu ramanira, saṙww aƞusap luḥ tan ṗanten sipi maṙmaṇipun mulat ḋukanira saṅ tami, ya ḍuḥ/h anaku tuhan ḋiprayatna lĕ hiḍĕp. ta yo salaḥ simṗaṅ deṇanuṅgal ṗaƞeran rañcaṇiƞ ati, siḍĕm gĕṅniṅ/ wesaya

ø saḥ ṣakiṅ pamṛgilan lumaris ki siƞāmadḋa sigra lamṗaḥnya kumucup nala nirage pratahā saṅ winuwus ñaṇa lamṗus ḋibya matitis kontap ṣṛṅgaṇi wana śrama daṙpa luhuṙ maƞkin ṣyuḥ rasaniṅ daya, kag̈orawa kagug̈u nastapa niki, rāga lwiṙ/ kawasaha

ø prapta ṗawa ṗagag̈an lamṗaḥ taṇ aglis miyat niṅ laƞniṅ kaṅ saṅka mĕṙga haƞnaƞnaḥ katoṇ iṅ ƞare lumraḥ weni ka ḍusun katiƞā/lan sakiṅ wawagiṙ haṙnawā lamat lamat katawƞan guṇuṅ kadyawoṙ lawan gag̈ana, gĕṛḥ mayat ṣwaḥranya maṅkitī jawĕḥ (sesuai dengan) rencana hatimu yaitu redanya nafsu".

ø Pergi dari tempat rantau, berangkat Ki Singamada. Cepat jalannya, pikirannya mendesak, gelisah agar cepat sampai. Yang dipikirkan samadi. Nekad, luar biasa konsentrasinya. (Ia) dihantar sampai di batas pertapaan yang indah dan tinggi (tempatnya). Semakin hancur rasa hatinya memikirkan, memperhatikan kesengsaraannya, nafsunya sepertinya terkuasai.

ø Sampai di sawah jalannya perlahan, melihat-lihat keindahan dari jalan. Ia (Singamada) menempatkan diri agar dapat melihat ngarai. Terhampar keindahan desa itu, tampak dari punggung gunung. Laut samar-samar tertutup gunung seperti bersatu dengan langit. Guruh samar-samar suaranya memberi isyarat pada hujan pada bulan keempat.

ø Keindahan sepuluh desa sudah terlewati, seperti mengalir berputar pemandangan itu. Sawah-sawah terhampar (orang-orang) menuai (padi). (Sawah) berhias pada keempat sisinya, seperti melambai karena (tiupan) angin. Meliuk-liuk daun-daunnya berbelitan pohon beringin yang menjulang itu. (Singamada) tiba di desa di timur laut sana. Memandanglah dia yang mengusahakan tapa (Singamada), terharu(?) hatinya menaruh hormat karena seakan-akan dipersilakan singgah.

ø Melamun, berdiri tertegun, menengok kesana kemari, melongok tepi jurang. Pohon dramaga bermacam-macam, teratur, buahnya sarat. Sangat menyenangkan, kehebatan burungburung selalu mendahului makan buah. Seperti genderang berbunyi berbarengan suara burung walik riang, Senang hatinya, sudah puas (makan?) buah.

ø Burung kaposwa diam tidak berbunyi, bebas menebarkan keindahan bunga asana, pasangan itu gembira hatinya. Burung wartaka (puyuh)nya berbunyi gaduh, burung gending sepertinya mengikuti. Binatang wut di (samudra?) terampil naik ke ketinggian kijang bersuara di jurang. Kera-kera itu riuh suaranya (gerakannya) menyebabkan pohon-pohon bergoyang kian kemari.

ø Agak gembira hati dia yang sedang sangat prihatin, terpesona melihat keadaan pesawahan. Tanamannya banyak, bermacam-macam pisang baru saja dipotong(?). Tumbuhan jawa dan jali baru saja bertunas. Tumbuhan jalureh dan kakandah, jarak, jahe, dansun berjajar (bertunas?) baru saja tertimpa hujan tiga kali, tumbuh. hatis tĕṣniṅ tumiƞal.

ø maƞga tan mintara cipta niki, muṙcitaniƞ ati kasmaran kasṛpan manaḥ wirage pañjrahi kusu/ma rum. skaṙ wuƞu tenon liṙ caṇḍi, senoƞi sadḋawata, rajasa glaṙ ruru dḋikara rupa nambaya, kadya mupu pami/jihiṅwa saṙwwa sari, paƞṛnekaṅ tan tĕmaḥ

//0 śaḥ sakiṅ pagagan lamṗaḥnya haglis maṙga sĕṅkañ juraṅ kalīwatan ṛsni wṛdayā tan saḥ/reḥ sigra prapteƞ alasmu jiwa luya maras kumitiṙ sĕnṛṅ lamṗaḥ pinuraṅ wyaṙ tan ana ketuṅ priṅga maṙg̈a duṙggama, la/gi karāsa pawaraḥ saṅƞ akikin raṙmaniƞ atoḥ praṇna

//0 taƞeḥ caritaniƞ amet. rasmi, kalalu raḥwuḥ riṅ paƞajaran tĕmbiṅniṅ maṙga pṛnahe bañjaranyabra murub. ƞanḋoṅ brahma lan kayupuriṅ siliḥ rok mawiḷtan lata nisṭa gluṅ/ tīnon kadī guṇuṅ kĕmbaṅ tuhu wiwaksa wijñā saƞ apaƞanti, (Semua itu membuat) sejuk hati yang melihat.

ø Ia ingin tidak pergi pada pikirnya. Terpesonanya hati menimbulkan kasmaran. Tersentuh, hati pun menjadi gelisah. Bunga bertaburan mewangi. Bunga wungu tampak seperti candi, menaungi daerah luas. Bunga rajasa berserakan gugur, Sangat indah ujudnya, sepertinya memanggil-manggil. Seperti berkumpul tampilnya bermacammacam bunga, membuat kebahagiaan yang tiada akhir.

ø Pergi dari persawahan, jalannya cepat. Jalan terjal, jurang-jurang terlalui. Ketakutan hatinya belum tenang. Segera ia sampai dihutan, agak tidak sadar jiwanya, takut, kebat-kebit (hatinya). Dipercepat jalannya, terkuasai (hatinya). Luas tidak terukur (hutan itu), jalannya berbahaya dan sulit (ditempuh). Baru terasakan segala nasehat dia Sang Pertapa, akan keinginannya (Singamada) mempertaruhkan jiwa.

ø Panjang ceritanya tentang dia yang mencari keindahan, dilewati saja. Sampailah ia (Singamada) di tempat seorang ajar di tepi jalan tempatnya. Tamannya (berwarna) merah menyala oleh andongmerah, dan kayupuring, yang berdesakan, berbelitan, banyak melingkar-lingkar tampak seperti gunung. Dia Sang Pertapa menyapa dengan katakata yang sungguh-sungguh bijaksana agar Singamada mau singgah.

ø Tampak gembira, senang hatinya, (Sang Ajar) menyapa pada kedatangan (Singamada), "Nah, tumben!". Sang Tamu yang baru saja berjalan-jalan, disongsong suara halus Ki Dayaka, "Sedih, sepertinya tertimpa kesusahan". //0 ki siƞā/madḋa mawaraḥ dyaniṅśun mareṅƞ aśramma, hasuruda ṇugrahā wikane sarateśun haƞowahana budi, haṙsa nuta bawanira saṅ/ tame reḥ

//0 liṅ sa bikṣuka saṅ sipta mijil. rahayu dahat bapā kaṙsanta laḥ tulusaknā deni ri śun kaki ha/tuduḥ pṛnahira saṅ minakadi, wusnyadan ṗalabojyanaṙsa, no kaṙyya saṅ tamuy. hnĕƞakna sakṣana, ko gantyaniṅ waçanā ko/niƞaha maƞkin [ṇ ]Ki Singamada memberi tahu, " Saya ke pertapaan ini, akan menerima dengan hormat dan berterima kasih jika diberi anugerah untuk mengetahui sarana-saranaku untuk mengubah budi, untuk meneladani cara hidup Sang Pertapa".

ø Kata Sang Pertapa, apa yang ada dalam pikirannya meluncur, "Sangat baik, Angger, keinginanmu, nah teruskanlah. Adapun saya, Angger, memberi tahu tempat dia yang unggul". Sesudah itu kemudian mereka makan. Demikian kegiatan Sang Tamu. Diamkanlah sementara. Kini ganti yang diceritakan. Ketahuilah sekarang dia Sang Pertapa terpilih

ø munculnya dalam menemukan perbuatan yang pantas, kebanjiran mendapat keuntungan. Selalu berdana. Tempat tinggalnya benar-benar ramai, banyak teman berdatangan, yang sangat menghormati dengan melimpah untuk melakukan tugas-tugas khusus. Tidak sulit minta tolong (padanya) untuk melakukan apa yang telah menjadi sumpah bratanya. Ki Salimut telah berhasil pada kehendaknya, terpercaya ucapannya.

ø Pertapaan itu sungguh indah. Berseri macamnya bunga bersusun dengan pantas, dapat dianggap sama ujudnya. Ada bunga bakung, cacarajawuh, ratnacina, talukiputih, bunga dan daun-daun cinamerah. Tumbuhan sidatapa sarat buahnya. Arca raksasa mengapit pintu gerbang, (sementara) gapura besarnya dihiasi kepala Kala yang menakutkan, dinaungi pohon nagapuspa.

ø Tempat sepasang sajen batunya mengapit gapura, indah dilihat. ṗutu/sara saƞ agawe puṙwwa tatwaniṅ guṇuṅ binisekaniki¡, haparab ri niṙbaya, pusṗakaniṅ batuṙ ḍuḥ baya śwapa wikana, hasamaṙ dalane duṙ/ggama sira rusit. mewĕ wruḥheṅ niṙbaya

//0 śumilaḥ tejane tapa sakti mlĕk waƞini dupa ne saƞgaṙ, kumutug. pa/samidane pusṗapuja tan luśuḥ saktī baktī laksana sanḋi, hamriḥ sidaniṅ lamṗaḥ praptaha riƞ ayu dohani kalawisaya, hapan mina/ka muśuḥhiƞ atakitaki, haƞimuṙrimuṙ cipta

ø siḍĕmn iṅ yoga wuwusĕn maniḥ ki siƞāmaḋa koƞaƞ e sabḋa prapteṅ ba/tuṙ taṇn aśuwe halarapan saṅ wiku hegaṙ manaḥ saƞ apaliƞgiḥ ḍataṅ niṅ mitra tuƞgal kaliḥ dḋaya kanut saṅ sikṣwā saha lepana, lasniṅ paƞabaktī saṅ guru haƞliḥ laḥ kaky amarantiya

//0 samṗun asaji raka pṛgi tan koṇiƞaha deniƞ āḍahaṙ wusnya mu/caṅ maṅswa gotek siƞgiḥ dwanipun rawuḥ saṅ daya ḍahati haƞ√si, haśuruda nugraha, saṅya ṛp lakwa haƞowahana sarira, hatya ma/nuta pawetnīṅ kaswaśiḥ hanĕṅgwaḥ saƞu lara

//0 sipi laraniṅ wṛdaya hanwam amukti lara heraṅ pun siƞāmadḋā tuhu kalaƞa/n sanḋeya, maṙmaniƞ ālalis. waṛg lara g̈ĕṅƞiṅ naraka ṛmawe, ranak hyaṅ hawlas tumiƞal. haṛƞĕ paśraṅniṅ waraḥ hamalamṗaḥ dinu/luraṇ ḍataṅ mariṅke saƞ adḋiprawwata liƞe heman ewĕḥ raṙwanom taƞeḥ kaṛpe

//0 akweḥ paƞuniƞaṇiśun kaki,/ waṇi sirā saƞ ahyun atwapa, kaya hiya duk mahune nisṭaniṅ raga ketuṅ hawwaharā holiḥ roṅ saksi, lipu<ṙ> manaḥhe menḋra,/ dukane tan ketuṅ taha si tan makaṇnaha, saṅ dayaka punapa maṙgaṇiƞ apti, bapa niṣṭa nugraha

//0 haḷp tumukul mawacana/ haris ki ƞāmādḋa hawon lepana, nora saṅƞara riƞare tanṗa tiṅgal ṗalayu gĕṅniṅ lara wetniṅ kaswaśiḥ tan wruḥ riṅ rama rina, yayeƞ uwus lamṗus punika maṙmmaniṅ kesaḥ haƞ√ṅsi kadaṅ wraga taṇn ana śudḋi, hasuṅ laraniṅ daya

//0 paja pajaniṅƞ eliṅ ta/ṇ eliṅ mĕnira katiƞgal. deniṅ bapa, hibu tumut kapatine menganggap sebagai bekalnya bersakitsakit.

ø Sangat sedih hatinya. Masih muda usianya (lagipula) mengalami kesengsaraan. Singamada benar-benar tertimpa prihatin, itulah sebabnya bersikap tidak perduli. Kenyang menderita, besarnya kesengsaraan menyentuh-nyentuh. Dia yang mulia jatuh kasihan melihatnya, mendengar pemberitahuan yang terbata-bata tentang perjalanannya, sehingga datang disini. Dia Sang Pertapa Utama berkata, "Sayang! Ia mengalami kesulitan, muda usinya, yang dikehendaki jauh jangkauannya.

ø Banyak yang aku ketahui, Angger. Beranikah engkau, (hai) yang menghendaki tapa, seperti niatnya semula. Kesengsaraan raga hendaknya diperhitungkan. Kira-kira dua bulan lamanya, reda hatinya untuk berkelana. (Jika hal itu terjadi) kesusahannya tidak terhitung. Tidak!. Jangan engkau berlaku demikian, wahai yang menimbulkan kasihan. Apa sebabnya (engkau) mempunyai keinginan (bertapa), Angger, kecil yang didapat".

ø Dengan pantas menunduk, berkata halus Ki Singamada menghaturkan sembah, "Tidak ada yang menyebabkan undur ke ngarai, tidak akan melarikan diri. Besarnya kesusahan menimbulkan belas kasihan karena tidak berjumpa dengan ayah ibu. Ayah ibu sudah meninggal, itulah alasanku pergi. Berlindung kepada sanak saudara tidak ada yang bermurah hati, sangat susah hati ini.

ø Tampaknya ingat padahal tidak ingat. Hamba ditinggalkan ayah; ibunda turut berbela mati. Tidak terperhatikanlah aku, tidak terkira kesedihan hati ini. Nah Paman percayalah janganlah berhenti untuk memberitahu, jika itu sudah menjadi kewajiban Pamanda untuk memunculkan brata sebagai persyaratan ritual supaya tidak lekat".

ø "Anakku, hal yang rendah itu menyengsarakan, lebih-lebih yang ada padamu. Tidak akan kesampaian maksudnya karena tertimpa hasrat asmara. Meskipun dengan sangat saling mengasihi, terbebani hutang, tahan menunggu diperbudak oleh harta, besarlah petakanya. Hal itu merupakan tandanya kesengsaraan.

ø Meski begitu, Angger, nasehatku: orang yang telah lepas dari bertapa keadaannya cerah, perbuatannya luhur, tahu akan laku, unggul, utama dalam kebaikan, seperti misalnya engkau anakku. Wajahnya cakap, hal kecil dibuat sarana untuk memperoleh kebahagiaan. Dirimu jika berserah diri itulah sarana untuk mempunyai kekuatan besar".

ø Tidak lain itulah perbincangan yang berisi anjuran-anjuran. Malam pun menyelinap, matahari kehilangan cahaya. Kini waktunya untuk tidur. Dia yang mulia berkata, "Sungguh nekat mati ragamu, Angger. Karena tidak dicintai sanak saudara, karena tidak terperhatikan?. Mudah-mudahan terlaksana segala rencanamu. Siapkan kebahagiaan dari kesusahan sebagai tindakan orang yang tidak bernoda".

//0 dulu wijilniṅ saṣaƞka madya nayaniṅ sarat hu śwaraniṅ tekel ikā masane saṅ kutu kutu muni, sukaniṅ tṛsna/ latā kagĕm uripe ø egaṙ paƞisiniṅ waṇa, mṛga ṇuta naramaƞka, mṛga ṇuta naramaƞka, sukara mijil ṣaka riṅ lamurowwaƞe carita/ mwaṅ kami gsiṅg̈akan iṅ juraṅ tu budḋine

//0 kag̈yat akataruwag ṗaḍa wṛgiṅ burwan i malaywa paḍa saśaran ḋeṇiṅ moṅ hanjrit ṣwara/ne saṣomaḥ krodḍa glaṙ haƞulu maƞṣa tan ṗoliḥ maṅkin kag̈ila gila, munyatut maṙgag̈uṅ haṛsaƞ amihaṙsa,/ hakĕkĕs awoṙ maras hyaṅ puṭut wajriḥ paḍa kumṗul kumṗulan.

//0 ki <śa>liṭuḥ samṗun yatapiki, ki gurubed. wusnyamet wantĕ/ran ti saloleṅ ri pabṭekaṇn umuṅ hana gita waneḥ mwaṅ kakawin lon taƞ ātataṇḍakan ki sagatī putus ṗrataksa tata kī puja,/ ki sarontak ṗinītuwa tameṅ gati, pinaka pamurukan.

ø ki salimut ṛsna wusnyadan aguliṅ ki siƞāmadḋā duluṙnya ri g̈ḍo_ lo denya kule pada hyaṅ giri mantuk riṅ padmeṇa mutĕṙ sanḋi haworasaniṅ manaḥ siƞāmādḋa muwus ṣarira ta/n wiƞ enaka, duk iƞ amṗaḥ satkaniśun iƞ aṙdi suka rasaniṅ daya

//0 tabĕḥ pat kaliḥ tƞaḥ wƞi sa tapa yaḥ taṇn ana śwara, sama/ heça denya kule badanira sam bawuṙ śiliḥ tiṇḍiḥ paḍa halƞiṅ waṇiḥ kupina siṣal. harukĕt lan kĕṭu hana ƞa/pw añuṙṇaƞgana, hawoṙ śiwud. yayaḥ tuhu hanakbi reta malarasan

mari humuṅ g̈ita mwaṅ kakawin gumanti haƞoro ka sambawa,/ hakĕkĕrot lahine ki saloleṅ haƞimplu, ki saliṇḍuḥ, haṅriƞikriƞik nora lwan kaṅ denucap baḃakaran ba/suṅ śahulaḥhe kaçakrabawa, ki siƞamādḋa gumuyw atatĕl ati, mijila tanṗa rasa

ø sawƞi tuhu tanṗa guliṅ ketaṅ ragane ka/suraṅ śuraṅ nastapa saṅkani rare çipta ṗrapañca luśuḥ kagorawā kagug̈u keṣṭi tiṇuṅgal ṇireṅ manaḥ hawasana lu/suḥ mon kaƞĕn ḋeṇiṅ kasihan kapakna sarira yen tanṗa wṛti hayo ta di parana

//0 tiliṅ saṅ hyaṅ cañḋra lumisiṙ masanati samilaṅ nalika, riṅ pmaƞuyon ṣwarane hasaṅgaṇi lañ cucuṙ munya gantī manuk cuçulik nilakanṭa sahuran liṙ wwa mu/ƞu haturu, paƞuni cuçakt amijaḥ saksana rāina prasama taƞi baḃa wetan ṣumirat.

ø Tanda jam 24 dibunyikan dua kali - tengah malam. Para pertapa sepertinya tidak bersuara, mereka nyenyak tidur. Posisi badan mereka malang melintang saling tindih; ada yang berpakaian (lengkap), yang lain cawatnya melorot. Ada yang memeluk songkok erat-erat. Ada yang bermimpi, melumat dengan ganas sendirian, sibuk bergelut seolah-olah (melakukan persetubuhan) dengan istrinya. Sperma pun berceceran.

(ṇ) Berhenti keramaian nyanyian dan yang ber "kakawin" berganti dengan suara dengkuran yang cocok dengan suara gigi berkeriut. Demikian pembawaan ki Saloleng ketika mimpi. Ki Salinduh merintih-rintih yang diucapkan tidak lain adalah ular bakarnya. Semua perbuatannya berulang-ulang. Ki Singamada tertawa, sesaknya hati lenyap dengan tidak terasa.

ø Semalaman benar-benar tidak tidur padahal raganya sengsara, menderita susah sedari kanak-kanak. Pikirannya bingung, tidak berdaya, dipikir, dipercaya, dikonsentrasikan disatukan dalam hati akhirnya tidak berdaya. Jika rindu karena perasaan cinta akan diapakan badan ini jika tanpa berita. Janganlah berbagaimana.

ø Condong rembulan beringsut. Saatnya terang segera di tempat para manguyu. Suara riuh burung cucur berbunyi bergantian dengan burung cuculik. Burung nilakanta bersahut-sahutan seperti orang membangunkan orang tidur. Suara burung cucak riang gembira. Serta merta pagi- mereka pun bangun. Di timur (langit) semburat merah.

ø Sang cucu pertapa segera menyadari. Setelah mengambil baju dari kulit binatang, lalu membersihkan diri bersiap semua menghadap di kaki guru dengan melakukan sepuluh tingkah laku yang baik agar muncul ajaran yang utama untuk kebaikan laku dan sepuluh kebenaran tertinggi. Itulah alasannya menahan diri, siang malam. Hatinya bertambah mantap.

ø Beberapa lamanya ia berada di gunung. Ki Singamada tinggal di pertapaan, Sebelas (?) bulan lamanya. Kemudian ia menjalani sebagai "babaru". Sudah kuat untuk melakukan perbuatan baik. Segala tindak-tanduknya di gunung tidak sulit untuk diajar. Sang Wiku terpilih mencapai sempurna datang di tempat para pertapa perempuan dengan tergesa-gesa, kemudian mereka mengolah makanan.

ø "Segala tindakan baik akan berhasil. Engkau, Angger, masakan tidak tahu mengenai rahasianya laku". Ki Salimut memberi petunjuk, "Perintahkan saudaramu itu, Ngger, suruhlah dengan tugas khusus untuk mengambil daun pisang yang masih muda". Cepat jalannya, telah bersiap sejumlah teman-temannya datang memberi makanan.

ø Semua pertapa perempuan sudah datang. Ki manguyu juga sudah datang membawa babi hutan besar. Anak-anaknya mengikuti memikul sagu (?) dan buah pinang, satu pikul kelapa. Datang sejumlah siswa. Terdengar dia yang mulia memberi tahu hal yang baik dan yang buruk. Banyak yang berpedoman pada pembabaran (ajaran itu).

ø Dia yang mahir dalam yoga sudah datang, mereka menghaturkan buah enam rasa, diikuti ucapan menghormat. Sang guru yang utama menyambut sapaan teman-temannya terkasih. "Selamat datang, Anakku, semua", disusul dengan ucapan, "Silakan kisanak duduk". Mereka menghormat menghaturkan banyak puji-pujian(?). Singamada takjub.

ø Setelah tersaji makanan, (...?) para tamu makan. Mereka makan tidak lama, karena ingat akan tugasnya masing-masing. Para pesuruh mandi, ramai bersenda gurau, berkelakar mendatangkan tawa. Ki manguyu memasak tanpa garam (?) mereka bersemangat memburu babi hutan ramai- ramai diikat.

ø Para pertapa perempuan merendam ikan kecil (?). Pertapa perempuan yang lain kemudian turut serta, mereka semua muda usianya, wajahnya cantik. Ni Rumita dan Ni Warini, Ni Taki (dan ni) Warna, sebaya usianya. Sebagai yang unggul (?) dalam bertapa, yang seorang, seperti roh seorang perempuan manis bernama Ni Sawita.

ø Ni manguyu mengurus api yang lain menyiapkan menanak nasi, ramai, mereka bekerja (...?). Para pertapa perempuan berkata, "Leler dan lempeng sajikan". Berkumpullah para pertapa perempuan untuk bekerja. "Keranjang besar yang berwarna biru tua yang berada di sudut itu (untuk tempat ) telur. Jika lupa ya sudahlah, Pangeran".

ø Singkat ceritanya (mereka) yang bekerja, hari sudah menjelang sore. Siang terselimuti gelap, kini matahari tenggelam kemudian bersinarlah rembulan menerangi di bumi. Sudah saatnya tidur, sudah benar-benar berciri serupa dewata. Makanan disajikan, enak, karena sengaja dibuat demikian.

ø Pucatnya rembulan merata karena cahaya matahari. Para pertapa perempuan kemudian berpakaian, ramai. Cekatan mereka menyiapkan sesaji, melakukan tugas khususnya, melakukan puja, dengan segera melakukan tugas mulia. Waktu yang baik pada waktu itu wuku Mawulu, "pasaran"nya Legi baik diambil hal yang baik, waktu purnama di bulan Posya yang baik. Ki Singamada ketika melakukan hal baik.

ø Sang Pertapa yang mulia kemudian membersihkan diri. Ki Singamada telah mencuci rambut karena kusut badannya. Tampak air matanya berlinang, berkata-kata dalam hati dengan perasaan hormat, "Meski raga berganti ujud, (meski) harus menerobos gunung, (meski harus) memotong rambut terus menerus, (meski harus) mengikat kepala, pastilah aku bertekun, berlatih diri melakukan yoga".

ø Sesudah menyatakan keinginan itu kemudian ia melakukan penghormatan. "Jangan terlalu jauh, engkau, Anakku". Mereka yang menghadap (disapa) semua. Menarik nafas dalam-dalam(?). Panji besar sebagai saksi, bergambar Anoman marah yang berdiri bulu-bulunya. Mengepul dupa di tempat pemujaan, karena kayu gaharu dan asap kayu bakar, harum semerbak bau dupa.

//0 umwaṅ śwarani gĕṇṭa haraƞīn gĕṇḍiṅ horagan. mwaṅ sapta śwara, saṅka mu/nī lan ṗoreret ṣraƞī puja habaruṅ mawilĕtan madyaniṅ laƞit ẗutuga ƞantariksa, puja ƞaluna/lunṇ ḍumataṅ hyaṅ pañarikan ra kaki citragotra kī kalaruci hyaṅ maƞiƞĕt rowwaṅnya

ø tlasniṅ palalawĕ haƞiri ki siƞāmādḋa samṗunya weśwa daluwaṅ maka saṇḍaƞe saṅ hyaṅ braja mĕmbu<ṙ> g̈ṛḥ lamat munya ƞukuli, ktug tan ka/rasa, teja gĕṅ sumunu, śumiriṙ saṅ hyaṅƞ anila, kadi kawƞan ika saƞ āñaṙ tumaki brata sukla niṙmala

//0 ḍaƞ adigu/rw amatĕṙ gaṇitri, sinuda mula tatwaniṅ tapa, wus ṗaripuṙṇa sinare øugrahaniṅ saṅ guru pinaraƞan ki su/rawaṇi, samṗun yanaṇḍaṅ bawa hamĕwahi baguṣ cumĕk ṗantĕs tan ahiwaṅ kawƞan cita sakweḥniṅ para kili salaḥ smu riƞ ulat/.

ø sami tumahap adan aliƞgiḥ sakweḥniṅ śikṣwa wadon lawan lanaṅ tan ana ṇi wwaṅƞa len tĕ[-]las keku sagu/ṇuṅ kakĕn mitra denira saṅƞ adi, guru winoṅƞi laba, huptiniṅ batuṙ habaṇiṅ tan karakĕtan tĕka luƞa hakweḥ pamtuni dmi,/ paran. ḋene kasihan.

//0 samṗun aḍawuḥ patra cariciṅ hatata kabeḥ paḍa kawaratan. kweḥ/ni lumaksanā jaṅ sereg. saṙwwa raka pinuṇḍu katigā maka patitis agaṅ sraṅśraṅƞan. tumadaṅ keḥniṅƞ ararawuḥ ta ṇn ana niṅ kaliwatan tĕlasniṅ śad rasa ṣakṣana haliƞgiḥ hamataṅ samodana

//0 samṗun sinadwakin ṗisa/n ḋenira ki luhuṅskaṙ gumanto prawacaṇā paḍa tameṅ reḥ haglis ṗaḍa siśikiṙ wiṙyaniṅ bawahan kīsahira serega,/ hantyanta tuṣṭaniṅ manaḥ saƞ adīgurw amoṅ mitra, g̈aṙjita sukasukahan ajer ulate kī maƞuyw akaka/win saṣaṙ śusuṙ hamiṇḍa kakweḥhan baḍeg.

ø Sudah diperintahkan, maka wadah minuman pun, berdenting, berderet semua terisi. Sejumlah (orang) mengambil piring dengan segera. Bermacam makanan diambil, tiga macam makanan sebagai sasaran utama. Saling mendahului mereka bertindak, banyak yang datang tidak ada yang terlewatkan. Setelah makan sajian enam rasa kemudian mereka duduk-duduk sambil menghisap candu (?) dengan beramah tamah,

ø sudah disediakan sekaligus oleh Ki Luhungsekar. Ganti yang dibicarakan. Semua baik kondisinya. (Mereka) melantunkan puji-pujian, akan kehebatan dalam pesta itu. Mereka segera pergi. Sangat puas hati Sang Guru utama, menyenangkan temantemannya; sangat senang, ramah wajahnya. Ki Manguyu ber"kakawin" tidak karuan, seperti orang kebanyakan minum tuak. // 0 // Pupuh Witaning Pagalang // 0 //

"Kurang bersungguh-sunggh alasan saya, Ngger, maksud perayaan ini- kini usai sudah". Kebohongan penyair menyebar luas. Sang Murid kemudian minta diri. Melegakan jawab dia Sang Pertapa, "Hati-hati di jalan, Angger, Anakku". Tidak diceritakan di jalan, sampai di sebuah rumah. Segera diceritakan lagi lima gadis yang merindu.

ø Berat langkah Ni Warini, ingin rasanya tidak datang di pertapaan para perempuan. Sedih, hatinya gelisah. Ni Warna ragu-ragu, Ni Rumita ucapannya sedih, seakan-akan hendak turut pada dia yang baru saja menjadi wiku yang bernama Surajaya. Tidak malu Ni Taki pulang sambil menangis, derasnya air mata disembunyikan.

ø Cinta yang mendalam menyebabkan hati tersayat. Dia yang termuda di pertapaan Ni Sawita namanya, bagaikan tanpa jiwa, raganya lunglai; Surajayalah yang dipikirkan dalam hati, sudah kenal bagai saudara. Rasanya tidak henti, (ingin) terus memandang kesannya seperti istri yang setia. Ia terkena asmara, penuh hasrat, bergairah. Akan tidak baik jika (hal ini) diketahui (orang lain).

ø Lamalah jika diceritakan tentang mereka yang sakit asmara, kemudian datang di pertapaan. Kini diceritakan tentang Surajaya di pertapaan. Tetap lurus maksud hatinya pada samadi, menyatu (pikirannya) tidak buyar, agar Sang Hyang Hayu nyata-nyata ada di dalam tapanya. Ia tidak menyadari bahwa diberi isyarat oleh perempuan sebab baru saja mulai (sebagai pertapa).

ø Hasrat hati agar mendapat kemampuan untuk (melakukan) tapa yang kuat. Jikapun merasa sedih tinggal di ngarai itu karena ditinggalkan ayah ibu. (Sedangkan) sanak saudara tidak ada yang bermurah hati akan kesengsaraan yang dijalani, untuk memberi kata-kata penghiburan. Tetapi masakan demikian terus menerus?. Ki Surajaya terjerat perempuan berbadankan gadis.

ø Tidak ada cara selain melakukan pengalihan perhatian. Dia yang mempunyai kekuatan waspada bahwa perempuan (bisa) sebagai yang membatalkan (tapa); dihancurkan pun tidak hilang (kekuatannya), dalam pikiran merintangi, sulit untuk dilawan (bahkan) oleh sang wiku (sekalipun) karena (hal yang merintangi itu) sungguh ada bersama dalam jiwa. Dia yang melakukan (tapa) harus sungguh menyadari pengendalian diri yang sempurna agar terbebas dari godaan.

ø Ki Surajaya ditunjukkan secara rahasia caranya melakukan tapa. (Bahwa) penerangan Dharma itu menguasai keadaan (wisik) merupakan perlambangnya. Tujuh hari lamanya (Surajaya) mengusahakan, (tetapi) tidak mendapatkan intinya yang sesuai dengan laku. Dia yang utama menyamarkan petuah untuk dirahasiakan. Matahari tenggelam, malam itu pun menjadi gelap saatnya rembulan muncul.

ø Sang Guru yang utama mengucap syukur dalam hatinya(?) oleh banyaknya siswa. Ki Surajaya menguasai keadaan dirinya(?) Bersama dengan Ki Salimut (Surajaya) mendengarkan dia Sang Pertapa yang membuat terang hati tentang gambaran laku. Si Surajaya diberi tahu ajaran tapa (dan) caranya menjalani agar semakin paham pada kearifan.

ø "Tidak lain, Ngger, sebagai awalnya berprihatin: badan hendaknya sungguh-sungguh seksama menghadap. Jangan terlalu banyak pendapat dicari karena akan kecewa, Ngger, dalam pendapat itu. Ragamu usahakan, Ngger, agar jauh dari 5 indriya. Hendaklah diingat untuk menguasai "rajah” dan “tamah". Munculnya kata-kata buruk atau baik hendaklah dilenyapkankan saja dari hati.

ø Hatimu terus menerus usahakan tenang dan jernih, (seperti) yang diangankan orang-orang seluruh jagat. Segala hal buruk lenyapkan semua. Kuasailah perbuatan baik sambil berusaha memperhatikan, Ngger. Jangan berbuat yang menarik perhatian, perbuatan disamarkan saja, bersikaplah seperti angin. Dalam menjalani tapa brata hendaklah berani menghadapi kesulitan dan kesengsaraan badan maju terus dengan (penuh) kekuatan.

ø Dan lagi keadaan orang prihatin hendaklah diikuti dengan bersatunya nafsu(?). Usahakanlah, Ngger, jangan kendur (semangatnya). Carilah di tempat sepi. Samadimu bersatu dengan hal yang kecil, mampu, sesuai dengan keinginannya. Hal itu jangan sampai terlewatkan. Terbukanya pengetahuan sampai ke langit. Peganglah erat-erat hal yang di puncak, yang membuat rahasia, yaitu ujudnya ada pada nafsu.

ø Lihatlah, Ngger, kuatur. Godaan itu masakan terus menerus?. Pertanda itu namanya "wĕƞaniṅ swara", Anakku, biasanya menambahi kerumitan, lebih baik lakukan saja. Pesanku, Anakku, selaraskan, Ngger, hatimu. Jangan terburu-buru berlagak mengerti, perhatikanlah dia yang utama. Masakan gagal?.

