Dhandhanggula
Om. Semoga tiada halangan.
Maafkanlah! Saya (hendak) menggubah
menampilkan hakikat cinta.
Ujudnya kata-kata yang ingin dicapai
oleh orang bodoh yang tidak tahu pada perbuatannya,
hasrat turut merangkai keindahan.
Janganlah tidak dimaafkan
oleh orang yang sudah mahir.
Berlagak bagai penyair berusaha memperoleh keindahan.
Berlagak hendak menyatakan, meniru munculnya hal rahasia
peninggalan dari dia yang sudah sempurna.
ø Mengikuti bentuk si indah,
Dhandhanggula bunyi tembangnya.
Pupuhnya mencontoh saja karena tidak mengetahui cara untuk mendapatkan
keleluasaan tembang untuk
mengalihkan perhatian atas berkelananya pikiran.
Hasratnya besar pada keindahan,
yang muncul dari hati yang disusun.
Hancur, lenyap pikiran pun menerawang,
diputus selalu oleh yang rahasia
yang mengalihkan perhatian indriya.
ø Berlagak mengerti mengikuti suara hati kecil,
tetapi pikiran sangat sedih.
Kini sangatlah (...?),
tambahan lagi ada pertanda merindu.
Kurang (melakukan) yoga, terlalu sembrana
untuk dimuati pada olah kesaktian,
samadi bisa menimbulkan salah pengertian.
Khayalan cinta kasih tetap
tidak goyah, memenuhi dengan rayuanrayuan cinta,
tujuannya untuk bercerita.
ø Demikianlah akhirnya hal ihwal menggubah cerita.
Dia yang menemukan kebahagiaan dalam
memelihara kebangsawanan
di Wilatikta tempatnya.
Sang Raja yang berkuasa berhasil
melakukan berdana yang berharga
bermurah hati penuh kasih,
memegang teguh kesusilaan,
nyata-nyata berbudi halus.
Sira mpu Sakala(?) yang
mashur. Terdengar bahwa ia banyak memberi
makanan sebagai pemberian, (hal itu) sudah biasa.
ø Telah puas ia mereguk kebahagiaan penuh cinta,
disudahi oleh Dia yang mengatur,
karena ia pun telah tua usianya.
Sudah puas (Sang Raja) pada aktifitas hidup
kini bebas, selalu bahagia. Dengan diam-diam,
kini tibalah batas waktu yang telah ditentukan (takdir) untuk berjumpa dengan jiwanya (?).
Ekspresi wajahnya hilang,
Kekuatan bentuk halusnya dari badan wadag.
(Sang Raja) menderita sakit tiga hari lamanya
menyebabkan meninggal dunia.
ø Tinggallah dua anaknya perempuan
dan seorang anak laki-laki yang berbeda cara pandang.
Anak laki-laki kecil itu mengetahui semua
bahwa Sang Ayah meninggal.
Hal ini membuat terpukul seluruh istana, yang mengabdi.
Anak laki-laki dimusuhi
masih muda, tidak tahu apa maunya ,
tidak diberi bekal agar patut menjadi raja,
menyebabkan iba, selalu sedih sebab masih kecil.
Sangatlah tiada akhir,
ø segala hakekat sakitnya hati.
Dasar anak muda, jangan berlagak tahu
jika berbuat. Siapa yang memulai baru-baru ini,
benar-benar itu membuat kagum.
Anak laki-laki muda itu tampaknya marah, dapatlah diperkirakan kini,
akan maksud melakukan rencananya.
Tindakan bersamadi didengungkan.
Adalah Ki Singamada kecil, tidak
mengetahui bahwa
saudaranya tidak (...?),
meski satu ayah tetapi (mereka) tidak menyayangi.
ø Diceritakan Ki Singamada yang ditinggal
mati ayahnya,
sedih menyebabkan kesulitan.
Ayah dan ibu yang berbudi luhur meninggal.
Menimbulkan belas kasihan, sedih dan prihatin.
Ibunda turut berbela mati.
Tinggallah (Singamada) tidak lagi menyusu,
menderita, menjadikannya sakit,
sedih, menangis siang malam
Ayah ibu diratapi.
ø Dua kakak perempuannya hidup senang,
sombong, mereka bersenang-senang menjadi-jadi.
Semakinlah adiknya tidak diperhatikan,
Ki Singamada tidak berdaya.
Siapa saja, orang-orang, dengan murah hati menolong.
Semakin dewasa (Singamada) ,
Yang ada dalam pikirannya adalah mengembara.
Kesengsaraan raganya terasa,
diketahui bahwa duka nestapanya sangat besar,
demikian suara hatinya.
ø Sanak saudaranya tidak ada yang bermurah hati.
Singamada dianggap pembawa bencana,
karena itu akhirnya ia pergi ke desa,
tanpa tujuan.
Ia pergi diam-diam dengan nekad, tidak memberi tahu.
Pergilah ia dari pusat kerajaan.
Tak terhalang jalannya,
ke hutan belantara yang diinginkan,
tempat yang sulit dimasuki. Alangkah sulitnya, luas tidak terkira.
Sangatlah besar penderitaannya.
ø Semakin laju jalannya tidak ada yang diperhatikan lagi.
Pikirannya melamun, nekad penuh hasrat.
Nelangsa, raga memilih mati, sebagai jalannya.
Kesengsaraan raganya sangat besar
tan wruḥ riṅ rama rena,/
nastapa huwuḥhuwuḥ
haƞīṅ kawasa parana,
mon kagug̈u
kag̈oraweṅ twas aṣiƞit.
raga tan wruḥ/ ƞenaka
ø kunaṅ yeṇn ana kĕsĕliṅƞ ati,
bayā luhuṅ aƞuƞṣiya waṇāśramma
nusuṅpa ƞoṅ, maƞke
pjaḥha luhuṙ/ guṇuṅ
yan mijilā waçanā ṇiki,
wiṇiweka ri nala,
rumupekeƞ ayu,
datan kawaṙṇnaheṅ maṙga
tlas/. laris lamṗaḥnya hasaƞu taƞis,
prapta jĕṅṇiṅ prawata
ø hamaƞgiḥ ḍukuḥ welāhaṙja
miṅkiṅƞakĕn maṙga,
mulat ki siƞā/... sakṣaṇa reren
jĕṅ rapuḥ cipta ƞliḥ
kapaƞgiḥ saṅ tapa liƞgiḥ riṅ made,
sambrama kī paƞuwusan
ha/tanya risniṅ waṇca,
bageya saṅ tamī ḍataṅ mara ṅke
hañaṙ wīkan. ƞoṅ kaki,
lwiṙ tan ṣmaṅ priyatin ṗolahe
......./pa .... hamarantiya,
wri naya ki siƞāmada,
sami haliƞgiḥ ki haḃĕt liṅṇya taken
ḋī sakan teku kaki,
sumahuṙr a/lon mawaraḥ pinaṅkaṇe
ø tuhu tan wikan. wṛtinta kami
ƞoṅ bapā taṇya śwapa namanta,
waraḥ jati kami maṅke,
siƞāmadḋa wriṅ smu
ṣaṅ tabe haranak ta kaki,
hapajara/ ri nama,
nawi tuhu tan wruḥ
siƞāmada haraniṅ wwaṅ
dahat ḋeni/ hamukti nastapa ḷwiḥ
kawlasṙṣa nityasa
ø aƞuṅsi kadḋaṅ wraga tan ṣudi
tuhu dinaliḥ tikṣna wiruda,
ḋataṇn ana śudi ka/beḥ,
pjaḥ bapā rama hibu
karakasa ƞgyaṇ i kari,
ki habĕt mawacana,
haƞṛś. twaskoruƞu,
samono/ denta waçana,
ki paƞuwusan aƞliṅ haƞṛta wiṣṭi
ki baru maraƞkeya
ø saṅ śipwa praṗta wot skaṙ
ṗunapi kaṙyya ƞawe bwa/ha
dan ṗala boga..., depunasereg
saṅ tami hasmu ƞliḥ
tan laƞgana ki baru mitaṙ lākw age,
haglis lam/. paḥhiƞ utusan
mĕdala runaṅ puṗunḍutan
ṣkul hiḍan kalawan bitutu tetep
laḥ ta byaksa saṅ tami,
tuwwa samun bapa deṇira puṗuḍe
ø ta... wuwus_n deṇya byaksa prapti
heṙtaliṅ muṅgwiṅ talakā maḍaṅ
samya wusan taṇ aṣuwe
hyaṅƞ aṙka/ mwaṅ kasumurup.
wu<la>n saṅ tapa haƞliṅ
depunsanteseṅ manaḥ
śunya ṇikaṅ tukuḥ
siƞāmada mawacaṇa,
hantyanta pān akaṙyya di/bya matitis
tuhw amṛtaṇi diwa
ø ƞ kapiluḥ śwaranira ki waksi,
tan ṣipi maṙmmanirā tumiƞāl
haƞṛṣ rasane/ hatine
mulat. waṙṇnaniṅ tamu
ya ḍuḥ heman taṇ ana kṛti
nayā solaḥ jatmika,
rupane habagus
ṗunapa saṅka/ne luƞa,
pasewaka priḥ ragaṇira nak mami
laṙ hamaṅgwa lāba
ø Singamada menerima kesulitan itu,
tahu pada petunjuk pembicaraan yang
(merupakann dasar) untuk mengetahui dengan jelas akan dunia,
tentang pasang surutnya laku.
Tidak terperhatikan indahnya keadaan.
Yang ada pada pikirannya adalah bertapa.
Tujuannya untuk mengubah tingkah laku,
segala nafsu yang bernoda,
tetapi yang terhitung yang menyebabkan duka cita,
karena menyebabkan raga sengsara.
ø Agar tidak (banyak) keinginan, mengurangi makan.
(Karena ketika) menghadap banyaklah bahayanya,
menambah kesusahan dengan sangat pada
dia orang yang unggul.
Orang yang tercela mempunyai kesulitan (karena) mudah marah.
Dia yang mulia tak tahu pada kearifan,
diam bagai orang bodoh,
ucapan yang dibuat-buat tidak terpakai,
tanpa basa basi, diam, lagi pula angkuh,
tambahan lagi tanpa sarana untuk mencapai kesempurnaan.
ø Lain orang yang menghadap berusaha
Melakukan tindakan terpuji (....?). Menginginkan kaya
banyaklah jalan menjadi papa-
karena itu menunggu
hasil perbuatan pada kehidupan yang lalu. Itulah yang dicari.
Bertekad mengadu untung,
keuntungan yang diharapkan
tetapi masakan tercapai-
(seperti) merangkak. Nafsunya menakutkan
sulit untuk mendapatkan kepuasan.
ø "Alasan raga ini mengungsi ke gunung berhutan
untuk mengubah besarnya nafsu,
supaya jangan seperti sekarang
kesusahan dan kesedihan yang didapat.
Segala yang melekat di badan ini
hina, jika sudah keadannya demikian,
sudah menjadi bagian badanku
yang menginginkan kelebihan.
Raga ini hina, terikat, tidak dapat bertindak apa-apa,
merasa sulit kalau pun untuk mengupayakan.
ø Seumpama takaran beras,
tenggelam di samodra
masakan mengembang isinya,
karena memang sudah ukurannya.
Menambah kesusahan dan kesedihan
jika melihat hal (...?) masih menikmati berkehidupan bermasyarakat luas
Tidak baik bila daya hidup hilang.
Di gunung di ngarai
sebagai tempat persembunyian yang sulit.
Untuk mendapatkan keuntungan dengan bernaung di bawah mata uang,
hina benar, tidak ada karmanya pada kehidupan yang lalu"
ø Takjub hati Ki Wasi
mendengar gencarnya kata-kata.
Muda, unggul kata-katanya.
(Ia) terabaikan menurut pikiranku.
Yah dasar anak muda, mahir,
pergi dengan tidak berpikir jauh, tidak lekat pada dunia,
bertekad ingin menjalani laku
yang mengagumkan. Karena itu ia akan bertapa di pertapaan dalam hutan,
tempat pertapa sakti
mencapai tingkat ke empat dalam mereguk kesucian.
ø "Sangat memaksa saya, Angger, menghalangi
perbuatanmu yang sangat tidak serius.
Aku sepertinya tidak mengizinkan.
Sulit, Ngger, dalam menjalani laku itu,
apalagi seusiamu, Anakku.
Untuk melakukan brata,
banyak halangannya
karena pengaruh sepuluh indriya.
(Hal itu juga) diakui oleh pertapa, Ngger, yang menjalani sebagai pertapa
yang mahir dalam yoga.
ø Bercerminlah padaku dalam hal laku, Ngger.
Orang tidak boleh hanya mengaku.
Patuhilah, karena semakin lama
tanpa batas kesulitannya,
rumit, sulit, untuk mencapai perbuatan yang berguna.
Tidak boleh menarik perhatian,
dia Sang Pembuat Kebaikan;
tidak (pula) diselingi dengan perselisihan.
Terlanjur merasa kuat melakukan kebaikan, tetapi tidak didapat yang diangankan.
Lakukanlah, pergilah.
ø Singamada anakku, Angger,
besarkan hati, cermatlah dalam berkata-kata,
sadar akan laku, petunjuk mulia -
tetapi selalulah
kuasai nafsumu, Ngger.
Usahakanlah berkata-kata yang baik.
Duhai bercerminlah kepadaku.
Besarnya kelekatan itu bersatu dalam nafsu.
(Hal itu) tidak dapat dikuasai bahkan oleh
pertapa sakti (sekalipun)
yang sudah menguasai aturan-aturan".
ø Tengah malam mulai menjelang.
Ki Habet sedang berkata,
memberi nasehat cara yang baik (caranya) menjalani laku.
Singamada menerima,
takjub hatinya diberi tahu tentang keadaan (tapa).
"Janganlah engkau tidak serius.
Mulailah melakukan tapa dengan gembira.
Waspadalah pada cara laku yang dipilih,
hilangkan sifat cepat bosan.
Berdanalah jika tidak paham pada hal lain.
ø Hal lain lagi, Ngger, dasar-dasar untuk berprihatin itu
banyak macamnya. Mulai dari : tidak bertapa,
tidak bersemangat dalam melakukannya.
Yang lain lagi: sang wiku
banyak yang tidak memperhatikan laku, Ngger,
jarang yang mahir sampai pada intinya.
Kata-katanya sangat sopan dan tertib
unggul seperti orang menelan hal yang suci;
tidak lain yang diinginkan adalah kesenangan, kekuatan dan kekayaan
sebagai hasilnya bertapa brata.
ø Ada (tapa) yang dikuasai nafsu yang membuat sulit dan tidak berdaya
yang selalu berusaha memegang rahasia
untuk memberi kesenangan.
Itu tapa yang membingungkan.
Besarnya "tamah" yang diupayakan,
menghidup-hidupkan indriya,
(...?) yang melekat .
Seperti (orang) mencari umbi-umbian yang tersembunyi .
Dalam menjalani laku jika tidak mengetahui tujuan rahasia,
mengaku menemukan anugerah.
ø Bukan demikian tujuan berprihatin itu.
Dia yang menemukan kesejatiannya petunjuk,
hilang segala kesenangan dan kenikmatan,
hiasan -hiasan dimusnahkan,
(juga) kesenangan pada perempuan yang berlebihan.
Sorganya orang yang berderajat tinggi
adalah tidak lekat (dan) tidak nekat,
mengalihkan perhatiannya tapa yang terus menerus.
Tidak sulit, Ngger, untuk mulai menjalani (tapa),
usahakanlah dengan perasaan senang.
ø Singamada, dengarkan nasihatku.
Jika menemukan inti (tapa) janganlah menolak,
aturlah dalam ucapan yang ungul.
Bertapalah terus menerus.
Jika ingin kembali untuk bersenang-senang,
sesudah menjadi wiku yang sempurna
jangan dilakukannya,
meski (hal) itu menghibur hatimu.
Pikiran lupa bahwa sedang bertapa , memikirkan kenikmatan cinta,
ingin kembali seperti semula dalam menahan diri.
ø Dahulu bersatunya kekuatan
sangatlah terkuasai. Mulailah
dengan merasa bodoh di lereng
gunung yang dingin. Hendaknya diikuti dengan,
kegembiraan dalam membangkitkan kekuatan,
terdorong, tercampur dalam kesulitan.
Hyang Asmara mengalihkan perhatian,
sempurna, terbagi dalam samadi.
Simpang siurnya pikiran tercampur dengan rasa cinta,
yang kemudian tersesat pada perbuatan buruk.
ø Tidak terkuasainya budi,
hanuƞgal. ñaṇa mara riƞ ala,
wyaṙ ta tutuṙ tanṗa gawe
sṙṇiṅ lulut ṣumaput
ṗamañcaṇanira sakti,
hawalī mariṅ/ƞ amṗaḥ,
kesaḥ kapalayu
punikā mewĕhiṅ brata,
hiƞĕtiƞĕt ṣiƞāmadā hayo lali,
denwruḥ ri lawa/n rowaṅ
ø lamṗaḥ hala hanak mami,
kapuraṅ deṇiṅ kṙtisamaya,
sarira yen saƞarane
tan wuruṅ katmu,
hanacad. ṛgĕ/piƞ ati,
hapan wĕtuṇiṅ dyuka,
maṅkoliya tutuṙ
tan koṇiƞa maniƞ ulaḥ
saṅ prasidḋa tuhun i widya lamṗahiṅ,/
budī tan kaslan.
ø wasṗadakĕn ṗekaṅ was.mṙti,
yaja tiniru wiku gomaṇ iṅ daraḥ
yyakta ñoloṅ basarane,
saṅ hyaṅ/ƞ āgamma putus
natarira samaḥ hakikīn.
ñaṇa depuṇatuwa,
ṛgĕp kaṅ ṗamutus
mapan wus ṗratamo, sa,
duluṙra/na kṛtī jatmikaja silib.
pet saraṣaniṅ taya
ø ki [-] <śi>ƞāmada gaṙjitaƞ ati,
manamṗane wĕƞanikī swara,
wira cip.ta mirage
maṅko maƞgiḥ pamuwus
tutuṙ lwiḥ mawaraḥ yukti
sabḋa paṅruwat mala,
siƞāmadḋa muwus
ṗaƞeran tulusakna/
dera waraḥ kaçaṙyyan rasaniṅƞ ati¡,
manira ṇuta lamṗaḥ
ø yen ṣirameta riṅ luhuṙ wukiṙ
nora kapaƞgiḥ jatiniṅ sabḋa,
tapa/ boƞoḥ kaky araṇe
hawis kaṅ wraḥ riṅ gati,
saṅ tapa meƞādiya,
tan kabteṅ wuwus
mewĕḥ kaṅ jatī wikana,
nadyan hu/daksinahā denipunkari
tan amāƞgiḥha lamṗaḥ
ø lwiḥ hutamaṇiṅ tapa
saṅ wruḥ pamutusiṅ
di ta pṛnaḥhiṅ ya pa
itarane
nora/ bawa saṅ ṛśi,
mulwiḥ tutuṙ walakā tan saṅśaya hame
twan aƞel kasniṅ tapa,
sira saƞ āmriḥ kasidan
hakumanḋuṙma lawaṙ/ brata niṙ kabeḥ
senaka muṙwwa kitri,
jatī pralina tanṗa mastu glare
ø kaliƞaṇe wuwusiṣun kaki,
hawis tuh
niƞ amaƞun./tapa,
hakweḥ wiku paṗaranten
kalawīsaya giṇuṅ
kanuragan kaṅ deṇulati,
hawis amriḥya śuṇya,
ƞī kawiṙyyan./denguṅ
haƞukweḥ daṙmma kalaban
mayoga samady amriḥ wijiliṅ ketri
daṙmma kasuka wakyan.
ø t_hu panutune hyaṅ hamṛdi
ki paƞuwu saṇn adan awaraḥ
sawƞi taṇ ana kule
ki siƞāmadḋa muwus
rānakirā winaraḥ jati¡,
ywage kumaliƞā,
sawaṅṇ iṅ pamuwu/s
mewĕḥ kaṅ jaẗw araha
twasni raṣā maṅsa wuruƞa kapaƞgiḥ,
lamon. kṙtasamaya
ø waniḥ saṅ wruḥ wiwaraṇiṅƞ aji,
tinata glariṅ mahapa/dma,
pan iya hiku ḍapure
pati ṗatitisipun
sīk winaṙṇa rakutīṅ kawi,
puṗuse kumalamaṙ
wite maṅkin tan wruḥ
hawis ba/pa kaṅ wikana,
saṅƞ ātapā riṅ sukṣma ñanā wirati,
wruḥ panuṇuƞgale sabḋa
ø prasidakna lamṗaḥta kaki,
huṅsinĕ
sira saṅ yogiswara/,
saṅ sahāpurusa wrīṅ reḥ,
hana pamitraniśun
haṅlamṗaḥhī muninḋra lwiḥ
makadiniṅ prawwata,
kaṅ minaka guru,
liṅga/neƞ adi patapan
ṣukla pawītra wiku brahmanacara
jaja hudaksina
ø sakti wiseṣa riṅ brata lwiḥ
ta pinakā purohitaniṅ tapa,/
sḍĕṅ tilasĕṇniṅƞ akweḥ
haƞi ta hanakiṅsun
ḋepunbaktī hanamṗa waƞṣit
ḋasaśila denkĕna,
ulat ḋentumuṅkul
me/wĕḥ riƞ amet nugraha,
kula hilaṅ bapā riƞ amet kadaḋīn
haƞel. raga nastapa
ø priḥ waṅsitira saṅ daṙmmajati,
petĕn sarāsaniƞ ādiḋrawa,
kombala g̈ni hurube
surupa tan katuduḥ
kuruƞan mas niṙ tanṗa cantri,
pasuk. wtuniṅ tiga,
kabun ṣuwuṅ/
kuwoṅ munī riṅƞ ambara,
takoṇakĕn siƞāmadḋa hayo lali,
wkasiṅ paḍaṅƞ awa
ø Jelas caranya melakukan samadi
kini menikmati kegembiraan.