ø Orang muda jangan berlagak seperti penyair, jika tidak tahu mana lawan mana teman. Sangatlah, Ngger, (...?) bagi dia yang berhasil dalam laku. Sungguh mudah jika (tahu) caranya". Sang murid menerima, berguru kepada Sang Guru. yang memberitahukan kata-kata yang melegakan. Secara terbuka Sang Utama sungguhsungguh memberi tahu yang sebenarnya. Jarang orang bertindak demikian.

ø "Ki Surajaya anakku, Ngger. Ki Salimut, anakku, Ngger, selesaikan semua olehmu seluruh pengetahuan, agar tamat. Sebagai harta isi kantung (kandhi) engkau, Ngger, mahir akan segala pengetahuan, tetapi jangan gegabah, lakukanlah (...?) usahakan agar mahir. Usahakan dengan segala kekuatan ragamu itu (untuk melakukan hal ini).

ø Janganlah tidak berkemauan berbakti kepada Hyang Widi. Yoga dan samadi laksanakanlah. Bertapalah, jangan sembrono, baik siang maupun malam selaraskan. Pikiran yang mantap rahasiakanlah, Ngger, jangan dibiarkan bingung, disamarkan dalam kata-kata sebagai tempat untuk memperoleh anugerah. Badan yang sengsara, mengalami kesulitan, tidak berdaya (dan), nestapa, (hendaknya) dibuat tegar.

ø Jika sudah dikuasai caranya, Ngger, demikianlah kau usahakan petunjuk rahasia semua laku, keragu-raguan dalam budi yang terdalam, penjelasan sabda yang senyatanya dan petunjuk yang akan terjadi di bumi. Jika hal itu ditemukan, engkau akan mendapatkan kepuasan. Surajaya, jalani hal itu dengan terbebas dari hawa nafsu. Itulah kekuatan melakukan tapa secara terus menerus.

ø Kesulitan pada dia yang tahu akan inti sari yang bersifat rahasia secara khusus arahnya pada ujud dan penampilan. Padahal (hal itu) tidak akan ditemukan karena engkau asal mula yang tahu yang menguasai mati dan hidup. Tenggelamnya matahari tetap arahnya, dunia sebagai pusat (?) karenanya tidur bisa bermimpi, jiwa bagai bayangan.

ø Tanda-tanda khusus wiku yang mengambil inti (tapa) tidak tergoda oleh hiasan-hiasan. Menguasai dunia seisinya, yang indah, luas-tidak terkatakan. Segala nafsu injaklah, yang mengganggu mata terimalah sebagai bawaan lahir. Hati-hati jangan undur. Bergerak dengan perlahan pengetahuan itu, menakjubkan.

ø Sulit jalannya bagi dia yang akan menemukan (hasil). Jauh tidak terhingga tidak bisa diupayakan. Sulit, rumit tempatnya. Dicari pun tidak dapat ditemukan. Dengan cara samadi, bisa diambil secara diam-diam disamarkan dalam ucapan (tetapi) tidak dapat dialihkan. Demikian Ngger badan itu. Pendeknya jangan tergesa-gesa, usahakanlah meski dari sedikit. Orang muda pastilah lalai. lwiṙr aṙca manik ṗramudita mahniṅ si/nikĕp ka muḍa

ø nahan ṗitutuṙrira saƞ adi guru waraḥ tatwaniṅ pamarasa dalu masaniƞ āgotek ṣurajaya hati/ butuḥ hawatara madyaniṅ ratri hyaṅ saśaka g̈ancaran saṅ guru hamuwus ki śurajaya hanakiṅwwaṅ bawalaksanakna denamiśani, hiḍĕp aja do/para

//0 lah asiṛp maṅkwa hanakmami dalu samaƞṣani pramusita sabḋa tan ana tlage haja tan kapituhu, hiƞtiƞĕt a/yo taneliṅ śurajaya denkĕna de ntaƞon maṇaḥ kuṅ tlasniṅ śaƞ ady awaraḥ samṗun mantuk sakṣana hadan aguliṅ śurajaya kewƞan./

ø apraṗañca panaṙkani kawi, winiweka pasraṅniṅ wacaṇa, sawƞi tan kĕne kule saṅcitwa hayu kaṅ ketuṅ haṅrasa/ ƞel. wṛdiniƞ ati, çiptane kariwƞan ṣurajaya tan wruḥ palayuni kawacaṇa tan koniƞāheṅ wƞi rahina mana hyaƞ aruna smu baṅ

ø rahina tatas ḋoraniṅ kawi, hniƞakna ki surajaya, haƞuratenī halot aƞel. hana gantiniṅ wuwu/s. kawaṙṇaha ki daṙmmakawi, kasuṅ pratama gama lƞit ṣwaraniṅ śwaranipun satata guṅƞakĕn tiga samṗun tĕlas karakwat iṅ baḃad waṅsit haƞiṅ ta/nṗa ñumana

//0 tan asiƞgiṅ sabḋa kumalwiḥ yen sinewaka deniṅ bahu sikṣwa maṅkin tan ṣurud. sabḋane saṅ/ katon saṅ karuƞu niṣṭa ṗala kaṅ denrasani, prawĕñcaṇiṅ sarira tapaniṅ lumaku surupniṅƞ aditya wulan. winiweka huripiṅ ra/hina wƞi haƞaku wruḥh iƞ awa

//0 gĕnti tan ṗgat wacaṇa mijil winawā wa ri sambarana dengawayakĕn ṗola/he lalawuhe ƞinum ṣaṅ hyaṅ daṙmma kaṅ denrasani, śuṅsaṅ ṣoƞaṙ paṭelaṅ winawa hawuru mesĕm ṣaṅ pratameṅ rasa hamihaṙsa waca/na hakweḥ tanṗa samiṙ solahe kaya hiya

ø pinisiƞgiḥ taṇ ana mopogi, yen ammiweka daṙmma hupa/ya maṅkiṇ aluhuṙ śwarane hiḍĕp kaṅ duruṅ wĕruḥ kasaṅṣayan manaḥhe braṅti, hakweḥ bakti mulawa, hasoṙ manaḥhipun. kna si muḍa hiḍĕpan haduluri kṛtīsamayane lwiḥ maṙmmanya maṅgiḥ laba

//0 hana naya lalanaṅ pinuji¡, hantyata/ listuhayuniṅ rupa, hapasaṅ jaja wayahe kakaṙsana pamulu pamalihaniṅƞ apsari kusuma ni widaƞgana dibya ṇurun ṗiniṇḍa/ne śuralaya kadya miṇḍa maṇuśa siliḥsiliḥ daṙmmakawi mawan.

ø hatuk nugraha wṛtini kawi, pinariśuda/ brata niṙmala, binisekayu sinaren lalayaƞani karum ṗinarabaṇ ni tejasari, wiraḥ twasni rena, daṙmma muruk liṙniṅ sa/bḋa mahaprana, hantyata piniƞitira ki daṙmmakawi maṙme tanayaṇira

//0 ni tejasari samṗun amaƞgiḥ wwaṅsiti/ra saṅ prasidakaṙyya brata minaka natare saktisakti winaƞun riṅ woƞ ayu watĕk siṣiriḥ maṅkin rupa śumilaḥ jatmika budy alus tan bi/saman kasaṙgga haƞi hana denantī kacipteƞ ati prati jñani ruṅ samaya

ø ki daṙmmakawi mawacaṇa ris manaḥ kepwan tumiƞa/l i wka hapik tan aṇa kaṙsane ya ḍuḥ niny anakisun harerena denta sīśiriḥ laḥ ya mastu halabuwaṇa, sipi maṙmaṇipun balekaniny akramaha kweḥni taruṇahase rupanta ṇini hastam tan ṗarimana

//0 punapa wasanaṇira nini halani wwaṅ/ habudwakĕn ṗati ni tejasarī wuwuse bapayo patikutu, sadeṇira midiya kami, melik arupa hewa, hakramaha/ teśun bapa homaḥ homaḥha lamoṇ ana tlĕṅniṅ ñana kahiṣṭi daṙmmakawi kemƞn.

ø sajalwistri paḍa mituturi/ heman ewĕḥ nini denira brata saƞ ayw aƞelamon ṗinet hakweḥ wig̈nani laku riṅ woṅƞ ānom tan wun kasilib hamuraṅ/muraṅ lamṗaḥ haƞudwakĕn kayun ḋaṙmaweḥ sukaṇiṅ raga daḋi duka luputa deniṅ sapṭik hamĕtwakĕn wigraha

//0 apaniṙ/dwaniṅ brata weḥ juti, yen tan atuta riṅƞ adiyogya yyakti lan orana twase lamon tanṗatut ṗanaƞṣayaniƞ amri/ḥ kitri durana byantara, mareda pinayu taṇ uniƞ asolaḥ riṅ lyan hapi tan waḥ wiseśa rag̈a pribudi me/ku rupaniṅ taṗa

ø punapa kasukaniṅƞ ati lamon tuhuniṅƞ amriḥ nugraha, haƞī ta haja tanṗa iseki hakweḥ paṛƞĕni śun ri... wwaṅ wadon lumakw akili tanṣa habĕḃĕśusan lakune denṗayu lamon mihat i lalanaṅ hasmu binḋaṙ lwiḥ tan a/gaṇiƞ ati nora lyan kaṅ denṗalaṙ

//0 tan yogwa tilasniƞ akikin wiku gĕnḋrak. brata deniṅ bawa, udalañcaṅ maka pa/mete mantra paṗantĕn giṇuṅ tan <maka>ṇahā ni tejasari, ka tuhuniƞ atapa, wisaya linĕbuṙ karasmin taṇ iƞ √niƞa/ haƞiṅ tuƞgal ṗriḥ lkasira saṅ kili, sahani kawiseśa

ø bayu sabḋa hiḍĕpta ṗatene hapan ika mriḥ kar sm niṅ driya, saṅpihana sakaṛ/pe haywaguƞakĕn lulut sabḋa lamon aƞuniƞā rasmi, hiḍĕp lanaṅ koṭila, hawis mariṅƞ ayu hakeḥ mariṅ duratm/aka yen tutana sayakti raga kag̈iƞṣiṙ manasaṙ maƞala

//0 mewĕḥ kaƞ iƞāranan apusi, ka tanṗa ƞaṙsa ye jalu tuhan hagaga/ mamayu ḍewek tan ṗurusi deniśun lamon jĕleḥ manahe braṅti, paḍa dene kaƞelan hamoṅ ciptanipan a/jyana roṅka wantaha, lan woṅ lanaṅ hiyeṅku tapa ṗurusi, tan kagiwaṅ ƞoṅ manaḥ

ø śumahuṙr aloṇ ni tejasari, tan makana swarani pratama ḍuḥ baya pira kweḥhane tan ketaƞa ka lulat hulatana sakweḥ pawestri, tan aṙsa heṅ lalanaṅ mapi/ṇḍahupiṗun kaṅ tuhuniṅ kumawasa mon ḋarana wruḥ pamĕgati wisāyi, paramaṙtane rag̈a

//0 akweḥ bawaniṅƞ āmbĕk ṣumakti ra/hina wƞi nini koṇiƞa yen tan kĕṙtīsamayane denṗunṗrayatna laku nhĕṙ mojaṙ ni tejasari śwapa bapa wikana/ sajyanĕn. yen luput sawaƞna ri pun iṅ lamṗaḥ sahulaḥha paƞeran hana ƞāwruhi, hala haniṅ raga

ø hantyata wacananira ni/ni wruḥ palacalaçaṇiṅ saṅ śipta ḍuḥ baya hĕnḋi saṅkane maṙmaniṅ tan kabutuḥ wruḥniṅ naya cipta misani, laḥ nini depu/ṇawas jaba dalmipun ṗrasidakna lamṗaḥta maka paƞībina sanakteku nini sira maka kīmraƞa

/0 utamanira saṅƞ ānom kawi <ta>/mapi lamon wikanirasa tan kapiƞgiṅƞāniƞ akweḥ midĕṙreṅ luhuṙ guṇuṅ satus tuƞgal sewu kakaliḥ maṅsa kamy a/mwaƞgiḥha kaṅ kady anakeṅsun ṗratyaksa wikan i naya yyan i rupa saśolaḥhira nirukti saksat ḋewaniƞ unaṅ

ø kĕsayen.buh agĕṅ rasaṇiƞ ati, lwiṙ saṣaƞka puṙṇama ne cipta maṅkin tan. tṛsneṅ karamen karasika niṙ lamṗus ḋatanṇ aṙsa ra/smiƞ aśiḥ g̈ĕṅṇiṅ wipwa ṗinuṇaḥ lalaƞwaṇniṅ lulut karasa deniṅ kasiḥhan mugiṅƞ asramma guṇa kawiṣṭi ṗinriḥ ṇarani ḍĕṇḍa

//0 hĕ/niƞakna ni tejasari, pgat lamṗus amiweka daṙmma brata minaka natare śurajaya wiṇuwus kaliḥ tahun tumakita/ke brata dagaṇ iṅ tuhan habakti yatutuḥ hagĕṅ panaṙkaniṅ daya hatitaḥ kadaṅ wraga nora katoliḥ lamṗuś rasaniṅ ñana/

ø tlas ṗarikramaniƞ akikin hanut sarasane saṣtragami ḍapuṙri tatwa wruḥ kabeḥ bakat lawan ṗamutus ja/yeṅ saṣtra tameṅ pañjahit kawi basa rinasa wruḥ parupĕkipun ṗratyaksa ƞikĕt ṗralambaṅ wruḥ sarasaṇiṅ canḋama śwara sanḋi mahaṙ/deka ri jñana

ø wus kawĕntaṙ kaloka prakawi ki surajaya wus ṗiniguṇa wiwara tan kĕṇa penet tiga nahya/naṇipun mapan. wṛtinira riṅ ƞuni wijiliƞ apa kaṙyya malyani laku winoṅƞī widya ƞambara maṙmane taṇ aƞel amiweka kawi nayanane wṛdaya

ø sakweḥni sakakala kahiṣṭi wruḥ riṅ tatwa kamulaniṅ praja kuyya kasaṅkala wase/ mlok milwiṙ mwaṅ tĕrus winiweka sakalaniṅ bumi pinet liṅniƞ awantaḥ samut ṗaḍa putus boṇḍan lyan. bumi winḋana kṛmṗani praja lwiṙ/ni kalaburu śri pasiśintan wus ketaṅ

//0 wiwarani maṇaḥ wṛdi hati, pamurukaṇiṅ sanak sanakala, paḍa hatumṗa/ gocarane dumeḥ budinya ruruḥ lanaṅ wadon hakweḥ hamuji, deniṅ pratame kaṙyya rupane habagus ṗrakosa tuṙ pra<gi>waka,/ budi boñcaḥ satata wikan iƞ ariṅ hasuṅ tṛsniṅ jñaṇa

ø punapa ṗarañcanaṇiṅ kawi, samṗun kapuraṅ wijiliṅ sabḋa/ ki surajaya tameṅ reḥ kawiḷt i pañjaṅ kiduṅ guru lagu saṣana keriṅ haṣṭagana piṇĕñcaṙ skaṙ śapaƞipun maṙma lapus kawṛdi pakne/ netyakara muṙtiniṅ sanḋi paliṅga wruḥ niṅtyasa

ø dibyani guṇa lwiṙ tanṗa cantri tlas keku rasaraniṅ rupa, ṗatu/tuṅgalane kabeḥ prawṛkaṇḍa rinatus weniweka wṛçita niki g̈ama tan kumalamaṙ wite wus katmu haƞi lage kariwĕƞĕn ki surajaya hana kaṛpe maniṅ saṅ hyaṅ daṙmma koniƞa

//0 winiweka solaḥ riƞ akikin tanṗa wkas diṇiṅ/ kaprataksan ḋaṙma kalaƞoṇ arane jñaṇa kadi kadĕhuṅ mapa tan wruḥ tosniṅ śabḋalit nikara nika wiguṇa pikĕkĕse tan wruḥ/ ka tinugwaṇiƞ atapa lagi mayoṅ jatine duruṅ kapaṅgiḥ maṇḍĕg iṅ pajapaja

ø ki surajaya ƞukiḥ tan pwaliḥ saṅ/ƞ adiguru tan ṗitaya reḥni lagyanom wayahe manawi tan ṗaremut saṅ winaṅsit wase tan mijil mānaḥ mankin saṅṣaya/ śurajaya muwus haḷp. śwaraniṅ wacana sira paƞeran siṇuƞaṇ aṙti nugrahaniṅ waçana

ø aśṛṅ śwara/nira ƞasihaśiḥ punapa yatẗi wasanaṇiṅ raga saṅśa tanṗa reḥ kadw agaṇiṅ lumaku tan wruḥ maṙga pun surajaya, hamala/mpaḥ winnĕƞan wirasa kaṅ tuhu sikapaniƞ amriḥ śunya pun ṣurajaya ƞiṣṭi nugraha lwiḥ sahaṇniṅ dasamala

ø /nora lyan ṗawarahiśun kaki haywa hakweḥ bapa ḃawa rinaksa pan iku bapa haweḥ haƞel sabawaniṅ saṅ wiku laṅgĕṅ manaḥ hamawa hniṅ satyaniṅ tapa brata niṙmmalaranipun byantara mukti karuna wkasiṅƞ ajidaṙmma norana maweḥ samunĕ/n ragaṇira

//0 sahan iṅ dwara jutiniƞ ati daḋa nastiti kapara maṙtwa kṛtayawara budine ya ta sinĕgo wiku tuhu ha/ƞel bapa saṅ ṛsi tan kĕṇa ri dora prabedani laku dora kaṅƞ aweḥ pataka, lamon ḋahat hagawe/ laraniƞ ati, paṗane tan ṗahiƞan.

ø sira saṅ kawasa mutĕṙ sanḋi samṗun keku wijili bañcaṇa yoga maka takise/ hatwĕk. budi harum ṗrayatnasoṙ wtuniṅ titiṙ, hakweḥ minaka lawan saṅƞ asajya hayu saṅ kawĕtwa neṅ buwana/ śurajaya maka musuḥhiƞ akikin ṗadraniṅ wiseśa

ø ki surajaya tuhu kasilib tan wruḥ yen aṇeṅ raga wiseśa kaṅ de/nsaṅṣayakĕn maṅke tumut saparanipun haƞiṅ tan wruḥ ki surajaya jatiniṅ rag̈a wnaṅ maṙmmane kabutu humoriṅ ji/wa pṛmana tuhw agamṗaṅ tṛṣnasiḥ makana nilib saṅ hyaṅ taywa siluman.

//0 ki surajayanakisun kaki waneḥ saṅ wruḥ tatwani purusa pamuraṅniṅ daṙmma pit mewĕḥ bapa ri pamutus. yen tan atut gĕlaṙ sayakti ñumanaṇeṅ buwana/ taṇ apik i laku hadikarabi saƞ ucap sabḋa lṗas tapa brata dencamṗahi, hagila ri pustaka

//0 tan maṅkana śwaraniƞ ā/maƞgiḥ saṣtra witiṅ sabḋa kamotaman saṅ kocap hĕnḋi sakane maka pawinyanipun hulatana gorawe/ƞ ati, tan kataman saṣtra wuwusṣiṅƞ apuƞguṅ hagileṅ pra pustaka dalihane muḍa kuṅ tuṙ kumalwiḥ kasmala budy ahiwaṅ

ø nadyan tĕ/lasa hiseniṅ bumi paṅrañcaṇani kawy aƞambara yen tan atut iṅ polahe hanom kita hanakiṅsun lagi/ menḋra praṗañca kanti lula soƞaṙ prahesan hawya tan ṗarimut. mewĕḥ riṅ daṙmma prakamya pan alaraṅ śuƞana sari sadmiḥ/ wtuni jatiwaraḥ

ø laḥ tarimanĕn ḋe ntayo lali, śurajaya glaṙriṅ waçana ƞoṅ tatane kamulane/ ṛƞaṛƞĕ denṗutus ṗamalwane leka niṙ daḋi wiseśa waṙṇna lila hamitwakĕn bayu sabḋa hiḍĕp lawan ṗramana ya ta pinĕñcaṙ menaka hisi bumi twasni tiga sarira

//0 maƞkana bapa tatwāni wisik sarira saṅƞ atmuni wiseśa paṇn i/ya hiku parane paƞulihaniṅ bayu sukṣmawara sarira jati, kawasabota ḍaƞa nīrakĕn tuduḥ wnaṅ ƞalah ana ṇora minaka rupa/ raṙwalit. waṙṇagĕṅ sabuwaṇa

ø ki surajaya wiweka ƞiriṅ manamṗani śabḋa mahaprana, wus kaṣarira ƞa/tene haƞi lagi kabutuḥ samṗune winaraḥ jati, daya liṙ pinanaman hamihaṙśā wuwus ṗanaƞṣayaniṅ wṛdaya, pawarahira hyaṅ pa/ƞusanas teṣṭi duk wahuniṅsun ṣumĕṅka

//0 tiṇuna liwat swarane pinañji saṅ maha munī kadya carita, tina/ta wiṇḍaṙ kabeḥ ṗalayuniṅ pañjĕmuṙ hulatẗana wulikĕn kaki, hamaniya buwaṇa hloṙ kalawan kidul ṗgati kulon lan wetan/. śurajaya kaṇḍĕṅƞĕn wĕkasni bammi pilihana kaƞ iya

ø ki surajaya mnĕṅ tanṗa li daḋi mayoṅ rasaniṅ wṛdaya/ kewĕhan. ñana mirage sumĕk maredanipun ḋeniṅ sabḋa kag̈uṅƞan samiṙ taṇ amisani daya śwara hakweḥ karuƞu praṗañca ti gawƞan wiṇiweka ri daḷme wĕḥ harusit kaṅ wṛdi heṅ wṛdaya

//0 paran wasanaṇiṅƞ aneṅƞ āṙdi hanut lamṗa/ḥhira saṅ prasida milwa hamriḥ tan wruḥ tgĕse haƞiṅ maṇḍĕg aruƞu sabḋa jaba tan tĕkeṅƞ ati gĕṅniṅ cipta saṅśaya sumewa tan ṗa/ntak hanakan iśun luƞaha paran ṗaraṇi raga ƞulati, kapagiheṅ lamaran.

ø pun ṣurajaya haṇḍa pamit hatya/ nuta kaṙsani wṛdaya saƞṣaya wekaṇ iṅ rame pṛanahaniƞ alaƞut ṣriniƞ aṙdḋi wetaniṅ kawi, saṅ hyaṅ raja prawwata kaṙsaniṅ lumaku/ wṛtaṇiṅƞ anaraweca kanuragaṇiṅ tapa sinĕƞguḥ lwiḥh aṙdi tigaṅ sayana

ø akyenḋaḥ laƞniṅ saṅ kahiṣṭi śṛṅg̈ara/ṇiṅ prawwatañaṙ ḍataṅ pira lawasipun maṅke haṙdy añaṙ pamuruju niṙ tayā ṇañjala saksĕṣta hyaṅ śuṙyya <śa>ma prabawaniṅ guṇuṅ ranak hya/ hati wikana, pada hyaṅ giri mawana hapiƞit hataṅgĕḥ pramuṙsita

//0 ki surajaya kamy aƞalaƞe paṗa/ni guru yen atitaha, iḍĕpĕn baṗa ƞoṅ maƞke samṗun agyanakiṅsun ḋaṇĕ maṙga duṙgama rasit ramanta wañcak ḋaṙyya lamṗaḥh eman ewuḥ priṅgaṇiṅ bummi dwapara hapramuka woṅ mako tanṗa kekeriṅ pañcamantra deṇulaḥ

//0 ha/maksakĕn raṇakira lalis ṗun ṣurajaya haƞadu titaḥ saṅśaya midĕṙreṅ ƞāre pasaṅtabya prasadu manaḥ lan aƞudwakĕn kapti/ gĕṅniṅ jñaṇa ƞambara tan kĕṇa pinĕku laḥ bapa kadya ƞapaha yen kita haṙśa hamoṅ menḋrane budi, tulusakna g̈a/

ø aƞi pamĕkasiśun kaki satata depunṗrayatna lamṗaḥta yo kumaƞela depunṗratameṅ smu budi solaḥ kaky a/ja silib. rehiƞ amet sadana, paƞimuriṅ laku samar amor amig̈na balanira samatya nukṛtanīki mwaṅ ka/kweḥha geg̈eyoƞan.

ø lamon samṗun. ṣwĕḥ hamo budḋi, hanuwuki saṅṣayani raga hanuti çipta karamen haja ta/ṇn abaḃātuṙ niṙ ta lamṗaḥ midĕṙr iṅ bummi satatwa kakoçiwan saṅ tapa haṅlaƞut kasirihan ḋeṇiṅ jagat sa/ƞ aƞeca tan wriṅ kramma hanak mami, mnaṅ saṅ kadunuṅƞan.

ø dasa kramaniƞ alaṅlaṅ bummi denṗunprayatna rinaya krama rag̈anta denṗuwany aƞel manawi kamṗiṙr iṅ ḍukuḥ ṛgĕp ḋe nta kaṅ silayukti priḥ cipta manehara, solaḥta de/lus ṣaṅgyakaruna denkĕna ki surajaya depunwikan iƞ aƞīri madura heṅ waçana

//0 manawy ana manaƞṣaheṅ gati, nadya/n kita winehi paƞucap sora na ṇorana palane pesiƞgiḥhniṅ wuwus ḋenṗrayatnaha ƞiriṅ budi, raga denwa/ni haṇḍap. yoganta haja śurud. cupĕn wĕtuniṅ wiṣya laḥ bapa hiƞĕtiƞĕt hayo taṇ eliṅ denṗrayatna

ø samṗun tĕ/las ḋera mituturi, hadan ṗamuhun ki surajaya hatuṙ sĕmbaḥ taṇ aśuwe maƞaṙcamaneṅ guru hasmu kepwan cipta/ saƞ ade tṛsna maƞun saṅśaya manḋra kĕmbĕṅniṅ luḥ sakweḥniṅ sanak ṗagoçaran sami tṛsna kapulut rasaniƞ ati, maṙma sapaƞu/bon.

ø aƞāmĕṙ lamṗaḥ datan apṛgi, lwiḥ pyuḥ rasani daya kaṇḍĕg̈ tan wiṅ paranane layat laris tan ṣurud lamṗa/ḥhira ki surawani, hapralalu hawak braja mati huripa teṅ śun hapan tan wikaniw anlaḥ deḋine sarira lamon kapalis laḥ kadi punapaha

ø śaḥ maṙmaniṅ manaḥ luris wimuṙcitani wṛdaya maṙgarum maƞuƞāṅ ƞare katon ṗaparahipun ma/nḋra lamat riṅ majapahit koƞaṅ daṙme ḋaṙmañaṙ ki waṇī hamuwus mona ri daḷm ṗramana, tuhw alaƞĕ gañjaranira saṅ waṇi ha/soṙ darana manaḥ

//0 aƞantunantun laky amatitis winiweka paraniƞ aƞeca, śaḥ sakiṅƞ āṙdi lamṗaḥhe ha/nut sadawataguṅ maƞ√ mihat saṅƞ amoṅ kapti sadagatya nambayaṅ mrik ṣumaṙ kaṙdyatu waƞini saṙwwa kusuma liṙ manaƞoni rum./wuṙywaṇi kentaki, lumraƞ anilanila

ø antwanta laƞĕni maṙga radin hanut gĕg̈ĕṙ kawiṅkiṅ juraṅ heṙtambaṅ/ śumyok ṣwarane siraṅ ri kuƞkaṅ humuṅ cuṅgareret muni hawanti wany aƞuṅkuli maṙga hane tahĕn ruhuṙ haƞrik ṣwaraniṅ/ cantaka liṙ makilayu sata halasnya saṅg̈ane kady akon manoliha

ø puṗuk munya santun lan kaḍasiḥ/ caça mihat kadi magiraṅ meñcya ne wṛksa guṅ mak dya setra kukunyā mlas ayun. ƞṛsna koci munya raraƞin kokol kadya taƞara, wilisan munya kuṅ wṛgo mnĕṅ tanṗa waly apiṇḍa kawƞan mulatan kawala girin. wwaya tṗĕṅniṅ maṙ/ga

//0 lṗas lamṗahe ki surajaya kweḥniṅ pradesa keriṅ kahaṙsa śig̈ra tan ṣurud lamṗaḥhe lumakw asaƞu bañu, pi/raṅ dina luput iṅ bukti hanḋuṅkapeṅ nagara pnĕt ṣuku pyuḥ hyaṅƞ aṙka dum tiga kilyan tan kawaṙṇnaheṅ maṙgga lakunya la/kunya laris ki surawaṇī pyuḥ kakeƞelan. //0// puḥ buḃukṣaḥ //0//

taƞeha kawaṙṇaheṅ wu/wusṣ aƞamo ciptamet laku halasalasan kapaƞgiḥ kalihan rasaniṅƞ ati kadya maƞgiḥ paƞabtan. lƞĕƞ a/lƞĕ hasimṗaṙ saksna rerwan kaḷson liṙ tanṗa jiwa daya woṙ

ø haliƞgiḥya samahaṙja miƞkiƞākĕn bañu hinupajara/ kabeḥh iƞ anḋoṅbaṅ lan kayupuri samipa ƞāna jamiraḥ hajajaṙ lan ṗisaṅ tataṙ jaƞgakasturī siliḥ/ rok hamiḷt iṅ puçaṅ hanom.

//0 tuhwaṅniṅ paraṅƞan loṙriṅ ḍukuḥ toyanya muñcaṙ haputiḥ muni gumoroñjoṅ haḷpniṅ wuƞkal. śwaranya suṅm <gu>muruḥ hadṛs humili, tumibeṅ paraṅroṅ

ø lalaƞon tinuṇḍeṅ wa/tu pinarigi taṅ baḃatuṙ taluktak munya ƞidĕri tarate hasamaṙ sari sarasija maƞun ṣkaṙ masara ƞambyakĕn gag̈a tameṅ rawit./saṅƞ agugon ṗrataksa gawe lalaƞon.

ø siraƞ amuṙwwa ḍukuḥ lalaƞṣaran sakiṅ guṇuṅ haṅlampaḥ/hī haƞawasi, nastiti tan lupeṅ sadi nitya sagiṅ raka haparab ki hamoṅraga liṙ moda paƞuṅseni woṅ manohara hambĕ/ke tan wiroda

//0 biniseka haraniṅ ḍukuḥ riƞ adisukṣma rahayu kaçaṙyyan ki surawaṇi, lumitu/ hatwaṙṇani tulis halalakon ramayana, paṗateniṅ kumbakaṙṇna śurasara ri palugon tinub ḋeni wre tan katon./

ø kacakreƞ ulat saṅ mu deniṅra saƞ apaluƞguḥ wikan. yen ana taẗami, sakṣana makwa mḋali, ki wa/ṇi hanāwaḥ sila wruḥ nayakaniƞ aƞeca, taṇ aluhuṙ wacanasoṙ madura sip.ta g̈inugon.

ø laḥ kaky aliƞgiḥha ta pukulun ḋiƞaṙyyan saṅƞ amoṅ kapti, tikaḥhi ḷson saṅ bagya riṅ ḍataṅ hasmu kusut hyaṅ kabayan wahu kamṗiṙ pi/ṇḍaniṅƞ alamoṅ

//0 ki surajaya liṅnyarum tan ṗoly atanya pukulun karaniṅsun alalis ṣaƞṣaya hamoṅ, saṅ kapti, huni/ wwaṅ sakiṅ prawwata, saḥ ṣahkiṅ saƞ adituwa, haƞulati śwarani woṅ tilasiƞ amriḥ lalakon.

ø ki hamoṅraga/ haluƞguḥ byaksa saṙwwa pala ṇuṅśuṅ lamṗaḥ ri saƞ añaṙ prapti duṙyyan ṗijĕtan lan magiś cacaḥputiḥ saśayadan ḋibyakweḥ waṙṇani/ raka lyan ta leleṙ kaçaṅƞ ījo laḥ ta ḍahaṙ saƞ alamoṅ

ø samṗunya saji pĕpḍĕk sami haliƞgiḥ hanomma/nom wruḥ hiƞ apti, tmeṅ dasaśila yukti prasama wikan i naya, haƞiriṅ krammaniṅ tuhan ki hamoṅraga nya lon hasamun tan ṗoly aḥ/takon.

//0 laḥ kaky atanḋuka skul ḋenṗrapta gwaniƞ awantur akapribudī hayo hajriḥ densakca sa/pun gigesin manawy akuṅ salaḥ rasa, ki surajaya liṅnyalon maka so kaṙyeṅƞ alamoṅ

ø samṗuniƞ aḍahaṙ taṇ asantun boga wus binakta muliḥ samy aniga kaṅ woṅ kawoƞan hantiga hatanya śun maṙmaniƞ aƞeca kaki pajaṛn ta/teƞoṅ, punaṗa bapa sakaniṅ murud halalisakiṅ waṇadri, ja<t>enana teƞoṅ

ø taṇn ana jarunanipun kesa hatiƞgal. ra/hayu tan wruḥ haƞapusi budi, nipun mitra saƞṣaya kaki, wikana krammaniƞ aƞeça, wruḥha laƞniṅƞ aśramma hapti/ wikana kateƞoṅ, suka dukaniƞ alamoṅ

//0 riṅ guṇuṅ tanṗa baḃatuṙ hamumuṭut kaliḥ tahun haƞuratyani sa/ƞ adi¡, kaƞelan kabuntaṅ bantiṅ soṙ kaƞ ahutaṅ salaksa, ṣarira dene kapyuḥhan hudana panas linako/n hamaṛkakĕn kaƞ adoḥ

ø riƞ ĕnḋi gwaniƞ aśurud nug̈rahamet sabḋa hayu manawi kakī ri wilis hakweḥ kawruḥ/hiśun kaki, riṅ kamṗud miriṅ maƞilyan kabeḥ sanak ṗagocaran riṅ niṙbayā kakĕn katoṅ haƞupadesa/ kateƞoṅ

//0 sugut ḋenira muwus mĕnĕṅ tumuṅkul saṅ tamu śumimṗĕn wacana niki, yeṇn aƞucapṗa riṅƞ ati, ywakĕn sanak sahĕṇḍĕkan tuƞgale¡ saki niṙbaya, hamuwuśwaraniralon manira ywaƞkĕn woƞ anom.