" Jika ditemukan caranya dan penyesuaian diri
(serta) rahasia hati dia Sang Utama,
segala tanda-tanda di badan tidak terasa sulit.
Besar halangannya tapa,
jika meleset menjadi perselisihan.
Aturlah, hati-hatilah, jangan mengandalkan (apa-apa).
Kuasailah ajaran yoga itu,
namun, Ngger, memang sulit jika bukan haknya.
ø Demikian nasehatku Ngger,
bersegeralah wahai engkau yang mengabdi pada Dharma.
Badan harus berani menghadapi kesulitan.
Perbuatan baik dijaga,
jangan tidak bersemangat dalam menerima ajaran rahasia.
Dharma pun segera akan menyertai
bersegeralah menangkap,
kuasailah jangan sampai gagal,
temukanlah yang menjadi tujuan akhir mati dan hidup
kerumitan samadi pun terkuasai"
ø Sudah selesai ia memberi nasehat.
Larutnya malam tidak diceritakan.
Segera menjelang pagi,
di timur matahari terbit,
agak samar-samar, sepertinya menyelinap.
Lemah keadaan jiwanya (Singamada)
sebab tidak tidur.
Ki Singamada berkata,
"Duhai, yang mulia membuat hatiku terbuka.
Mana jalan ke arah gunung?"
ø "Tidak ada halangan yang perlu disingkiri di selatan situ.
Tanah datar luas dihiasi
andong, jalannya landai,
segera (Singamada) ke arah gunung.
Ingat-ingatlah jangan lupa, Anakku, Angger,
engkau anakku,
semoga berakhir baik.
Urungkanlah niat untuk mati,
ḋuluṛn iƞ ayu denira hakikin
boƞniṅ sukṣma tatya
ø rahina tatas kāwaṙṇna
hyaṅ prabaƞkara kumñaṙ
hasahu/ran kaṅ paksī humyaṅ śwarane
cakora swara munya ñ jrit.
kadya seṅṣeṅ ṗanaṙ kaww amiṇreg̈e,
samṗunya basukī soça
hamu/hun. kī siƞāmāda
hawot lepanā hamlas aṙśa wuwuse
laḥ kantuṇa gĕg̈nepa,
naww ana dṛbe kasiṣe
ø/ aṅliṅ saṅ tapa hasmu taƞis
hanaƞoṇi ayu ramanira,
saṙww aƞusap luḥ tan ṗanten
sipi maṙmaṇipun
mulat ḋukanira saṅ tami,
ya ḍuḥ/h anaku tuhan
ḋiprayatna lĕ
hiḍĕp. ta yo salaḥ simṗaṅ
deṇanuṅgal ṗaƞeran rañcaṇiƞ ati,
siḍĕm gĕṅniṅ/ wesaya
ø saḥ ṣakiṅ pamṛgilan lumaris
ki siƞāmadḋa sigra lamṗaḥnya
kumucup nala nirage
pratahā saṅ winuwus
ñaṇa lamṗus ḋibya matitis
kontap ṣṛṅgaṇi wana
śrama daṙpa luhuṙ
maƞkin ṣyuḥ rasaniṅ daya,
kag̈orawa kagug̈u nastapa niki,
rāga lwiṙ/ kawasaha
ø prapta ṗawa ṗagag̈an lamṗaḥ taṇ aglis
miyat niṅ laƞniṅ kaṅ saṅka mĕṙga
haƞnaƞnaḥ katoṇ iṅ ƞare
lumraḥ weni ka ḍusun
katiƞā/lan sakiṅ wawagiṙ
haṙnawā lamat lamat
katawƞan guṇuṅ
kadyawoṙ lawan gag̈ana,
gĕṛḥ mayat ṣwaḥranya maṅkitī jawĕḥ
(sesuai dengan) rencana hatimu yaitu redanya nafsu".
ø Pergi dari tempat rantau, berangkat
Ki Singamada. Cepat jalannya,
pikirannya mendesak, gelisah
agar cepat sampai. Yang dipikirkan
samadi. Nekad, luar biasa konsentrasinya.
(Ia) dihantar sampai di batas pertapaan
yang indah dan tinggi (tempatnya).
Semakin hancur rasa hatinya
memikirkan, memperhatikan kesengsaraannya,
nafsunya sepertinya terkuasai.
ø Sampai di sawah jalannya perlahan,
melihat-lihat keindahan dari jalan.
Ia (Singamada) menempatkan diri agar dapat melihat ngarai.
Terhampar keindahan desa itu,
tampak dari punggung gunung.
Laut samar-samar
tertutup gunung
seperti bersatu dengan langit.
Guruh samar-samar suaranya memberi isyarat pada hujan
pada bulan keempat.
ø Keindahan sepuluh desa sudah terlewati,
seperti mengalir berputar pemandangan itu.
Sawah-sawah terhampar (orang-orang) menuai (padi).
(Sawah) berhias pada keempat sisinya,
seperti melambai karena (tiupan) angin.
Meliuk-liuk daun-daunnya berbelitan
pohon beringin yang menjulang itu.
(Singamada) tiba di desa di timur laut sana.
Memandanglah dia yang mengusahakan tapa (Singamada), terharu(?) hatinya menaruh hormat
karena seakan-akan dipersilakan singgah.
ø Melamun, berdiri tertegun, menengok
kesana kemari, melongok tepi jurang.
Pohon dramaga bermacam-macam,
teratur, buahnya sarat.
Sangat menyenangkan, kehebatan burungburung
selalu mendahului makan buah.
Seperti genderang berbunyi berbarengan
suara burung walik riang,
Senang hatinya, sudah puas (makan?) buah.
ø Burung kaposwa diam tidak berbunyi,
bebas menebarkan keindahan bunga asana,
pasangan itu gembira hatinya.
Burung wartaka (puyuh)nya berbunyi gaduh,
burung gending sepertinya mengikuti.
Binatang wut di (samudra?)
terampil naik ke ketinggian
kijang bersuara di jurang.
Kera-kera itu riuh suaranya (gerakannya) menyebabkan
pohon-pohon bergoyang kian kemari.
ø Agak gembira hati dia yang sedang sangat prihatin,
terpesona melihat keadaan pesawahan.
Tanamannya banyak,
bermacam-macam pisang baru
saja dipotong(?). Tumbuhan jawa dan jali baru saja bertunas.
Tumbuhan jalureh dan kakandah,
jarak, jahe, dansun
berjajar (bertunas?)
baru saja tertimpa hujan tiga kali, tumbuh.
hatis tĕṣniṅ tumiƞal.
ø maƞga tan mintara cipta niki,
muṙcitaniƞ ati kasmaran
kasṛpan manaḥ wirage
pañjrahi kusu/ma rum.
skaṙ wuƞu tenon liṙ caṇḍi,
senoƞi sadḋawata,
rajasa glaṙ ruru
dḋikara rupa nambaya,
kadya mupu pami/jihiṅwa saṙwwa sari,
paƞṛnekaṅ tan tĕmaḥ
//0 śaḥ sakiṅ pagagan lamṗaḥnya haglis
maṙga sĕṅkañ juraṅ kalīwatan
ṛsni wṛdayā tan saḥ/reḥ
sigra prapteƞ alasmu
jiwa luya maras kumitiṙ
sĕnṛṅ lamṗaḥ pinuraṅ
wyaṙ tan ana ketuṅ
priṅga maṙg̈a duṙggama,
la/gi karāsa pawaraḥ saṅƞ akikin
raṙmaniƞ atoḥ praṇna
//0 taƞeḥ caritaniƞ amet. rasmi,
kalalu raḥwuḥ riṅ paƞajaran
tĕmbiṅniṅ maṙga pṛnahe
bañjaranyabra murub.
ƞanḋoṅ brahma lan kayupuriṅ
siliḥ rok mawiḷtan
lata nisṭa gluṅ/
tīnon kadī guṇuṅ kĕmbaṅ
tuhu wiwaksa wijñā saƞ apaƞanti,
(Semua itu membuat) sejuk hati yang melihat.
ø Ia ingin tidak pergi pada pikirnya.
Terpesonanya hati menimbulkan kasmaran.
Tersentuh, hati pun menjadi gelisah.
Bunga bertaburan mewangi.
Bunga wungu tampak seperti candi,
menaungi daerah luas.
Bunga rajasa berserakan gugur,
Sangat indah ujudnya, sepertinya memanggil-manggil.
Seperti berkumpul tampilnya bermacammacam bunga,
membuat kebahagiaan yang tiada akhir.
ø Pergi dari persawahan, jalannya cepat.
Jalan terjal, jurang-jurang terlalui.
Ketakutan hatinya belum tenang.
Segera ia sampai dihutan, agak
tidak sadar jiwanya, takut, kebat-kebit (hatinya).
Dipercepat jalannya, terkuasai (hatinya).
Luas tidak terukur (hutan itu),
jalannya berbahaya dan sulit (ditempuh).
Baru terasakan segala nasehat dia Sang Pertapa,
akan keinginannya (Singamada)
mempertaruhkan jiwa.
ø Panjang ceritanya tentang dia yang mencari keindahan,
dilewati saja. Sampailah ia (Singamada) di tempat seorang ajar
di tepi jalan tempatnya.
Tamannya (berwarna) merah menyala oleh
andongmerah, dan kayupuring, yang
berdesakan, berbelitan,
banyak melingkar-lingkar
tampak seperti gunung.
Dia Sang Pertapa menyapa dengan katakata yang sungguh-sungguh bijaksana
agar Singamada mau singgah.
ø Tampak gembira, senang hatinya, (Sang Ajar)
menyapa pada kedatangan (Singamada),
"Nah, tumben!". Sang Tamu yang baru saja berjalan-jalan,
disongsong suara halus
Ki Dayaka, "Sedih, sepertinya tertimpa kesusahan".
//0 ki siƞā/madḋa mawaraḥ
dyaniṅśun mareṅƞ aśramma,
hasuruda ṇugrahā wikane sarateśun
haƞowahana budi,
haṙsa nuta bawanira saṅ/ tame reḥ
//0 liṅ sa bikṣuka saṅ sipta mijil.
rahayu dahat bapā kaṙsanta
laḥ tulusaknā deni
ri śun kaki ha/tuduḥ
pṛnahira saṅ minakadi,
wusnyadan ṗalabojyanaṙsa,
no kaṙyya saṅ tamuy.
hnĕƞakna sakṣana,
ko gantyaniṅ waçanā ko/niƞaha maƞkin
[ṇ ]Ki Singamada memberi tahu,
" Saya ke pertapaan ini,
akan menerima dengan hormat dan berterima kasih jika diberi anugerah untuk mengetahui sarana-saranaku
untuk mengubah budi,
untuk meneladani cara hidup Sang Pertapa".
ø Kata Sang Pertapa, apa yang ada dalam pikirannya meluncur,
"Sangat baik, Angger, keinginanmu,
nah teruskanlah. Adapun
saya, Angger, memberi tahu
tempat dia yang unggul".
Sesudah itu kemudian mereka makan.
Demikian kegiatan Sang Tamu.
Diamkanlah sementara.
Kini ganti yang diceritakan. Ketahuilah sekarang
dia Sang Pertapa terpilih
ø munculnya dalam menemukan perbuatan yang pantas,
kebanjiran mendapat keuntungan. Selalu berdana.
Tempat tinggalnya benar-benar ramai,
banyak teman berdatangan,
yang sangat menghormati dengan melimpah
untuk melakukan tugas-tugas khusus.
Tidak sulit minta tolong (padanya)
untuk melakukan apa yang telah menjadi sumpah
bratanya. Ki Salimut telah berhasil pada kehendaknya,
terpercaya ucapannya.
ø Pertapaan itu sungguh indah.
Berseri macamnya bunga bersusun dengan pantas,
dapat dianggap sama ujudnya.
Ada bunga bakung, cacarajawuh,
ratnacina, talukiputih,
bunga dan daun-daun cinamerah.
Tumbuhan sidatapa sarat buahnya.
Arca raksasa mengapit pintu gerbang, (sementara)
gapura besarnya dihiasi kepala Kala yang menakutkan,
dinaungi pohon nagapuspa.
ø Tempat sepasang sajen batunya mengapit
gapura, indah dilihat.
ṗutu/sara saƞ agawe
puṙwwa tatwaniṅ guṇuṅ
binisekaniki¡,
haparab ri niṙbaya,
pusṗakaniṅ batuṙ
ḍuḥ baya śwapa wikana,
hasamaṙ dalane duṙ/ggama sira rusit.
mewĕ wruḥheṅ niṙbaya
//0 śumilaḥ tejane tapa sakti
mlĕk waƞini dupa ne saƞgaṙ,
kumutug. pa/samidane
pusṗapuja tan luśuḥ
saktī baktī laksana sanḋi,
hamriḥ sidaniṅ lamṗaḥ
praptaha riƞ ayu
dohani kalawisaya,
hapan mina/ka muśuḥhiƞ atakitaki,
haƞimuṙrimuṙ cipta
ø siḍĕmn iṅ yoga wuwusĕn maniḥ
ki siƞāmaḋa koƞaƞ e sabḋa
prapteṅ ba/tuṙ taṇn aśuwe
halarapan saṅ wiku
hegaṙ manaḥ saƞ apaliƞgiḥ
ḍataṅ niṅ mitra tuƞgal
kaliḥ dḋaya kanut
saṅ sikṣwā saha lepana,
tĕlasniṅ paƞabaktī saṅ guru haƞliḥ
laḥ kaky amarantiya
//0 samṗun asaji raka pṛgi
tan koṇiƞaha deniƞ āḍahaṙ
wusnya mu/caṅ maṅswa gotek
siƞgiḥ dwanipun rawuḥ
saṅ daya ḍahati haƞ√si,
haśuruda nugraha,
saṅya ṛp lakwa
haƞowahana sarira,
hatya ma/nuta pawetnīṅ kaswaśiḥ
hanĕṅgwaḥ saƞu lara
//0 sipi laraniṅ wṛdaya
hanwam amukti lara heraṅ
pun siƞāmadḋā tuhu kalaƞa/n sanḋeya,
maṙmaniƞ ālalis.
waṛg lara g̈ĕṅƞiṅ naraka ṛmawe,
ranak hyaṅ hawlas tumiƞal.
haṛƞĕ paśraṅniṅ waraḥ
hamalamṗaḥ dinu/luraṇ ḍataṅ mariṅke
saƞ adḋiprawwata liƞe
heman ewĕḥ raṙwanom taƞeḥ kaṛpe
//0 akweḥ paƞuniƞaṇiśun kaki,/
waṇi sirā saƞ ahyun atwapa,
kaya hiya duk mahune
nisṭaniṅ raga ketuṅ
hawwaharā holiḥ roṅ saksi,
lipu<ṙ> manaḥhe menḋra,/
dukane tan ketuṅ
taha si tan makaṇnaha,
saṅ dayaka punapa maṙgaṇiƞ apti,
bapa niṣṭa nugraha
//0 haḷp tumukul mawacana/ haris
ki ƞāmādḋa hawon lepana,
nora saṅƞara riƞare
tanṗa tiṅgal ṗalayu
gĕṅniṅ lara wetniṅ kaswaśiḥ
tan wruḥ riṅ rama rina,
yayeƞ uwus lamṗus
punika maṙmmaniṅ kesaḥ
haƞ√ṅsi kadaṅ wraga taṇn ana śudḋi,
hasuṅ laraniṅ daya
//0 paja pajaniṅƞ eliṅ ta/ṇ eliṅ
mĕnira katiƞgal. deniṅ bapa,
hibu tumut kapatine
menganggap sebagai bekalnya bersakitsakit.
ø Sangat sedih hatinya.
Masih muda usianya (lagipula) mengalami kesengsaraan.
Singamada benar-benar tertimpa prihatin,
itulah sebabnya bersikap tidak perduli.
Kenyang menderita, besarnya kesengsaraan menyentuh-nyentuh.
Dia yang mulia jatuh kasihan melihatnya,
mendengar pemberitahuan yang terbata-bata
tentang perjalanannya, sehingga datang disini.
Dia Sang Pertapa Utama berkata,
"Sayang! Ia mengalami kesulitan, muda usinya, yang dikehendaki jauh jangkauannya.
ø Banyak yang aku ketahui, Angger.
Beranikah engkau, (hai) yang menghendaki tapa,
seperti niatnya semula.
Kesengsaraan raga hendaknya diperhitungkan.
Kira-kira dua bulan lamanya,
reda hatinya untuk berkelana.
(Jika hal itu terjadi) kesusahannya tidak terhitung.
Tidak!. Jangan engkau berlaku demikian,
wahai yang menimbulkan kasihan. Apa sebabnya (engkau) mempunyai keinginan (bertapa),
Angger, kecil yang didapat".
ø Dengan pantas menunduk, berkata halus
Ki Singamada menghaturkan sembah,
"Tidak ada yang menyebabkan undur ke ngarai,
tidak akan melarikan diri.
Besarnya kesusahan menimbulkan belas kasihan
karena tidak berjumpa dengan ayah ibu.
Ayah ibu sudah meninggal,
itulah alasanku pergi.
Berlindung kepada sanak saudara tidak ada yang bermurah hati,
sangat susah hati ini.
ø Tampaknya ingat padahal tidak ingat.
Hamba ditinggalkan ayah;
ibunda turut berbela mati.
Tidak terperhatikanlah aku,
tidak terkira kesedihan hati ini.
Nah Paman percayalah
janganlah berhenti
untuk memberitahu, jika itu sudah menjadi kewajiban
Pamanda untuk memunculkan brata sebagai persyaratan ritual
supaya tidak lekat".
ø "Anakku, hal yang rendah itu menyengsarakan,
lebih-lebih yang ada padamu.
Tidak akan kesampaian maksudnya
karena tertimpa hasrat asmara.
Meskipun dengan sangat saling mengasihi,
terbebani hutang,
tahan menunggu
diperbudak oleh harta,
besarlah petakanya.
Hal itu merupakan tandanya kesengsaraan.
ø Meski begitu, Angger, nasehatku:
orang yang telah lepas dari bertapa keadaannya
cerah, perbuatannya
luhur, tahu akan laku,
unggul, utama dalam kebaikan,
seperti misalnya engkau anakku.
Wajahnya cakap,
hal kecil dibuat sarana untuk
memperoleh kebahagiaan. Dirimu jika berserah diri
itulah sarana untuk mempunyai kekuatan besar".
ø Tidak lain itulah perbincangan yang berisi anjuran-anjuran.
Malam pun menyelinap, matahari
kehilangan cahaya. Kini waktunya untuk tidur.
Dia yang mulia berkata,
"Sungguh nekat mati ragamu, Angger.
Karena tidak dicintai sanak saudara,
karena tidak terperhatikan?.
Mudah-mudahan terlaksana segala rencanamu.
Siapkan kebahagiaan dari kesusahan
sebagai tindakan orang yang tidak bernoda".
//0 dulu wijilniṅ saṣaƞka
madya nayaniṅ sarat
hu śwaraniṅ tekel ikā masane
saṅ kutu kutu muni,
sukaniṅ tṛsna/ latā kagĕm uripe
ø egaṙ paƞisiniṅ waṇa,
mṛga ṇuta naramaƞka,
mṛga ṇuta naramaƞka,
sukara mijil ṣaka riṅ lamurowwaƞe
carita/ mwaṅ kami
gsiṅg̈akan iṅ juraṅ tu budḋine
//0 kag̈yat akataruwag ṗaḍa wṛgiṅ
burwan i malaywa paḍa saśaran
ḋeṇiṅ moṅ hanjrit ṣwara/ne
saṣomaḥ krodḍa glaṙ
haƞulu maƞṣa tan ṗoliḥ
maṅkin kag̈ila gila,
munyatut maṙgag̈uṅ
haṛsaƞ amihaṙsa,/
hakĕkĕs awoṙ maras hyaṅ puṭut wajriḥ
paḍa kumṗul kumṗulan.
//0 ki <śa>liṭuḥ samṗun yatapiki,
ki gurubed. wusnyamet wantĕ/ran
ti saloleṅ
ri pabṭekaṇn umuṅ
hana gita waneḥ mwaṅ kakawin
lon taƞ ātataṇḍakan
ki sagatī putus
ṗrataksa tata kī puja,/
ki sarontak ṗinītuwa tameṅ gati,
pinaka pamurukan.
ø ki salimut ṛsna wusnyadan aguliṅ
ki siƞāmadḋā duluṙnya
ri g̈ḍo_ lo
denya kule
pada hyaṅ giri mantuk
riṅ padmeṇa mutĕṙ sanḋi
haworasaniṅ manaḥ
siƞāmādḋa muwus
ṣarira ta/n wiƞ enaka,
duk iƞ amṗaḥ satkaniśun iƞ aṙdi
suka rasaniṅ daya
//0 tabĕḥ pat kaliḥ tƞaḥ wƞi
sa tapa yaḥ taṇn ana śwara,
sama/ heça denya kule
badanira sam bawuṙ
śiliḥ tiṇḍiḥ paḍa halƞiṅ
waṇiḥ kupina siṣal.
harukĕt lan kĕṭu
hana ƞa/pw añuṙṇaƞgana,
hawoṙ śiwud. yayaḥ tuhu hanakbi
reta malarasan
mari humuṅ g̈ita mwaṅ kakawin
gumanti haƞoro ka sambawa,/
hakĕkĕrot lahine
ki saloleṅ haƞimplu,
ki saliṇḍuḥ, haṅriƞikriƞik
nora lwan kaṅ denucap
baḃakaran ba/suṅ
śahulaḥhe kaçakrabawa,
ki siƞamādḋa gumuyw atatĕl ati,
mijila tanṗa rasa
ø sawƞi tuhu tanṗa guliṅ
ketaṅ ragane ka/suraṅ śuraṅ
nastapa saṅkani rare
çipta ṗrapañca luśuḥ
kagorawā kagug̈u keṣṭi
tiṇuṅgal ṇireṅ manaḥ
hawasana lu/suḥ
mon kaƞĕn ḋeṇiṅ kasihan
kapakna sarira yen tanṗa wṛti
hayo ta di parana
//0 tiliṅ saṅ hyaṅ cañḋra lumisiṙ
masanati samilaṅ nalika,
riṅ pmaƞuyon ṣwarane
hasaṅgaṇi lañ cucuṙ
munya gantī manuk cuçulik
nilakanṭa sahuran
liṙ wwa mu/ƞu haturu,
paƞuni cuçakt amijaḥ
saksana rāina prasama taƞi
baḃa wetan ṣumirat.