ø /añaṙ baya praptiha mumuṭut ṗan iśun taṇ amnaṅƞi, kapuƞkuṙ deniƞoṅ, sawusiśun kesaḥ baya rawuḥ hagante saṣaka/ praptīne kawṛtane woṅ kaliƞane sira kaṅ winuwus kaṅƞ aparab ki surawaṇi, jayeṅ sastra ṛko

//0 /ḍuḥ pasaṅyogyariniśun bage masku yen rawuḥ lwiṙ panuntuṇiṅ hyaṅ widi kapṛnaḥ sanak sawṛti reḥniṅ tuƞgal sapula/wa, hagĕṅ rasane wṛdḋaya, paran kawikananiƞoṅ, halamī tan maṛk mako

ø lamon tan jaṇĕk īṅ guṇuṅ ya/yī haja sira laƞut haḍuḍukuha hi riṅki, haja winalaṅƞ ati, denira tan ṗaraṅ malaṙ wwantĕna hiṅri wwaṅ yen aḍahaṙ su/kĕt roṇḍon sami kinĕmbulan maṅke

//0 akweḥ bayaniƞ haṅlaƞut haja kḍik ṣukanepun sarira/ yen samṗun. kṛti, midĕra ṇuṅku bummi hamet ṣukani raga, tan katkan ṗan was titaḥ priṅgadoḥ tan kĕṇa dinon hapuwarā raga mayoṅ

ø siśip sĕmbĕṙ kaki laku sira saṅƞ agugwaṇ ḍukuḥ hakḍik ḋeniṅ kasilib. lwiḥ mon sira bawa/ti gaƞaƞlaƞlaṅƞ ḋenagaṅsaṙ maka panudaniṅ mala, tanĕm tuwuḥ sukĕt goḍoṅ sañjataniƞ awiwikon.

//0 hĕ/nḋy aƞuṙ tapa saṅ tinut haƞecalan abaḃatuṙ norana dinum ṗiniliḥ denira saṅ wus amagiḥ luƞa puna/peṅƞulatan bawatiya tanṗa sana, haƞi tuƞgal sarine woṅ nastiti juga linakon.

ø ƞḋi kaṅ duḋokna sa/mi laku denira sa wruḥ hi sarīsa, ulaḥhani woṅ luhuṅ si mon wikan gĕlaṙripun saṅƞ āmriḥ sidḋa kari/hin saṅ lṗas tan katon.

//0 ki surajaya ta hyun mĕnĕṅƞ amihaṙsa wuwusṣe yen aƞuçapa riƞ ati, prawikan aƞiriṅ sa/tata maḍaƞi dḋaya, śumiriṙ jñaṇa mihaṙsa, tanṗa kĕliṙ śwara winoṅ ki waṇy aƞukih hatakon.

ø /aḷp wijili pamuwus. tulusakna pukalun. pamilasani ra kaki malaṙr aweta mumuri, ḍuḥ yayī samṗun makana, samṗun turida riṅ manaḥ hadṙs waçaṇa teƞoṅ hataƞgĕḥ denira lamoṅ

//0 hakweḥ wijili pamuwu/s ḋuranḋun sabḋanipun malaḥ śurup saṅ hyaṅ rawi, laḥ yayī maƞko muliḥ samī hasare riṅ griya, samomno deniƞ amo<la> kĕ/n hamoṅraga daya toḥ, honĕṅ hañaṙ raka wanom.

ø saƞ apaliƞgiḥ wus mantuk saƞ amoṅrasmī haduluṙ prapti/ ṗammaranten kaliḥ dḋawĕg̈ ta yayy amaranti, tlas anjiṇaḥ sayana, tiḍĕm titis we kirana, prasama sare punaṅ woṅ paḍa haduḋwan ṗa/turon.

//0 ki śurajaya hanuṇuṅśuṅƞ isun holiḥhira ƞurateni, jatenana teƞoṅ, manawī kapra/cayeṅ pamuwus rakanira guru hari, mapan lagī mayoṅ

ø ki surajaya hamuwus ṗunapeṅƞ ucapukulun maṅsa murudā pun. yayi/ maƞgiḥha waraḥ jati, saṅ gurw aƞuñci waçaṇa, satata riṅ wƞī nala tan ḋata jaty awaraḥ daṙmma tos hasewa kami ta/nṗa don.

//0 tan lyan ṗaśraniṅ pamuwus ṣaṅƞ adi waraḥhiṅśun. haƞiṅ wirati kikin sarira pinatīpati ki hamoṅrag̈a wacana, haƞel natara lumkas wiratī haƞi linakon saṅkaniƞ amaƞgiḥha don.

ø nora lyan sira la ri śun ri kunā/ dwaniƞ aṅlaƞut haƞ√kiḥha sewaka hamriḥ raina wƞi hakurati, haṅlakoni habeta ḍaƞan hamriḥ wƞiṇiṅ wacana, haƞukiḥ ka/mi hatakon kula hilaṅ budi hasoṙ

//0 tan ṗwaly aƞukeḥ palakwa hamit ƞoƞ asanā batuṙ habhaṛp. ḍu/kuḥ pribudi, ḋady ana ma<ƞa>mĕṅ kampiṙ tlas kaṅ wukiṙ sagara, hanḋum amidī riṅƞ amṗaḥ haṅlamoṅ tan aṙsa gug̈on raga kasihan linakon.

ø /putusi parasa wus aḷmbut niṙ kapiƞgiƞaniṅ tawi tatwani lalakon limṗadḋiṅ kagunan samṗun cakṣyuḥ salokagama/, pinaṣṭi ñumanaṇe katon.

//0 irika gwaniƞ anmu sajatya wa hiriṅśun tatyaniṅ buwaṇa rusit ḍapuṙriƞ aṇuṅ winasit ṗupu/siṅ waṙṇna wiśeśa, witaṇni sabḋa rinasa, wṛcitanira sa manon hamuṙwwa gawe saṅ katon.

ø maka pawini/hanipun saṅ meƞĕt ḋatan katuduḥ ḍuḥ śwapa wikana kaki, wulikĕn ḋepunabaƞkit sira saṅ wasṗadeṅ tiƞal nis.taya wruḥha riṅ sira, kawasa hānon tan tinon huripiṅ jagat saṅ manon.

//0 rakaṇira kaky aṇuśuṅ wṛty aguru rakwa teśun kawƞan ra/saniṅƞ ati, denira wasṗadeṅƞ urip. wruḥ ṗamkasiṅ waçana, hawaraḥ jatiniṅ rupa, tumon bakti heṅ raṙrw aƞon lamon karuhan ka de/n ƞon.

ø haśuwe nora katmu yen ṗitĕṇn iṅ luhuṙ guṇuṅ denṗuraṅ waṇiy aƞliḥ samṗun iƞucap tasaktīn sawaniḥ/ tuƞgaliṅ bawa jñaṇane hapaliriƞan haƞalusa waṙṇnanya woṅ milu prahiƞ awiwikon.

//0 ragane paṇḍita rupa wiku/ hasamaṙ mmanahe cliḥ walaka tan katon tan ramṗĕdakna kakī laku rag̈a ḍewek ṣun wañceni tan mulateṅƞ adoḥ/

ø ki surajaya śumahuṙ hakḍik siṣipāṇiśun manira kaky aƞulari waniḥ saṅƞ atakitaki hakweḥ wiku nora tapa, walakā waṙṇna/ paṇḍita, bawane depungawe soṅśoṅ budeneku hakaki cloṙ

//0 nora lyan ḋenagu ha/g̈u sagupnya numbak anumṗu tĕguḥ kaṅ denrasani, pulukĕt lawan ṗaciṙ lwiḥ lamon kasaḍaƞan ḋaluwaṅ taṇ iƞ unaƞa kala wisaya winowoṅ laku tapā sayakty adoḥ

ø norana kapahenipun riƞ are lawan ri guṇuṅ maƞka/naha saṅƞ āƞawasi, ṣatata guƞakĕn waṅsit ẗaṇ atut gĕlaṙ ñumana, habaḃaru holiḥ sa wulan milu haƞrasani kuwoṅ/ raga winastu tkeṅ don.

//0 pari polahe tan ketaṅ pañcanḋriyane śumaput hamilt amig̈nani/ tṛṣna lulut aṅranĕhi, ƞāśiḥ lulut aṅrajaḥ tamaḥ ragaṇe dengawe hedan midĕr aƞon ṗujañ caron hamet u/taṅ gawenya woṅ

ø yeṇ ana lbaḥ hasuṅśuṅ puṗuji manahe koñjuk ṗaksa munaḥ danakitri, hapan tu/ƞgal sakiṅ pṛtiwi syapaweḥ sapa sinuƞan tuƞgal. wṛtiniṅ sarira, mantraṇe lamon aƞeṇḍoṅ sariniṅƞ imul ginu/gon.

//0 kaliƞane kaki laku saṅ wruḥ pamĕgatiṅ wuwus makiṇn ajana hiƞ isṭi, taṇn ana winas./tu lwiḥ punapa ƞelaṇiṅ śabḋa pan tanṗa saƞu sayatra haja ƞucap. dḋene katon kukuse mlĕk sakiṅ doḥ

ø utamaṇiṅ tapa mo¡n katmu galuga hasuśun sari, nari taƞ āmriḥ don hakweḥ wwoṅƞ aƞucap laṗat lĕbut haƞi/ si tan aṇāniṅ bukti, raga tumoṇḍol

ø ki surajaya liṅnyarum wus kramaṇiṅ woṅ tumuwuḥ suka dukā manaḥ niki, samṗuṇiƞ uniƞa ka/ki, balikan tulusṣakna haywa miroṅ śuda rasanyatiniƞoṅ

//0 haja saƞṣaya hariśun malaṙ kapaƞgiḥ/ya ḷka saƞkaneƞ ati wiƞit samṗunya yayi walaƞ ati, salaḥ tuƞgal kawasaha, rakaṇira milw abuƞaḥ haƞĕntasā śarirani/ƞoṅ mewĕḥ hulaḥ riṅ wwaṅƞ anom.

ø tanṗa kliṙ denya muwus wĕƞaṇiṅ daṙmma rahayu ki hamoṅraga sujati,/ ki waṇy arisun kaki taṇn akweḥ sabḋa ƞuniƞa swapa witi kamoksaṅkan ḋuk sira humori saṅ katon taṇ adoḥ pṛnahe/ koṇno

//0 siramriḥ śabḋa rahayu hapan sira yayi wwitīpun bapaneḥ lamon kasilib ṗan sara/ witira sanḋi¡, śwapamet ṣwapeƞulatan tuƞgal wijiliṅ sarira, kaƞ akweḥ bapa makwa niṙ don magĕṅ pamastuṇiṅ kuwoṅ

ṇ kamulaṇi_ ky aharanipu śarirakna ywa kumuḥ puṇika wṛdinĕn maneḥ patitisniƞ √ri paṅrupkiṅ tigamaya, sari/ra tan kakĕmulan koruƞan maṅkin tan katoṇ niṙ sakiṅ jat mur adoḥ

//0 madyaṇī wƞi yasapun samun tiḍĕmniṅ sakutukutu ki sura/jaya mamaƞgiḥ mas miraḥ komala manik winaraḥ jatiniṅ sabḋa, taṇ aƞel wus katarima, katmu saƞṣayanya/ woṅ musṭikaniṅ rag̈a winoṅ

ø tan koṇiƞaheṅ pamuwus ri wƞi paƞucapisun ki śurajaya winisik ḋeṇira ki hamoṅbudḋi hnĕṅ/ƞakna saksana, gantyaṇiṅ jñaṇa ƞambara hanḋalame śwaranyawoṙ dḋorani kawy apet laƞon.

//0 ki daṙ/mmakawi waly anaṇeṅ śun saśomaḥ tan lyan kahisṭi ki hamoragadoḥ, alami tan mareṅ ḍukuḥ satahun tanṗa tutuwi,/ honĕṅ brata wiro

ø awuƞuhā anakisun ṗarawan aja boturu hataƞī ni tejasari, haṅlusṣ a/mimiru wastra hamuwus tan karakasa, grahita rasaṇiṅ manaḥ hapiṇḍa maras kateƞoṅ sarira lupa tan wri ton.

//0 a tutuṙ śupnanipun haƞipi hala katesun ṗaraniṇ ipenira nini, haƞipi hana woṅ prapti hamaya naga duk./ tka hatma<ha>n wulan lagi haburu hiṅri ƞoṅ, hamiḷt ḋadi tan katon.

//0 haparan waṙṇane woṅƞ iku paṇḍita hanomm a/bagus jatmika solaḥ niki, kajahit rasaṇīƞ ati¡ wṛtinya nukṣmakĕn riṅma tan tutug̈ ḋenya wacaṇa, hanuli/ luƞa tanṗa wot haƞalamalami panon.

ø ana den saƞṣayā hanakīsun ṣupnanireku nini, laḥ samunĕn maƞko/ wus aja sinabḋa kaṅ puniku dulurana sakiṅ bakti, puja brata winoṅ

ø kantuna kitanakiṅsun maṇira tiñjowa/ ḍukuḥ halawas kakaƞira nini, halawas iśun tan ṗrapti, mara heṅ ki hamoṅraga, hagug̈wan iƞ adisukṣma, halami ƞoṅ taṇn ani/ñjo karuƞwa laba ki hamoṅ

ø baṅḃaṅ wetan ṗun titimuṙ ka sata kukuluyu haśraṅsraṅƞan ṣwaraniki, hasaƞga/nī paṛṅ muṇi, śwarani paksi hamijaḥ humuṅ swaraniṅƞ agĕntaṅ riṅ taṇī rahina maƞko sumiḷb wintaṅ tan katon.

//0 paḍa babaṙyyan tumurun sakweḥniṅ para maƞuyu hamet bras mariṅ ra taṇi, kakasinomanya halitẗalit ṗrasama mikul gaba/ḥhe saśomaḥ paḍe mṛdḋana, hatak winaḍahan wajoṅ hatut maṙga g̈uguyon.

//0 tan kawaṙṇnaha lakune riṅ/ ƞnu praptī ḍuśun taṇ asari, panaban kalakon. meh anḋukap ḋe salamṗaḥnyasra haduḋwan ṗaran maṅkya gli/s ki maƞuyw adoḋol.

ø ki skaṙṣara liƞipun laḥ rowaṅ samy dum wayu hajana winalaƞ ati¡, manawa teṅsun karihi sa/laḥ tuƞgal ṗṛgiya, paḍa pagut ṗaƞubaya, ki skaṙṣara karoron lan ṗalaƞane maƞko

//0 /lumṗaḥ hanut gug̈uṇuṅ tgal ṗriƞga tṛjuṅ kaduṅkap bañjaran iki, prapti ḍukuḥ sig̈ra nuli kapaƞgiḥ ki surajaya, haliṅ/ƞgiḥ hamaṅku pada, gaṙjita manahe tumon hana pasabḋanya maṙmalon.

ø ampiṙ biḃi kateśu/n ḋi sanakapukuṙ ranakta tanya hajati¡, sumahuṙ saṙwy amaranti, tan ṗolwa tanya hiri wwaṅ hagug̈wan saṇeṅ rajuna, dwan iśun mara ṅke maƞko hasaśahosṣa ki moṅraga

//0 ki surajayaglis makin tut majaṙ yyen aṇa tata/mi, tu...maƞka mdali ki hamoṅrag̈a liṅnyaris ḋiƞaṙyyan ṗunapa kaṙyya, hagĕṅ rasaṇī wṛdaya, halamī tan mareṅ ri/ ƞoṅ taliƞni baya rasadoḥ

ø masamṗun sinambramā saƞ asuguḥ tumahap ka boga pṛg̈i, wusnya baksa ma/ƞko ki surajaya hamoƞ aluƞguḥ ri sira saṅ maka ti, tṛpti dayanya toṅ

//0 aglis ṗaƞucapaṇiśun saṅƞ asgĕḥ pala/ wibuḥ tiga rasa cumariciṅ laḥ ta muçaṅ saṅ tami¡, samṗun tumahap i jiwa, hamuwusṣa wahu praṗti, hatatanyā/ swaranyalon ki surawaṇī pṛnaḥnya takon.

ø aḷp wijiliṅ pamuwus hañaṙ bayā sakiṅ guṇuṅ hapuṗuḍe mareṅ ki/ sumahuṙ ki surajaya, tan ṗoliḥ deṇiƞ ataṇya, ranakta woṅ katalaya, haƞumbara raga winoṅ ha/met saƞṣaya kalaƞon.

//0 ki hamoṅraga hamuwus wiƞi sontĕn iku rawuḥ kaƞlihan lamṗaḥnya ƞliḥ maṙmanya rereṇ iṅ riki, manira ƞalaƞi lamṗaḥ reḥ woƞ anomm aƞeca, baya duṙgama linakon maṙme la/mṗaḥh ataƞgĕḥ ƞoṅ

ø halawas ḋeniƞ amaƞun tĕ biƞi kaliḥ tahun sarira duka kaseśiḥ nastapa saṅkaṇiṅƞ alit katigal iṅ/ bapa hibu naraka kasuraṅ śuraṅ hatuwa midĕr iṅ guṇuṅ hawakiƞoṅ

//0 wasṗada pratameṅ smu pamuniṅ janma/ lawu satriya ƞuƞṣi waṇadri, ḋi pradesanīri kina duk aneṅƞ amṗaḥ ki surajaya wacaṇa, majyapa<hi>t saṅkaṇiṅƞoṅ haƞiṅ ta/ biḃi tanṗa don.

ø sapa ta kakī namantā tanya śun warahĕn kamī denjati, saƞṣayatiniƞoṅ saṅ tabe/ paƞeran ṗati kutu ramanira saṅ halali swape ƞaran karo

//0 sira mṗu sakala tuha niṅ jatī, haraṇiƞ ibu ma/nira heliṅ tan eliṅ halit wayahiśun kari pjaḥhera ramaṇiṅwwaṅ ni maƞuyu tbaḥ jaja, luḥ mijil manaḥ/...n wriṅ kon kadya ƞipi ṗolaḥnya woṅ

ø ki surajaya hamuwus ṣaƞṣaya biḃi twas iṅśun ṗunapa dyani luḥ mijil ṣumahuṙ saṙww anaƞis ṗulunaṇiśun sira, ramanta kapṛnaḥ sanak ḋuk. buḃaṙr iṅ jro kaḍaton ramanta pisaḥ/ lan maƞko

//0 duḥ bag̈wa kita hanakiṅsun kapaƞgiḥ sira riṅ ḍukuḥ liṙ panutuṇiṅ hyaṅ widi, laḥ bapa miluheṅ wukiṙ haba/ḃatuṙra heṅ rika, hakweḥ pasanakaṇnira, hatuluƞa sukĕt roṇḍon samṗun kaky alamoṅ

ø Apakah aku tidak akan berbuat apa-apa jika engkau mengaku orang yang menderita sengsara. Jika engkau tidak sudi, duhai, Nakmas, benar-benar semakin menderita sengsara saya, sayangku". "Nah, marilah (kita) pergi, Nakmas, anakku, selagi (....?) berjalanlah perlahan".

ø Segera (Surajaya) pergi setelah minta diri. Ki Hamongraga menghibur, "Adi, bersabarlah". Ki Surajaya minta diri, lebih dahulu menghaturkan sembah bakti. Suaranya perlahan,

ø (Hamongraga),"Jangan berlama-lama adikku, janganlah tidak kembali, masih rindu aku. Sudahlah, hati-hatilah, Adi". Surawani minta diri, lalu pergi, jalannya perlahan. // 0 // Pupuh Hartati // 0 //

Cepat jalan Ki Surawani, telah jauh tertinggal Adisukma. Sampai di jalan besar langkahnya dipercepat. Indah sepanjang jalan, matahari baru saja condong ke barat. (Ia) berjalan kepanasan, karenanya berteduh pada dedaunan pohon, di tepi jalan. Terkuasai jurang-jurang terjal. Ia pergi dari perkampungan, berjalan sampai di kaki gunung.

ø Hutan dan jurang sudah terlewati. Rimbunan pohon kayumas berjajar di tepi jalan, meluas. Pohon-pohon memprihatinkan keadaannya, kacau balau oleh angin. Sulur-sulur jangga dan katirah membelit pohon suwarna, sedih kelihatannya. Ki Sekarsara berkata sambil tertawa keras, "Kakang bersumpinglah".

ø Ki Surajaya tersenyum, menoleh, diberi daun dan bunga sanggalangit, Ki Sekarsara yang memberi. "Berpura-pura seperti kera, adikku, memberi daun dan bunga sanggalangit. Engkau bersumpinglah pula, kakang tidak ingin (bersumping). Ketika sedang menahan diri, seorang wiku yang sedang mengusahakan tapa dengan keras keinginan bersumping itu (sama dengan) menghidup-hidupkan indriya".

ø Harum angin menebarkan (wangi) bunga. Hujan menghilang. Tertiup angin, mega-mega menyebar bergerak dan bergeser menebar. Agak gelap, matahari tidak tampak, bianglala tampak di timur. Hujan gerimis, halilintar menggelegar. Burung cantaka terbang tergesa-gesa, (berbunyi) sayup-sayup di langit seperti menangis mengharapkan derasnya hujan.

ø Lamalah jika diceritakan perjalanan itu. Sudah terlewatilah tempat yang tentram itu. Jalannya cepat tanpa istirahat, Ki Surajaya berkata, "Mana desa yang terlewati?". Ni Manguyu berkata, "Benar-benar terpencil yang diinginkan desa Madana". Dengan segera mereka berjalan, hampir sampai di Sitiputih , dengan tidak memperhatikan ia bertanya,

ø "Sepertinya ada desa terlewati mempesona, peninggalan orang terkemuka. Apa nama pertapaan, itu?". "Samering namanya, Ngger, di sebelah timur Petungrata, sebuah pertapaan besar menuju ke Wanapala". Sesampainya di taman, jalannya terhuyung, perlahan, capainya kaki menimbulkan kesulitan.

ø Sampai di rumah ia tidak duduk. Ki Surajaya berjalan hati-hati, Ki Sekarsara kemudian berkata, "Silakan kakang terus saja. Kakang Surawani salah sangka". "Adi, jangan begitu karena maksudku menuju kepada dia yang memelihara keindahan". Seperti mendapatkan jalan Ni Tejasari, remuk redam hatinya ketika menatap (Surajaya).

ø Jika siang hari perasaan batinnya ditidurkan di hati, menjadi kenyataan isi mimpinya. Sama wajahnya, sungguh tidak masuk akal. Bertindak hati-hati, hati pun hancur lebur. Hati Surajaya bergetar karena cinta asmara, hatinya tergelincir, roman wajahnya serba salah(?). Ni Manguyu berkata, "Tegurlah kakangmu, Ni Tejasari, persilakan (dia) untuk makan sirih.

ø Jangan salah sangka, Anakku, dia saudara misanmu. Dahulu ketika di lembah sana saudaraku dekat berputra seorang laki-laki, yang ditinggalkan wafat. Itulah sebabnya ia (Surajaya) ingin mati. Kami berjumpa (dengannya) di gunung (lalu) Ki Surajaya kuajak kemari. Hendaklah kau ketahui (hal ini), Nini".

ø Kemudian (Ni Tejasari) menyerahkan perasaannya dengan cara melakukan tugas yang harus dilakukan kepada Sang Tamu, agak malu karena tadi menatap. Bingung tidak tahu apa yang akan diucapkan. Tidak antara lama kemudian Sang Gadis berkata lembut, salah duga pikirannya, tersenyum sambil berkata, "Tenangkan hati, silakan makan sirih, yang mulia, sebagai jalinan kasih ikatan persaudaraan".

ø Ketakutannya dalam ucapan (menimbulkan) kemanisan yang menyegankan. Pertanda mereka yang sedang berhadapan tampaknya baru saja menjadi kuat (ikatan) jiwanya. Ditangguhkanlah hasrat asmaranya. Hyang Asmara mengganggu dengan cinta. (Mereka) sama-sama terkuasai rindu, disatukan perasaan batinnya, benar-benar sedang sakit. Surajaya masakan urung melakukan tapa mengelilingi bumi.

ø Ki Surajaya menerima tanda penuh arti (dengan) mengetahui ucapan salam (Tejasari). Bergetar rasa hatinya. "Jiwaku (...?). Sapaan manisnya tercampur pada kening yang selalu bergerak cepat sulit diatur, dihiasi dengan tawa dan isyarat mata bertujuan menarik perhatian, membangkitkan pesona. "Sangat berterimakasih kakangmu ini, Nini. (Aku) menerima kehormatan".

ø Ki Sekarsara bertanya mendesak karena si ayah (Ki Darmakawi) tidak tampak: "Si Adi pergi kemana?". Tampaknya mendengar langsung akan ucapan itu, lalu segera (Ki Darmakawi) pulang. Ki Darmakawi melihat ujudnya Sang Tamu. Turunlah Surajaya. Dalam hati Ki Darmakawi tahu, berkata halus, "Duduklah Pangeran".

ø Ki Surajaya menunggu kemudian menghormat kepada pamandanya. Ki Darmakawi kemudian berkata, "Selamat datang Sang Tamu, dari mana asalmu wahai yang punya kehendak?". Berkata Ki Sekarsara, nadanya agak keras, "Tidak kenal kepada keponakan sendiri!". (Ki Darmakawi) diberi tahu tentang asal mula Ki Surawani. Ki Darmakawi tertegun.

ø "Apakah tidak ada kecocokan denganku, Nakmas jika berniat untuk menjadi teman dalam kesusahan?. Tinggallah di sini, dengan segala keterbatasannya". Setelah itu kemudian ia segera menyuruh memasak makanan (?). "Nakmas, silakan makan; makanan sudah dihidangkan". Ni Tejapuspa ada di rumah, memperhatikan dari rumah dari balik penyekat, matanya mengintip.

ø Ki Surawani tahu akan hasrat, pada penampilan Ni Tejasekar. Air mukanya tidak terlalu kentara tingkah lakunya tampak kalau bingung hatinya. Sadar kalau ditatap tetapi (Tejasari) pura-pura tidak tahu. Tidak mau tampak kentara kalau terpesona, penuh hasrat, hatinya terpikat. Tampaknya tidak berhasil maksudnya itu.

ø Dapat menyembunyikan perasaan hatinya dia yang menyuguhkan makanan dengan penuh perasaan. Perasaan cintanya sebagai pengiringnya. Muncullah Si Gadis cantik dari dalam rumah dengan mata mengerling. Ki Surajaya menyongsong (pandangan) dengan raut wajah serba salah, khawatir kalau-kalau kentara. Hatinya yang kacau disembunyikan, ditahan dalam hati roman mukanya (juga) tidak kentara.

ø Hancur perasaan hatinya, gugup penuh rahasia. Keindahan yang ada pada penyair hilang tidak berguna, kemahiran pun musnah tanpa hasil. Berkata-kata hatinya (Ni Tejasari), "Tidak seperti badan ini mati jika (aku) tidur. Tidak mendesak hati untuk bersatu tidak baik kalau dipagari dan dibatasi dengan "turus". Tidak tabu, siarkan cerita ini meski pada lempir yang telah ditulisi". Lembut, tersenyum (Tejasari) pada saudaranya itu.

ø Demikian kata hati Si Gadis, sangatlah besar cintanya. Dia yang berhasrat bingung tidak terkira pikirannya seperti mati lemas terkena cinta. Yang dicintai di hatinya adalah penyebab mimpinya itu terus menerus tidak surud meski dia saudara dari rantau. Ki Surajaya merupakan teman yang tepat untuk mati (demikian) kata hatinya.

ø Jiwa pun kacau pada mereka (?) yang sama tujuannya dalam kehendak. Raga menjadi lesu pada mereka. yang terkuasai asmara. Sulit untuk dipisahkan, tidak terkendali. Pudar matahari, tenggelam. Malam. Hilang cahaya matahari. "Surajaya, tidurlah di balai-balai, Anakku, dengan Ki Sekarsara. Kakangmu menemani tidur". Ki Darmaguna pulang.

ø "Ki Sekarsara hiburlah hati ini". "Nah Kakang, engkau tidurlah. Ajarilah (aku) menembang, melantunkan "kakawin" , aku senang. Kakang mahir dalam mengidungkan bacaanbacaan. Ajarilah aku". Ki Surajaya berkata, "Kakangmu ini, Adi, sebodoh-bodohnya orang di muka bumi". "Engkau mengelak!".

ø Kemudian (Surajaya) mulai melantunkan kidung "gula wuluh". Hati terkuasai rindu. Indah mempesona suaranya, sehingga orang sangat ingin mendengar. Barang siapa mendengar (suara itu bagai) tersayat hatinya, terharu menyayat hati, kesedihannya disembunyikan. Kagum yang mendengar, tidak bisa tidur orang-orang yang mendengar, (mereka) ingin melihat wajah (yang sedang mengidung).

ø Diam, terpesona, hancur hatinya. Menimpali dengan kata-kata Ki Darmaparipta, berkata sambil tersenyum yang meluluhkan tertuju pada dia yang berhati bodoh(?), diperindah oleh Ni Wasi. Darmaguna berkata, "Nakmas, selesaikanlah. Saya tadi mendengar. Tampaknya kidung hasil gubahan itu baru. Luar biasa!".

ø Di tengah malam ucapan dia yang unggul. Ki Surajaya muram hatinya, kentara dari segala tingkahnya. Kesengsaraan raganya yang diingat, tidak mempunyai tempat tinggal menderita sakit cinta, batinnya tidak pernah merasa senang seumur hidup. "Kini hatiku merana jiwa terpesona pada perwujudan yang menyegankan semakin tidak sabar saja.

ø Berapapun perolehanku bertapa tidak akan berbuat rendah. Malahan akan hilang jika melakukan perbuatan dengan tidak tenang tidak mencapai tujuannya menjadi wiku". Padahal terlanjur sengsara, badan lemas. Pendapat hati, menghalangi laku. Banyak hal yang menjadi sebab urungnya tapa, ada pada rasa cinta, menyusup dalam cinta asmara, dorongan hati dilawan.

ø Dirasa-rasakan tidak tidur sepanjang malam. Jika memikir-mikir buruk baiknya perbuatan, terperhatikan semua sebagai laku yang paling baik. Ia (Surajaya) ingat kepada Sang Guru utama yang memberi pesan, kini terasa pada raga. Tanpa mendengar suara, menyusup di hati tidak jauh yang selalu mengingatkan tujuan baik yang rumit. Kini (aku) mendapatkannya dimana-mana.

ø Dahulu ketika aku baru saja datang, dia yang sempurna menahan(ku). Batin tidak ada yang menyimpang, satu tujuan kepada kebaikan. Meski dipikirkan oleh para perempuan hatiku tidak goyah, tidak menginginkan perempuan cantik. Ni Rumita kasihnya berlebih. Ni Warna selalu memikirkan (Surajaya), membangkitkan hasrat. Ni Taki tergila-gila,

ø bertekad turut untuk melakukan percintaan. Ni Rumita mengganggu perjalanan. Ni Warini seperti kanak-kanak yang sangat ingin turut. Sangatlah besar rasa kasihnya, tidak aku perhatikan. Pada pendapatku agar terus menerus sempurna berpikiran baik. Kini menjadi salah tujuan. Cinta persaudaraan kuputuskan". (Surajaya) selalu berbicara dalam hati.

ø Dihibur-hibur hatinya, tidak nyata (hasilnya). Mendesaknya hati melewati batas. Sepertinya simpang siur pikirannya, antara baik dan tidak baik. Kini malam hari tidak dapat tidur, Ki Surajaya merasa kesulitan mengendalikan keinginannya. Hati gelisah pula penampilannya terkena cinta asmara. Sang Gadis dijelmakan kehadirannya (dalam angannya) .

ø Kesunyian orang tidur, tidak ada yang terjaga. Ki Darmakawi tidur dengan istrinya, nyenyak tidurnya. Ki Sekarsara tidur, mengigau merintih-rintih. Tersenyum Ki Surajaya. Malam ia tidak tidur. Membanjir munculnya pertanda sudah bersatu jiwanya, bercinta dengan Ni Tejakusuma.

ø Munculnya godaan terus menerus. Ki Surajaya tidak merasa nyaman seberapapun usahanya kini desakan yang lain menguasai. Diperhatikan Si Gadis yang tajam roman wajahnya. (Surajaya) sangatlah terkena asmara. Malam hari jiwa Ki Surajaya tidak tidur. Bantal basah karena air mata yang menetes di pipi, mengalir.

ø Mendesah, tidak dapat tidur, wajahnya menelungkupi bantal. Derasnya air mata mengalir. Jelaslah bahwa badanku besar penghancurannya yang mendatangi yang tidak senyatanya sebab raga tidak patut dicontoh. Kini mendapatkan kehendaknya, kebetulan sanak saudara. Dimana pun (aku berada) (aku) diberi luka hati yang menembus tiada terkira.

ø Reda air matanya, diseka tidak ada yang tersisa. (Jika) mengikuti hati akan tiada akhir bertindak tidak terpuji dan bodoh. Kemudian ia mencuci muka supaya lenyaplah rasa rindu itu. Sepertinya bingung, menyimpang, remuk, pikirannya lesu tidak ingin berhasrat kepada gadis itu. Kutinggalkan bila sungguh tahu caranya. Alangkah suci murninya.

ø Anak muda tahu tempat untuk menunggu tidak malu jika pun tertangkap basah sirihlah sebagai alasannya (untuk dapat bertemu). Ia (Ni Tejasari) memakai "kampuh" berwarna putih bergambar indah, kain rangkapannya berwarna hijau. Dibiarkan telinganya tampak semakin cantik , wajahnya ayu. Dia muncul sambil membetulkan lipatan wiru kainnya, jalannya agak membungkuk(?), merasa malu hatinya bercampur takut.

ø Cepat jalan Si Gadis, menghaturkan sirih sebagai alasan berhasrat akan saudaranya itu. Seperti gula cair, manis kata-katanya, seperti lautan madu. Isyarat dia yang baru saja datang sesuai dengan keinginan jangan (...?) tidur. Ada pencuri menerobos pada malam hari. "Kau bangunlah, wahai orang yang baru diinisiasi". Sayup-sayup terdengar (suara) dalam mimpi. Sekejap baru saja terlelap Ki Surajaya terjaga, kacaunya hati jadi bingung.

ø Hilangnya jiwa nekad untuk mati. Diam memikirkan tindakan (yang sesuai dengan) hatinya. Ki Surajaya tidak tahu keadaaan. "Ni Tejasari sayangku, kakangmu ini tidak urung mati, menjadi makanan Batara Kala karena munculnya tidak pada saat yang baik. Ada apa (kau) datang?". Ni Tejasari semakin mendekat, "Saya ingin bertemu.

ø Ki Surajaya, kakangmasku, Kakang. Ada sirih racikan seorang gadis". Diterima segera (pemberian itu) digenggam tangannya (Ni Tejasari). Surajaya berkata halus, "Si Kakang menerima sirih pemberianmu, tetapi masakan dapat dibayar kembali". (Surajaya) terkena asmara, tanpa melepas tangan tercampur dalam kata-kata rayuan.