ø Tanda jam 24 dibunyikan dua kali - tengah malam.
Para pertapa sepertinya tidak bersuara,
mereka nyenyak tidur.
Posisi badan mereka malang melintang
saling tindih; ada yang berpakaian (lengkap),
yang lain cawatnya melorot.
Ada yang memeluk songkok erat-erat.
Ada yang bermimpi, melumat dengan ganas sendirian,
sibuk bergelut seolah-olah (melakukan persetubuhan) dengan istrinya.
Sperma pun berceceran.
(ṇ) Berhenti keramaian nyanyian dan yang ber "kakawin"
berganti dengan suara dengkuran yang cocok
dengan suara gigi berkeriut. Demikian pembawaan
ki Saloleng ketika mimpi.
Ki Salinduh merintih-rintih
yang diucapkan tidak lain
adalah ular bakarnya.
Semua perbuatannya berulang-ulang.
Ki Singamada tertawa, sesaknya hati
lenyap dengan tidak terasa.
ø Semalaman benar-benar tidak tidur
padahal raganya sengsara,
menderita susah sedari kanak-kanak.
Pikirannya bingung, tidak berdaya,
dipikir, dipercaya, dikonsentrasikan
disatukan dalam hati
akhirnya tidak berdaya.
Jika rindu karena perasaan cinta
akan diapakan badan ini jika tanpa berita.
Janganlah berbagaimana.
ø Condong rembulan beringsut.
Saatnya terang segera
di tempat para manguyu. Suara
riuh burung cucur
berbunyi bergantian dengan burung cuculik.
Burung nilakanta bersahut-sahutan
seperti orang membangunkan orang tidur.
Suara burung cucak riang gembira.
Serta merta pagi- mereka pun bangun.
Di timur (langit) semburat merah.
ø Sang cucu pertapa segera menyadari.
Setelah mengambil baju dari kulit binatang, lalu
membersihkan diri bersiap semua
menghadap di kaki guru
dengan melakukan sepuluh tingkah laku yang baik agar
muncul ajaran
yang utama untuk kebaikan laku
dan sepuluh kebenaran tertinggi.
Itulah alasannya menahan diri, siang malam.
Hatinya bertambah mantap.
ø Beberapa lamanya ia berada di gunung.
Ki Singamada tinggal di pertapaan,
Sebelas (?) bulan lamanya.
Kemudian ia menjalani sebagai "babaru".
Sudah kuat untuk melakukan perbuatan baik.
Segala tindak-tanduknya di gunung
tidak sulit untuk diajar.
Sang Wiku terpilih mencapai sempurna
datang di tempat para pertapa perempuan dengan tergesa-gesa,
kemudian mereka mengolah makanan.
ø "Segala tindakan baik akan berhasil.
Engkau, Angger, masakan tidak tahu
mengenai rahasianya laku".
Ki Salimut memberi petunjuk,
"Perintahkan saudaramu itu, Ngger,
suruhlah dengan tugas khusus
untuk mengambil daun pisang yang masih muda".
Cepat jalannya,
telah bersiap sejumlah teman-temannya datang
memberi makanan.
ø Semua pertapa perempuan sudah datang.
Ki manguyu juga sudah datang
membawa babi hutan besar.
Anak-anaknya mengikuti
memikul sagu (?)
dan buah pinang,
satu pikul kelapa.
Datang sejumlah siswa.
Terdengar dia yang mulia memberi tahu hal yang baik dan yang buruk.
Banyak yang berpedoman pada pembabaran (ajaran itu).
ø Dia yang mahir dalam yoga sudah datang,
mereka menghaturkan buah enam rasa,
diikuti ucapan menghormat.
Sang guru yang utama menyambut
sapaan teman-temannya terkasih.
"Selamat datang, Anakku, semua",
disusul dengan ucapan,
"Silakan kisanak duduk".
Mereka menghormat menghaturkan banyak puji-pujian(?).
Singamada takjub.
ø Setelah tersaji makanan, (...?)
para tamu makan.
Mereka makan tidak lama,
karena ingat akan tugasnya masing-masing.
Para pesuruh mandi,
ramai bersenda gurau,
berkelakar mendatangkan tawa.
Ki manguyu memasak tanpa garam (?)
mereka bersemangat memburu babi hutan
ramai- ramai diikat.
ø Para pertapa perempuan merendam ikan kecil (?).
Pertapa perempuan yang lain kemudian turut serta,
mereka semua muda usianya,
wajahnya cantik.
Ni Rumita dan Ni Warini,
Ni Taki (dan ni) Warna,
sebaya usianya.
Sebagai yang unggul (?) dalam bertapa,
yang seorang, seperti roh seorang perempuan manis
bernama Ni Sawita.
ø Ni manguyu mengurus api
yang lain menyiapkan menanak nasi,
ramai, mereka bekerja (...?).
Para pertapa perempuan berkata,
"Leler dan lempeng sajikan".
Berkumpullah para pertapa perempuan untuk bekerja.
"Keranjang besar
yang berwarna biru tua yang berada di sudut itu
(untuk tempat ) telur. Jika lupa
ya sudahlah, Pangeran".
ø Singkat ceritanya (mereka) yang bekerja,
hari sudah menjelang sore. Siang
terselimuti gelap, kini
matahari tenggelam
kemudian bersinarlah rembulan
menerangi di bumi.
Sudah saatnya tidur,
sudah benar-benar berciri
serupa dewata. Makanan disajikan,
enak, karena sengaja dibuat demikian.
ø Pucatnya rembulan merata karena
cahaya matahari.
Para pertapa perempuan kemudian berpakaian, ramai.
Cekatan mereka menyiapkan sesaji,
melakukan tugas khususnya, melakukan puja, dengan segera
melakukan tugas mulia.
Waktu yang baik pada waktu itu
wuku Mawulu, "pasaran"nya Legi baik diambil hal yang baik,
waktu purnama di bulan Posya yang baik.
Ki Singamada ketika melakukan hal baik.
ø Sang Pertapa yang mulia kemudian membersihkan diri.
Ki Singamada telah mencuci rambut
karena kusut badannya.
Tampak air matanya berlinang,
berkata-kata dalam hati dengan perasaan hormat,
"Meski raga berganti ujud,
(meski) harus menerobos gunung,
(meski harus) memotong rambut terus menerus,
(meski harus) mengikat kepala, pastilah aku bertekun,
berlatih diri melakukan yoga".
ø Sesudah menyatakan keinginan itu kemudian ia melakukan penghormatan.
"Jangan terlalu jauh, engkau, Anakku".
Mereka yang menghadap (disapa) semua.
Menarik nafas dalam-dalam(?).
Panji besar sebagai saksi,
bergambar Anoman marah
yang berdiri bulu-bulunya.
Mengepul dupa di tempat pemujaan,
karena kayu gaharu dan asap kayu bakar, harum
semerbak bau dupa.
//0 umwaṅ śwarani gĕṇṭa haraƞīn
gĕṇḍiṅ horagan. mwaṅ sapta śwara,
saṅka mu/nī lan ṗoreret
ṣraƞī puja habaruṅ
mawilĕtan madyaniṅ laƞit
ẗutuga ƞantariksa,
puja ƞaluna/lunṇ
ḍumataṅ hyaṅ pañarikan
ra kaki citragotra kī kalaruci
hyaṅ maƞiƞĕt rowwaṅnya
ø tlasniṅ palalawĕ haƞiri
ki siƞāmādḋa samṗunya weśwa
daluwaṅ maka saṇḍaƞe
saṅ hyaṅ braja mĕmbu<ṙ>
g̈ṛḥ lamat munya ƞukuli,
ktug tan ka/rasa,
teja gĕṅ sumunu,
śumiriṙ saṅ hyaṅƞ anila,
kadi kawƞan ika saƞ āñaṙ tumaki
brata sukla niṙmala
//0 ḍaƞ adigu/rw amatĕṙ gaṇitri,
sinuda mula tatwaniṅ tapa,
wus ṗaripuṙṇa sinare
øugrahaniṅ saṅ guru
pinaraƞan ki su/rawaṇi,
samṗun yanaṇḍaṅ bawa
hamĕwahi baguṣ
cumĕk ṗantĕs tan ahiwaṅ
kawƞan cita sakweḥniṅ para kili
salaḥ smu riƞ ulat/.
ø sami tumahap adan aliƞgiḥ
sakweḥniṅ śikṣwa wadon lawan lanaṅ
tan ana ṇi wwaṅƞa len
tĕ[-]las keku sagu/ṇuṅ
kakĕn mitra denira saṅƞ adi,
guru winoṅƞi laba,
huptiniṅ batuṙ
habaṇiṅ tan karakĕtan
tĕka luƞa hakweḥ pamtuni dmi,/
paran. ḋene kasihan.
//0 samṗun aḍawuḥ patra cariciṅ
hatata kabeḥ paḍa kawaratan.
kweḥ/ni lumaksanā jaṅ sereg.
saṙwwa raka pinuṇḍu
katigā maka patitis
agaṅ sraṅśraṅƞan. tumadaṅ
keḥniṅƞ ararawuḥ
ta ṇn ana niṅ kaliwatan
tĕlasniṅ śad rasa ṣakṣana haliƞgiḥ
hamataṅ samodana
//0 samṗun sinadwakin ṗisa/n
ḋenira ki luhuṅskaṙ
gumanto prawacaṇā paḍa tameṅ reḥ
haglis ṗaḍa siśikiṙ
wiṙyaniṅ bawahan kīsahira serega,/
hantyanta tuṣṭaniṅ manaḥ
saƞ adīgurw amoṅ mitra,
g̈aṙjita sukasukahan ajer ulate
kī maƞuyw akaka/win
saṣaṙ śusuṙ hamiṇḍa kakweḥhan baḍeg.
ø Sudah diperintahkan, maka wadah minuman pun, berdenting,
berderet semua terisi.
Sejumlah (orang) mengambil piring dengan segera.
Bermacam makanan diambil,
tiga macam makanan sebagai sasaran utama.
Saling mendahului mereka bertindak,
banyak yang datang
tidak ada yang terlewatkan.
Setelah makan sajian enam rasa kemudian mereka duduk-duduk
sambil menghisap candu (?) dengan beramah tamah,
ø sudah disediakan sekaligus
oleh Ki Luhungsekar.
Ganti yang dibicarakan. Semua baik kondisinya.
(Mereka) melantunkan puji-pujian,
akan kehebatan dalam pesta itu. Mereka segera pergi.
Sangat puas hati
Sang Guru utama, menyenangkan temantemannya;
sangat senang, ramah wajahnya.
Ki Manguyu ber"kakawin"
tidak karuan, seperti orang kebanyakan minum tuak.
// 0 // Pupuh Witaning Pagalang // 0 //
"Kurang bersungguh-sunggh alasan saya, Ngger,
maksud perayaan ini- kini usai sudah".
Kebohongan penyair menyebar luas.
Sang Murid kemudian minta diri.
Melegakan jawab dia Sang Pertapa,
"Hati-hati di jalan,
Angger, Anakku".
Tidak diceritakan di jalan,
sampai di sebuah rumah. Segera diceritakan lagi
lima gadis yang merindu.
ø Berat langkah Ni Warini,
ingin rasanya tidak datang di pertapaan para perempuan.
Sedih, hatinya gelisah.
Ni Warna ragu-ragu,
Ni Rumita ucapannya sedih,
seakan-akan hendak turut
pada dia yang baru saja menjadi wiku
yang bernama Surajaya.
Tidak malu Ni Taki pulang sambil menangis,
derasnya air mata disembunyikan.
ø Cinta yang mendalam menyebabkan hati tersayat.
Dia yang termuda di pertapaan
Ni Sawita namanya,
bagaikan tanpa jiwa, raganya lunglai;
Surajayalah yang dipikirkan dalam hati,
sudah kenal bagai saudara.
Rasanya tidak henti,
(ingin) terus memandang kesannya seperti
istri yang setia. Ia terkena asmara, penuh hasrat, bergairah.
Akan tidak baik jika (hal ini) diketahui (orang lain).
ø Lamalah jika diceritakan tentang mereka yang sakit asmara,
kemudian datang di pertapaan.
Kini diceritakan tentang
Surajaya di pertapaan.
Tetap lurus maksud hatinya pada
samadi, menyatu (pikirannya) tidak buyar,
agar Sang Hyang Hayu
nyata-nyata ada di dalam tapanya.
Ia tidak menyadari bahwa diberi isyarat oleh perempuan
sebab baru saja mulai (sebagai pertapa).
ø Hasrat hati agar mendapat kemampuan untuk (melakukan)
tapa yang kuat. Jikapun merasa
sedih tinggal di ngarai itu
karena ditinggalkan ayah ibu.
(Sedangkan) sanak saudara tidak ada yang bermurah hati
akan kesengsaraan yang dijalani,
untuk memberi kata-kata penghiburan.
Tetapi masakan demikian terus menerus?.
Ki Surajaya terjerat perempuan
berbadankan gadis.
ø Tidak ada cara selain melakukan pengalihan perhatian.
Dia yang mempunyai kekuatan waspada
bahwa perempuan (bisa) sebagai yang membatalkan (tapa);
dihancurkan pun tidak hilang (kekuatannya),
dalam pikiran merintangi,
sulit untuk dilawan
(bahkan) oleh sang wiku (sekalipun)
karena (hal yang merintangi itu) sungguh ada bersama dalam jiwa.
Dia yang melakukan (tapa) harus sungguh menyadari pengendalian diri yang sempurna
agar terbebas dari godaan.
ø Ki Surajaya ditunjukkan secara rahasia
caranya melakukan tapa.
(Bahwa) penerangan Dharma itu menguasai keadaan
(wisik) merupakan perlambangnya.
Tujuh hari lamanya (Surajaya) mengusahakan, (tetapi)
tidak mendapatkan intinya
yang sesuai dengan laku.
Dia yang utama menyamarkan petuah
untuk dirahasiakan. Matahari tenggelam, malam itu pun menjadi
gelap saatnya rembulan muncul.
ø Sang Guru yang utama mengucap syukur dalam hatinya(?)
oleh banyaknya siswa.
Ki Surajaya menguasai keadaan dirinya(?)
Bersama dengan Ki Salimut
(Surajaya) mendengarkan dia Sang Pertapa
yang membuat terang hati tentang
gambaran laku.
Si Surajaya diberi tahu
ajaran tapa (dan) caranya menjalani
agar semakin paham pada kearifan.
ø "Tidak lain, Ngger, sebagai awalnya berprihatin:
badan hendaknya sungguh-sungguh seksama menghadap.
Jangan terlalu banyak pendapat dicari
karena akan kecewa, Ngger, dalam pendapat itu.
Ragamu usahakan, Ngger,
agar jauh dari 5 indriya.
Hendaklah diingat
untuk menguasai "rajah” dan “tamah".
Munculnya kata-kata buruk atau baik
hendaklah dilenyapkankan saja dari hati.
ø Hatimu terus menerus usahakan tenang dan jernih,
(seperti) yang diangankan orang-orang seluruh jagat.
Segala hal buruk lenyapkan semua.
Kuasailah perbuatan baik
sambil berusaha memperhatikan, Ngger.
Jangan berbuat yang menarik perhatian,
perbuatan disamarkan saja,
bersikaplah seperti angin.
Dalam menjalani tapa brata hendaklah berani menghadapi kesulitan dan kesengsaraan badan
maju terus dengan (penuh) kekuatan.
ø Dan lagi keadaan orang prihatin
hendaklah diikuti dengan bersatunya nafsu(?).
Usahakanlah, Ngger, jangan kendur (semangatnya).
Carilah di tempat sepi.
Samadimu bersatu dengan hal yang kecil,
mampu, sesuai dengan keinginannya.
Hal itu jangan sampai terlewatkan.
Terbukanya pengetahuan sampai ke langit.
Peganglah erat-erat hal yang di puncak, yang membuat rahasia,
yaitu ujudnya ada pada nafsu.
ø Lihatlah, Ngger, kuatur.
Godaan itu masakan terus menerus?.
Pertanda itu namanya
"wĕƞaniṅ swara", Anakku,
biasanya menambahi kerumitan,
lebih baik lakukan saja.
Pesanku, Anakku,
selaraskan, Ngger, hatimu.
Jangan terburu-buru berlagak mengerti, perhatikanlah dia yang utama.
Masakan gagal?.
ø Orang muda jangan berlagak seperti penyair,
jika tidak tahu mana lawan mana teman.
Sangatlah, Ngger, (...?)
bagi dia yang berhasil dalam laku.
Sungguh mudah jika (tahu) caranya".
Sang murid menerima,
berguru kepada Sang Guru.
yang memberitahukan kata-kata yang melegakan.
Secara terbuka Sang Utama sungguhsungguh memberi tahu yang sebenarnya.
Jarang orang bertindak demikian.
ø "Ki Surajaya anakku, Ngger.
Ki Salimut, anakku, Ngger,
selesaikan semua olehmu
seluruh pengetahuan, agar tamat.
Sebagai harta isi kantung (kandhi)
engkau, Ngger, mahir
akan segala pengetahuan,
tetapi jangan gegabah,
lakukanlah (...?) usahakan agar mahir.
Usahakan dengan segala kekuatan ragamu itu (untuk melakukan hal ini).
ø Janganlah tidak berkemauan berbakti kepada Hyang Widi.
Yoga dan samadi laksanakanlah.
Bertapalah, jangan sembrono,
baik siang maupun malam selaraskan.
Pikiran yang mantap rahasiakanlah, Ngger,
jangan dibiarkan bingung,
disamarkan dalam kata-kata
sebagai tempat untuk memperoleh anugerah.
Badan yang sengsara, mengalami kesulitan, tidak berdaya (dan),
nestapa, (hendaknya) dibuat tegar.
ø Jika sudah dikuasai caranya, Ngger,
demikianlah kau usahakan petunjuk
rahasia semua laku,
keragu-raguan dalam budi yang terdalam,
penjelasan sabda yang senyatanya
dan petunjuk yang akan terjadi di bumi.
Jika hal itu ditemukan,
engkau akan mendapatkan kepuasan.
Surajaya, jalani hal itu dengan terbebas dari hawa nafsu.
Itulah kekuatan melakukan tapa secara terus menerus.
ø Kesulitan pada dia yang tahu akan inti sari yang bersifat rahasia
secara khusus arahnya pada ujud dan penampilan.
Padahal (hal itu) tidak akan ditemukan
karena engkau asal mula yang tahu
yang menguasai mati dan hidup.
Tenggelamnya matahari
tetap arahnya,
dunia sebagai pusat (?)
karenanya tidur bisa bermimpi,
jiwa bagai bayangan.
ø Tanda-tanda khusus wiku yang mengambil inti (tapa)
tidak tergoda oleh hiasan-hiasan.
Menguasai dunia seisinya,
yang indah, luas-tidak terkatakan.
Segala nafsu injaklah,
yang mengganggu mata terimalah sebagai bawaan lahir.
Hati-hati jangan undur.
Bergerak dengan perlahan pengetahuan itu, menakjubkan.
ø Sulit jalannya bagi dia yang akan menemukan (hasil).
Jauh tidak terhingga tidak bisa diupayakan.
Sulit, rumit tempatnya.
Dicari pun tidak dapat ditemukan.
Dengan cara samadi, bisa diambil secara diam-diam
disamarkan dalam ucapan (tetapi)
tidak dapat dialihkan.
Demikian Ngger badan itu.
Pendeknya jangan tergesa-gesa, usahakanlah meski dari sedikit.