ø Berdesah seperti tanpa daya, remaja yang baru saja menginjak dewasa itu, gadis, cantik wajahnya. Ia hampir menangis, berkata, "Alangkah baiknya jika abadi kasihnya". Surajaya berkata merdu suaranya, "Kacau rasa hati ini karena (kita) bersaudara misan (mestinya) tanpa halangan tetapi lain dalam hal menahan nafsu".

ø Kehendak hati mendesak, tidak nyata. Ki Surajaya seperti memangku, menggebu-gebu rasa cintanya, melakukan persetubuhan, dengan hati penuh gairah, sambil menciumi Sang gadis terkuasai. Setelah sadar kembali kemudian ia mengingatkan tentang keadaan sesungguhnya yang diperbuat. Menjauhnya pertanda, kembali (mereka) berbuat baik yang diperhatikan. Semakin sengsara raganya.

ø (Surajaya) melepas (pelukan) disertai kata-kata, "Yayi mas, juwitaku, (....?) (aku) Yayi. Kini apa yang sebaiknya kita perbuat?. Menikah denganmu, Yayi, meski dihalang-halangi?. Jika pun (perbuatan kita) dapat ditiru, sungguh luar biasa akan dikatakan orang; seribu tahun akan dibicarakan dengan tidak baik. Hal itu dapat diduga.

ø Maksud hati melakukan hal yang sulit, akhirnya sungguh terjadi. Ki Surajaya hampir tidak berdaya, dari kata-katanya tampak semakin terjerat. Khawatir hatinya bahwa ia melakukan perbuatan yang tidak seharusnya (dilakukan). Semula ketika aku naik (ke gunung) itulah yang dipikirkan, ditinggalkan ayah ibu, dahsyatlah nestapanya badan; (lagi pula) selalu dijauhi sanak saudara.

ø "Jangan sampai lupa, salah satu bangunkan, Yayi, kesadaranmu. Sebab tidak terampuni jika nafsu diikuti, luas tidak ada akhir kasih. Jika engkau kelak menikah, aku membantu. Tetapi masakan terlewatkan jika memberi hadiah sebagai pembeli "kain ragi" (?) (dan), menyumbang "lepana".

ø (...?) hati Sang Gadis, bergetar hatinya, lemas bercampur takut, bingung, tidak dapat berkata-kata. Susah tidak dapat tidur karena pasti kacaunya hati. Kehilangan daya, sia-sia, hancur batinnya tidak berdaya. "Nah kau tinggallah- adapun aku kembali pada keadaan semula (seperti orang) yang bertepuk sebelah tangan. Aku mendoakanmu.

ø (Aku) ingin tidak pergi dari sini. Sungguh susah rasa hati ini". Ni Tejasari, katanya, "Ki Purun, Kakangku, biarkan kata orang (meski kita) sama-sama mati. Kakang, anggaplah (aku orang) lain (....?) dan aku terkena asmara, barusan bertemu. Engkau, yang mulia, sebagai jalan kematian(ku). (Demikian) petunjuk dalam mimpi(ku)".

ø Ki Surajaya agak kehilangan kesadaran, sejenak tidak berkata-kata. Terlepas jiwanya, merana, terkena kesusahan, mendengar perkataan yang muncul: "jalan kematian" menyelinap ke hati. Segalanya masakan dapat menghibur. "Perkataan yang mulia kumulyakan, aku hendak menuliskannya".

ø "Teruskanlah kasihmu, Nini, lindungilah aku, Yayi. Jangan sampai tersiar pada orang banyak perbuatanmu denganku. Hendaknya sembunyikan, simpan di hati untuk dianggap sebagai hutang yang hendak dibayar kembali dengan kebaikan. Engkau sebagai bekal ketika aku pergi. Ni Tejasari sebagai saranaku untuk menjadi kuat ketika harus lewat neraka".

ø "Seperti gula cair ucapanmu, Kakang. Seperti kaca jatuh di batu, remuk, sangat manis seperti rebusan air nira bercampur madu, galak di bibir tidak sampai di hati". Surajaya berkata, "Celakalah (kalau aku berkata) bohong. (Kini engkau) pulanglah barangkali ada orang melihat. Engkau mengantuk tampak lemas". Patuh (Ni Tejasari), ia pun bergerak pergi.

ø (Ia) pergi dari tempatnya menunggu dengan tergesa-gesa, dengan sembunyi-sembunyi, seperti pencuri, (...?). (Ni Tejasari) segera sampai di dalam rumah, kemudian duduk termenung agak malu terasa sampai ke hati. Adapun Surajaya hatinya heran, rasanya seperti didatangi perempuan cantik dari Suralaya, hatinya sangat terpikat.

ø Tidak mencapai sasaran, nafsu pun mereda. Dia Sang berolah rindu tidak menyadari akan lawan yang tersamar- besar bahayanya. Meski pergi kemanapun pikirannya, sabda utama yang dicari, menyelinap menyembunyikan diri (malah) godaan dijumpai. Ki Surajaya mendapat kesulitan, menjalani hal yang tidak menyenangkan dalam kenyataan samadi, karena mengagungkan lima indriya.

ø Jiwa bergolak, hati bergetar, linglung hatinya mengembara. Kehendak yang kuat terhalang ketidaksabaran, seperti mabuk, kacau, bingung, diam tanpa suara, sambil menahan hati. Sakitnya sebesar gunung. Begetar hatinya tidak bergerak. Besarnya cinta menggenangi hati, menguasai, derasnya air mata mengalir.

ø Dirasa-rasakankan desakan asmara datang, "Aku pastilah mati, kalau dinyalakan yang menjadi kehendaknya. Apa kehendaknya?. Berbuat mencuri hati?. Jika saja dia (Ni Tejasari) bukan saudara dapat diminta. Aku berusaha terhadap diriku sendiri kelak dapat berjumpa (dengannya), saling menyayangi jika takdirnya demikian sebab tidak dapat ditahan.

ø Duhai sayangku Ni Tejasari, engkau pandai membuat kacau hati, memberi kegelisahan. Besarlah cintaku. (Aku) tidak mampu jika harus memutus hutang kasih sayang". (Demikian) suara hatinya. Hati menjalani laku, tubuh ini barangkali berhasil, (tetapi) pikiran mengembara seperti kera, menakutkan seperti kain sutra di api.

ø Akan panjang lebar ucapanku, Kisanak, (menceritakan orang yang) terkena asmara". Bersambutlah cinta asmaranya, cinta sama-sama menyatu, diatur jika benar-benar kuat. Sesungguhnya nafsu itu maya kuat selalu menembus. Keinginan nafsu menguasai muncul dari kening berganti rupa pada orang yang unggul yang berujud Tejasari.

ø (Ni Tejasari) seperti burung cantaka mengharap derasnya hujan, keluh kesahnya membangkitkan belas kasihan. Masakan urung menjadi lebih cepat kematianku. Hidup pun mendapatkan sakit asmara menyebabkan raga mengembara. Jika sudah terlanjur mendalam rasa hati sudah menyerah. Hati-hati pada desakan yang dahsyat dan nyata, di dalam (rasanya) mendesak-desak.

ø Ki Wani tidak dapat memejamkan mata sepanjang malam, merenung-renung diri manakala menyadari perbuatannya. Kini diceritakan pagi hari, ayam berkokok bersamaan dengan tanda waktu dibunyikan satu kali. Segera bangun Ki Darmakawi, bersuara, (Ki) Sekarsara (juga) bangun. Pagi pun benar-benar muncul. Agak khawatir hati Sang Tamu (karena) keunggulannya cacat.

ø Perasaan hatinya bergetar, sudah terlanjur. Mau apa lagi?. Ki Darmakawi duduk di balai-balai, Surajaya ditatap tampak tidak ceria hatinya. Wajahnya pucat kekuningan, menjawab sedih, "Sesak rasa hati ini, badan terasa sakit, semalaman tidak dapat memejamkan mata jiwapun gelisah".

ø Ni Tejasari belum bangun, masih meringkuk(?) berselimut(?). Agak malu, hatinya hampa, sedih seperti merana. Darmaguna berkata lemah lembut, "Tumben anakku, pagi-pagi belum bangun. Tidak ada asap dupa, sepi. Kemudian bangun, Si Gadis bergegas segera ke tempat mandi.

ø Sejumlah gadis bertemu dengan janda muda dalam tujuannya ke perigi. Pembicaraan di jalan tidak lain tentang tamu mereka di selatan situ yang bijaksana, dapat ber"kakawin" membuat hati takjub. (Mereka) mendengar kidung, semalaman tidak ingin memejamkan mata. Mereka menjauh tertawa nyaring, ramai saling mencolek.

ø Ganti (topik) tidak ganti cerita, muncul karena hati yang waspada. Bohong membanjir tidak surut munculnya. Keluar kata-kata jauh agak menyamping. Alasannya bercerita dengan maksud untuk penghiburan menutupi hati yang (...?). Ki Suranata diperkirakan saatnya menemukan wisik dituangkan pada alat tulis.

ø Satu konsentrasi Sang Penyair, Ki Surajaya sebagai puncak cerita. Artikanlah segala yang tampak. Tejasari diceritakan. Lihatlah, perhatikanlah dalam hati, perbuatan yang penuh teka-teki luhur dalam laku. Semuanya (berisi) nasehat yang amat berharga. Jika (hal ini) dapat ditemukan, itulah ujudnya Sang Darmajati, yang sebagai isi perumpamaan (syair ini).

ø Selalulah untuk mengingatkan menggubah puisi, agar selalu mencipta dengan berlimpahnya pengetahuan. Raga berlagak seperti penyair namanya itu, tidak binasa dia yang menyalin. (Seorang) anak perempuan memberi tahu yang senyatanya, membuat gubahan mengikuti kebodohan, membuat terbukanya hati; sebab menulis tanpa sumber, kemauannya ada di dalam pikiran.

ø sengkalan puisi ini diciptakan. Hitunglah mulainya yang dengan isyarat itu. Dimana tempatnya menyusun syair ini, ketika diceritakan. Ki Surawani selalu jelas terbaca. Ki Sanata mengurangi kesedihan (dengan) menyusun (syair ini) dengan sangat hambar. Terpesona pada keindahan gunung Kawi, dengan berbekal susah dan malu.

ø Akan panjang pembicaraan penyair karena menemukan tanda-tanda peperangan. Sudah menjadi bawaannya, sebagai senjata adalah perkataan. Ki manguyu bangun, matahari pada bulan Magha. Ramai mereka minum-minum, sangat gembira hatinya. Para manguyu sibuk ber"kakawin" meniru seperti (peninggalan) jaman dahulu

ø Lima hari lamanya berjaga, di luar, selalu ada di dangau. Siang malam ada keramaian dengan tuak yang terus menerus mengalir tidak ada surutnya, tetap terus (mengalir). Telah siap lauk empat rasa. Ki manguyu mabuk, riang gembira bernyanyi bersahutan, melontarkan kata-kata "plesetan", itulah tidak lain yang dibicarakan, yang lain membicarakan judi (?).

ø Para muda-mudi banyak jumlahnya masih kecil-kecil. Ni manguyu dan yang lainnya turut ber"tandak". Ni hindang senang hatinya berputar salah tingkah, ramai ber"tandak" melengking-lengking menghabiskan tenaga. Senang Ki manguyu, mabuk semakin agak kurang ajar (sembrana), ucapannya tidak karuan, tangannya menggapai-gapai, menenggak minuman, tempat minumnya terlepas.

ø Yang lain jatuh dari duduknya, hilang keadaan semula, berantakan. Ada yang muntah di tempat menari, mabuk tidak perduli aturan, kacau semua meraba-raba. Ada yang jatuh terlentang, pening kepalanya, bangun lalu jatuh terlentang seperti orang gila, kotor keadaannya, membawa pula pikirannya sedikit bercampur muntahan

ø Sudah puas ketika bangun. Pagi hari kini diceritakan. Ni hindang kini turut serta mereka berkampuh serupa. Diceritakan Ni Tejasari yang sebagai pemimpinnya telah berganti memakai "kampuh" (berwarna) putih bercorak sayap burung nuri. Ia memakai kain berwarna meriah, halus dengan dasar putih, pantas, anggun tingkahnya.

ø Rampingnya pinggang yang putih bersih, gemulai seperti anak panah yang dicabut dari kantongnya. Wajahnya menarik, tenang, roman mukanya dan tatap matanya memancarkan cinta. Alis yang lengkung datar, mengkilat membuat hati rindu. (Matanya bagai) bunga padma seperti permata kencana, rambutnya seolah-olah awan mengandung hujan, dengan hiasan kepala kelembutan.

ø Putihnya gigi barusan dipoles, terselip pada bunga katirah seperti buah manggis merekah. Ketawanya seperti mengulum madu dan air gula yang tumpah di gula. Kelihatan roman muka, tajamnya tatapan (mata) memberi sakit pada yang melihat. Kesusahan mendalam pada pikirannya. Ki Surajaya tidak habis rasa kasihnya, bagai tidak sadar.

ø Sejumlah perempuan terasuki asmara. Ni Rutarja, Ni Sekar, Ni Dosa yang lain Ni Ratnasari mengikuti, mereka berusaha memikat. Sedangkan Ni Rumawit dan Ni Rumani (Ni) Suwarna, Ni Padma tidak ketinggalan sama-sama muda cantik wajahnya. Yang seorang lagi lembut, seorang wanita manis bernama Ni Witarja.

ø Ada dua bersaudara wajahnya seperti lukisan, bagai kembar wajahnya. Ni Sumarsa seperti ibu lakunya, pantas tingkahnya halus. Ni Rumawit perilakunya, (...?) tingkahnya menjadi pembicaraan para perempuan. Tidak ada yang seperti kakangmbokku Ni Tejasari yang sebagai bunga desa.

ø Ni Rutarja warna kulitnya kekuningan. Ni Ratnasari bagai pisang ranum, kuning warna kulitnya (...?). Ni Suwarna warna kulitnya kuning seperti bunga kuranta. Adapun wajahnya seperti daun kepuh bentuknya, roman mukanya tenang. Mereka berjalan bersantai santai. Gemulai pembawaan Ni Padmasari, seperti pohon tertiup angin .

ø Para perempuan riang gembira, hati berkelana, cerah roman mukanya, sudah selesai berhias enggan (pergi) kerasan di desa. Gadis gunung pandai bertani, jika memakai kain berbeda dari kebiasaan (orang-orang), jika memakai selendang seperti orang memakai "kampuh". Mereka memakai bunga priyaka yang memenuhi telinga yang karenanya mengusap-usap.

ø Ni Tejasari tidak lain yang dipuji-puji, yang menjadi buah bibir para pemuda. Diceritakan tingkah lakunya agak malu-malu ulahnya. Banyak (pemuda) yang menginginkan tetapi bertepuk sebelah tangan. Tidak berbeda pula halnya Ki Surajaya hatinya merindu, (tetapi) disembunyikan, tidak gegabah . Meski hati sakit (asmara) disamarkan di dalam hati tidak muncul dalam ucapan.

ø Sejumlah gadis pertapa perempuan tergila-gila, hatinya sedih. Tidak lain tujuan hatinya adalah Ki Surajaya yang diperhatikan. Dicoba untuk didapatkan daya pikatnya pada isi sindiran dalam ber"tandak". Rintihan orang yang merindu, disajikan dalam syair. Mendapat kenikmatan Ki Surajaya karena banyak yang berhasrat (padanya).

ø Ni Tejasari sebagai yang pertama, Ni Sumarsa dan Ni Witarja. Ni Sekar, Ni Dosa berikutnya berurutan bersama-sama, tampak bagai bidadari yang bercengkrama di taman (mereka) berusaha mendapat pesona keindahan. Ni Sari sebagai pusat di tengah, Ni Rutarja, Ni Ratnasari, Ni Warini, Ni Rumawit terakhir.

ø Sudah pergi dia yang membawa keindahan. Ki Surajaya pergi berkeliling, Ki Sekarsara menemani. Para pemuda menghantar, semua berhias bersumping. Tidak diceritakan di jalan, jauh yang dituju, sudah ke arah tempatnya berguru. Ramai-ramai(orang) ber"tandak" dengan sungguh-sungguh, kemudian diteruskan lagi selalu berganti tembang.

ø Serupa mereka bersumping bunga pakaja, mempesona hati. (Hal ini merupakan) kegembiraan para perempuan muda dan tua(?) semua. Semua berwajah cantik hanya satu yang unggul tingkahnya ceria berbadankan "gadung"; kecubung kasihan pun alah. Demikian penampilan Ni Tejasari seperti jamur intan.

ø Bertambah cantiknya (Ni Tejasari) dengan caranya bersumping dengan pucuk katirah disematkan pada bunga kenanga seperti gunung kembang meluas, memenuhi tanpa getah. (Ia) memakai "pamelar" daun tal yang diputihkan seperti gunung yang terhiasi tampaknya tetapi tidak sempurna, menimbulkan kasihan berada di gunung. Tidak kelirulah ia sebagai bunga pertapaan itu dijaga oleh pembantu-pembantunya.

ø (Ia) tidak mempunyai keluarga, tidak cakap juga tidak mahir dalam bersyair, tidak bebas(?), tanpa sarana, kasihan tidak ada yang mencintaimengharukan, gundah. Mana yang menjadi sebab dari perbuatan masa lalu tidak jauh dari badan. Satu ikatannya sebab tidak dapat dikuasai (?). Samadinya sungguh-sungguh, lakunya hebat hasilnya bertapa brata

ø "Oṃ kara" sabda bergema kesana kemari dari dia yang berkelimpahan pengetahuan. Ki Hadal mencari arti yang satu, (yaitu): berapa banyak isi bumi, yang penuh sesak tidak bersela. Tidak bolehlah hal itu (dilakukan). Samudra keindahan ilmu bahasa, tetapi satu tujuan perwujudan sang kawi yaitu selalu bercerita.

ø Bagaimana orang yang disebut penyair itu?. Jarang yang tahu keadaan sesungguhnya hakekat sang kawi. Duhai dimanakah tempatnya dia yang merangkai kata- kata. Surajaya mencari. Dasar anak muda tidak tahu kearifan- mencari Sang Hyang Hayu, padahal sudah ada di badannya (sendiri). Karena itu (ia) mendapatkan kesulitan besar yang menguasai hati, menghibur dengan laku.

ø Menguasai lima indriya yang membelenggu, sudah lama menimbulkan belas kasihan. Tambahan lagi tanpa surut kehendaknya. Besarnya kasih membanjir tidak surut, tidak sabar, menderita luka bahkan mati pun (rela) asalkan aku kesampaian maksudnya. Hampir genap tiga bulan menderita sakit, sangat merana tidak dapat diobati.

ø Menguasai hati (tetapi) tidak berhasil. Agak bingung pertimbangan hatinya. Nasehat panjang lebar pun tidak ada gunanya, tidak mampu melakukan dengan gigih. Sepanjang jalan Ki Surawani memikirkan dengan hati-hati, tidak ada yang menanggapi. Tidak diceritakan di jalan. Sampai di rumah perjalanan sang pemuda kemudian mandi.

ø Ki Surajaya kasihnya tidak habis, karena itu ia ingin pergi. "Hatiku, sayang sekali, mendapat kesulitan; lebih baik aku pergi". Setelah siap kemudian minta diri, "Engkau tinggallah, saya hendak melanjutkan perjalanan. Semakin menjadi-jadi derita asmaranya. Tenanglah, engkau jangan merasa kehilangan. Selamat tinggal, sayang, sehat-sehatlah selalu".

ø Sangatlah cintanya dia yang minta diri. Ki Darmakawi menghalangi kepergiannya, bergumam bercampur khawatir atas permohonan pamit keponakannya itu. Suami istri itu (Darmakawi) menegur, menanyakan sebab apa (Surajaya) pergi, "Ki Wani, Anakku", tidak malu air matanya ditelan, "Jangan pergi, Ki Surajaya, Anakku". (Surajaya) memaksa pergi jua.

ø (Surajaya) pergi dari pintu gerbang dengan tidak perduli. Sedih, ingin tidak terus (tetapi) dipaksakan, dipercepat jalannya. Berkelebet tepi kampuhnya tertiup angin, berkibar, bergetar seperti lambaian tanda persetujuan yang menimbulkan perkiraan mengajak bercinta. Sampai di persimpangan menuju ke mata air (Surajaya) berpapasan jalan dengan Ni Tejasari. Bergetar hatinya ketika menatap.

ø Hilangnya jiwa seperti tersembunyi tidak berkata-kata, seakan-akan raganya tanpa jiwa. Terharunya hati disembunyikan. Ramah ucapan yang muncul, kata Ki Surawani; "Yayi, (engkau) jangan merasa kehilangan, kakangmu ini mohon diri. (...?) (engkau) segera mendapat lamaran". Terbata-bata perkataan Ni Tejasari hampir menangis, "Ke mana tujuannya (engkau) pergi?.

ø Apakah hal ini karena ketidakacuhan ku, Kakang?. Ketahuilah olehmu jika (engkau) tinggal sendiri tidak terdengar (kabarmu) olehku membuat khawatir hati (ku) yang menguasai, membuat hatiku terluka". "Sudah lama aku menaruh hati padamu, Nini, hati tidak lagi dapat merasakan kegembiraan.

ø Itulah sebabnya tidak merasa terluka Kakangmu, Nini, mudah-mudahan kesampaian maksudnya. (Engkau) tinggallah, saya akan berlaku seperti "kulanṭe"". Dipercepat jalannya pergi, menyelinap, menghilang, tidak menoleh, diputuskan dalam ketabahan. Si Gadis yang tertinggal termangumangu. Tapa yang hebat bukan tempatnya untuk bersenang-senang. Jika diperhatikan di dalam hati menimbulkan rasa hormat. Sepertinya hanyut jiwanya.

ø (Ni Tejasari) sangat tertegun. Tidak lain yang dipikirkan Ki Surajaya yang ada di dalam hatinya. Jika malam hari, ia tidak dapat tidur karena memperhatikan dia yang penuh hasrat. Kesanalah hati tertuju. Rasanya seperti terbayang di mata. "Kakangku, Ki Purun, rindu, katanya ketika pergi. Jika diperhatikan seperti ingin mati saja jika engkau tidak datang".

ø "Sembunyikan saja sakitmu, wahai (engkau) yang tinggal ". Demikian kata dia yang bertujuan pada keindahan. Diceritakanlah dia yang terkena asmara, disebarang tempat melamun, sakit asmara, (padahal) tapa yang dicari pada pikirannya. Tidak terkira kematian yang diinginkan. Ia pergi membawa kesedihan. "Kemanapun raga ini yang kucari adalah mati ditempat yang lapang".

ø Beberapa bulan lamanya ia terkena sakit asmara. Ki Surajaya (kini) berada di jalan besar. (Keinginannya) segala tempat untuk dicapai tujuannya untuk bersuka cita, bersenangsenang. Ia (pergi) ke tempat tinggal para ajar, yang pertapaannya indah. Ia tinggal di seluruh tempat pertapa perempuan disebarang tempat. Banyak yang tertarik pada wajahnya (Surajaya). Aduhai!, ada pula yang ditinggalkan (Surajaya) menangis, ingin turut pergi.

ø Banyak wajah yang menarik, tetapi tidak diperhatikan (oleh Surajaya). (Surajaya) menjadi pusat perhatian tetapi ia tidak berhasrat. Tidak lain yang dipikirkan kemana-mana hanya dia yang membekali rasa rindu. Dalam hati dipuji-puji. Satu yang ada pada pusat jiwanya tidak lepas dipeluk yaitu agar dia yang tinggal berbahagia dan selalu sehat. Ni Tejasari sebagai tali ... dalam menjalani laku.

ø Sudah dijelajahi semua sesuai kehendak hati seberapa pun besarnya Gunung Pawitra, jajaran (pegunungan) malahan semuanya juga semakin ke selatan. Sudah ditinggalkan Gunung Mandara yang suci itu. Semakin tertunta-lunta (Surajaya) menyusuri lereng gunung mulai dari Gunung Rajuna, bersikeras untuk sampai di timur Gunung Kawi. Nekad untuk mati.

ø Kesengsaraan badan menimbulkan belas kasihan. Selalu ingat dengan jelas Jalan yang sulit dilalui, rumpil. Pikirannya seakan-akan terdorong untuk melakukan brata, yang menyebabkan badan lemah. Seperti layang-layang putus (benangnya); mati, jiwanya merana hilang ke hutan belantara tidak terkira. Sejumlah bahaya yang menyulitkan tidak diperhatikan sudah nekad untuk mati.

ø (Ia) terus berusaha tidak undur karena sudah menjadi niatnya. Dirinya seakan-akan ingin terjun ke jurang untuk mempercepat kematiannya. Berlagak berani (...?) Tidak sabar untuk tetap hidup, tidak mampu menjalani karena pikiran yang tidak suci lebih-lebih karena aku tergila-gila, terkena asmara berhasrat pada perempuan cantik, lemas menderita sengsara.

ø Perlahan Ki Surajaya berjalan. Berulang kali menoleh, berulang kali berhenti, pada dia yang memberi rasa rindu. Hancur, hilang jiwa pun lebur terkuasai oleh Ni Tejasari yang seperti bayang-bayang. Semakin terpikirkan, patah hatinya, raga lesu, bingung, sangat sedih, sesak rasa hatinya.

ø Sampai di jurang jalannya, lemah bergetar kaki kecapaian. Dipaksakan diperkeras kemauannya. Di tepi jalan besar Ki Surawani berhenti beristirahat di bawah beringin besar. Setelah duduk termangu segera ia merasa mengantuk. Seakan-akan menyuruh segera memejamkan mata, suara burung gending yang berkicau memenuhi jalan.

ø Sejenak terlelap segera disadarkan lagi hatinya seperti kera yang bangun. Kemudian ia melanjutkan perjalanan dengan tidak peduli. Mendesau suara angin agak miring (jatuhnya) titik-titik gerimis yang deras. Burung cantaka berbunyi bersahutan seperti minta hujan, berbunyi ramai mengangkasa, menimbulkan belas kasih seperti tangisan perempuan hakilayw ahanut lamṗaḥ

ø hamĕwĕhī/.....ṇiƞ ati, mĕṅgaḥ maƞṣaḥ ri sadawata, saƞṣaya lṗas lakune kweḥṇiṅ desa kapuƞkuṙ kaliwatan kaṛp ka/ṗeriṅ prapta riṅ kag̈nĕƞan jĕṅ karasa gupuḥ, sigra tumanḋuk i daṙmma, tuṣṭa ṗanusuṅ pañjraḥniṅ saṙwwa śari kadyatuṙ mara rima

//0/ /........ƞ aliƞgiḥ maƞĕ mihat rasminiƞ udyana, pañjraḥni saṙwwa pusṗa kweḥ sumanaṙsa mṛpadu/, mayat mĕkaṙ kadyatuṙr wwaƞi, piṇḍapiṇḍa masinaṅ mĕṇḍuḥ saṅƞ ākuḍu, sulastri tenupi yatak haṅsokahasti lan taṅ ka..... ...danta maƞalaṣa

//0 umyaṅ sabḋaṇi brahmara ƞuśi wṛdaḥ hāmukti sarini kĕmbaṅ jaƞgaka/sturī rumaweh alum ṣkaṙnya luru kweḥni darā rupamet sari, humuƞ awijaḥ daṙpa saƞṣi madu ramya tuƞgalan ṗatrapa/ ... ........... kusuma ciptani kawi, kweḥni skar amijaḥ

ø mrik ṣumawuṙ wwaƞini kumuniṅ pañjraḥniṅ kanaƞa maƞ√/n aṙsa, çiṇḍaga hatuṙ wirage kalak ḍosa hanuṅsuṅ kadya sgĕḥ waƞiniṅ sari, mayaṅ mkaṙ tumahap. mrikniṅ skaṙ tañjuṅ kentaki paṛṅ ha/..... .....ƞṣawoya sumaṙ mrik miƞi wenot i samirana

//0 tibrani ña lwiṙ kadi kanin ṣyu siṙṇā/dḋaya kadi kawƞan rasmini jro daṙmma penet waṙnaṇira saṅ kantu øiṙ gumawaṅ kacakreƞ ati, kadya nukṣma heṅ kĕmbaṅ rasaniṅ gugu/.... ....... kalƞĕƞan nī tejaśarī lwiṙ kapaṅgiḥheṅ daṙmma g̈ĕṅṇi kawulaƞunana

//0 ki surawaṇi mi/hat waṙṇnani tulis halalakon mahisa tan ṗgat sumĕkeṅ prawwata hamet ṣwami saya kagug̈u waṙṇnanira saƞ aśu braṅti, ............ ... kataman lulut ragasamaya kocapa, saka wetaṇni kawī hamoṅ karasmin menḋra taṇ aṙse kaṙ/yya

ø na datan tĕṙsne kadaṅwraga ƞikis ṗrapta mahamer√ hana roṅ wulan lamṗaḥhe saya maƞilen hamoṅraga kalaƞo/ ...... teƞ arini, haƞaloṙ tan wriṅ maṙga lakune kumuñcup kadukapiṅ kalaraban sigra lamṗaḥhira pra/pti ḍatƞe kawi, tan kaṇḍĕg̈ ṗunaṅ pada

//0 layatiṅ wṛdḍaya karasa wrin ṗriṅgani maṙga duk ṗrapti blatan, tuṅgal maṅka bayane kro/.........rusuḥ hamaksakĕn tindaknya pṛgi, lamṗaḥ prapti kajnĕṅƞan wutuḥ dayanipun ṗan tanṗa cipta huripa/, rag̈asama lagya kaknan titiṙ duk tĕkeṅ kag̈nĕƞan.

ø lwiṙ panḋaṇiṅ hyaṅ nugraha widi, ragasamaya kaṇḍĕg lamṗaḥnya rere/.... ......... ka..... hamiweka sakalaṇi daṙmiṅ malawasiṅ gopura, sakakalanipun., muṙtiniƞ ā/met. nugraha, sapamaṙta punya hanakitri punaḥ taṅ paramuka

//0 rag̈asamaya sakṣana liṅgiḥ wikaṇ i naya ki sura..... sumusuƞ aḷp wuwu pasaṅ yogya sa rawuḥ di pinakanira hamoṅ kapti, ragasamaya namṗani sipta wriṅ la/ku, tan ṗoliḥ denya taṇya, saka wetan ṗun mitra budi kapalis haƞoṅ datanṗa sana

//0 manira ganty ata/....... hadi pṛnaḥhiƞ amaƞ√ṇ aśrama, ki surajayadan liƞe salawasṣi tumuwuḥ tanṗa saṇā haƞidĕ/ri bumi duruƞ abaḃatura, halaƞut satuwu haƞuniƞa bogaṇi lyan waṛg lara braṅta kasmaran i budi, haƞecareṅ/......

...i...juna ren tigaṅ saṣi¡, braṅtani ciptā haṙse wuwujaṅ maṙmani raga ƞulanṭe tan kawasa/na hĕnĕkuṅ mon karasa de¡ṇiṅ kasiśiḥ mitane tan panaƞgal hiḍĕp ṣalaḥ wtu, sinamun mareṅ pawitra, hatitiraḥ kaṙ/.......... ....ni tigalana

//0 ragasamaya rumakseƞ ati, pawaraḥhira ki surajaya, saṅjatī hala hayune cloṙri budḋi campuṙ kawisaya manaḥ rasmi, ḍuṣṭa marupa tapa, tañ jatī yeṅ laku rag̈a ........ .....ƞgal ḋeṇiƞ anamun lara śiḥ sami lan ṗakaṇira

//0 hadi kaṅ sinanjya haƞe/ca maṅkin ṗanalimuraṇi raga wihyaṅ ki surajaya hujare hapti wikana teṅsun kasub rame riṅ kayutaji¡, saṅ śipta masĕmbu/ra ............ teṅs n taṇḍĕś riṅ ranubawa, maṙmmaniṅ ragā wihyaṅ kadya matitis haƞaraḥharaḥ lamṗa/ḥ

ø punapa dyaṇiƞ aƞetan maṅkin riṅ kayutajī śiṙṇna rinuraḥ pahe lan wiƞi baƞīwen ṗunaḥ dugama luyut ṗaṅha/........ta yamīdi, talaya ni mahenḋra tan wuruṅ katmu woṅ guṇuṅ maka paƞawak maṙmani sukṣma tatwa niṙ ta/nṗa gati, talib ḋeni nuraga

ø balik aṇĕṅguḥ rame ri kawi, wṛtani pratamā moṅƞi lamṗaḥ kayutajī ka/....leṇ nurageṅ sunu laƞu ri baḃahan rakya mirate, hadiniṅ wana para jñaṇa kaṅ minaka ḍapuṙ tuhu/ muṙtẗiniṅ patapan ḋawĕg ṗaƞeran haƞeça mari kawi, taṇn amun maṇaḥ rimaṅ

//0 puṇnapa tan kasukaṇniṅƞ ati, lamo................. pasa ....gya teṅśun make muwaḥ patanyaṇisun wriṅƞ īṣti manira samiṙ swapa wṛtini tapa, pa/saṅtabe pukulun haparab ki surajaya, hagyanta tanya śwapā ṗarabta kaki, pusṗa ragasamaya

//0 hasoṙ panaṙpaṇira ki sura/.... ..... deṇira wilasa, ta sanak ṗaḍa ƞulanṭe rag̈asamaya muwus kamayaƞan hyan ṣira sudi, dwi kaṙyya/ṇi waçana, kaki dera muwus wriṅ naya ragasamaya, pakanira paƞeran maka tutudḋiṅ manirā baya kakaṅ

//0 ki surajaya/........ ..... ḍatƞeṅ pasaṙ wwantĕn ḋĕmi tigaṅ kepeṅ tubasakneṅ pi wruḥ hasmu guyu saṅ minakari, ya ḍu/h antuk ṗunapa, kaṅ dmi tĕtlu kuraṅ patukuwa kĕmba punika kākaṅ wwantĕn haṙta kakaliḥ patukuwā tutumpaṅ

//0 ki ragasamayā,/...... .........paṅ prapti ṗasamohan walanḋāne lima kepeṅ sḍaḥ woḥ kaṅ dentuku le palaga/ntuṅ haji kakaliḥ lawan kĕmbaṅ pulawa, sipi nisṭanipun gaṛm holiḥhe haminta, pinaka sĕṣḍĕpiƞ apawṛti, samṗun prapti ......

...........ru wus ṗinasṭi kajĕṇĕƞaṇiṅ hyaṅ widy āwilasa, haśuṅ pamasta ƞawake paṇug̈raha/niṅƞ ayu śurajaya waçana haris laḥ yayi marakeya ƞoṅ sḍĕpi masku ki ragasamaya prayatna, hatuṙ sĕmbaḥ tummĕkul rasaṇiṅ/.. .........

..... tlas ṗrasida sanak tumitiḥ ki surajaya hādan lamṗaḥ saḥ ṣakiṅ daṙmma lakw aki ra/g̈aśamaya tumut hasmu hegaṙ ñana sumiriṙ saksat muƞgiṅ swapna sukaṇi raga kuṅ tkeṅ juraṅ raṇḍĕgan ki surajayā migrakĕn la/..... .......rup saṅ hyaṅƞ aruṇa

//0 tiḍĕmmi tṛnalata sumilib manḋra ṛmĕṅ tejani kirana kumĕ/ṇḍĕṅ kaṅ mega kilen liṙ galuga sinawuṙ śurajaya mojaṙ linyaris hadoḥ ḋukapiṅ desa, pañiptani laku ṗunapa ka/....... ..........rasa ƞliḥ hanurut rakaṇira

//0 hĕƞniṅ manḋira pṛnaḥnya mṛgil kĕmbiṅniṅ wa/ṇapriƞga duṙgama, datan kawaṙṇnaheṅ kule ḍawuḥ piṅ rya pi tlu praṗta hataƞī saṅƞ aƞeca hadan lumamṗaḥ rahina kawuwu.... ........... .. hyaṅ diwaṅkara munyañjrit satawana sahuran.

//0 maƞilyan lamṗaḥhi/ra taṇn aglis ṣalƞĕni maṙga tĕpini waṇa, wwaƞ anom ṗaḍa ƞulanṭe taṇn ana gawe ketuṅ sami menḋra hamoṅ saṅ kapti,/ ............naḥ lwiṙ kĕmbaṙ lumaku paḍa jajaka riṅ paran ki surajayajmuṙ manahe braṅti, sanake halipura/

ø kasaya kaluntalunta matitis jĕṅniṅ prawwata dukapiṅ lamṗaḥ tṗini gag̈a maṙggane guṇuṅ katut kapuṅkuṙ ta datan ṣurud/ ......... .........mĕmṗya śwaraniƞ amupuḥhu dalañcaṅ kadyasuƞ egaṙ manḋramanḋra śwaraṇika wwa ma/riñci hawagita hañaṙ

//0 ki surajaya tibra çipta siƞit milaƞniṅ sakamaṙga lumraḥni tanḋuṙ masaṇe paṅrikni kuwwaṅ/...... ..........k n ṗaksi, hane raƞgoṇ amijaḥ, pariṇne denta hana ta gag̈a kapisaḥ/ wwantĕn ḋikanya togya mawisik wisik taṇn adoḥ sakiṅ maṙga

//0 ki ragasamaya mesĕm lumiriṅ hamam ṣmita ritnīṅ panambaya, ............... tan lan ṗinare smu ywani maṙgga maƞgiḥ pawestri, maṅke hantuk nugraha de¡ni śuṇ ala/ƞut wriṅ smu ki surajaya, sakaṙsahanira yayī hadumm amiliḥ siṅ kaṅge pilihĕn.

//0 hantya ta yayī gmuhipunta lwiṙ kĕmbaṅ baya pa/.... ............... ....yen ṗinareṅ smu ṣaṅ tarunī kariya blik menḋrahā tataṇḍakan myapan witiṅ smu,/ ujare baya jajaka, haweḥ hulat gumuyu datanṗa kliṙ wuwusṣe śalaḥ paran.

//0 samṗun lĕpas lampaḥhira ba/..... ..............nya maṙga, hasmu guyu paƞucape maduraṇiṅ wacana, ram halis mayat winor i liriṅ samṗu/n eca tanya maṙga woṅƞ īlaṅ katesun malaṙ wikana riƞ utaṅ pakaṇira bibī maṙgahe kapalis cĕloṙ wījili sipta

ø hasmu he/........ ............ tan. kumlab linawanan sabḋa leteṙ kaṇḍa daluwaṅ tuhu, pakanirā na wwa/ƞ añoloṅƞi, yaḍuḥ tan makanaha, sawakyani tan wruḥ nawy akweḥ simṗaṅƞiƞ awan ṗakaṇira wnaṅ majati he kami, maṙmmaheṅ ........

...........deṇira hisṭi, niṙ taṇn ana sajyaṇiƞ aƞeca, sakweḥniṅ batuṙr ane punika paraniśu/n lumarisa maƞilyan kaki, maṙga hiṅnusaṛƞga, riƞ anḋoṅƞ alaƞu hawaṇi gĕgĕr asana, laḥ kariya samṗuṇa rupa priyatin maseśun a/.......

.........kĕn rasminiƞ ati ragasamaya bisa ñjajawat woṅ mahameru tahu leteṙ bisa bo/gakanyā muwus guntuṙ manis tanṗa keriṅ saya katula tula, luwu kaṅ tuƞgal maṅka sanaka, yan jatmikā rupane hanomm apkik muṙti tanṗa/....

...... bañjaran aris kumlab kamṗuhe katiwaṅtiwaṅ kumitiṙ kadi yaƞawe tkapiṅ ṗawaṇa rurum ḋa/tan tĕmaṅ maƞĕh anoliḥ sigra maƞgiḥ bañjaran tĕpiṇiṅ maṙgaguṅ lagya tataruka hañaṙ kamṗiṙ ka surajaya niṙ saṅ tumitiḥ lumaju punaṅ/.......

............... kayupuriṅ sigra lamṗaḥhira saƞ aƞeca, ri widḋasari duṅkapeṅ juraṅ hamṗo ka/puṅkuṙ riṅ paniron kaṇḍĕga liṅgiḥ daḋy ana woṅ lumiwat ṣurajaya muwus manira punaṅƞ ātanya, warahĕn iƞoṅ, namaṇiṅ gĕg̈ĕṙ ka...... ..............

... moja ... sa... tinakonāṇ asamiṙ siƞgiḥ pinaka hadiniṅ pataṗaṇ i widapusṗā harane/ paƞuboṇnan awwa wwantĕn kaṙyya hi riku kaki, hanĕṅgo mras ṗatapan ḋana pulya wibuḥ ki surajaya waçana, hadumm ayu riṅ maṙga ri sun lumari/... ..................

... haṣṛtiṅ lamṗaḥ hageñjo¡ṅ aris kaduṅkapamkasiṅ bañjaran sapta sora ti tabuhe/ sami gaṙjitanḋulu hamuyyanī waṙṇnaṇiṅ tami, wruḥ nayaṇiṅƞ aƞeca, siṇuṅsuṅƞ i guyu, hadi kapuṅkuṙ punaṅ lamṗaḥ tanṗa sanā haƞe/...... .............pa

//0 kadyana pamitrane kapaƞgiḥ ki satawaṅ rumehakĕn kaṙyya, wruḥ yeṇ ḍataṅ/ kakasihe ye sami wruḥ mitra lulut laḥ bageyā kaṅ surawaṇi, mulat. yaye śwapna hlaḥlaḥ teṅśun ri nā du kinā duk i naṙba/... ....................ḥ pamurukaṇna guṇa

//0 kumona saji raka pinaṣṭi, dawĕg̈ ta kakaṅƞ amara/ntiya, wusnya liƞgiḥ piṇḍa śupe tlas anata luṅguḥ tumahapā saṅ wiku rari, hana haṅlimas ṗatra, hana saji bañu ni pusṗi........... ........ brata netṗĕ saṙww aliƞgiḥ hajajaṙ

//0 wusnya tanḋuk bojana kahapti, ka sura/jayā pinikahotan hulamulaman tan ṗan leṙleṙ kukup alumut jamuṙ ragī linubeṅ lwiḥ lyan ta jaƞan laraƞan samṗunya rara/....... ................. .... samaya prapta deneƞ ābukti, roṅ dina maṅgiḥ lapa

ø tan temaṅ deƞ amoṅ/ƞ ābukti, ki surajaya nala sumimṗaṅ kasṗĕṙ lulut aśiḥha pinareṅ cipta cawuḥ nī skaṙjā ƞa<ƞ>gĕƞ iƞ ati, mahw amuṙyyaṇi sana ni ḋa/...... .......... panṇ ni skaṙjā gumtĕṙ rasaniƞ ati, dinukiƞ ulat ḋrawa

//0 tuhu paƞuñcaṅƞi la/ra midḋi ki surajaya tanṣaḥ dinuta, kaƞelan ḋeṇe hiḍĕpe ni skaṙjā siwuṅ manaḥ g̈iwaṅ tan kawasa ƞli, kadi wayaṅ kinu/... ... ... pinareƞ √lat∑ira paṗag tikṣnaniṅ mata halinḋri ḷyĕp tan ṗarimana

//0 ta/n sipi ƞeliƞ ambĕk ṣumakti, saƞ asajyayu kinuliliƞakĕn tinog rineḥ kajatine winoṙr i tṛsna lulut wruḥhu tuṣṭa ...... .............ḥ sanak tumuluseƞ ayun tanṗa nutugakĕn ḋiṇa, wiwaraniṅ tṛsna lumakw amnuhi, sĕśĕk ta/nṗa ligalaran.

//0 bummi ṣaśwarani kawy amariñci, saƞ asgĕḥ wadya pan akaṙyya saksana luwaran kabeḥ ramyadum kaṙyyanipun./ ................. .........ḥ mṣaḥ kadya wuru gaḍuṅ kumucup tĕmpuḥhi wlas ki śurajaya tan lyan ṗaraṇiṅƞ ā/ti, saśolaḥhe śumlaṅ

ø manḋra ṛmĕṅ praba saṅ hyaṅ saksi lagi katawƞan lamadlamad jalaḋā swĕḥ rumawe ḍaƞgal saptamī jmuṙ paḍa/ ............. ......... taṇḍak. rasmyapet kalaƞun hana tan tuhuni brata lwiṙ wadwanā hañaṙ lumakw/ ahakili, haparab ni rawita

//0 gug̈urane sinuk tan ĕnti, kayeƞnum hamĕtwakĕn śwara, denṗolahakn awake lwiḥ denya/........ .................dasari, kasub. yen bisa taṇḍak hakweḥ wwaƞ awuyuṅ kawiḷt iṅ wadujaṇa, kasma/raṇ iƞ ulat liriṅ bikṣukaṇiṅ makaṙyya

//0 ana śraweca maho tataki, milw iṅ pañcaḥhira saṅ nuraga, g̈una yado ...... ..............ru kadi yagriṅ harikiṅ rikiṅ kĕneṅ liriṅƞ aram karatahita riṅ taṇḍak. gumuyu raga/samasaya piṇḍa hewā tumiƞāl iṅ para kili, haƞĕntekĕn tanaga

//0 haluwaran sakweḥniṅ pawestri, śuṇya niṙmala madyaneṅ/..... ........... ... saṣaka sumunu hagancaran mani latri, ramya giha carita, saṅƞ amoṅ kalaƞ√n hu/mnĕṅ ki surajaya, amiweka hamutĕṙ wijiliṅ sanḋi manaḥ malad. pinĕgat.

//0 ki satawaṅ liṅnya hatanya liṅnya hari/... ........................ .... ṗa gug̈wan batuṙ maṅke hanut lakw añjĕṅlƞut dan aƞeçā ri ƞare kami, saḥ śa/kiṅ niṙbaya, hanḋaru kateṅsun ṣumĕṅka mareṅ rajuna, rakaṇirā paƞeran halawas kamṗiṙ hareren tigaṅ wulan.

//0 ta/................ ...maƞuywan goṇiṅƞaƞecā riƞ ĕnḋi kakaƞ arane riṅ waṇapala tuhu wwantĕ/n wragaṇnisun kapaƞgiḥ pamann iṅ pakawahan lumakwa maƞuyu hanḋoleyaṅ rakaṇira sakaṙywaṇe paƞeraṇ iṅsun ḋeniri daha.............

.......ṅsun. yayī hatoliḥ dalu deniƞ anamun saṅśaya, pinaliṅ tiƞal. tan sareḥ swĕ/ḥ dyutaṇiṅ lulut gĕṅṇiṅ wlas. yayī tan sipi, pun kakaṅ kasarakat haƞon budi cawuḥ tan kawasa naṇḍaṅ lara, punaṗa laranera kaṅ/ .... ......................

ø kariwƞan ḋayanipun hyayi, waçanaṇira kaṅ surajaya, jatenaṇa teśun maṅ/ke ya ḍuḥ katy ariniśun rakanirā dameṅ pawestri, wkaṇira paman ḋaṙmakawi hayu puṇika maṙgaṇe luƞa hlāhlā katṛsnan hati/.... .......................

//0 punapa kakaṅ yen sira hapti, wnaṅƞ akramahā mimisanan ṗan oranā wicara/ne hakweḥ panoṇisun laḥ maṅśulā manira ƞiri rayinira haṅlamara, haśuƞa patuku, manira kalaha beya śwape namā pa/...... ............. wikana

//0 pusṗita nama ni tejasari, wayahe lagi hapasāṅ jaja, daṙ/pa denya suṅ wirage tṛsnaniśun tan ṣurud. rumni kanya hanom ṗra kawi, wekan wagid. pratsayu di pṛnaḥhiƞ amaṅgiḥya, hu........... .........

//0 ḷyĕp ṣumaput rasaniƞ ati, lwiḥ lamon kaƞĕn siḥ/ye kataṙka kaṅƞ atī duḋu rasane salawasiƞ amuwus waṙnaṇira ni tejasari, ketaṅ denya wilapa, ḍuḥ masmiraḥhisun sira saṅ/.......... ............... ƞit jiwa tanṗa puwara

ø ḍuḥ tan ḋarana kamw aniƞali, ṛmĕkniṅ cipta kadi/ sinĕnḍal gumtĕṙ kaƞ awakabeḥ yen sahulat saguyu gulā drawa mayat ẗaƞ alis gatrag̈atraniƞ ulat hesĕm hyayaḥ juruḥ haƞ√keḥ/ ......... ......n ṣambata muliḥ mesĕm ragasammaya

//0 dukatiƞgal kari hasmu taƞis ma/yat ṣwaranye hataƞgĕḥ lamṗaḥ, ratna kanaka hujare mariƞ ĕndi kaṅ purun rakaṇira yayī hapamit kantuna gĕg̈ĕnĕpa ƞwaƞ ato/......... ............riya linamaṙ tan kawasa monahā amĕgata taƞis tṛṣna ri rakanira

//0 tuma/ƞgĕḥ ta renā sajalwistri, piṇḍa rudita ƞawara lamṗaḥ hasṛṅ hañaṇḍĕt ẗanṗa weḥ yayi paluƞāṇniśun. kneṅ taṙka kaṅ su...... ........... saṅ minaṅka hibu manawa wruḥ yeṇ aƞaraṅ hayu dahat kaṅ surajaya liniriṅ kweḥniṅ tutuṙ/ karasa

//0 ki surajaya praṗañca kapti kawaṙṇna ruparune ni skaṙja, umnĕṅ bawuṙ ñanaṇe ragasamaya turu ti satawaṅ mawa/.... ...............reya, samaṅśani wuwus laḥ kaky aturuwa huga, g̈awṛdahĕn harinku katamawan asṭi, kakaṅ/ prahiƞ amuraḥ

ø śuṇya gag̈ana canḋra sumilib tan. kĕne mṛma hasṛṅ pakṣani dyutā kumuñcup kaṅ tanṗa ƞne tutur ayu kaburu/ ..................... ..... bañcaṇa hyaṅƞ asmara ƞadu, sami pinaliṅ jñana, wus kag̈iwaṅ taṇ eliṅ salaḥ/ sawiji, kawīguṇa wus ṛbaḥ

//0 epuḥniṅ cipta maƞkiṇ arusit ki śurajayamĕs karasa, lamṗus tan ana kgĕlen tiḍĕmni wwaƞ a/ .... .................. ..... hasaśaran. ṣurajaya bĕnḋu, pagĕḥniṅ yoga tan gig̈aṅ ni skaṙjā/ hapaksa ñidra heṅ wƞi tan tĕmaṅ kasaputan.

//0 sinalimuṙ saƞṣaya kahesṭi, densamun ṣihe maṅkiṇ ujola, mĕṅ .......... ................da kuṅ menḋra maras liṙ tanṗa galiḥ metra tan maƞga mṛma, tanṗayuṇ aturu, ka/dya maƞan jamuṙr ibraṅ sa wahu praptī kaṙyya ṛtaṅƞiƞ ati, kaya tan binasaja

//0 sinawuṅ riṅ tṛṣna lulutẗ asiḥ dinaranakĕn maṅkin amuraṅ/ .................... .... deni wulaƞun hamƞakĕn. kori taṇn aglis lagya ṅƞadg iṅ nataṙ kepyan manaḥhipun waṇi ma/ƞa desanya mara, ki surajayā mihat sigra h√dani, pradateƞ una praya

ø hamaksakĕn ṣṛṅni ragajuti, yen matiya, samṗu/....... ................ .... ṇ eraƞ ārakul ṗatenana tesun kaki, masa ṣira wikana, raśanyatinisu/n ṗĕtĕṅ tanṗanoṇ ḍaratan ṗakanira hagawe laraṇiƞ ati, śumaput ẗan ṗaḥiƞan.

//0 hasmu kepwan. wṛdayā kumtiṙ ha/................ ... jaya hemĕṅ maṅke pyuḥ rasani rag̈a kuṅ hamiweka raśyaniƞ ati, ri sun/. tan wuruṅ pjaḥ haparan riḥhaniśun hĕƞiṅ kawasa parana, wus wayahe mati wĕkasiƞ ahurip. laḥ kadi puṇapa

ø patiwasā pa....... ......... katiḍaṙsa teṅśun maṅke paran uripaṇisun hapan mati reḥhi tan. yukti,/ luhuṅ si mon tulus aṙśa, kanṭi woƞ alaƞut samṗunini kataragal. yen tulus aṙśa pe¡tĕn saṅkaṇiƞ aśri, haja gawe pocapan./

................... ...śesānisun aṙsa ri sira, suka pjaḥha ƞoṅ maṅke tan sipi laraniśun ṣṛṅni wa/don sinĕƞguḥ lañji¡, masa laƞgĕṅƞe sabḋani taṇ ayun. tkanaṇa larani wwaṅ laḥ ta luƞā paƞeran yen sira haśiḥ ri sun tumute si/...

................ sihira tan kumapaḷƞa, ni skaṙjā paƞuçape maṅko sariraṇniṅśun sa denira ha/reya kaki, samṗun. tĕlĕṅ ñana, tan munḋureṅ laku gumtĕṙ rasaṇiṅ jawa, ki surajaya haṛgĕp tutuṙ tan ṗoliḥ cipta wus tapĕṗĕsan.

ø /........................ .... ṗunapa tesun ḋenira, woƞumbaran tanṗa wise kaperes iƞ alaƞut nisa/ dḋamā pun ṣurawaṇi, moṇisṭa śi yaƞapa, wus. tĕlĕṅƞi kayun saṅśayani cipta lara, nora gawok manira riṅ suka sugiḥ hamĕmla ....

........muƞwakĕn gati, tan ketaṅ ragā kasuraṅ suraṅ haṅlamoṅ saṅkaṇi rare, katiṅ/gall iṅ yayeh ibu kanarakā saṅkaṇiƞ alit niṙbag̈nā tan karasa, tṛṣnā hagĕṅ sumaput ḋedya tmahan wacana, ki suraja/ ..... ............. lali lupa

ø paƞucape lwiṙ madu sinaṅliṅ ki surajaya kaṇḍĕhan raras gĕṅniṅ/ tatalī kacanṭel ḋadya wahu pitutuṙ ni skaṙjā denipunkatoliḥ sawisayāṇiṅ driya, taṇn ulaḥhanisun kaƞ alaku ha/...... ...............ini¡, haƞin sinamaṙ samaṙ

//0 kasaya hembuḥ tṛsnane tan sipe maṅ/kin tanṗā ƞuwakĕn luƞeyan siṙna luyut. tṛsna lane taƞise haƞukweḥ rum tan kawḍaṙ hamlas aśiḥ haƞṛs. cipta mihaṙ/..... .................. ........... ran karahitaṇiṅ sabḋa haƞariḥ hariḥ lamat wijili śwara

ø na dataṇ eraṅ/ saṅƞ āmoṅ karasmin ki surajayā maṅsa ho<l>i ya ṗānaṅkisi driya haguṅƞe ni sĕkaṙja rinakul buja mahas. tanṗeṅ pan siha ........ ..........ṇni... paƞi ....tine muksa bayaƞan ṗatiwasa jajaka bisa ƞaṛki tanti punaṙdaya/

//0 tusṭa manaḥ hyaṅƞ anaƞga midḋi, tasuṅ wig̈nani tapa mohita, saḥ śakiṅ raga mirage mareṅ śunyata yamuṙ śurajayā kaṙyya mari/.... ..................... ...di yegya ketuṅ tuture saya karantan ṗamtuni bañcaṇā hakweḥh anoƞi, ci/pta kadya nālaƞṣa

//0 kadyana sobawaniṅ wwaƞ ataƞi, ragasamayā wikan i taṙka, nhĕṙ kawuṙyyan kakaƞe kawiḷt iṅ tan sa/... ................... ....bḋa tan karakasa, ṗaran riḥhanisun kabañcanā rakanira, ni skaṙjā saha mara ri/ƞ awƞi haśṛṅ haƞajak luƞā

ø ragasamayā duka mawiṣṭi, laḥ sahakna woƞ iku kakaṅ paran rupanira maṅke luhuṅ yen taṇ anaha/..... ................. kerid. poma sira munḋura, samṗun kadaluruṅ yen ṣira hayuṇ akrammaha, harabi/yā kakaṅ saƞkaṇiƞ ābcik ṗetĕn sakiṅ byantara

//0 punapa kakaṅ yen wontĕn kapti, kneṅ rarasira ni skaṙja, denpuñu....... ..........ku duḋu, taṇ ulahaniƞ alamṗahi, poma sira maśula, iḍĕpĕn katesun byanta/ra depunkoniƞa, ni skaṙjapet sarasaniƞ abcik g̈aty agawe tan sambarana

//0 laḥ ƞoṅƞ īḍĕp sabḋaṇira kaki, denira/ ............ ......... samṗun kumalƞe depuntuhu riṅ wuwus kakaƞirā manawwa lalis. ri śun kare/ kelaƞaṇ niṙ don ḋera muwus ḋa hantya tan eṅ wacana, kusuma waṙsa bapa de¡npunkatoliḥ tuhune kakaƞira

ø sipi tṛsna ni/......... ...... lulute ki surajaya, ḷṅḷṅni nala rumawe kariha liƞgiḥ maƞu sa minaka dyu/tā matitis ñanā hanuṅgal i raga, solaḥhe kagug̈u, karasa kaṅƞ √la hala, kadya ƞipī kaṅƞ awak mareṅ saṅ tami lwiṙ tanṗa tmaḥ/....

......jaya mnĕṅ tanṗa liṅ ragasamaya mṛdḋi saloka, sabḋa mesi gamaṅ pinet./ ya ḍuḥ saya katmu calorira kaṅ surawaṇi, manimṗĕn ḋyatakala, tañ jati hiriśun. yen ana kaṙsani maṇaḥ sahujaraṇira ...... ............

//0 kaskayaṇiṅ yoga lawan smanḋi, ƞāƞukweḥ prasidḋahaniṅ lamṗaḥ kapuraṅ/ yen dudu dṛbe wus ṗawṛtẗiṇiṅ tuwuḥ kasaṅkala deṇiṅ pawestri, wowohaṇiṅ sarira, tan wuruṅ katmu liṇuƞan lagī kapĕṇḍak./ ............... wtuṇiṅ titiṙ wruḥha ta jawanana

ø wyaṙ kaṅ tutuṙ hilaṅ tanṗa ganti rasa datanṗa sambu/tan hilaṅ taṇn ana kacanṭel. lwiḥniṅ budi kemuṙ hapeṅ raga lwiṙ tanṗa galiḥ sinĕlimuṙ gumiwaṅ sinambut murucut halaniṅƞ ambĕk ṗrapa/.... ................snā mĕṇuhi, lwiṙ wwa deṇiṅ prayatna

//0 kaṅ surajayā kaya tan kawi, wus kato/ṇn ulahira saṅ muḍa, siśip sĕmbiṙ patakaṇe matipaniṅ tan wruḥ, ƞeli kawī lamon kasilib ḋalu paṗa kalesa, yen ṗaṛƞĕṇiśu/.... .....ton ....ṣ...ne... b waṇa, h...i rupane śwaṙg̈a patakajñā mani, wawayaƞaṇniṅ sabḋa

//0 akweḥ bisā ƞuca/p kumalwiḥ haƞi kasīlib iṅ lalamṗahan mapan wus ṗrahi wwaƞ akweḥ waneḥ ṛkweƞ amuwus ṗiṇḍa lṗas raraga kari, yen taṇn atut iṅ na .... ............... hawis ka jati tuhuwa, ki surajaya puṅgĕl rasaniƞ ati, hawtu krodḋa sabḋa

//0 laḥ sa/mono śwaranira kaki, hamwĕhi praṗañca widḋaya ye¡n tan kemutan ƞoṅ maṅke jabuṅ nawi tan keku pañcanḋriyā nukupiy ati, misan ḋe/........ ............. ....ggaṇiƞ amukti saṙga rayinirā amuƞu tutuṙ tan poliḥ kakaṅ sakayuṅnira

ø ta/ƞeḥ pamuṙsintaṇiṅ saṅ kawi, tan ṗoliḥ don ḋeṇiƞ arancana, rahina wri reḥ ki satawaṅƞ awuƞu kakaṅ paran ḋera rasani, kaṛƞ/............ ......śun sa deṇiṅ punapa, tan lyan kaṅ g̈inunĕm nastapanku kaki, weti raga kasiyan.

//0 /baṅbaṅ wetan ṣigra hada taƞi, tuṣṭa manaḥ saṅƞ anāṇḍaṅ kaṙyya, ramya hadan busana serega haśuci laksana rum wanya nambut buda hapra/... . ...ṙyya .......ƞan rowwaṅ rowwaṅƞupun ramya kuṅ g̈uṙwyaniṅ manaḥ ni skaṙjā tan tĕmĕ rasaniƞ ati, datan mi/lu ṇuraga

//0 hadaṇn amuhun ki surawaṇi, hantya toliḥ lamṗāḥ tan ṣiṇuƞan ki satawaṅ kaṅƞ ora weḥ hatĕnĕn kaṙyya haguṅ ha................... ...ḋaƞ āharesa, hyaṅ nini tanṗa suṅ paḍa hakoṇa ƞatīya, samṗun luƞa ki heca ƞinṗa/ manaḥ hantĕnĕn kaṙyyaniwwaṅ

//0 pada hyaṅ nini tan ṗinisiṅgiḥ sama deṇiśuṇ amoṅƞi kaṙyya samṗun apiṇḍo gawe paraṇujaraṇiṅ/.... ............mpaḥta kaki, denṗunṗrayatneṅ maṙga sumurudḋa teṅsun wus mintaṙ ki surajaya, ragasama/ya wya taṇn adoḥ haƞimbaṅƞi, śumilib lamṗaḥhira

ø dengĕlis lamṗaḥhe ki surajaya, tĕlas kapuƞkuṙr i priṅga, ri widḋamaya du/..... ................. hamuṙywani ki surawaṇi, g̈ĕnĕp gariwanan lĕyĕp muhara kuṅ hantyan kapiṅ ṗatapan liṙ/ tatwaṇiṅ kusumā ta batuṙ hadi, gambiraniƞ aśramma

//0 kaṇḍĕg lamṗaḥhe nhĕṙr aliƞgiḥ, pamiḍaƞaṇi yasa laraƞan saṙww ano/.....lis rame rasamayā muwus saṙww aliƞgiḥ haṅripta tulis halalakon ṗunapa, kakaṅ surat iku suma/huṙ ki surajaya, bomantakā laṅgaṇa hanḋaga hajurit habaṅsa lan. yayaḥ

//0 kasalimuṙ maṅke manaḥ ṇiki, deniṅ kasa........ ........paraṇe ha rag̈a samṗun wutuḥ ni skaṙjā wwaṙ taṇn ana katoliḥ surajaya hadan mintaṙ la/mṗaḥheran ḋaruṅ tan koṇiƞaha ri maṙgga kaduṅkap iṅ baḃahan karasa ƞliḥ pyuh anĕkani juraṅ

//0 rag̈asamaya me¡sĕm ṣaṙwwa/.. ............... paƞubonan haṗupuḍe tamaḥ pinet. rakanira mintuhu hamahonī busana ṇnīki/ manḋra manḋrani sipat hamwĕhī bagus ṣiśimbaṙ tiniti waṙṇna, lamat lamat ṣwĕḥ titisṣ iƞadum manis ṣinahasa ri kĕmbaṅ

ø pañcawara po/...... ...samaya ƞambyakĕn tinḋak g̈umĕsĕṅ parismune ki surajaya kusut. ḷkĕniṅ manaḥ tanṗa suśum./piṅ budī tan kaṇuragan basajani wiku manḋaha yeṇuragaha, ḷḷmbaran ḋene hakweḥ braṅti, ginunm i wuwuja

//0 tanṗa tmu/........ ...iruniṅ baḃahasahankriṇ i bañjaran ṣumare, tinuṇḍa tuṇḍeṅ wwatu sidatapa, no/ƞī talu ratna pakaja sina sari roṇḍon aduluṙ saruni paṛƞ āmijaḥ tañiri rakta cihna skaṙnya rawit liṙ ḍatu sinahasa

......ni kakaliḥ sami wayaḥ hutamani rupa, hulate hapiṇḍa leteṙ sabḋa meswi hawoṙ/ guyu ki surajaya maṇḍĕg anoliḥ mesĕm ki ragasamaya, hapan wruḥ riṅ smu hatanya winor i tiƞal baya wnaṅ jaluw arereṇ iṅ ri/... ....................

ø hadi ḋiṙyyan ṣumahura hisin hasmu wiraṅ hamapageṅ wulat. reḥ paḍanom wayahe me/sĕm ṣaṙyya tumuṅkul nora wikan katesun kaki, haƞi si baya wnaṅ lamon waṅƞ abagus lĕstariya punaṅ lamṗaḥ nora wawahu/....piṙ saḥ śaṅkaṇniƞ āƞeca

ø hawuliḥ pataṇyaniśunini, punapa liƞgani waṇaśramma hula/te medm aṅlare, siƞgiḥ batuṙ hawu ri sacari kal minaka di, hanḋaruṅ punaṅ lamṗaḥ saṅ jyaḥ kari maƞu dṛsṭini jñanā kumñaṙ ki suraja/ ..... ṗrapta ri paƞubonan.

//0 sambramma padḋa hyaṅ nini, saḍatƞa ra wahu katiƞal ḋi saṅkaṇi/ra ƞulanṭe haḷp mampa wuwus. ranakira ƞubara, tanṗa sa teṅśun waṛg lara nuti lamṗaḥ, hadan rakā pada hyaṅ nini saṣa ... ....las tut ... iṅ sab....

//0 sigra pamuṙsitaṇniƞ amṛdi, tan koṇiƞaha de¡niṅƞ aḍahaṙ śumarire jiwa/ lwiṙre hantya toliḥ yalaku rakanira hayuṇn apamit kariya gĕg̈nĕpa, baśukiya raḥhayu laḥ bapa dipunṗrayatna hanaƞo/......nak mami, lakw ayo salaḥ kaṙyya

ø tumḍun anut bañjaran aris mayat kaṇḍĕg lumako lo/lonan ḋenwikis babasahane kamṗuhe hasmu kusut habaƞ irī winaweṅ sari hasabuk gula tina hamĕwĕhi bagus hagawe haṙsa/..... .....ḍak ṗawestrī wṛdaya siƞit karahitaṇn iṅ mulat.

//0 waniḥ kari braṅta wula/ƞun kapti maƞumaƞu dwatan kĕṇe paƞan ṣmaṅ wirotṣa gawene kataman ulat guyu saƞ aƞeçā kaciptaƞ ati, liṙ gu/.... ........reṅ gaḍuṅ waniḥ kari puja brata no¡ra ketaṅ sasapon ṗijĕṙ priḥyati/n sa kataman kapita

//0 saparane hatiƞgalarasiḥ ki surajaya pinareṅ tṛsna, dana sawaṙṇnaheṅ lamṗaḥ... ............ juraṅ sĕṅkan samṗun kawuri, kaṛpraṗti ya geñjoṅ lamṗaḥnya layat kaṇḍĕg maƞu ra/g̈asamaya wanwaçaṇa, di sinĕjyā kakaṅ pṛnaḥhiƞ amṛgil manawi hadoḥ desa

//0 niṙ taṅ lamṗaḥ noraṇeṅśuṇn i/.... .....ra...ni... raga wihyaṅ kaṙswaneƞoṅ tuwuka pisan ḋeṇiṅ tan luhuṅ ka narakā sarira ƞliḥ wruḥ glari/ƞ aƞeça, maṅko raganisun haḍahaṙ si sga mƞa, lamon ana lwiṙ modaṅ śuka kaṅ budi taṇsaḥ hamaƞan ḋana

ø tuwu rame patapa/... .......haniṅ wiku nuraga, ciptaṇiṅ lampaḥ hareren hanonton apalaku parikrammaniƞ ala/mṗaḥhi, kadya maƞgiḥ talaya, bawuṙ nalanisuṇ ḍuḥ katuwoni skaṙja, patibrata solahe tanṗa kekeriṅ, samunĕṇ iku ka/....

........ya mojaṙ liṅnya haris ṣuka dukā kakaṅ riƞ aƞeca, tan sipi guƞe sukane lwiḥ/ lamoṇ upupul ṗaḍa menḋra lipuṙ kaṅ budi, tanṣaḥ hapaṗañcĕhan manaḥ kasalimuṙ sumahuṙ ki surajaya de¡ne dukāpa........ n sṗala t ku kakaṅ

/0 kasaya lṗas lamṗaḥhira pṛgi, hatut maṙgga tan lyan kaṅ sinabḋa/ ƞeliṅ sarira tan sareḥ nisṭaṇi range ketuṅ tan ṗoliḥ don ḋeniṅƞ akiṅkin manaḥku hanḋaluya, cipta kadya wuru tulya/ ...... tẗapiṅ ludra kaṅ...wa kadya ƞoṇ aƞin lumakw añjalamega

ø hamaƞgiḥ bañjaran lamṗa/ḥ niki, he¡ṙpaksanika wahu tinalaṅ prapti sukṣmā kawy areren kamṗiṙ reṅ batuṙr aguṅ saƞ aƞecā hadan aśuci, haƞusapi/ .... sam...unnya rarahup tumanḋuki surajaya, hatuṙ sĕmbaḥ hanista śaƞ apaliṅƞgiḥ laḥ samya maranteya/

//0 prayatnani saṅ ṣiksa kurati, hayuna<sā> ji raka tinulak. rag̈asamayā hujare sarira lagya lasu pnĕd ḋeni juraṅƞ ā/... ..... mojaṙ halĕp ṣraṅṇiṅ wuwus bayadoḥ deṇira lumamṗaḥ saka wetan ṗun ṣurajaya/ mo kapti, hanut brataṇni cipta

//0 ḍawuḥ hekā kilyan saṅ hyaṅ rawi, hadan ṗamit saƞ anaraweça, hawot ṣĕkaṙ sabḋa... ..............kulun hatitiheṅ pataranadi, hapugut. paƞapura, saśipta rahayu, sabḋa tuƞgal kinĕmbula/n samṣamṗun ḋonḋon heḥ kakī, denira kamṗiṙ kapaƞgiḥ walenana

//0 kakaṅ di pṛnaḥhaniƞ amṛgil surupane batuṙ/... ...nak ḋeṇīra ƞolakĕn hamariñcīy akiduṅ muḍasarā lawan aṙtwāti wirasanira saṅ kumba, taṇḍi/ƞĕn kaṅ putus pet kaṅ tuhuṇiṅ carita mĕne ta wiwekaṇe madyaṇi wƞi samṗun prapteṅ dunuƞan.