Orang muda pastilah lalai.
lwiṙr aṙca manik ṗramudita mahniṅ
si/nikĕp ka muḍa
ø nahan ṗitutuṙrira saƞ adi
guru waraḥ tatwaniṅ pamarasa
dalu masaniƞ āgotek
ṣurajaya hati/ butuḥ
hawatara madyaniṅ ratri
hyaṅ saśaka g̈ancaran
saṅ guru hamuwus
ki śurajaya hanakiṅwwaṅ
bawalaksanakna denamiśani,
hiḍĕp aja do/para
//0 lah asiṛp maṅkwa hanakmami
dalu samaƞṣani pramusita
sabḋa tan ana tlage
haja tan kapituhu,
hiƞtiƞĕt a/yo taneliṅ
śurajaya denkĕna
de ntaƞon maṇaḥ kuṅ
tlasniṅ śaƞ ady awaraḥ
samṗun mantuk sakṣana hadan aguliṅ
śurajaya kewƞan./
ø apraṗañca panaṙkani kawi,
winiweka pasraṅniṅ wacaṇa,
sawƞi tan kĕne kule
saṅcitwa hayu kaṅ ketuṅ
haṅrasa/ ƞel. wṛdiniƞ ati,
çiptane kariwƞan
ṣurajaya tan wruḥ
palayuni kawacaṇa
tan koniƞāheṅ wƞi rahina mana
hyaƞ aruna smu baṅ
ø rahina tatas ḋoraniṅ kawi,
hniƞakna ki surajaya,
haƞuratenī halot aƞel.
hana gantiniṅ wuwu/s.
kawaṙṇaha ki daṙmmakawi,
kasuṅ pratama gama
lƞit ṣwaraniṅ śwaranipun
satata guṅƞakĕn tiga
samṗun tĕlas karakwat iṅ baḃad waṅsit
haƞiṅ ta/nṗa ñumana
//0 tan asiƞgiṅ sabḋa kumalwiḥ
yen sinewaka deniṅ bahu sikṣwa
maṅkin tan ṣurud. sabḋane
saṅ/ katon saṅ karuƞu
niṣṭa ṗala kaṅ denrasani,
prawĕñcaṇiṅ sarira
tapaniṅ lumaku
surupniṅƞ aditya wulan.
winiweka huripiṅ ra/hina wƞi
haƞaku wruḥh iƞ awa
//0 gĕnti tan ṗgat wacaṇa mijil
winawā wa ri sambarana
dengawayakĕn ṗola/he
lalawuhe ƞinum
ṣaṅ hyaṅ daṙmma kaṅ denrasani,
śuṅsaṅ ṣoƞaṙ paṭelaṅ
winawa hawuru
mesĕm ṣaṅ pratameṅ rasa
hamihaṙsa waca/na hakweḥ tanṗa samiṙ
solahe kaya hiya
ø pinisiƞgiḥ taṇ ana mopogi,
yen ammiweka daṙmma hupa/ya
maṅkiṇ aluhuṙ śwarane
hiḍĕp kaṅ duruṅ wĕruḥ
kasaṅṣayan manaḥhe braṅti,
hakweḥ bakti mulawa,
hasoṙ manaḥhipun.
kna si muḍa hiḍĕpan
haduluri kṛtīsamayane lwiḥ
maṙmmanya maṅgiḥ laba
//0 hana naya lalanaṅ pinuji¡,
hantyata/ listuhayuniṅ rupa,
hapasaṅ jaja wayahe
kakaṙsana pamulu
pamalihaniṅƞ apsari
kusuma ni widaƞgana
dibya ṇurun
ṗiniṇḍa/ne śuralaya
kadya miṇḍa maṇuśa siliḥsiliḥ
daṙmmakawi mawan.
ø hatuk nugraha wṛtini kawi,
pinariśuda/ brata niṙmala,
binisekayu sinaren
lalayaƞani karum
ṗinarabaṇ ni tejasari,
wiraḥ twasni rena,
daṙmma muruk
liṙniṅ sa/bḋa mahaprana,
hantyata piniƞitira ki daṙmmakawi
maṙme tanayaṇira
//0 ni tejasari samṗun amaƞgiḥ
wwaṅsiti/ra saṅ prasidakaṙyya
brata minaka natare
saktisakti winaƞun
riṅ woƞ ayu watĕk siṣiriḥ
maṅkin rupa śumilaḥ
jatmika budy alus
tan bi/saman kasaṙgga
haƞi hana denantī kacipteƞ ati
prati jñani ruṅ samaya
ø ki daṙmmakawi mawacaṇa ris
manaḥ kepwan tumiƞa/l i wka
hapik tan aṇa kaṙsane
ya ḍuḥ niny anakisun
harerena denta sīśiriḥ
laḥ ya mastu halabuwaṇa,
sipi maṙmaṇipun
balekaniny akramaha
kweḥni taruṇahase rupanta ṇini
hastam tan ṗarimana
//0 punapa wasanaṇira nini
halani wwaṅ/ habudwakĕn ṗati
ni tejasarī wuwuse
bapayo patikutu,
sadeṇira midiya kami,
melik arupa hewa,
hakramaha/ teśun
bapa homaḥ homaḥha
lamoṇ ana tlĕṅniṅ ñana kahiṣṭi
daṙmmakawi kemƞn.
ø sajalwistri paḍa mituturi/
heman ewĕḥ nini denira brata
saƞ ayw aƞelamon ṗinet
hakweḥ wig̈nani laku
riṅ woṅƞ ānom tan wun kasilib
hamuraṅ/muraṅ lamṗaḥ
haƞudwakĕn kayun
ḋaṙmaweḥ sukaṇiṅ raga
daḋi duka luputa deniṅ sapṭik
hamĕtwakĕn wigraha
//0 apaniṙ/dwaniṅ brata weḥ juti,
yen tan atuta riṅƞ adiyogya
yyakti lan orana twase
lamon tanṗatut
ṗanaƞṣayaniƞ amri/ḥ kitri
durana byantara,
mareda pinayu
taṇ uniƞ asolaḥ riṅ lyan
hapi tan waḥ wiseśa rag̈a pribudi
me/ku rupaniṅ taṗa
ø punapa kasukaniṅƞ ati
lamon tuhuniṅƞ amriḥ nugraha,
haƞī ta haja tanṗa
iseki
hakweḥ paṛƞĕni śun
ri... wwaṅ wadon lumakw akili
tanṣa habĕḃĕśusan
lakune denṗayu
lamon mihat i lalanaṅ
hasmu binḋaṙ lwiḥ tan a/gaṇiƞ ati
nora lyan kaṅ denṗalaṙ
//0 tan yogwa tilasniƞ akikin
wiku gĕnḋrak. brata deniṅ bawa,
udalañcaṅ maka pa/mete
mantra paṗantĕn giṇuṅ
tan <maka>ṇahā ni tejasari,
ka tuhuniƞ atapa,
wisaya linĕbuṙ
karasmin taṇ iƞ √niƞa/
haƞiṅ tuƞgal ṗriḥ lkasira saṅ kili,
sahani kawiseśa
ø bayu sabḋa hiḍĕpta ṗatene
hapan ika mriḥ kar
sm
niṅ driya,
saṅpihana sakaṛ/pe
haywaguƞakĕn lulut
sabḋa lamon aƞuniƞā rasmi,
hiḍĕp lanaṅ koṭila,
hawis mariṅƞ ayu
hakeḥ mariṅ duratm/aka
yen tutana sayakti raga kag̈iƞṣiṙ
manasaṙ maƞala
//0 mewĕḥ kaƞ iƞāranan apusi,
ka tanṗa ƞaṙsa ye jalu tuhan
hagaga/ mamayu ḍewek
tan ṗurusi deniśun
lamon jĕleḥ manahe braṅti,
paḍa dene kaƞelan
hamoṅ ciptanipan
a/jyana roṅka wantaha,
lan woṅ lanaṅ hiyeṅku tapa ṗurusi,
tan kagiwaṅ ƞoṅ manaḥ
ø śumahuṙr aloṇ ni tejasari,
tan makana swarani pratama
ḍuḥ baya pira kweḥhane
tan ketaƞa ka lulat
hulatana sakweḥ pawestri,
tan aṙsa heṅ lalanaṅ
mapi/ṇḍahupiṗun
kaṅ tuhuniṅ kumawasa
mon ḋarana wruḥ pamĕgati wisāyi,
paramaṙtane rag̈a
//0 akweḥ bawaniṅƞ āmbĕk ṣumakti
ra/hina wƞi nini koṇiƞa
yen tan kĕṙtīsamayane
denṗunṗrayatna laku
nhĕṙ mojaṙ ni tejasari
śwapa bapa wikana/
sajyanĕn. yen luput
sawaƞna ri pun iṅ lamṗaḥ
sahulaḥha paƞeran hana ƞāwruhi,
hala haniṅ raga
ø hantyata wacananira ni/ni
wruḥ palacalaçaṇiṅ saṅ śipta
ḍuḥ baya hĕnḋi saṅkane
maṙmaniṅ tan kabutuḥ
wruḥniṅ naya cipta misani,
laḥ nini depu/ṇawas
jaba dalmipun
ṗrasidakna lamṗaḥta
maka paƞībina sanakteku nini
sira maka kīmraƞa
/0 utamanira saṅƞ ānom kawi
<ta>/mapi lamon wikanirasa
tan kapiƞgiṅƞāniƞ akweḥ
midĕṙreṅ luhuṙ guṇuṅ
satus tuƞgal sewu kakaliḥ
maṅsa kamy a/mwaƞgiḥha
kaṅ kady anakeṅsun
ṗratyaksa wikan i naya
yyan i rupa saśolaḥhira nirukti
saksat ḋewaniƞ unaṅ
ø kĕsayen.buh agĕṅ rasaṇiƞ ati,
lwiṙ saṣaƞka puṙṇama ne cipta
maṅkin tan. tṛsneṅ karamen
karasika niṙ lamṗus
ḋatanṇ aṙsa ra/smiƞ aśiḥ
g̈ĕṅṇiṅ wipwa ṗinuṇaḥ
lalaƞwaṇniṅ lulut
karasa deniṅ kasiḥhan
mugiṅƞ asramma guṇa kawiṣṭi
ṗinriḥ ṇarani ḍĕṇḍa
//0 hĕ/niƞakna ni tejasari,
pgat lamṗus amiweka daṙmma
brata minaka natare
śurajaya wiṇuwus
kaliḥ tahun tumakita/ke
brata dagaṇ iṅ tuhan
habakti yatutuḥ
hagĕṅ panaṙkaniṅ daya
hatitaḥ kadaṅ wraga nora katoliḥ
lamṗuś rasaniṅ ñana/
ø tlas ṗarikramaniƞ akikin
hanut sarasane saṣtragami
ḍapuṙri tatwa wruḥ kabeḥ
bakat lawan ṗamutus
ja/yeṅ saṣtra tameṅ pañjahit
kawi basa rinasa
wruḥ parupĕkipun
ṗratyaksa ƞikĕt ṗralambaṅ
wruḥ sarasaṇiṅ canḋama śwara sanḋi
mahaṙ/deka ri jñana
ø wus kawĕntaṙ kaloka prakawi
ki surajaya wus ṗiniguṇa
wiwara tan kĕṇa penet
tiga nahya/naṇipun
mapan. wṛtinira riṅ ƞuni
wijiliƞ apa kaṙyya
malyani laku
winoṅƞī widya ƞambara