//0 ragasamayā hagli/... prapti tuṙre ki muḍatiwās maṅgalaṇiṅ pra kawy āmet ṗatiƞaliƞ aṅlaƞut swara sgĕḥ karuna budi, ba/geya saṅ ḍataṅ hañaṙ wikan tesun tiḷm ḋeṇira saśañja, haƞli hapiṇḍa ƞliḥ hanlaṅ pamṛgilan.

ø śurupniṅ saṅ hyaṅ siki gumanti, ra/................... wusnya byaksadḋan akule ki muḍatiwas mantuk tabĕḥ pisan kalaniƞ awƞi, taraƞgane kamawa/s liṙ kadḋi sinawuṙ tumĕṇḍaṅ ta jaladara, ṛmĕƞiṅ mahenḋra śṛṅniṅ mega prapti ri tawaṅ mawiḷtan.

//0 mṛƞĕs gatrani cā.... .....ranamet jalada, ri ta...mega rumawe ḷmĕp wintaṅ makmul kilat mayat lumraƞ aganti/ heraṅ sapaduloṇ aśṛṅni wulan aguṅ haṣṭamī ri sukla paksa, tusṭa śwaraṇiṅ cuçuṙ munya saṅgaṇi, kadya mumuƞu lara

//0 dalu sa/....guliṅ ki surajayā yamiweka lamṗaḥ mañcĕṙ mĕḷḷṅ ñanaṇe saya kaƞĕn kagug̈u pira lawasṣiṅ ha/ṗaḥhi, raga mukti saƞara, katetela ketuṅ hagraṣṭahā tanṗa beya, tan sipi kāsiyani raga limṗadḋi, niṣṭani sabuwana

ø /........... raśiḥ punika maṙmani tibraniṅ wlas malecaṇi raga leteṙ ni skaṙjā kyagug̈u ni sumaṙ/sa laṇi rumawit kataman tos na raga mṛta rasmini kuṅ punika lamon karasa, pira holiyaniśun atakitaki, tan tuhu ri wacaṇa

//0 /...... ṗa ṅlaliṙ muṙti tan aṇa simṗaṅƞi daya, śurajaya paƞalme ya ḍuḥ kaky ariśun tu/hu jatī karuna budi, muṣṭikāṇi jajaka, purusani laku rakanira kumalamaṙ hapulaṅśiḥ rajaḥ tamaḥ hanhĕ haƞi tan sinatma ...

.........ga sawƞi deṇiṅƞ amaṙna dyutani raga, saƞara wus ṗawṛtine ḷyĕpniṅ metra la/yu śurajaya nhĕṙr aguliṅ saṅ hyaṅ hatma siluman hadoḥ paraṇipun hanukṣma he¡ṅ nilambāra kapaƞgiḥ ta muṙtine ni tejasari, hama/.......

...niṅ saṅ hyaṅ canḋra dum akaliḥ ki surajaya baƞun kaƞelan henak ḋenira sare duratma lu/ƞa laƞut hasraṅśraṅƞan siḥhe kapaƞgiḥ sukṣmanira ṇi tejāsari, pamuƞu lulut katon rowwaƞiƞ ṣajiwa, ki surajaya mukti sari/... ..................

//0 caliḥni jñaṇā basamet silib. ragā lit nityasa mawe ṇuraga/ hamukti rum ĕni jro laṅse śaṅ jyaḥ tlas ṗinaṅku wruḥ maƞamĕṙriṅ wacaṇa sinahasā ri basa, riṅ basa hanawaṅ madu juruḥ maṙ muksa/... ...... muṙ...wa karas...in ...u...uṅ gantyaṇiṅ waja

ø ṛsĕpni daya ƞambyakĕn gati, lo/lya ktĕṙ gupe nikī kanya wus atitaḥ dṛwya mule sarisari winaƞun sinahasā ri lulut asiḥ kinĕnan. re tejwala, sgisgiḥ ni .... ................ ...........lati¡, lupu piṇḍani śwara

//0 sapiḥniṅ canḋradipa haƞti, su/rajaya tṛsne śwupna, kumtĕṙ jiwa woṙr aƞelan tan sipi laraṇipun mĕṅgaḥ hoswaḥ ruditeƞ ati, dṛsni luḥ manḋrawayan ri piṗi/........ .........kuyaṅ kayiƞa... rag̈a l pā kapnĕtan larani śiḥ ruwe datan ṗgat.

//0 pajaṗaja/ṇiṅ lara sawukiṙ pira lawasiṅƞ aƞeça he¡mbuḥ tanṗa ṅloṅ ciptaƞel. tṛsnagĕṅ rob tan ṣurud luwaṙ tanṣaḥ hamig̈naṇi de¡ni/........ ...kṣma lwiṙ panḋuṅ pugĕlniṅ kawy aƞambara, tutur iṅlaṅ katawƞan. lulut aśiḥ humor iṅ kanura/gan.

ø tan ṗarimana wtuni titiṙ ciptane masa wuruƞā pjaḥ taƞeḥ kawaṙna te kale meḥ rahina kawuwus kweḥni paksī munya/.... ......wetan makin tṛsna lepuḥ hawuƞu rag̈asamaya, hadan busana riṅ samṗuṇnira haśuci, hu/mijil saṅ hyaṅƞ āṙka

//0 hasmu gaṙjita rasaniƞ ati, ragasamaya miyat i kakaƞe tan ṗṛnaḥ suka budḋine punapa wa ..... .........ka mawiƞi¡t , sawƞi mĕṅgaḥ kĕsaḥ waṙṇnanira luru haturu turu taṇn inak ka suraja/yā ya tansaḥ hāƞoƞaḥ haƞiḥ lwiṙ kna winahita

//0 ya ḍuḥ hariṇiśun masku kaki, tan ṗahiƞan tĕñuḥhi ñana, laran ku/.......... wkasira hanḋulu rakaṇira ............ti, kakaṅ samṗun makana, warahīn katesun ṗunapa/ jarunaṇira, mawaraḥ kāraṇnani raga priyatin kepwan ragasamaya

ø kakaṅ ṛƞĕ wacanananku kaki, hiḍĕp ḋuṙga maƞeka ye/... .....paṇ .....ṇ ana t...age ...gĕp ....... ... ... bayu siḍman kaki, øira kneṅ swapna, doḥ paraṇiṅ tan tu/hu, cipta lanā balayaƞan wowohaniƞ aturu kakaƞ aƞīpi solaḥ kacakrabawa

ø yaya hedan manah iƞ akiki/... ...................... ...... n urupe kaya tan woṅƞ abagus ṗakaṇira dameṅ pa/westri, kaya dama parawan samṗun ṗatikudu, ḍuḥ yayī tan maṅkanaha, tĕmbya tan kaṇḍĕg lamṗaḥku lamon kapaƞgiḥ kalṗi.........

ø ....................mit lumaris hanaƞoṇni hayu, saƞ apṛnaḥ maṅke la/yat lakw aƞadehaḋe duṇuṅƞane kapuṅkuṙ, praṗti maṙgga kaṇḍĕg alīƞgiḥ madyaniṅ parerenan ki surajaya muwus haśṛti/.... ....................... .... ṗoliḥ deṇira saṣanak.

ø ragasamayā/ hatĕnku kaki, laḥ kariyā yayi gĕg̈nĕpa, tan siki tan sipi wlasiśun maṅke milu ƞeliṅ tan luhuṅ salaḥ tuƞgal kariya ƞī/.... .................... ................ ........tumiƞāl ki ragasamayā sumahuṙ hawoṙ luḥ/ mijil tṛsna ri rakaṇirā

//0 tan maṅkanahā kaṙsaṇiśun kaki, najyan tutug̈a wkasi jagat lamṗusa denera ƞulanṭe tan ka/........ .... bayaniƞ aƞgĕṅ braṅti, manawi kapĕṗĕsan ḋenera namun lulut hakweḥ paƞuniƞa/ṇniṅwwaṅ sera saṅ kātaman ṣiḥ hamriḥ kapatin taṇ amaṙga byantara

ø tuturira kakaṅ denkatoliḥ taƞekna samṗun ta..... ........kt rame saṅ prasidaṇiṅ laku hamiseśā riṅ tiga mukti lwiḥ byaḥ raja yoga/, sawijiliṅ tutuṙ maṅkana rakwa lumamṗaḥ dinpuntulus kaṣi yanḋanawirati, prihĕn maṅko balaka

//0 kakaṅ nadyan sabu/... ...soƞa... ... ....ton hĕnḋi parane saṅ kasaṅg̈a riƞ ibu gag̈añjara/niṅ tapa sakti, saṅ darana kawasa, ṣiƞgiḥ paraniṅpun hisiṇiṅ wukiṙ sagara, tumarimā laƞniṅ pawestrī lwiḥ pinaka gag̈añjara/...

................ ............suka, hapan taṇ ana paḍa saṅke maṙggaṇe priṅga he/wuḥ niṣṭa ṗalā kakaṅ surawaṇi, kaswaraniṅ wuwujaṅ kalud. rara guṇuṅ tan mapī sira paṅgiḥya, kaliƞna tan tan ṗenḋaḥ gula/.... .......

....śun masku rusit haƞel bapā natariṅ waçana, sabḋa/ ƞāmbara hiku kabeḥ tan kaṛƞĕ deṇniśun hapan raga tan ṗatipati, haguṅ kaṅƞ amiseśa, hamgati laku kemƞan. ra.... ............... ....ṙmmanya baƞun kaṙsa

//0 hadan laku sigra tanṗa noliḥ ha/mṣakĕ kaṙsaṇiṅ manaḥ wusṣ apralalu rag̈a ƞel harine tanṣaḥ puṅkuṙ maṙmma ƞiriṅ kadya sarati, wañcak ḋaṙyya ri lamṗaḥ ra/............ .................. ..... puƞkuṙr i guṇuṅ kawi, lumaku tut ṗanaban.

ø maṅ/kin tan ṣurud tinḋaknyā pṛgi, ki surajaya duṅkapiṅƞ aksa, wus mĕntas i śabraṅ kilen ṗrapti ƞamen lumaju lamṗaḥhirā/.... ................... .......ṗt ... smu dawĕg ta kakaṅƞ asiram kaṇḍĕg lamṗaḥhe ki sura/jaya haś√ci, laḥ yayi hadusṣa huga

//0 samṗuṇa toyā sarira pṛgi, hadan lamṗaḥ saƞ anaraweca, mayo/.... .....ṇnoliḥ saṙwwa muwus surajayā liƞe hatoḍi, punapa kajƞibaṅ śuṇn abaƞun tu/rut ḋi sajyaṇiṅ lumamṗaḥha, laḥ kakaṅ tā puṗuḍe campakajati¡, yayi sakaṛpira

//0 halonloṇan lamṗaḥ ... ........u hatut walaha gaṙjita saƞṣayatine ritniṅ paraƞ aluhuṙ haśraśraƞan taṅ siriwi/ti, wwany aƞuṅsi wiwara, matuƞgalan ṣuśuḥ kacaṙyyan tas i lumiyat. rekaṇi wuṅkal tujalā waṙṇna riṅgit waniḥ tulwa/....

ø Dihentikan (cerita) tentang Ki Surawani yang baru saja beristirahat di tempat para ajar tiga hari lamanya. Memelihara dengan cara hidup yang penuh kasih dia Sang Penguasa padepokan. Dihentikan sejenak (cerita tentang Surajaya). Lain cerita- di sekeliling Penataran, bulan muncul pada tanggal tiga belas paro terang di hari minggu. // 0 // Pupuh Pangad // 0 //

Diceritakan Sang Raja dan para prajurit sudah siap banyak kuda .(...?) dan kereta. Segenap prajurit bersemangat. Indah dalam berpakaian para abdi istana, bekerja. Dipastikan siap kereta kuda itu.

ø Sang raja telah memakai perlengkapan kebesaran. Bertabur permata, pakaian Sang Raja, cemerlang bersinar seperti matahari yang terbit dari balik gunung di ujung timur. Kilaunya menyebar, gemerlapnya permata seolah-olah tergambar seperti kerdipan mata.

ø (Sang Raja) memakai kain putih yang benar-benar halus bersulam benang emas, berkain pinggang gringsing, motif wayang. Memakai keris, bertangkai dengan "blengker" berhias rumit. Bergelang "kami tuwuh", berikat pinggang motif "luba" berhias bunga teratai yang mengitarinya. Hiasan lengannya dari emas tanpa rumbai.

ø Tiga kudanya sudah siap, bersinar emas di pelananya. Dahi dan bulu surainya tertutup (dengan) hiasan emas, "jurjeng" namanya. Bagian bantalan dan hiasan leher gajahnya dihiasi dengan batu mulia tertentu.

ø Sang Raja sudah naik di keretanya. Gemuruh langkah prajurit dan para abdi dengan senang dan patuh mengiringkan. Para "gusti" memakai kampuh dengan motif sama dengan para "mantri". Para penduduk desa dan yang lain menjadi satu dalam kereta berhias.

ø Banyak kereta tertutup beririg-iringan, cemerlang bersinar, berjalan mendahului gajah-gajah. Suaranya sambung menyambung dan saling mendahului dengan (suara) kuda. Kelompok abdi kerajaan "Pangalasan", masing-masing dengan payungnya sendiri. Kendang dan gong suaranya perlahan saling bersaing dan saling mendahului, berbunyi bergantian karenanya berbunyi gemuruh.

ø Sang Raja tidak undur segera perjalanan bala tentaranya sampai di Palasa kemudian berkemah. Diceritakan Sang Patih Senapati (bernama) Rangga Kanduruhan dan Ki Juru Pangalasan segera mengiringkan. Seperti guruh suara merdangganya.

ø Kendang dan gong bertalu-talu, berbunyi bersama. Riang hati orang-orang yang baru pertama kali (melihat), turut mengiringkan tidak tahu isyarat, yang kemudian menjadi kecewa hatinya, bagai mimpi pikiranya turut bangkit. Barusan saja mengabdi demikian dia yang mahir dalam rasa.

ø Pasukan "Papanḍen" seperti hujan gerimis (banyaknya) kesana kemari berkelebet, berjumbaijumbai emas, banjir dan tidak surut. Banyaknya orang lagi pula hebat ada pasukan "Sridanta" yang lain para mata-mata(?), membanjiri datang di Labuhapi. Orang-orang yang memakai benting adalah para penjaga lumbung (?).

ø Orang-orang mengiringkan lebih dahulu menanti dengan sabar. Para prajurit "nyutra" dan pembawa bendera, orang-orang yang memakai pakaian pertunjukan(?) tidak ketinggalan dengan anak buahnya mulai tampak. Orang-orang pandai mengikuti dengan sembunyi-sembunyi, tandunya(?) seperti lukisan mereka berhenti untuk berkumpul.

ø Sampai di Makasar(?) (mereka) penuh dengan kegembiraan. Ketuanya bertanda khusus di kepalanya yang berwarna merah emas dengan hiasan bertumpuk. (Ia) berjalan memimpin dengan semenamena di jalan. (Ia) bertugas secara istimewa dengan anjingnya, menakutkan orang-orang desa, bergerak kian kemari dengan mencolok. Ki Pora banyak bicara.

ø (Mereka) berbaris tampak di jalanan bersegera tidak undur, datang di Panataran. Penuh sesak jalan mereka para prajurit raja semua bersama-sama tinggal di kemah. Banyak yang bersantai-santai ke tempat pertapaan (?) juga Sang Nareswari. Puas bercengkrama menopang kesedihan.

ø Sangatlah berani perbuatan dia Sang penguasa tempat. Perbuatan baik berdananya dilakukan. Terkenal di seluruh bumi. Banyak tanpa henti mereka yang menghaturkan (upeti) (?). Semuanya serba indah, ada di luar semua berwarna keemasan, sudah diterima.

ø Setelah memberi penghormatan berturut-turut perbuatan yang berpahala dari tapa sudah berhasil. Pulanglah mereka para pengikut yang menghadap didahului orang-orang desa kemudian para pertapa melakukan kerja masing-masing. Para ksatriya berikutnya meninjau kemah sejenak.

ø Segera malam pun terceritakan. Matahari baru saja tenggelam, rembulan bersinar. Ramai seluruh perkemahan, suara bersahut-sahutan berbunyi bersamaan, seperti dijawab oleh ringkikan kuda.

ø Gending berbunyi keras bagai membangkitkan kesedihan. Dia yang dilanda cinta terbangun. Dia yang unggul barusan mendapat kebahagiaan menambah keindahan dalam berkidung yang terkemuka., Yang lain berlatih; para penjaga itu. Di timur laut terdengar orang memainkan "guntang".

ø Kira-kira pukul tujuh (jam 4.30 pagi) menjadi pucat sinar rembulan. Fajar menyingsing menjelang pagi, matahari pun terbit. Ki Surajaya kembali dibicarakan sedang menenangkan diri, enggan, tidak mampu mengikuti, mengendalikan pikiran yang kacau.

ø Tidak berhasil menenangkan (hati) jiwapun semakin tidak berdaya, lebih-lebih tidak berdaya pikirannya. Tidak terperhatikan jalan menuju ke kematian, semakin menderita sekali karena cinta asmara. "Duhai jangan melakukan samadi dengan khusuk, tiada tempatnya sebagai jalanku untuk mati".

ø Seperti ada suara terdengar, berita dari Ki manguyu memberikan petunjuk “Tidak tahukah (kalian) bahwa ada perang di Jebugwangi?. Para mantri berperang tanding ,Tuanku. Ramai demikian berita yang beredar. Tidak ada yang menyamai, pertunjukan di Rabut Panataran".

ø Gembira hati mendengar (hal itu). Ragasamaya berkata, "Kikislah sedihmu lalu (kita) pergi dari sini. Saya semakin ingin tahu Jebugarum". "Nah sambil melihat dan mencobai perang". Patuhlah Ragasamaya.

ø Tersendat-sendat kata-katanya tidak keluar, "Ragasamaya adikku, seperti petunjuk Hyang Widi, aku mendapatkan jalan, Adi. Kakangmu ini

Nah laksanakanlah. Kakang berlakulah berani karenanya aku ikut menyerang lebih dahulu”. Adiknya (Ragasamaya) berlari turut ke perkemahan hendak merusak tempat suci (?) di depan Palah; sepagi mungkin (sampai) di Palburajah.

Sangatlah kasihan (orang) yang mendengar tahu akan kebaikan bicaranya (Ragasamaya). Sungguh sulit jadi penyebab orang mati di medan perang. Ragasamaya agak terbawa hatinya jatuh kasihan, memegang kesetiaan, tidak lekat pada kehidupan dengan berani dan kuat. Sungguhsungguh saudara (orang yang demikian).

ø Seperti diolok-olok oleh rasa cinta asmara yang menguasai membuat mabok kepayang dalam bertapa. Maksud baik Hyang Widi menghalangi (dengan) cinta asmara. Sebab orang muda banyak desakannya terbelit rasa cinta, karena itu (bisa) menyimpang, pikiran gentayangan jika dibawa-bawa.

ø Perginya Hyang bagai tanpa memberi tahu jika langgengkan kejahatan hati. Karena itu budi yang dalam yang sebenarbenarnya terarah pada pintu. (Bila hal itu terjadi) hati bagai menemukan (sesuatu). Dan semakin terasakan petunjuk dia yang unggul bebas selalu terkuasai cinta.

ø "Ragasamaya, adikku. Pikiranku mendapat rintangan, seketika, kemudian memenuhi semua, menjadi gelap rasa hati(ku). Kini menjadi terang hatiku. Nah Adi marilah kita pergi, berangkat ke Wilis sambil melihat-lihat Penataran.

ø Senang rasa hatiku". Ragasamaya berkata, "Sekehendakmu saja, aku patuh asalkan Kakang tidak bersedih. Sedemikian besarnya engkau menanggung rindu, mabok. Sadarlah jangan tidak memperhatikan karena kesedihan dan duka nestapa".

ø "Benar katamu, Adikku. Sangat baik, kini semakin terasa nasehat dia ketika berada di gunung Kawi. Tidak kuperhatikan sementara pikiran merana hati terkuasai rindu, tidak ada yang diperhatikan, lupa karena hati terhalang.

ø Nah marilah kita pergi, Adikku". Setelah minta diri mereka segera pergi dengan tidak bersedih hati. Sudah sampai di Gariging berjalan terus ke barat. Banyak orang searah (dalam perjalanan itu) juga orang-orang yang berpapasan, yang mengikuti, yang bersama-sama. Pedagang tiada henti-hentinya mencari dagangan.

ø Cepat langkahnya, berjalan terus Rabutbuntel pun terlewati. Sampai di daerah tegalan menuju wilayah Daliring. Ketika sampai di Jaganlung kemudian perlahan-lahan menuju ke Rabutsiwalan. Kemudian mereka duduk di tengah-tengah batu di tepi sungai.

ø Setelah selesai mencuci muka mereka mandi membersihkan diri kemudian pergi dengan sempoyongan, perlahan. Sangat kasmaran hatiku melihat menatap lereng curam, tebing terjal dan goa-goa. Daerah sulit menghadang menimbulkan gamang hati barang siapa yang melihatnya.

ø Lamalah jika diceritakan di jalan, Ki Surajaya sampai di Lopat. Perlahanlahan jalannya sampai di Karanglagundi. Ingin datang di Kapulehan tampak lelah. Setelah membeli sirih mereka istirahat, duduklah Ki Surajaya sambil bertanya,

ø "Tidak ada belokannyakah jalan ini". Ia kemudian melanjutkan perjalanan sampai di Panataran. "Benar Pangeran tidak ada persimpangannya, lurus mengikuti jalan agak ke selatan". Segera kemudian mereka pergi. Matahari waktu itu baru saja (condong ke) barat ketika mereka sampai di Kabaṭaran.

ø "Di sanalah Kakang tempatnya beristirahat- demikian keinginanku bersama-sama mengerjakan sesuatu yang baik". "Sekehendakmu saja, Adi". Ki Surajaya jalannya menuju ke arah dia yang bertapa yang menyapa pada Sang Tamu yang senang akan manisnya sapaan.

ø "Duhai selamat datang Sang Tamu", disongsong dengan sapaan manis, "(Saya) tidak (tahu) dari mana asalmu, wahai yang baru datang". Ki Surajaya menerima dengan senang hati kata-kata yang penuh perhatian, seperti manisnya gula. Mendesaknya pikiran menyerupai boreh.

ø "Jangan bertanya yang mulia. Si Surajaya ini tidak mempunyai tempat tinggal, di gunung mengikuti kerinduan hati, pikiran seperti menggembalakan angin. Seperti menginjak (tumpuan) tapi meleset sehingga pikiran pun seperti mabok. (Saya) berjalan, bergerak tidak ada yang dimaui masih samar-samar keinginan badan ini".

ø Tanggaplah dia yang diberi isyarat, tahu gelagat yaitu dia Sang Tetua padepokan. Karena inti rasa itu samar-samar, hampir tidak tampak untuk mengetahui akan kesejatian rahasia. Sudah banyak di gunung-gunung, cerita dipadukan dengan ajaran para dewa, seperti halnya kebijakan-kebijakan raja. Songkok pun sudah diterimanya.

ø Ajaran para resi disusun diatur asal usulnya. "Ki Surajaya anakku Angger, hendaklah bersamadi tidak bertempat tinggal. Hal ini (anggaplah) seperti ibu: yang mengikat batin orang mengembara, menaungi (selama) "bayu sabda hidep" belum terpisah.

ø Ki Surajaya aku bertanya bagaimana, Ngger, ujudnya dia Sang Terang(?), bentuknya (bagaimana?). Beritahukan aku yang sesungguhnya, tetapi jangan terlalu sedih dalam kata-kata. Apa yang dicari (dalam) kelebihan yang unggul?. Mana yang dianggap lakunya mahluk hidup?".

ø "Duhai maafkanlah yang mulia hamba memberanikan diri menghaturkan keterangan. Sebenarnya tidak maulah saya. Hendaklah dihindarkan dari kutuk dan kekuatan magis Si Surajaya ini". Ramah munculnya katakata. Sang Pertapa berkata," Maksudku, Ngger orang muda jika mahir dalam olah rasa

ø tidak tahu pada arahnya kata-kata, sangat bodoh. Dari keburukan seluruh dunia masih bodoh (orang yang) tidak waspada karena menuruti kehendaknya, pergi kian kemari dengan pikiran kosong. Malam hari (...?) mencari tetapi tidak berhasil, bimbang, ragu-ragu tidak tahu arah tujuan.

ø Meski mendapatkan sepuluh gunung, meski telah terkuasai dunia perenungannya, Angger, tampak sia-sia jika tidak tahu ajaran dia sang wiku. Laku menjadi sia-sia, hati yang prihatin pun menjadi lemah. Duhai (mudah-mudahan) yang meragukan itu tidak ada padamu.

ø Berapa lamanya engkau menghiburhibur diri tanpa tempat tinggal. Surajaya anakku, apa yang kaucari, Angger?. Engkau, Angger, songsonglah laku itu perolehmu untuk mendapat kesenangan. Adapun aku yang berada dalam kelompok guru, sungguh jelas karena janji".

ø "Jangan bertanya padaku, tambahan lagi tidak dapat dipastikan karena jalan yang buruk, tambahan lagi karena tertutup oleh cinta asmara. Si Surajaya telah berkeliling (untuk mencari) keunggulan-keunggulan yang bagai permata dengan sengsara. Hakekat mantra pujian suci sudah banyak (dicari) dalam hakekat cerita.

ø Ajaran Siwa dan Budha sudah diikuti dan Sang pengikut Siwa dan penganut Budha telah didatangi (juga) para dewaguru dan mereka yang bercara hidup mengembara (seperti misalnya) kelompokkelompok religi yang hebat sudah (didatangi). Patokan untuk mendapatkan kesenangan (sudah) dicari (tetapi) tidak didapatkan. Itulah yang menyebabkan (saya) tanpa tempat tinggal.

ø Banyak halangannya juga bagi dia yang mahir dalam berkata-kata; jelas keinginannya yaitu utama dalam petunjuk wangsit. Tidak bingung karena (pengaruh) mata, kata-katanya mengalir. Jika menguraikan sabda tahu pada tempat yang pantas, Berkibar-kibar tanpa samadi di bumi.

ø Sama (saja), saya tetap dalam kebingungan mendengarnya, sulit rasa hati ini lebih-lebih jika ada pustaka utama yang memuat pengetahuan unggul meski mendapatkan satu pikulan. Semakin memantapkan hati, hatiku diingatkan karena bertekad (menunggu) munculnya ajaran.

ø Barangkali ada petunjuk padaku, (wahai) engkau yang betul-betul tahu akan segala kegembiraan, tanpa halangan yang beralasan melakukan brata mengitari bumi". Sang Tetua pertapaan dalam keadaan bingung mendengarnya, hatipun tidak memperhatikan mengikuti munculnya suara.

ø " Benar katamu, Anakku, jangan tidak bebas dalam menyempurnakan arti sudah kau temukan semua, Ngger hati-hatilah. Yang jelas tidak dapat disombongkan". "Duhai tidak mungkin, yang mulia, hamba ini terlalu berani sepertinya kagum Si Surajaya ini.

ø "Dan selanjutnya (karena) anda, saya menemukan Sabda yang amat berdaya hidup yang memberi nasehat pada hati". Dia yang terhanyut dalam lamunan kini telah mahir dalam tuntunan rahasia guru sejati. Komposisinya sudah ditemukan kecil tidak bersekat, lagi muda, cakap. "Orang yang tahu laku,

ø ada batasan-batasannya, Angger, dalam berkata-kata. Engkau yang pertapa mengembara dengan saleh dan yang mengetahui hakekat sabda yang sesungguhnya berlagak unggul, berlagak mampu tidak undur, mengurai kata-kata. Kelompok darmahaji diurai menjadi 3 sebagai galah."

ø Ki Surajaya berkata ramah, "Seberapa besarnya badan jika dibandingkan dengan jagat raya ini, penuh sesak, tambahan lagi ada darmahaji. Kurang malam jika harus membandingkan pengetahuan . Meski mendapatkan hal yang 3 itu, hendaklah dimengerti dengan jelas, sangat unggul dia Sang Pembuat sabda".

ø Demikian kata dia yang mengerti sepenuhnya dalam penglihatan. Campurkanlah sejumlah perasaan, kalah oleh yang tanpa rasa di hati. Segala kemahiran mahluk sungguhsungguh mahir, lebih baik dari pada kebodohan yang penuh larangan dan rumit. Dia yang utama pikirannya berlagak bodoh.

ø Kira-kira menjelang petang telah tenggelam matahari. "Anakku Surajaya (kini) sudah malam, (sudah) waktunya aku mempersilakan. Tiada lain kenikmatan untuk tidurpun datang". Meluasnya perkataan tiada habisnya.

ø Sang Tetua padepokan turun masuk ke dalam rumah, tinggal Ki Surajaya yang terus memikirkan akan gencarnya sabda yang muncul. Tidak diceritakan perkataannya pada waktu malam hari dan lagi di (...?) alat musik berbunyi. Pagi pun sempurna matahari muncul.

ø Kliwon pagi terceritalah. Mereka berbareng datang segenap pahlawan perang. (Datang pula) orang-orang darma, akuwu bersemangat dan sejumlah prajurit "jabuwi" semua datang. Sudah beristirahat juga orang- orang Lamajang, semuanya sudah diberitahu masing-masing.

ø Para pengawas sudah berdatangan (demikian pula) sejumlah Kuwu tidak ada yang terlewatkan. Orang-orang dari ngarai Gintir datang pada pagi hari; orang-orang dari timur Kawi datang lebih dahulu. Sejumlah orang yang gagah berani dengan ciri-ciri seorang "mantri" dialah yang memberi perintah kepada para "tanḍa".

ø Orang "darma" telah berkumpul; sejumlah "kabayan" datang. Orang dari Balitar sudah beristirahat dari belakang dari Waturit. Para "manguri", orang dari Pakandangan datang, yang lain orang dari Polaman, orang-orang dari Buntĕl datang lebih dahulu; bersama-sama muncul dari sebelah selatan hutan.

ø (Mereka) sepakat (...?) tidak undur. Gagah berani Kabayan dari Urawan, tetap kebal, tidak takut. Dengan perlahan barusan dikeroyok, tidak bergeming ditombak tidak surut. Tiga bersaudara dari Gegelang

ø Ki Sora dan Ki Samun Gajahpaningset yang bungsu. (Mereka) ditinggalkan ayah ibunya itulah alasannya berperang karena kesusahan hatinya menimbulkan belas kasihan. (Mereka) berusaha mencari takdir, senang jika mati gugur di medan pertempuran.

ø Sudah dipenuhi oleh para prajurit bayaran segera mereka dengan tergesa bersiap berusaha keras agar bisa berbaris di tepi. (Orang-orang) senang mendengar bunyibunyian bergemuruh. Suara gong berbunyi bersama-sama; yang lain (suara) kendang, gong riuh berbunyi gemuruh.

Sang pahlawan berada di punggung gajah, ramai beriring-iringan dengan Pengalasan. Kemudian pagi senanglah para Tandamantri. Segenap bangsawan muda yang gagah lebih dahulu sampai di Laburajah. Sudah sampailah Ki Surajaya segera ke pertapaan.

Tidak putus seperti "sulung" dari timur; berduyun-duyun para prajurit bayaran dari Kembang. Para Kuwu semua sudah datang. Ramai perang lembing itu, para Kabayan berhadap-hadapan, diserang habis-habisan (...?) seperti babi hutan diadu. Gembira bercampur takut hati para pemberani berperang.

ø Ciri-cirinya Raja muda berlima tersebut adalah mampu (berperang) meski menghadapi musuh 30 orang. Pahlawan yang gagah berani mati-matian, dari keluarga bangsawan bernama Lalanasambu dan Banyakputeran, Kala Huwahhawih, Mahisaboṭo dan Panjiwisaya.

ø Menghadapi sosok para Kuwu, Lalanasambu berjanji (akan) bertindak seperti angin ribut (ketika) disongsong oleh para prajurit. Tidak bergeming menyongsong, saling berjanji: berani, bertempur sama-sama berani saling menyerang mengalahkan. Sangat senang Sang Raja.

ø Panjiwisaya bersemangat seperti berbaur dengan musuh. Ki Banyakputeran dan Kala Huwahhawih bertindak seperti (...?) tertiup angin

ø Mahisaboṭo menyerang tingkahnya merunduk-runduk. Terkejut orang yang sedang bersiap mencabut payungnya hancur, tidak ada yang kembali menyerang. Segenap perwira kacau semua lari. Kabayan Palah pergi kepada pengawal, tidak ada (orang) yang menyongsong perangnya (Mahisaboṭo).

ø (...?) karena dikejar (kemudian) berhentilah ia karena terluka, cedera. Yang lain yang terluka kemudian mati. (Ia) berusaha mati membawa serta musuh mati bersamanya. Membanjir pahlawan di medan perang, tidak ada yang diperhatikan diusahakan mati dengan saling berhadapan.

ø Tindakan gagahberaninya riuh rendah bercampur dengan hiruk pikuknya orang jahat yang menyamar berpura-pura baik, terbukti mencuri- kemudian ditangkap oleh "Tanda" (menyebabkan) temannya mengamuk. Para "Narahita" dari pasar lari sepertinya takut. Para pedagang berlarian tunggang langgang.

ø Sejumlah “manguyu” lari cerai berai badannya terhempas lagi pula tergopoh-gopoh tidak tahu tujuannya sepertinya terbebani. Tersadar kembali ni manguyu, lari bergandengan, anaknya menangis ketakutan oleh sorak sorai yang terus menerus.

ø Lamalah keadaan kacau itu tidak juga surut. Terkejut orang yang berperang riuh, karena hancurnya pasar. Orang-orang yang ditusuk itu membalas menusuk, melukai tidak terluka, dengan mengerikan menghunus keris. (Seperti) kerasukan suatu yang jahat ia berdiri kokoh mengamuk tidak ada yang menyamai.

ø Alat tetabuhan bersuara keras, gembira hati para "kuwu" dan para "darma" (mereka) bersama-sama lari. Alat tetabuhannya tidak bersuara. Mulailah perang watang. Menyerbu orang-orang dari selatan ramai (berdengung suaranya) seperti lalat. (Mereka) saling menangkis ramai tidak ada yang merasa kalah.

ø Perang lembing berpasang-pasangan. Ki Sora berkata," Hentikan jangan terbawa (emosi) tidak ada kesudahannya perang kalian, Ki Sanak. Perhatikan satu persatu syarat-syarat upacaranya perang (kalau hal itu) sudah selesai. (Ketika) sampai di (...?) tidak banyak yang memperhatikan sopan santun ketika melakukan perang".

ø Sudah undur Kabayan dipisahkan dalam perang watang. Mereka sudah menyudahi perangnya. Beriringan dengan orang-orang yang menonton, mereka pergi ke (...?), ramai lari saling mendahului. Jalan kudanya segera sudah sampai. (Mereka) beristirahat di bawah naungan pohon beringin rimbun (?).

ø Matahari sudah terbit di sebelah timur, kemudian berjalan dari tempatnya berada. berwarna emas yang dibentuk istimewa, berjalan seolah-olah di Suralaya (menurut) pikiran orang yang melamun. Surajaya melihat dengan jelas perang yang baru saja terjadi seperti bermimpi ketika melihat (perang) itu.

ø "Sangat sedih hatiku melihatnya (perang itu). Berlebih anugerah dia orang yang unggul". Rasa senang meliputi semuanya dan kudakuda mengiringkan segenap para raja muda yang berjalan kaki di jalan membawa panah yang indah semuanya berkilat-kilat dan pakaiannya berciri warna emas.

ø Di jalan penuh sesak banyak (orang) tiada henti-henti bagaikan air laut pasang seperti banjir. Dalam pendapat sang kawi seperti gunung bunga. Berkelebetnya bendera dan jumbai-jumbai (pada tombak) berbelitan. Prajurit "wrĕgu" berjalan mengiringkan kereta, kuda di jalan.

ø Sejumlah prajurit bayaran menyerbu, orang-orang "darma" membawa tombak. Tetabuhan berbunyi seperti disanjungsanjung. Berjalan cepat Ki Sora dan Ki Samun, Gajahpaningset tindakannya unggul. Mereka memakai senjata tajam model lama.

ø Ki Sora berkata, "Gajahpaningset, Adikku, Pangeran, dan Ki Samun, jangan jauh-jauh dariku. Nanti bila Lalanasambu bertindak dan juga Banyakputeran, hendaklah kau hati-hati- menyingkirlah dari daerah peperangan.

ø Mahisaboṭo kuat Panjiwisaya berjanji (untuk) teguh. Sudah siap dengan sempurna Ki Lalana Howahhawih. Tidak ada yang berani menyongsong (ulah) prajurit bayaran. Segenap Kabayan sudah ditundukkan, sepertinya ketakutan. Orang-orang dari Palah sia-sia membunyikan tanda (titir).

ø Ki Samun katanya menjawab, "Hah tidak ada gunanya takut kepada Lalanasambu sama-sama menginjak bumi dan sama-sama makan nasi. Meski seluruh bumi kalah, aku tidak takut, meski diadu oleh Sang Raja.

ø Gajahpaningset menjawab, "Kami bertiga, Kakang, punya tugas istimewa. Dia yang unggul kusongsong sendiri Jika (aku) undur satu “ḍĕpa”, aku malu". "Duhai jangan begitu pikiran seorang prajurit, sayang sulit dilakukan, Adi, dengan kata- kata.

ø Menimbulkan tertawaan orang -orang yang mendengar. Kesanggupan Ki Kabayan sempurna. Hebat keberanian orang ini. (Ia) pergi dari tempatnya duduk, sudah terlanjur datang di tempat penyamaran, sebuah arena yang melingkar segera berhenti yang berperang.

ø Sudah siap tidak ganas perang watang itu. Mulai bergerak para prajurit bayaran. Berputar, bergoyang watangnya ditegakkan, perisainya dipegang. Memukul dibalas dengan memukul, tersenyum sambil membidik. Senanglah para perempuan, yang lain disuruh mundur.

ø Ada prajurit bayaran agak kikuk, tindakannya kacau, turut bergembira berlagak bisa, mencibir (sambil) berjalan berpegas-pegas; terhuyung-huyung hampir terjebur sumur. (Ia) berjalan mundur sambil mengerling, mata dipenuhi dengan warna putih mata. Kata para perempuan; "Mudah-mudahan kena".

ø Tombaknya bengkok hancur lebur leher (tombaknya) menjadi rumah kumbang dan lagi penuh serbuk (.......?) (...?) hasilnya mengumpulkan, menggotong barang rampasan, tengahtengahnya hangus dari kejauhan seperti bambu pikulan.

ø Kain pinggang pendeknya dililitkan tiga kali disambungkan dengan "daluwang" dibuat pancung, tampan. (Ia) membawa keris "baḍog". Anting-antingnya timah senilai 2 ribu dikira perak, simpainya "upih" diberi nama "satru randa" (musuh janda).

ø (Ia) mengangkat watang dengan kuat tidak tahu bahwa anak-anak tikus yang masih merah berloncatan, kumbangnya terbang satu demi satu. (Si prajurit) melihat ke angkasa (..?). (Hal ini membuat) sejumlah prajurit bayaran tertawa. Semakin banyak (orang) yang disengat (kumbang), sebagian berusaha (bertahan) (dengan cara) dipukul-pukulkan tombaknya jadi empat.

ø Rakyana Patih menemui segenap orang kuat. Bersama-sama (mereka) sudah datang menunggu. "Juburuh jaba" dan " juburuh jro", serta (para)"gusti" tidak ketinggalan. Belum lagi orang "bapang" diharapkan tidak ketinggalan, lainnya lagi para "paribon" sudah siap.

ø Orang-orang dari timur sepertinya diatur. Tindakan menyerangnya bersama-sama. tidak takut bahaya. Serangan itu ditujukan kepada orang Lamajang, yang diserbu, (mereka) tidak takut, berani seperti raksasa. Musuh lebih banyak menimbulkan kecil hati, mujur tidak mati, diteriaki oleh para"darma".

ø Lalanasambu memberi semangat, semakin tidak jujur. "Perintahkan, Kakang, supaya aku maju". Perangnya (Lalanasambu) menakutkan. Menonjol perbuatannya, temannya tidak ada yang tahu. Waspada Ki Sora, adik-adiknya dilirik. Ki Samun mengencangkan celananya.

ø Gajahpaningset tahu gelagat. (Ia) mengusap tanah, senjata “tĕwĕk”nya di"ḍĕpa" tiga kali tetapi tidak berani (menyerang), menunggu situasi. Orang-orang "darma" pulang dari berperang “watang”, mati. Ki Sora waspada, “jĕbĕng"nya siap di atas. Lalanasambu dipelototi.

ø Ketika (...?) (...?) datang dari timur laut, (yaitu) riuh rendah suara burung gagak. Lalanasambu bergerak (tidak tenang) badannya, gelisahnya mata menandakan bergetarnya hati, jatuhnya bahu kiri menandakan kesedihan.

ø (Ia) teringat mimpinya: Lalanasambu dan Panjiwisaya gembira sepertinyaa beriringan naik (perahu). (...?) Diangankan dalam tindakannya itu. Sampai di tengah lautan tampak perahunya tenggelam seluruhnya.

ø Tindakannya terasa lemah Lalanasambu tidak tahu lawan atau sekutu. Ketika ditusuk tetap berdiri kokoh tidak menangkis. (Ia) terluka, tampak dadanya tembus ke tulang belikat, tidak mampu membalas ................(?).

ø Orang-orang dari timur takut (kemudian) lari atas kematian Lalanasambu. Banyakputeran mendengar bahwa sekutunya sudah mati. Panjiwisaya wajahnya bagai disemprot dengan "galuga" pohon tal, marah. Ia berbela mati, seolah-olah hendak meremas besi membara.

ø Mahisaboṭo berkata menantang, hatinya kemudian (......?) Howahhawih. Waspada Ki Sora yang unggul dalam membaca gelagat. (Ia) tidak takut, benar-benar prajurit sejati, menuju ke sasaran belum dapat diraih.

ø Ramai saling mengejar dalam perang watang dan perang perisai "dadap", ramai gemuruh, dibarengi dengan jeritan sekutu yang ketakutan yang bersahut-sahutan. Orang-orang yang menonton semua lari karena (...?) ketakutan, ngeri mencari tempat pengungsian.

ø Ki Sora segera dikeroyok, diserang beramai-ramai oleh Kabayan (dari) Panataran. (Ki Sora) segera ditolong-diketahui oleh Sang Raja yang sedang berperang "jĕbĕng" yang riuh rendah berdesakan, tidak bisa dipisahkan. Sejumlah prajurit bayaran mati terluka kena perangkap.

ø Panjiwisaya (...?) tidak ada yang menyamai dalam menyerang. Hampir kena (...?). Waspada (ia) menangkis (ketika) diserang, didesak oleh karena kewajibannya. Ki Samun, Ki Sora sakti juga saudara mudanya Gajahpaningset segera menandingi.

ø Ki Sora berjaga di selatan. Mahisaboṭo dan Banyakputeran musuhnya itu, diserang tidak takut. Panjiwisaya diserang dari samping, dari arah selatan- ditusuk, kena, terkejut lalu menoleh. Luka lambung kirinya, (ia) melawan.

ø Gajahpaningset menusuk Ki Samun segera mambantu. Ki Sora waspada melihat adiknya diserang habis-habisan, didesak. Orang "darma dan “akuwu" lari meninggalkan senjata watangnya, berlindung pada "pangawin", yang mengambil senjata karena rasa takutnya.

.... Huwahhawih lari, Mahisaboṭo dan Banyakputeran, para saudara-saudaranya melarikan diri gemetar badannya. Panjiwisaya dan Lalanasambu saja yang sebagai dituakan yang menopang, semua mati (apalagi) badan ini mustahil tidak mati.

ø Takutlah para kepala "kuwu". Para perwira lari menutupi telinga. Seperti angin topan menerjang para prajurit yang mengikuti. "Jaburi" .... dalam tugasnya lari bersembunyi terusir ke utara melarikan diri. Orang-orang Lamajang semua meninggalkan senjata watangnya.

ø Tombak, senjata barudi bertumpuktumpuk berserakan yang lain tertindih mayat yang seperti orang tidur. Adapun keadaan prajurit bayaran dan yang lain bernafas tersegal-segal terdengar mengaduh. Lukanya ditempat yang mematikan karena tajamnya keris. Kepuasan bergelora mengharapkan ...

... serempak bersahut-sahutan dari arah tenggara. Semua (orang) merasa kasihan pada keluarganya. Rintihannya menimbulkan belas kasihan. Sepertinya menutupi suara sorak gemuruh yang sampai ke angkasa itu yang seperti ombak bertabrakan berdebum berbunyi gemuruh beriringan.

ø Diiringkan dewa maut Sang Perwira dipisah semakin menjadijadi gemertak ... ... (Mereka) pergi mencari perlindungan ke dalam rumah. Kala Huwahhawih lari mengungsi ke tempat Rabutlayat.

ø Semakin menambah cemas dan kacau semua yang menonton perang. Sekelompok orang kacau balau oleh Gajah(paningset) yang marah, berteriak, menjerit, menusuk mengenai 8 orang. Semakin ... ...

... lari ketakutan karena ulah yang mengamuk; ke pasar tujuannya barangkali masih bisa hidup. Mendapat mangsa (?) karenanya gempar gemuruh. Seperti hutan keris banyaknya pedang dengan leluasa merusak medan perang.

ø Sang Raja marah ... para mantri ... Sang Raja berkata agak songol suaranya, "Undurkan para prajurit!". Kemanapun pikirannya orang-orang "darma".

ø Ki Dojwa katanya menghaturkan sembah, "Benar, yang mulia, yang bernama Si Sora dan Si Samun, Paningset yang bungsu dari Urawan tanpa tempat tinggal. Sang ... prajurit muda". Diberi (hadiah) kain geringsing wayang (prajurit itu).

ø Sudah lerailah perang itu disetujui. Ki Sora dan Ki Samun diikuti Gajahpaningset selalu dekat dengan Sang Raja. Diceritakan para prajurit bayaran yang berusaha menang lagi dimanfaatkan dalam keadaan sulit ini, menghancurkan. Banyak orang yang disudahi di medan perang.

ø Diberi kain dan ikat pinggang ... dengan gembira di medan perang, sebagai hadiahnya dia yang pemberani menyabung nyawa. Ki Sora tidak lain kesayangan Sang Raja diberi hadiah, diberi seperangkat (senjata?) baru. (Ki Sora) diperintahkan untuk memilih harta benda.

ø Diceritakan Lalanasambu dan Panjiwisaya beriringan ke sorga. Rohnya sudah sangat mulia. Sorganya orang yang berjaya di medan perang. Semua tidak mendapat kesulitan. Prebawanya gunung emas yang serba emas, mendapatkan bunganya angkasa.

ø Banyaklah yang harus diperhatikan dalam kata-kata tidak akan habis oleh Sang Kawi(dalam) merangkai kata-kata buruk dan baik. Kini diceritakan Ki Surajaya dijadikan "lakon" semakin tahu, keramaian yang berlebihan ada keinginan untuk mengetahui akhir dari cerita ini.

ø Lerainya baru saja kemudian (mereka) undur. Tempat duduk sejumlah anak-anak raja indah. Berturut-turut di seluruh daerah, pengawal mengiringkan. Sejumlah "tandamantri" mengiringkan, lega (hatinya), diikuti sejumlah orang yang berperang di "darmakuwu". (Kemudian mereka) bubar. Sunyi sepi tengah medan perang.

ø Ki Surajaya hatinya trenyuh asyik bersembunyi ditengah penyamarannya kemudian ia berkata," Duhai adikku, Di, sangatlah perkasanya dan utama dalam pengetahuan sekelompok orang segala abdi istana (?), carilah maknanya, Adi, Apa perolehanmu melihat (perang) ini?".

ø Ragasamaya menjawab, "Pertimbangan hati hendak membuat syair Sang Kawi memandang anugerah dengan menikmati yang ada pada diri raja yang sebagai permulaan keindahan, penguasa dunia, tidak ada yang mengalahkan (sebagai) badan dunia".

ø "Hah tidak begitulah dalam hal laku. Mudah, Adi, tidak ada halangannya. Ada tetapi masih bodoh untuk menerangkan, Adi. Jangan dibicarakan budinya sudah meliputi terbentang di kerajaan, munculnya dalam diri raja menurut Dharma. Tiga pertahanan(??) membangkitkan kesunyian.

ø Termangu-mangu kami, membangkitkan kekaguman atas matinya Lalanasambu dan Panjiwisaya yang sudah mulia; yang gagah berani tidak ada pengiringnya. Mereka berlima sanggup tidak undur hatinya tertinggal. Menurut perkiraan. Ki Sora unggul tidak ada yang menyamai.

ø Sangatlah beraninya Ki Samun, Gajahpaningset tidak dapat diperdaya, sulit dilaksanakan untuk jadi penyebab kematiannya. Ragasamaya berkata sambil tertawa, "Siapa yang menyamai, carilah (orang) yang berani dan tentu kalah oleh Ki Sora".

ø Di jalan sudah sepi kemudian pergi Ki Surajaya perlahanlahan jalannya; adiknya tidak jauh mengikuti. Sampai di kabuyutan segera (mereka) duduk di pendapa sambil menulis karangan (berjudul) di Imanimantaka kedatangan utusan rahasia.

ø Ragasamaya berkata, "Kakang, silakan melihat-lihat ke bagian dalam (bekas keraton?) sekalian. Semakin saya ingin melihat keindahan yang unggul". "Sekehendakmu Adi, aku menurut". Segera mereka pergi bersuci di kolam dari batu. Dia yang memelihara keindahan sepertinya takjub.

ø Sampai di dalam (bekas?) istana (mereka) disongsong dengan datangnya angin yang bagaikan menghaturkan bau-bau harum yang menyebar, seperti gadis menyambut dengan ucapan selamat datang. Tersebar segala bunga sepertinya membangkitkan asmara. Dengungan lebah hitam serupa (suara) perempuan yang sedang melakukan persetubuhan dengan kekasihnya.

ø Kasmaran, hatinya terhanyut termangu menatap takjub pada perasaan hati. Keindahan "meru"dan aneka bunga seperti di Suralaya. Perasaan hati yang berbunga-bunga dalam hati tersebar membuat lupa daratan, merana melihat warna yang serba emas.

ø Ketika mengitari "batur" mengikuti rasa hati, Ki Surajaya menghitung sengkala "mĕlok", sengkala "milir" dan sangkala "koci" saat pembuatan semua ini, ketika itu, sejumlah relief-relief cerita, gapura dan taman raja yang luas (dan) bende sudah dihitung.

ø Ragasamaya berkata, kakaṅ pi/..... .....basukiniƞ akikin rupaṇniṅ guna yaśanira saṅ ratu miliriṅ pratamā/ ji wijaya ƞukweḥ tri habaƞun ṗarastra

ø lawasiṅ bobot ṗinayu øanag̈a nahut buntut sewu samṗun ketuṅ la/..... ............ .... bale pañjaṅ pinayu kabeḥ winiweka puṙwwakaniṅ kitri, tila/sira saṅ samṗun ṗrasidḍa

//0 tlasiṅƞ amoṅ kalaƞun ki surajayā kaliḥ ragasamaya, hadan lakw asaḥ śakiṅ jĕbugwaƞi/ ...............ntun hanḋukap mahana lagya piṇḍa pṛgi, duṙggaṇiṅ maṙga muṙwwa baya

ø /sigra lamṗaḥira hanḋa[la]ruṅ ki surajaya tan ṗanaha priṅgalas. wyaṙ tan ketuṅ tbĕṅne kaṅ maṙga ƞrit ṗraptaƞ a.... .....ka dum ṗisan kilyan maṙma nuli, kawƞen ḋuk ṗrapti guṇuṅ p[ptya]gat.

//0 /hana ḍukuḥ tuhalaƞu haƞuhaṅ luraḥ puṇika, kakaṅ sīnadja saṅ kaduṇuṅ śurup hyaṅƞ aṙka wƞi kadukap ḍawu pisan ṗi ro piṅ tlu saksa/... .....ƞgiḥ hadḋan ṗan akaṙyya

ø rahina tatas kawuwus. ṣira saṅ nata/ koṇiƞaheṅ wacana, sami mantuk ṣakweḥniṅ wraga mantri, saḥ sakiṅ panataran lamṗaḥnya daruṅ sigra prapti dahā tan wuwusṣĕn ma/.... ........... ra //0// pu haṙtati //0//

ki surajaya/ samṗun apamit hadan mintaṙ haśṛṅ ta lamṗaḥhira kemƞan cipta risṣaƞel ketaṅ sariranipun sĕwĕḥ deniƞ anutī bu/... .......... .... g wikalṗa pulaṅ saƞāra, haprawĕñca tan tuƞgal kaṙsaniṅ ha/ti, kweḥniṅ jnaṇa praṗañca

ø pira lawasṣiƞ amoṅ karasmin hanut lamṗaḥ datan wriƞ enaka, ki surajaya cipta ... ......... ..... karasmin hamoṅ menḋraniṅ ranaḥ sakaṙsane tinut budi lanā/ tinamtaman haƞumbarā bañcana kaṅ denulati, tapa brata rinusak.

//0 luwaṙ tansaḥ raga namun kapti ketaṅ saṅ/.... ......... karam s kabeḥ kag̈orawa kagug̈u lwiṙ tanṗa tmaḥ rasaṇiƞ ati, kayaka/ya maṅsula ke¡taṅ nisṭinipun lali yen luhe tumiba mangrawayan tan ṗantya lantaran ṗipi, hasamaṙ punaṅ maṙgga

ø cinaṅki/.... ..............dawata, lamṗusṣ adoḥ sinadyane prapteṅ wilis kaduṇuṅ tig̈aṅ/ canḋra lawasnya nuti, śṛṅniṅ raga saṅśaya, siṅ batura lawu hamet ṣukani wṛdaya, tan ṗoliḥ don keḥni wigraha ka/.... ..........

ø hamwĕḥhī cañcalaniƞ ati, sokaniṅ cipta baƞun saṅśaya, makin tan kaṇḍĕ/g lamṗaḥhe harine dyatan kantun hamaksakĕn budi karismin ṗrapta luraḥh urawan kumuncup tan ṣurud. prawateƞ aṣṭī ... ..............pt marapi tan mare karuruƞan.

//0 hanuwuki sakaṙsaniṅƞ ati, wusṣ a/pralālu suka matiya, jĕṅ warapuḥ tan karasa ƞel ṗrapti guṇuṅ damaluṅ kweḥniṅ desa kaṛp kaṗeriṅ denṣṛṅ dene lumam/... ....... kapukuṙ, ... niṙ tanṗa kaṙyya praṗti kupaṅ luwano tlas kawuri, hapti wruḥheṅ samudra

//0 a/smu kepwan ragasamaya liṅ layat mihat ṗriṅgaṇiṅkaṅ wana, kakaṅ dḋi paraṇiƞ amet sabḋa manira lĕsu kaliḥ dina luput i bukti,/ ..........ƞelan ma as c pta layu ...ḷṅƞ apuwara hilaṅ ḍuḥ kaṅƞ awak masa tan daḋiya dmi haƞawula/ tan jawa

ø ragasamaya haƞasiḥ haśiḥ ya ḍuḥ kakaṅku ki surajaya, lamṗaḥhira kumaḷƞe wyaṙ tanṗa naṙka kewuḥ/ ........ n iƞ ap i, ṗama hi... n i slam bisa ƞruṗak laku halamat ṗamete glaṙ hañjawurā paṇḍita/ dengawe picis jinuwali malaka

//0 ritni wanaƞel taṇ ana waṇi, haƞambahā kakaṅ dera para tuhu sarira gi... ........ṙ...mewuḥ tan kag̈iwaṅ ki surawaṇi, hantaka maka dana pranā maka tawuṙ paripaksa pakani/ra, lumamṗaḥ hanut ṗiṅgiriṅ wa hudaḋi, rayinira kepyuḥhan.

//0 maṙma kaṇḍĕg lamṗaḥhira liƞgiḥ madyani sela ƞuƞāṅ/... ...ĕ ĕ.. ..pane ḷḷntreḥ, madana hacumm aluru dahat ḋeniṅ naraka ƞliḥ tutug loṙ kidul weta/n ḋeṇe tan katmu, saƞ aśuṅ braṅtaṇiṅ mana niṛ tan lamṗaḥ sumilib kaṅ deṇulati, katawƞaṇuraga

ø ragasamaya hantĕnku kaki ka/..... ....... amoṅ wirage lṗās liṙ yayeƞ āñut haƞulati hayu ta/n ṗoliḥ winulik asnĕtan binuru malayu hadi goṇane katmuwa, hmas maṇik miraḥ saṅ wkasiṅƞ ayu puṗuji haƞapus ṗakaṇira/

.......ga nora kapaƞgiḥ kinuraƞan ṗaƞan sa nora, ƞoṅ pet iṅ samadya hawa/ke lamṗus nora katmu winahita rahina wƞi masku maṅkiṇn ahewa, manaḥku kabutuḥ pinet kulon hana wetan ṗi.... kapaƞgiḥ manaḥkw amet hyay edan.

//0 ragasamayā mesĕm lumiriṅ haḷp wi/jili sabḋa tinuna swapa wikaṇa parane kakaṅ manira tan wruḥ hulatana riṅ kawiratin wrulikn iṅ mudḋīta, pagĕhaniṅƞ ayu dentu/......na, sa deṇiṅƞ alaƞut ḋipunbawati baliḥ praptaheṅ sira

ø taḍaḥ sawetniṅ bra/ta ƞu<la>ti hapuwara maƞgiḥ kopaswaṙga braṅta deṇira ƞulanṭe ta gug̈on kaṛpeśun hapuhara matiya ƞiƞkiṅ liṅƞe ki su/.... .........tuhu, ........sani..ƞ apṛnaha ƞo¡ṅƞ anurut ṗaƞeraṇniṅ sila yukti ta moƞī/ tapa brata

//0 pira lawasira haƞg̈ĕṅ brati, hamoṅ menḋrani cipta kasmaran sapta canḋra mwaṅ lawase lumaky amilaṅ guṇuṅ riṅ/ maluṅ riṅ man...rag̈ni guṇuṅ sumbiṅ śunḋara, balaṅbaƞan samṗun riṅ comboṅ ṛsi madana, riṅ prabo/ta buraṅraṅ tlas kag̈ĕrit ṗṛgaṇi guṇuṅ cṛman.

ø wus kalamṗaḥhan sakweḥniṅƞ āṙdi, prapti śuṇḍa law√ wus kedĕ ... ........ ṗa maƞgiḥ riḥ mayoṅ maṇḍĕga waluyu hamriḥ hayu maƞkin ṣumilib ṣwĕḥ kala duṙgama saƞgo/ne katmu hakweḥ sukṛtaniṅ lamṗaḥ sinikiran wigraha dyuta ƞulati, samantaraṇiṅ raga

//0 saya maƞetan lamṗaḥnya ha/... ... .....ṗteṅ kadoƞan ṣumaṛg ta karasa haƞe lwiṙ wilalan tanṗweku paksa barat ra/hina wƞi lumaku maṙgajita, harine yamuwus ṗnĕtiṅ pada kaƞelan huwusana lamṗaḥta kakaṅ surawaṇi, duwĕg ta gu/....

...........n ka...ti....ṅśun kaki, tamaƞun aywa hyaṅ hyaṅ pramriḥyan hadini giri panṗen laḥ ta/ nunut iṅ juṅkuṅ surajaya mituhw iƞ ari wus oliḥ panunutan mintaṙ kaṅ parahu tan koniƞaheṅƞ eṙṇnawa, piraṅ wu/... igra praṗta lmaḥbaṅ

//0 samṗun mĕntas ki śurajaya glis kaƞliḥyan hanumṛmi pa/ƞabtan raga<śa>maya rowaƞe hamṛgil kaliḥ dalu suka manaḥhira ki wasi haparab rujaksela, haƞamĕṅ satu.... ..........ṇa, aƞulati paṇḍita tuhu pra kawi, sa wruḥ tatwani basa

//0 halalamban sa/bḋanya haƞukweḥ ragasamaya namṗani sipta ki rujaksela tame reḥ hapuḍatan wru smu tan katara tibaṇiṅ waṅsit kaṅƞ a/.... boño, sabḋaṇipun ṗaƞeran maṇira tanya pira lawasira hamoṅ budḋi kara/smin lumakw amaṙbwajita

ø rag̈asamaya namṗani waṅsip mitrenira taṇ amaṙbwajita, hamaṙgajita harane pan tan ṗa/... .......... wƞ ni.. ...etra pabajaƞan ṗṛnaḥhiṅƞ aturu ki rujaksela waca/na, pira holiḥhira desa haṅlamṗahi, punaṅ tan ṗarimanaḥ

ø kweḥniṅ desa kaṅ sun lakoni ye¡n ketaƞ a/... masa hana kiraƞane sami deniṅ kabutuḥ haƞuniƞa weraṇiṅ bumi, tan wruḥ ka/ƞ iƞulatan. rujaksela muwus ṗira hisiniṅ buwaṇa, saṅ kasoƞaṇniƞ awa pajaṛn kami, manira guruya....

... ki surajaya mesĕm lumiriṅ ragasamaya dinukiƞ ulat wri tiƞal maṙmanya gotek tuhu/ kamuḍaṇisun hamihaṙsa paraṅṇiṅ kawi, haja pati turida śwaraṇiṅ wulaƞun kaṅ sinĕṅgw isiniṅ jagat saṅka hulat saka wiweka ri/... ...............

//0 awaḷṙ dweniƞ amṛdi maniḥ denira hānateṅ sini praja, ñummana/ hĕnḋi rupane buwana winḋu rujaksela swara tan gisiṙ tan adoḥ lawan sarira, liṅṇiṅ praja pitu hĕnḋi rupaniṅ wayaṅ paƞuwu/... .... kweḥniƞ ambara

ø na datan turida manḋureṅƞ ati ragasamaya tinog iṅ/ paƞrasa, rujakwatu panagihe halamat ajalan rambut ki śamaya prāyatneṅ siṅśiṙ wruḥ panaṅkisiṅ sabḋa pinet ḍapuripun hawa/..... hapan minaṅka liṅgaṇi kaṅ sapta bummi tinog̈ ki rujaksela

ø hayo sinabḋa/ kaƞ awarusit ḋudu tapa tan wruḥheƞ ambara wkase hucapĕn maṅke tumṗaṅtumṗaṅƞiƞ aṇuṅ wasṗadane hanata sanḋi, pa.... ..........tan kĕneṅƞ ucap hamet ṗinet haƞulatẗana ƞulati, mewuḥ wruḥ heṅƞ utama

ø /rujaksela kawatgateṅ waṅsit ragasamaya nĕmbuṅ wacana, hajojolan tameṅ rame śurajayapi tan wruḥ paƞuwusan hano/ga .... ....nasan ṗatakonaṇniṅśun ṗunapa wastuni tiga, kasaƞṣayan ṗun mitra wikana ri tri, maṙ/gajita waraha

ø hakweḥ waṙṇnaniṅ tiga mṗĕki sayakti maṅke hisiniṅ buwana, bayu sabḋa hiḍĕp tĕsṣe guruniṅ tiga duluṙ satus tu/.... ..........ga panugalaṇipun rujaksela kapĕṗĕsan hataṅgal ṗrasitā hamṛdi/di waṅsit liṙniṅ sabḋa rinasan.

//0 tuhu pratyaksa wiweka ƞiriṅ pawarahira saṅ maṙgajita wiwara tĕs ko mirage tulu/... .....lasaṇnira saṅ tami, hĕnḋi paraṇniṅ sabḋa kaṅ tan wruḥhan iṅsun tamapi ṗaraṇiṅ sĕmbaḥ, maṙmmaṇ/ iṅśun ṗuniki na riṅsun midĕr iṅ bummi hniṅ kaƞ iƞulatẗan.

//0 ragasamaya budi kasilib tunaṇniṅ sabḋa mṛdi paṅrasa hapa.... ki surajaya muwus kapi boñcaḥ saṅ ṣiṗta mijil taha tan makanaha, sawakyaṇi tan wruḥ la/ḥ kakī hawasakna lamon wikan mani kaky amumuri, ri suṇ anuta lamṗaḥ

//0 wkasiṅ ṣabḋa denira hulati, hapti wikana para/.... ............. tuhu mewĕḥ saṅ wiku kapaƞgiḥhā kaṅ deṇulati, maṙmaniƞ aƞolemṗra/ḥ, tanṗa gug̈oṇ ḍukuḥ puṇika ƞiƞulatan hakĕmbulan wacana kateṅsun kaki, kalawan ṗakanira

ø nadyan ṗiṅ sapta/... ..... guru maṅsa holiya, kaṅ sinasayakĕn tose hatuka guṇuṅ sewu śumĕ/mbaḥhā nistayanika wruḥha rupani rupa, kaliṅƞaṇe hewuḥ hagamṗaṅ denira sa <wi>kan i naya swapa mulane¡ ragaṇira ki wa/... .........ṇnana

//0 ulataṇna wukniṅƞ ati, denapatitis ṗarani yoga, hiḍĕp rin√/pĕk tan wineḥ mariptahā ta sadu sabḋa laƞgĕṅ bayu simṗĕṇniṅ pri wtuniṅƞ ajñaṇa, ragā hiḍĕp ṣuwuṅ wruḥ yeṇn ana nwara de.... lawan pra...wi, øira kneṅ sa kocap.

//0 sinĕṅgy adoḥ bali laṇ iṅ kliṅ lwiḥ doḥh/ iṅ sabḋa kamuksakan ḋatan katon ṗaparahe granā kalawan tutuk tanṗa kliṙ hamĕṛpĕki, hadoḥ ḋeniṅ wacana, sipi ṗaṛ/... ...ra saṅ w kan.... ... , saṅ sukla niṙmala wruḥ sariniṅ sari yeku parani sĕmbaḥ

ø rujaksela ƞo/ƞ atakon kaki, puna rupane sabḋaṇira, kaṅƞ iƞ√capira kweḥhe tamapi ṗṛnaḥhipun ṗantĕs baya ƞrasani hniṅ dwi katatwani/... .........sun ṗunapa ḍapuriṅ raga maṙmmaniśun kĕneṅ suka duka ƞliḥ pajaṛn ƞoṅ paƞeran/.

//0 rujaksela wruḥ riṅ nayapati, tan do miweka puṗusiṅ jala, sariniṅƞ anta ka pinet maṙmanya rob tan ṣurud a/...... wacana lwiḥ tatwaṇiṅƞ adiḋrawa, tuƞgal iṅ pamuwus ṗun mitra hawas taṇn awas manawi taṇn ado/ḥ lawaṇila putiḥ talaṇni tawon tuƞgal.

ø punika patakoṇiṅsun kaki, saƞ amaṙgajita mawaraḥha gĕƞiṅ saƞṣa.... .......kisuṇ aṅruƞu waṅsitirā saṅ śida lwiḥ puṗusi gĕbaṅ tuƞgal ḋiwaṅkara sewu nila butuḥ ta/nṗa saṅkan gubaṙ suwuṅ punapa saṅkane muni hamṗĕki buwaṇa

//0 ki śurajaya namṗani wasit horana pamgati wacana,/ .........kweḥ wikan tan wruḥ katesun ḋensatahun sabḋanĕn kaki nisṗalaā koṇiṅƞaha, mi/tranira puƞguṅ punika twasi wirasa, ṣaṅ kawasa mawat buwaṇā harusit saṅ wruḥ glaṙ ñumana

ø wasṗada sikutiṅ pranata huri/... .............. nora, n tan iman wasṗadeƞ akweḥ lagiman wruḥ riṅ tuhu truya kamy awaṅsa nitya/ ƞliḥ prapti yaktini jñana, sa kahiḍĕp rawuḥ kawasa raga prakamya, sapṛnaḥhe tan tumut ḋuṙga sajati yeku wkasiƞ ujaṙ

ø /.............. kak tanṗa waṅsit mapan tanṗa waṙṇna kaƞ awak tan wruḥ rupane budi lagi muyuṅƞ raṅ/ ṛp manĕmbaḥ byaktya ƞastuti, rujaksela wacana, ḍuḥ paƞeranriṅsun sakṣat ahamaƞgiḥ mas miraḥ hiya paƞeraṇ iku... ..........

//0 ki śurajaya gadgaḋa haƞliṅ hasmu cĕḥ sinogateṅ sĕmbaḥ pra/yatna soṙ paƞucapi tan makana reḥnipun ṗasaṅtabe pun ṣurawaṇi¡, hyaṅ hyaṅ parani sĕmbaḥ pati sṛṅ pukulun samṗun a/... ........n maṙgajita mawiṣṭi tan kag̈ĕm iṅ wṛdaya

//0 tulusakna śiḥhira kaki,/ pun rujaksela pinupu sanak nawy awet laku ƞulanṭe haƞuratyanana teṅsun hanḋĕlepa hatura bukti lamon ja/... .............guru he kaki¡, tan kariyā saparaniṅƞ aṅlamṗaḥhi, manira lbuṙ tamṗak./

ø piṇḍo kaṙyya sabḋanira kaki, hapan sirā yakti kakĕn sanak nisapala yen tanṗa mule pira sĕṅkĕriƞ ibu saṅka/.... hadi tuƞgal ka..ƞ amiseśa, baḃaneḥ yen tan wruḥ sakatoṇni ya raganta/, laḥ kariya ki rujakwatu sun amit hatoliya prawwata

//0 ki rujaksela kari mawiƞit haṙsa tumuta para.... ...... reḥhe ...ṙ jita wruḥ nawi katon hanaƞṣayani pun i kakaṅ tinaha, maṙ/mmaniƞ anḋaruṅ ki wasi kari saƞṣaya yeṇn agug̈oṇna sanā ki surawaṇi, hadoḥha ri śun mara

//0 tan kawaṙṇnahā ri maṙ/... .........ṇī wus ṗrapta riƞ aṙdi miri len ki ragasamaya muwus ḋenapaƞgĕḥ rasaṇiṅ/ƞ ati, kaka keraƞan ṗunapa ṗĕpĕk gunaṇiṅ wruḥ maṅke ta gug̈oṇni tapa, ṗan wruḥ satĕlas ṗamantĕsiṅ śabḋa ganti haƞiṅ ha/...

......... saƞ akikin tusṭani rāga kadya nupnaḥ ki surajaya hujare ya ḍuḥh mas mira/ḥhiśun sabḋanira hayywa misani, lwiṙ sitaṇiƞ awṛdaḥ wruḥ śurupiṅ laku laḥ yayi tulusakna haṅlamṗaḥhī¡ denkadi saṅ gag̈aṅ/... ................

....ni pṛnaḥhaṇniƞ ataki taki, samono deniṅ budḋi ṇuragan saya/kti nora tiwase lara lapa katmu, ragasamayā haƞīṅ tan matiy, apulaṅ lara wiraṅ hasuśuṇn atimbuṇ ḍuḥ kakaṅ hajĕṅ ƞuni... .............. pṛnaḥhaniƞ aśramma

//0 anītihana sṛƞgani smĕṙti hudaksina li/ƞgaṇiṅ patamṗan rayiṇira ƞimbaƞa met ṗaƞutiya sun kaṅƞ alayarana raragi, ri suṇ atataniya, dinpunsami laku hamintuhu ra/... ...........l laṇiƞ ati, sami lan rakaṇira

ø ki surajaya ƞada<ƞ>ga ƞiṅkis. raragasama/yā sigra hatuṙ sĕmbaḥ haṅraṅkul ṣuku wuwuse poma depuntumulus haje ƞeta saṅƞ aśuṅ braṅti, maṙgahani kawasa, paniṅsti laku/ ........... ......rine dentoliḥ kajahit ṗunaṅ daya

//0 maƞkana pamaṙnaniƞ amṛ/di, ragasamaya wus ṗraptiƞ imbaṅƞ āpisaḥ lawan kakaṅƞe hamaƞgiḥ batuṙ śuwuṅ wusnya pṛnaḥ tṛpiniṅƞ ati, waluyane wacana, śura/... ........gu ... .... naraban batuṙre riṅ śunyagati, tataƞgarini rupa // / 0// puḥ mesalaƞit //0//

taƞeḥ kawaṙṇnaheṅ tutuṙ parañcaṇanira saṅ kawi sabḋa tuƞgal marupa ... .....niṅ tal kawi basa pinariñci saṅsiptaṇira saṅ wruḥ tkĕniƞ ataki taki/

ø hakweḥ sanake muditeṅ laku lkase ki surawaṇi hapan wus aneƞ ake maƞka hajidaṙmma putus ḋinuluran tapa brata galu/... trasna gĕṅ maka tatali

//0 sarira siṅṛṅ piniśu saƞṣara hakuru/w akiṅ hamiweka rehiƞ akweḥ katuwon sariraṇiṅśun haƞi taja kumapalaṅ deṇisuṇn amriḥ kapatin ƞoṅ buwaƞe satu/....

//0 satata ƞgati kayun kapyuḥhan rasaṇiṅƞ ati kweḥniṅ bañcaṇa rumawe/ sumurupi tṛsna lulut ṣṛṅniṅ driya haƞelinawan ṣumĕkiṅ daya pnuḥhi rajaḥ tamaḥ haƞimuṙ kala wisaya mĕgati

ø dramba/.... .............ƞisiṙ pamuruṅ hi tapa waneḥ pira kaskayaṇniṅ tutuṙ talib ḋeṇi wi/nḋu cipta sukṣma lalanamriḥ giƞṣiṙ hanḋoḥhakĕn raḥhayu hamaṛkakĕn tan. yukti

//0 haƞiṅ tuƞgal musuḥhipu ..... ....... .....niṅ rira kabeḥ sumurupiƞ ala hayu hamriḥ śurudaṇiṅ lamṗaḥ wasṗada/ ki surawaṇi hatwĕḥk budi yalus ḍaḍape yoga samadi

//0 bayu sabḋa hiḍĕp sinamun rinupĕk ta buwaṇa lis ṗuja brata/... ......... turu mrakasa larani rag̈a hamraḥ sidahaniṅ kapti karasa niṣṭaṇipun karata/n kataƞitaƞi

ø sinamun ṣaya kagug̈u ṗolahe midĕṙr iṅ bumi lakw ahaƞeliṙ tanṗa gawe manaḥ lana saƞu wuyuṅ/ ..ƞi sanḋi ḷṅḷṅ pṛmmana lusuḥ ki surajaya luḥ mijil.

//0 manaḥ/ rusak ṣṛṅ sinamun rinupĕk wacaṇa gati denipuk saya kacanṭel midĕr aƞulari batuṙ ki surajaya wacana katuwon sari/.... ... haƞoƞaḥhaƞiḥ

//0 pira lawasnya baḃa<tu>ṙ hawyatara sa/pta saśi habaƞun ṗatapan wriḥ wriḥ tatarukan añaṙ tuṙhw alaƞut bañjarañ cinaracara riƞ anḋoṅ wahu haliliṙ hamṗĕki ba...

ø ......na kaja haduluṙ sari roṇḍon ṣwiḥnya noƞi sidatapa masa skaṙ/re mĕṇḍuḥ cinabra tatmu sinḋura ƞapit babahan tutug bañjare paƞgi lyan tan kañiridatu śulasiḥ laṇ goṇḍaṅkasiḥ

cammara ƞu/.... ....ƞgutaṛsi rumawe drammaji habra śumunu kañiƞaṙ lagya pada/ṗa kacaṙyyan ki surawaṇi miyanya sĕlyani batuṙ tumkul. rasaṇiƞ ati

ø heṙpas wahu tinutun jiṇalatuṇḍa marapit hanu/.... ............. walagyaha jaladara tibra liwĕran layat ṣṛṅṇiṅ pawaṇa lis./ hawawaṅson tumuḍun riṅ juraṅ kadyamet siƞkiṙ

//0 ƞrikni sumipaṅṇiṅ batuṙ priƞgaṇi paraṅ kawiƞkiṅ tƞuḥniṅ cipta ma/... hawantiwanti hamlasṣ aṙsa colorok munya saƞgani katisnan/. piṇḍanipun mulat waṇiƞa kiƞkin.

ø rupane hanomm abagus ki śurajaya lamṗahi harusak. raga samaṅke waṙ ......... .... rupa sarira, kaya kasalir iƞ aƞin lumaku riƞgariguṅ saƞṣara hariƞkiṅ/riƞkiṅ

//0 tahuw ambuñcal amupus iṅ bratā hakweḥ denlakoṇi hakumm akakaḍaṙ lire haƞloṅ swaṙwy anĕṛmbu sinaṙwi/.... .... jaya satuwuḥ lkase midĕṙr iṅ bumi

//0 amati ra/g̈a sinkuṅ siṅ brata lkas wus keriṅ panamun wisayarane śurudḋaṇiṅ manaḥ camṗuṙ siḍĕmmaniṅ dasenḋriya, pakoliḥ taṇn ana/...

ø puṗujaṇira tan luśuḥ suralaksaṇe samadi samada/ mmakatejane rahina wƞiṅ kumutug pa harumm anilanila saṅ tapa haƞel aƞliḥ denṗriḥ patiyanipun sinakitan rag̈a ṇi/....

hamriḥ hilaṅƞane kabeḥ sawisayaṇe tan sadu ḋa/samalaṇiṅ sarira ki surajaya haƞukweḥ wruḥ rupaṇnipun jatini raga kaṅ pinraḥ

//0 linagilagi tiṅ katmu tig̈aṅ ...... .....tatan kĕṇe paƞan turu hoṛg rasani sari wradaya,/ sarira kaknan titiṙ wisayani nale pyuḥ mahaḥ mahu ḥ munyañjrit.

//0 gumiƞsiṙ ta kalakaṭuṅ sukya lalana tṛsna śiḥ ṣa/..... ................ḋuṙ rapane kagilagila, hana hambaṅ hana putiḥ muṙ miƞgat lama/t. ñmut hagihalaƞe ri

//0 ki surajaya lwiṙ tugu g̈rana sikanira titiḥ sarira hakweḥ pamtune pĕ/..... ................ ri tawaṅ patiṅ blĕrik hana halit hana haguṅ tumuruṇ a/met ṗagiƞṣiṙ

//0 gĕṅṇiṅ bañcaṇa lumintu tan tĕlag kag̈irigiri ḷwiḥ pṛyatnane maƞke ki surajaya tan keguḥ laṅ/.... ........ tan giƞṣiṙ punaḥ tan ṗṛda muṙ pan ḋeṇiƞ aywa maṛki

//0 wru/ḥ paja pajaṇni tamu sṣa minak ripniṅ sanḋi hajñaṇa hoywa mirage pṛmmana moliḥ pinku gṛayatna ki surajaya, wika....... ........w haƞuluwuṅ tanṗa galiḥ

//0 rahina sada katmu, taṇn anakasa prati/wi hamnĕ tan kĕna pinet buwaṇa niṙ tan katuduḥ raga tan katon sakṣana, maṙgaṇiṅ sukṣma humijil haƞli saṙwwa haguyu humnĕṅ ki surawa/...

................ .......ṗĕki tan. tma pariyogahe ḍuḥ śurajaya hanakisun sa/mono denta kammaṇusan raganta saḥhna khi waṅsuḷn sakiƞ ibu deneliṅ parane muliḥ

ø woṅƞ anom tame paƞawru/... saṅ katon lan sa ƞu saṅ kocap lan siṅ kajñaṇa, paƞawa/kiṅ tapa sakti wru kite tata suku jati wiseśaṇiṅƞ urip.

//0 maṙmmaṇiƞ alara wuyuṅ kedanan ḋeṇiṅ pawestri śilib lali/.... .....tan kapĕṗĕtan ḋe nta ƞen bapa kasilib maṙmane sala wtu byapa/ra budḋi kagiƞṣiṙ

//0 denalon bapa riṅ la saṅ wikw aja sala ƞgĕ ṛgĕp ḋe nta hayo haƞel ṗan kita wikana ri sun ṗa.......... ...nis .... wa jati .... tuhu kalaguṅ bapa nalibi

//0 kṣayakti ñu/mmanaṇipun tawuḥ saƞ amriḥ kapantin hakweḥ mule riƞ awake muṙtine lupa tan ketuṅ saṅ tataƞguƞakĕn kala maṙmane tan wruḥ/... .... karasm n hawisa

ø ḋe nta yo tan ke<ta> hiƞt ayo la/li mulanira hana keṇe punika bapa den.ketuṅ plĕṅ sarasaṇiṅƞ ora de¡nkĕṇa dentarima ṗnĕ sabḋa yo salaḥ wtu śurada/....

...salina kita wṛti kamy asu nugraha maṅke hantakarana rahayu/ pusṗakaniranakiwwaṅ, parabaṇnira sahakiṅ ƞniṅ niṙmala maƞgiḥ hayu sukṣma tatwa titi hniṅ

//0 samono pawaraḥhisu/... ............ ...... śuwe hyaṅ sukṣma tiƞgal ṗitutuṙ sa tapa linya wacana hatuṙ sĕmbaḥ/ ya ḍuḥ muṙtiniṅ śuwuṅ tulusakna tikuṅ siḥ

//0 katisnan ṗacĕh aƞuƞun hantakaraṇa mamaƞgiḥ ciptane kadi paƞipen haṛ ....... ............karima, samṗun ṣumare riƞ ati śwaraniṅ kuwo mtu nugrahaniṅ tapa sakti

ø hni/ƞakna rumuhun saṅ tapa maƞgiḥ pawṛti hayuniṅ wacana winalen ragasamaya kawuwus bawati hana riƞ imbaṅ tatanmane hamukti/ ... tutuwi

ø lumakuha datan ṗaƞuju saḥ ṣakiṅ bañjaran iki prapti maṙga la/mṗaḥhe ragasamayā hanḋaruṅ honiƞa lawas tan mara, hasakĕp babaktan iki tan kawaṙṇnaheƞnu sigra lamṗaḥhira prapta/

..... kaṅ wahu aliƞgiḥ sinuṅ sĕmbaḥ sabḋa mule hantakarana hanusuṅ laḥ ya/yi hamarantiya, ragasamaya haliƞgiḥ hasmu haṙsa tame hyan takarana wisṭi

//0 ḍuḥ bagya kitariniśun. deṇi/.... .....ƞ iśun maƞke ḍataṅta kadya nĕnmu, saksat katurunan ṗirak raka/nirā walaƞ ati hḋi pranaḥhiƞ aḍukuḥ manawa hadoḥ, sakiṅƞ i riki

ø nḋataṇn adoḥ ḍukuḥ riṅ sun maṙmane ta..... ..........ṇi.. gawe pun yayi kakaƞ asadu, hantakarana ... na, kaṙyyanta kaki krammaniṅ ba/ḃatuṙ kaṙyya panalimuṙ budḋi

//0 saṅ tapa wahu haśug̈uḥ jaƞan kulub kamañja ri poṗogiṅ makaḍahare tan kari/... ....... tan tan wruḥ rasaṇiṅ raragi kasiyan ragaṇipun niṙ tanṗa mtuṇiƞ urip

hawya/tara tƞaḥ tahun la<wa>se yātape wukiṙ nastapa haṗuwaraƞel saṅsara hapulaƞ āwu manis manise taṇ ilaƞ anawaƞ āṙju/.... ṣuk jatmika ƞanḋĕli

//0 wƞi paƞucapṗaṇiśun hya prabaƞkara sumili/b ṗtĕṅ masaniƞ akule surup tejaṇiṅ kakayu tṛsna paksani kartika, saptami masaṇiṅ marati hantakaranā hamuwus laḥ/.....

.....gasamayā hariniśun ƞo waraḥ waraḥ ta kita yayi mu parabiśun maƞke/ hantakaranaraṇisun ki surajaya tiniƞgal ḋrawali watĕk ṗawes.tri tanṣaḥ bañcaṇa teśun haparab ki surawani

....l i nugraha kaki hantukiƞ amaṙna ḍewek hamṛda parab katesun saṅkana/ṇe bawatiya śamono deṇiƞ awiƞit lawasiƞ āḍukuḥ ciptaku haƞuƞaḥhaƞiḥ

//0 ragasamayā hariniśuṇ ḍataṅta/... ........ maƞke ḍuḥ yayi kalawaṇ iṅśun ṗupuƞĕn rarakaṇira tan ṗaramane/ śun kaki weniƞ amaƞun ayu gĕg̈nĕpā riśun muliḥ

ø kakaṅ di paraṇira mantuk ṗajaṛn katesun kaki taṇn ana sinajya ṛke/ waraḥhira saṅ paƞeran jati taṇn ana kahiṣṭi ṗaṇn ana saṅƞ atuduḥ glarira saṅ ka/rihin.

ø seƞī pamĕmĕkasiśun ṗat waraḥhira saṅ kawi natarira sa tame reḥ sira saṅ samṗun anmu, warahyaṅ tan kĕ/... ............ma rusit maṙgaṇiƞ ametẗ ayu beneḥ yayi ta.. ..i

ø maṙgaṇni suka katmu sari/ra pinatipati satata ƞmasi luwe ramene lamon katmu sira sa jatiṇiṅ suka, ragasamayā haƞukweḥ swarane ka ...... ........maƞgiḥ

//0 taṇn ana goṇe katmu, salawasi... lati hamet ƞoṅ, data/n ṗoly amet raganta yayi witipun hawaraḥ ka winarahan sarirā witira sanḋi lakyaṇi si ramihin giƞṣiṛn kalanta kaki

//0 /............ sanono de, ta tanĕm masa liwata saṇḍaƞe najyana brata haguƞ āƞukiya/ kasugiḥyan tan katĕkan ṗan wus.wṛti sawisayaṇni jabuṅ sahna prihĕn ṗateni

//0 gaṙjita wṛdayaṇipun rag̈asamaya napa/... ........denṗutus hantakarana wacaṇa, tuƞgal. ragaṇira kaki haƞīṅ du/ru katmu ronsi linagilagi

ø mewĕḥ saṅƞ amaƞgiḥ sinu katmuwaṇ iƞ awas ṣariniṅ manon taglen sa katon lan saṅ/.... gat rag̈anta parane muliḥ nirakna ta puniku saṅ taƞgal ṛgĕpiƞ ati

ø ra/ga n tan. kna winastu tiga taṇn ana kahisṭi lamon wruḥ pamugĕrane prasidḋa maƞgiḥ hayu ragasamaya riniwwaṅ puṇika ḍari...... ....... ..... kawaspada parane muliḥ

//0 aƞel. yen ḋuruṅ katmu maṇḍĕga ri babad ya/si twan sipi guƞe bedane bañcanaṇipuṇ atambun ri ƞaṛp lawaṇ aƞaḍaṅ kapuƞkuṙraṇa marapit ṗira yatnahanipun kweḥ musuḥ/ .....

............luṙ haguṅ balane tan anti ruwatuṇi bañcana kabeḥ sakamakama suma/wuṙ porakaṇi kalanya śuña kaka tan siƞkiṙ tan ṗoliḥ dalu deṇika buru wus kaṣusaṅ kajumṗalik

maṅko ta sarirani/... ..... don ka wiƞi baƞiwen ḋeṇiƞ alaku tan sadu kaganaleh amukti paṗa gĕ/ ri sarira kaṗalis tuhu kaṗalayw aku donḋoṇanira saṅkari

ø ragasamaya hamuwus kakaṅ ta saṅ śida jati kasaksana/..... ............. pun hanuhu tumukule kawawaṅƞan ṣwapa weḥ dukaṇiƞ ati hapan witiƞ ala/ hayu sarira juga mupusiṅƞ

āyu nutuṙ puṇiku hapuwara //0 hado manaḥ, sarira yen saṅƞarane balikan ḋepuntu.... .......... hantakarana maƞkya kis tuƞgal wacana śun laḥ kaky atanṗa sapṭik.

//0 sa/pṭik sakaṇī ni wuduṅƞ akikin makana saṅƞ amaƞgiḥ reḥ ruḥ paraniƞ ala hayu sapṭik sakaṇi lṗas nadyan oliha roṅ/... ............ yen tan wruḥ parane muliḥ

ø pacĕḥ dayaṇiƞ aruƞu waja rasaniƞ ati ta/n ketaṅ tanĕm tuwuḥhe tan ketaṅ laṇiṅ batuṙ ragasamayā hamihaṙsa wuwuse śidajati kasmarañ ciptaṇipun make ta/....

............ tatas kawuwus hyaṅ sidwa kiranā mijil saṅ tapa hasuci maƞke hatiṙ/ta ri samṗunya rarap hanambut sapwa mumuja, kumutug̈ kaṅ samidā mrik hadan arupĕt bayu sabḋa hiḍĕp ṗinatitis./

............nipun tĕlas ḋeṇira puṇnagi hantakaranā lamṗaḥhe hamaƞun saṅ/saya wuyuṅ kapaƞgiḥ kaƞ iƞulatan saṅƞ asuṅ brataṇniṅƞ ati ragasamaya tumut sakṣanā ƞukweḥ pamanḋi

ø a............ ......praptani kapatin ragasamaya paksane tumuture kakaƞipun sam ṗrasida wi/naraḥ ki yantakaranā misik samṗun kagraha riƞ ati

//0 hawyatara sapta dalu lawase hamriḥ kapatin lila niṙmmala/... ........... paƞawruḥ holiḥhiṅƞ atapa brata pinisaḥ taṇn ana kari hni lila niṙwastu pumu/ruṅ deṇati yati

ø uwus amatitis ṗunaṅ hya kumañcup daḋanṗa cantri denarahara pane tan saṣaṙ tĕmṗuḥhiṅ kayun ḋaṙma/....... ......dohakĕn kapti suwuṅ taṇn ana ketuṅ wṛdaya liṙ kadi manik.

//0 pĕ/ṗĕtẗa galihiṅ kakaṅ wuluḥ wuwaṅ praṗta kami rasaṇiṅ raga taṇn aƞel haḍaƞan liṙ kadi pusuḥ tlasṣiṅ yoga pinunaḥ taṇn a/..... ..............wa muwus heḥ rag̈asamaya kari

ø kakaṅƞ antinĕ <ka>te sun laḥ yayi/ depuṇnapṛgi¡, rag̈asamaya kasawen tṛsne kadḋaṅ wṛgaṇnipun ṗrapañca kweḥ ka koṇiƞa, sawisayaniƞ ahurip. ......... ....... ranhi

//0 abyatniṅ manaḥ kalun pan lagya maṅƞakĕn waṅsit ẗan wruḥ glaṙ ñuma/nane ragasamaya liƞipun manira nora kawasa, śarira gupeƞ haƞliḥ tan wruḥ maṙgahaniśun laḥ kita kariya sakti

//0 /........... ......ṗaḥhira saƞ aƞta lit. tlas ṗrasida lakune kadukāparani laku taṇn ana/ni saṙga katwaḥ luwuti rahina wƞi niṙ śunyaṇipun ñamut ḋatan kĕnaƞ aṣṭi

ø bina śunya piṗitu lamṗaḥhe sa śida ja/... ...............ne niṙmala taya kapuƞkuṙ riṅ śunya taya kahaṙsa, riṅ śunya jati kaperiṅ tlĕ/ paraṇniṅ laku datan. kneṅƞ ucap manaḥ

ø arine kari yawuyuṅ samṗuya hatuṙ paƞabakti lumaku haƞade/.... ............pun hasapajara yen luƞa, hasala he batuṙ niki hawaraḥ saṙwy asaṣa/du taẗagane haƞecaṇi

//0 hniƞakna rumuhun rag̈asamaya gĕṅ braṅti samṗun ṣumiwiṅ batuṙre saṅ pṛsida kṛ .... .....cana, wuwus ni tejasari haƞgĕṅ braṅtaƞ āƞuru kasiḥhe taṇn ana lyan kahiṣṭi

ø /haƞṛƞĕ paśraṇiṅ wuwus ki śurajayā wus laliś ri pamriḥyan himbaṅ kilen ṗranaḥhe maśiḥ paṅlaku ni teja<śa>ri hamihaṙsa,/ ......... piṗi, sambatira mlas ayun haƞatiya yen sira haśiḥ

//0 muƞgaḥ riṅ pataro/ṇnipun kajaṅ siraḥ dḋenṣukĕmi, luḥ mijil adṛs tan ṗante tibraṇiṅ lara saguṇuṅ polaḥhe saƞṣaya ketaṅ tan sipi/.... ............. ƞ atini cipta maṙgaṇniṅ pati

//0 kadyana śabḋa karuƞu sabḋa tan mantra ƞuku/li hakwen muliḥheṅƞ awake øi tejasari wkanku samono de nta kamanusan gĕnĕp ta ṗunaginta øn aƞ√si swaṙganta/..... .............ḋari

//0 haƞṛƞĕ panḋaṇniṅ wuwus makin taṇn ana katoliḥ tan tṛsna yayebu ma/ƞke sakṣana hadan ṗamuhun ṣwara lwiṙ manisi kilaṅ pamite ṇi tejasari hatuṙ sĕmbaḥ linyarum bapa taẗaƞiya kari

ø .........yakaruƞu da..mmakawy aliṅ tanya ris tan sipi ni ...ejasari mas miraḥhiśun hĕ/nḋi paraṇira cala, tanṗaweḥ ramanta nini sajalwestri haƞipuk ṗan alawas ḋenawiƞit

manawi luƞa hasuṅsut ci/...tane ki daṙmmakawi tan wruḥ larane ṇ yen tibra damesa lamṗus hucap ni tejaskaṙ mareṅ jro wi/sma hakuñca hahinba talutub samṗuṇ amasṭi kasisig.

haglis kawaṙṇnaheṅ laku sira saƞ amriḥ kĕpatin <ki daṙ>ma kawi kemuṙ ta/...se katu.... ....ƞinum ṣadina tansa ḍatƞĕn tri uṙywa luput i nasi ni tejasari layu lolya/ni cipta gumtĕṙ

ø tlas ḋenira hĕƞituṅ pārakuti pati hurip ḋewatani rag̈a kabeḥ muwaḥ jabā dalmipun ṗṛ/.............. pṛmana samṗun ḋiṇasil hamura maṙga lamṗus mi jiwa raga kari

ø kĕktĕg sa/samṗuṇn asamun ṣaḥ sakiṅ rag̈a hasṗi layone kari sumare ḷyĕpi metra lwiṙ madu keƞisi waja lwiṙ gu.... ........we sari padma hawnis aluru lwiṙ padapa ṗinet latri

//0 pṛpta waṙsa śit ṣumĕmbuṙ wi/not i maruta ris. mrikṛ swarane tan ṗanten sabḋa tuƞga piṅ tlu, hanaƞis. yen kadi woƞa patine ni/ te , tedḋa ṛbaḥ kumĕṇḍuṅ pṛḃawaṇira saṅ muliḥ

ø ki daṙmakawy aparimut gadgaḋa wṛdaya niki hĕ/ntiṅ larane hatine taƞisirā sapajalwestri sigra tulu sawane denkuswakuswa ṗaran poliḥhiṅ nini tanṗa/ sakan masiśun hatiƞgal brataṇiṅƞ ati

ø ḍatan kadaṅ wṛg̈aṇnipun humuṅ swaraniƞ anaƞis halara da/meƞ arine ki skaṙsara liƞipun hamaƞu kas t..pan sṛgani pṛwwata sṗi tan ṗahiƞan tĕsipun ṗatine ri sa/.......ni

ø taƞeḥha kawaṙṇnaha laku larane ki daṙmmakawi samṗun ...ineseka maƞke la/yonera saƞ ahayu sapaṗalini palastra pagalaƞan wusumiji lanastare kaki samṗun gumṗaḥ swarani taƞi...

...u....ni... rag̈a kawuwus ṣarira bat aƞliḥ lakwa haloṇn aƞa... hade ḷƞĕni tṛsna la/nḋulu kalaƞni jaṇapada, kasmaraṇ ni tejasari gas mṗaḥnya daruṅ mantuk waluya śulastri

ø saṅ śupraba tuñjuṅbiru sa/...... ni hyaṅhyaṅ tansari sa...nḋra tusṭa mamahe karunatisaya nusuṅ śa kuranta mawancana, kakaṅku saṅ tu/ñjuṅputiḥ bagya ta mita yen rawuḥ pari puṙṇna ....kitri

ø saṅ lambemnur anusuṅ gag̈aṙmayaṅ tan kari saṅ nilotama/ rowaƞe lyan ta saṅ ḷṅḷṅmaṇḋanu, kale saṙ wwara menaka, prabasiny ator aśiḥ kamayaƞan./ yen rawuḥ hantĕnku saṅ tuñjuṅputiḥ

//0 hana tapsari haƞību sumuṅsuṅƞa ri saṅ praptiṅ hadan ṗayas lumakw age hasaśampuṙ ha/.... mĕṅgĕp asiñjaṅ wawara, haƞg... sayaṇnipun ṗi lumaku miƞgamiƞguḥ hilehilene ta/n inti

ø wusnya sĕśṛbĕṅ kucubuṅ widane hapu lan kuniṙ hasuśumṗiṅ padma piƞe hawiraga luṅƞi gaḍuṅ hasipat bot la....., .....ros gatraṇiṅ piṗi papantĕṇe taṇ.....u..ud lumaku haƞumikumik.

//0 hali/mbeyan ṛnjaḥ punjuḥ hamolaḥhakĕn ṗanṣiha kol asekol ṗoholaḥhe milupra hiƞ apet iƞduḥ lumaku ha/....kaḥhikaḥ mesĕm sakweḥniṅ tapsari prapta he sa śiṇu..... ramya wijaḥ hamĕkul ṣiḥ

ø hamwĕḥhī/ suka katmu, sakenḋran hanodtani samṗun biniseka rame kinulawisudeƞ ayu rinuwat iƞ gaga tiṙẗa, ya paka ri kuṇḍi mani/.... temanaḥ hayu datan kawaṙṇnaha manaḥ

//0 rag̈asamaya winuwus ḋenira ƞuƞṣi kapatin. ha/mriḥ sidaniṅ gawe tumuturiṅ kakaṅƞipun ƞi hama katkana, gƞiṅ saƞaraṇiṅ bummi mapan samṗun tiṇuduḥ gĕlaṙ reṅ tiga/ .....

....tasi byatya kalaƞon tikĕl taṇah iƞ aƞgarit ki surawaṇa wri rame harañcana haƞa/pus laƞut kasmaran brati wikalpa, salawasiƞ alamṗaḥhi kataman trasna lulut sinamuṇn i do wiṣṭi

ø karanaṇniƞ aƞapus kalaƞniṅ wṛdaya mriḥ saṅ sipta kweḥ pamtune hahaƞi tan hana ṇiṅ laku winawa riṅ soƞaṙ gawa rane saṅ ƞudi karasmi/n jumawa gawe guyu wañceni de sa pra kawi

//0 dĕg̈niṅ dwapara winaƞun hatakarana girit haṙtinĕn jaba dalme hisi/ni gitā tatĕlu lanaṅ roro wadon tugal kaƞ araṇitejasari śurajaya kaṅ ketuṅ raga g̈inupi/

//0 hantakaranaṇipun kapi ṙwaṇira winĕṙtri wira nĕn wirasane datadi lamoṇn ana wruḥ sira kapw ana maca, kaƞ aripta/ deṇe ....ib mama mayoṅ kabutuḥ hupaswaṙga duruṅ wya kawi

ø las ḋiwasani laƞu paguywaniƞ añamṗa/hi sabḋa taṇ ana tlage øadyan oliḥya sa kul halusa roṇiṅ siwalan tatan an wigālan iki wṛdaḥ bañcaṇa pnuḥ saṅƞu/.......

ø sukalapaksa niƞ eka rum kaṙtikaṅ wu manahil. dite manis was tujoniṅ śri haṣṭawa/raṇiṅ wuku catuṙwara nuju jaya, kawusaṇniṅƞ aƞgarit kapayuheṅ saṅ putus. roṇi raṙrwa nom kumawi

ø itiḥ śurajaya ....... .......... hantakarana wkase hamṛdi hantuk ṗa ke ri tlasira cinitra, ri wijyatcala hasṗa śu/saḥ taṅ prawwata muṙ ḷƞkara maṅkya ri bumi

ø mintaṇe alawas ṣuwuṅ sinukṛwa golaḥ niki denira saṅ tame kyati sarat ṗṛwwana m ri/............ṇurat haƞimuṙ budḋi karasmin maṙmanya gugon. ḍukuḥ haƞīpuk brataṇiƞ ati

//0 tataruk/an goṇya nusup hasṗi taṇn ana kamṗiṙ norana śudiƞ awake lagya tatarub sawuwuṙ saśakane kayu jarak hatĕpe ro/ni ...riƞin .......ya denyahalus habcik. lwiṙ sirap adḋi

ø tiƞkaḥhe kadi tan luhu hanom tan. dṛman lamṗa/ḥi kneṅ guna bisa ṛke hujarira saṅƞ amu siptakna g̈raha pjaḥ mati hurip maniṅ karane hanjĕmuṙ winĕntaṙrakn iṅ kawi

ø wikana ṇira/ saṅ kambaḥ ha ..... yen mati tĕtĕƞĕre heliṅ ṛke hanurat hantuk saśuru cinacaḥ haneṅ wa/wacan siptanira saṅƞ anulis ḋuk alumaku wwaṅ biƞuṅ mako sudamala

niṙ hilaṅ g̈mut ṗa lamṗus niṙmala cipta mahniṅ kawa..... .......... ......... .....kakne waniṙ di sakti mantra te laku sumi/we he wanakaṙti

rañcana kawy alumbu rukal mareja gyan iki

dianggap manis gula kelapa yang dibuat gula cair manisnya seperti "kilang" tiba-tiba jatuh sehingga tumpah di bunga pikiran (...?) dianggap mungkin manis.

Tanpa ujung kata-kata itu, terkenal, sudah dikuasai oleh dia yang menemukan sebabnya tercampur pada roman muka dan tawa jika saja sama-sama tahu sengsara sudah dari dahulu. Tidaklah sulit bagi dia yang sudah menemukan terbentang pada perbuatan baik

//0// Sudah selesai, disalin di lereng gunung Kanisṭa, sisi timur laut, lereng Cemarajajar (...?) diselesaikan dalam menulisnya pada hari Senin Pon, wuku Maktal, hastawara: Yama, nawawara: Kerangan, sadwara: Paniron, caturwara: Sri, triwara: Byantara. Wuku dalem: Soma Kaliwon, Wuye, itulah lamanya menulis. Aksaranya besar kecil, tidak rata, renggang rapat, membentur, menusuk, mencakar, menendang, memengkal, menghujam- tidak teratur seperti bekas cangkul, tidak mengikuti aturan sastra, seperti be ...

Kartika Setyawati, Author of the translation