maṙmane taṇ aƞel amiweka kawi
nayanane wṛdaya
ø sakweḥni sakakala kahiṣṭi
wruḥ riṅ tatwa kamulaniṅ praja
kuyya kasaṅkala wase/
mlok milwiṙ mwaṅ tĕrus
winiweka sakalaniṅ bumi
pinet liṅniƞ awantaḥ
samut ṗaḍa putus
boṇḍan lyan. bumi winḋana
kṛmṗani praja lwiṙ/ni kalaburu śri
pasiśintan wus ketaṅ
//0 wiwarani maṇaḥ wṛdi hati,
pamurukaṇiṅ sanak sanakala,
paḍa hatumṗa/ gocarane
dumeḥ budinya ruruḥ
lanaṅ wadon hakweḥ hamuji,
deniṅ pratame kaṙyya
rupane habagus
ṗrakosa tuṙ pra<gi>waka,/
budi boñcaḥ satata wikan iƞ ariṅ
hasuṅ tṛsniṅ jñaṇa
ø punapa ṗarañcanaṇiṅ kawi,
samṗun kapuraṅ wijiliṅ sabḋa/
ki surajaya tameṅ reḥ
kawiḷt i pañjaṅ kiduṅ
guru lagu saṣana keriṅ
haṣṭagana piṇĕñcaṙ
skaṙ śapaƞipun
maṙma lapus kawṛdi
pakne/ netyakara muṙtiniṅ sanḋi
paliṅga wruḥ niṅtyasa
ø dibyani guṇa lwiṙ tanṗa cantri
tlas keku rasaraniṅ rupa,
ṗatu/tuṅgalane kabeḥ
prawṛkaṇḍa rinatus
weniweka wṛçita niki
g̈ama tan kumalamaṙ
wite wus katmu
haƞi lage kariwĕƞĕn
ki surajaya hana kaṛpe maniṅ
saṅ hyaṅ daṙmma koniƞa
//0 winiweka solaḥ riƞ akikin
tanṗa wkas diṇiṅ/ kaprataksan
ḋaṙma kalaƞoṇ arane
jñaṇa kadi kadĕhuṅ
mapa tan wruḥ tosniṅ śabḋalit
nikara nika wiguṇa
pikĕkĕse tan wruḥ/
ka tinugwaṇiƞ atapa
lagi mayoṅ jatine duruṅ kapaṅgiḥ
maṇḍĕg iṅ pajapaja
ø ki surajaya ƞukiḥ tan pwaliḥ
saṅ/ƞ adiguru tan ṗitaya
reḥni lagyanom wayahe
manawi tan ṗaremut
saṅ winaṅsit wase tan mijil
mānaḥ mankin saṅṣaya/
śurajaya muwus
haḷp. śwaraniṅ wacana
sira paƞeran siṇuƞaṇ aṙti
nugrahaniṅ waçana
ø aśṛṅ śwara/nira ƞasihaśiḥ
punapa yatẗi wasanaṇiṅ raga
saṅśa tanṗa reḥ
kadw agaṇiṅ lumaku
tan wruḥ maṙga pun surajaya,
hamala/mpaḥ winnĕƞan
wirasa kaṅ tuhu
sikapaniƞ amriḥ śunya
pun ṣurajaya ƞiṣṭi nugraha lwiḥ
sahaṇniṅ dasamala
ø /nora lyan ṗawarahiśun kaki
haywa hakweḥ bapa ḃawa rinaksa
pan iku bapa haweḥ
haƞel sabawaniṅ saṅ wiku
laṅgĕṅ manaḥ hamawa hniṅ
satyaniṅ tapa brata
niṙmmalaranipun
byantara mukti karuna
wkasiṅƞ ajidaṙmma norana maweḥ
samunĕ/n ragaṇira
//0 sahan iṅ dwara jutiniƞ ati
daḋa nastiti kapara maṙtwa
kṛtayawara budine
ya ta sinĕgo wiku
tuhu ha/ƞel bapa saṅ ṛsi
tan kĕṇa ri dora
prabedani laku
dora kaṅƞ aweḥ pataka,
lamon ḋahat hagawe/ laraniƞ ati,
paṗane tan ṗahiƞan.
ø sira saṅ kawasa mutĕṙ sanḋi
samṗun keku wijili bañcaṇa
yoga maka takise/
hatwĕk. budi harum
ṗrayatnasoṙ wtuniṅ titiṙ,
hakweḥ minaka lawan
saṅƞ asajya hayu
saṅ kawĕtwa neṅ buwana/
śurajaya maka musuḥhiƞ akikin
ṗadraniṅ wiseśa
ø ki surajaya tuhu kasilib
tan wruḥ yen aṇeṅ raga wiseśa
kaṅ de/nsaṅṣayakĕn maṅke
tumut saparanipun
haƞiṅ tan wruḥ ki surajaya
jatiniṅ rag̈a wnaṅ
maṙmmane kabutu
humoriṅ ji/wa pṛmana
tuhw agamṗaṅ tṛṣnasiḥ makana nilib
saṅ hyaṅ taywa siluman.
//0 ki surajayanakisun kaki
waneḥ saṅ wruḥ tatwani purusa
pamuraṅniṅ daṙmma pit
mewĕḥ bapa ri pamutus.
yen tan atut gĕlaṙ sayakti
ñumanaṇeṅ buwana/
taṇ apik i laku
hadikarabi saƞ ucap
sabḋa lṗas tapa brata dencamṗahi,
hagila ri pustaka
//0 tan maṅkana śwaraniƞ ā/maƞgiḥ
saṣtra witiṅ sabḋa kamotaman
saṅ kocap hĕnḋi sakane
maka pawinyanipun
hulatana gorawe/ƞ ati,
tan kataman saṣtra
wuwusṣiṅƞ apuƞguṅ
hagileṅ pra pustaka
dalihane muḍa kuṅ tuṙ kumalwiḥ
kasmala budy ahiwaṅ
ø nadyan tĕ/lasa hiseniṅ bumi
paṅrañcaṇani kawy aƞambara
yen tan atut iṅ polahe
hanom kita hanakiṅsun
lagi/ menḋra praṗañca kanti
lula soƞaṙ prahesan
hawya tan ṗarimut.
mewĕḥ riṅ daṙmma prakamya
pan alaraṅ śuƞana sari sadmiḥ/
wtuni jatiwaraḥ
ø laḥ tarimanĕn ḋe ntayo lali,
śurajaya glaṙriṅ waçana
ƞoṅ tatane kamulane/
ṛƞaṛƞĕ denṗutus
ṗamalwane leka niṙ daḋi
wiseśa waṙṇna lila
hamitwakĕn bayu
sabḋa hiḍĕp lawan ṗramana
ya ta pinĕñcaṙ menaka hisi bumi
twasni tiga sarira
//0 maƞkana bapa tatwāni wisik
sarira saṅƞ atmuni wiseśa
paṇn i/ya hiku parane
paƞulihaniṅ bayu
sukṣmawara sarira jati,
kawasabota ḍaƞa
nīrakĕn tuduḥ
wnaṅ ƞalah ana ṇora
minaka rupa/ raṙwalit.
waṙṇagĕṅ sabuwaṇa
ø ki surajaya wiweka ƞiriṅ
manamṗani śabḋa mahaprana,
wus kaṣarira ƞa/tene
haƞi lagi kabutuḥ
samṗune winaraḥ jati,
daya liṙ pinanaman
hamihaṙśā wuwus
ṗanaƞṣayaniṅ wṛdaya,
pawarahira hyaṅ pa/ƞusanas teṣṭi
duk wahuniṅsun ṣumĕṅka
//0 tiṇuna liwat swarane pinañji
saṅ maha munī kadya carita,
tina/ta wiṇḍaṙ kabeḥ
ṗalayuniṅ pañjĕmuṙ
hulatẗana wulikĕn kaki,
hamaniya buwaṇa
hloṙ kalawan kidul
ṗgati kulon lan wetan/.
śurajaya kaṇḍĕṅƞĕn wĕkasni bammi
pilihana kaƞ iya
ø ki surajaya mnĕṅ tanṗa li
daḋi mayoṅ rasaniṅ wṛdaya/
kewĕhan. ñana mirage
sumĕk maredanipun
ḋeniṅ sabḋa kag̈uṅƞan samiṙ
taṇ amisani daya
śwara hakweḥ karuƞu
praṗañca ti gawƞan
wiṇiweka ri daḷme wĕḥ harusit
kaṅ wṛdi heṅ wṛdaya
//0 paran wasanaṇiṅƞ aneṅƞ āṙdi
hanut lamṗa/ḥhira saṅ prasida
milwa hamriḥ tan wruḥ tgĕse
haƞiṅ maṇḍĕg aruƞu
sabḋa jaba tan tĕkeṅƞ ati
gĕṅniṅ cipta saṅśaya
sumewa tan ṗa/ntak
hanakan iśun luƞaha
paran ṗaraṇi raga ƞulati,
kapagiheṅ lamaran.
ø pun ṣurajaya haṇḍa pamit
hatya/ nuta kaṙsani wṛdaya
saƞṣaya wekaṇ iṅ rame
pṛanahaniƞ alaƞut
ṣriniƞ aṙdḋi wetaniṅ kawi,
saṅ hyaṅ raja prawwata
kaṙsaniṅ lumaku/
wṛtaṇiṅƞ anaraweca
kanuragaṇiṅ tapa sinĕƞguḥ lwiḥh
aṙdi tigaṅ sayana
ø akyenḋaḥ laƞniṅ saṅ kahiṣṭi
śṛṅg̈ara/ṇiṅ prawwatañaṙ ḍataṅ
pira lawasipun maṅke
haṙdy añaṙ pamuruju
niṙ tayā ṇañjala saksĕṣta
hyaṅ śuṙyya <śa>ma
prabawaniṅ guṇuṅ
ranak hya/ hati wikana,
pada hyaṅ giri mawana hapiƞit
hataṅgĕḥ pramuṙsita
//0 ki surajaya kamy aƞalaƞe
paṗa/ni guru yen atitaha,
iḍĕpĕn baṗa ƞoṅ maƞke
samṗun agyanakiṅsun
ḋaṇĕ maṙga duṙgama rasit
ramanta wañcak ḋaṙyya
lamṗaḥh eman ewuḥ
priṅgaṇiṅ bummi dwapara
hapramuka woṅ mako tanṗa kekeriṅ
pañcamantra deṇulaḥ
//0 ha/maksakĕn raṇakira lalis
ṗun ṣurajaya haƞadu titaḥ
saṅśaya midĕṙreṅ ƞāre
pasaṅtabya prasadu
manaḥ lan aƞudwakĕn kapti/
gĕṅniṅ jñaṇa ƞambara
tan kĕṇa pinĕku
laḥ bapa kadya ƞapaha
yen kita haṙśa hamoṅ menḋrane budi,
tulusakna g̈a/
ø aƞi pamĕkasiśun kaki
satata depunṗrayatna lamṗaḥta
yo kumaƞela
depunṗratameṅ smu
budi solaḥ kaky a/ja silib.
rehiƞ amet sadana,
paƞimuriṅ laku
samar amor amig̈na
balanira samatya nukṛtanīki
mwaṅ ka/kweḥha geg̈eyoƞan.
ø lamon samṗun. ṣwĕḥ hamo budḋi,
hanuwuki saṅṣayani raga
hanuti çipta karamen
haja ta/ṇn abaḃātuṙ
niṙ ta lamṗaḥ midĕṙr iṅ bummi
satatwa kakoçiwan
saṅ tapa haṅlaƞut
kasirihan ḋeṇiṅ jagat
sa/ƞ aƞeca tan wriṅ kramma hanak mami,
mnaṅ saṅ kadunuṅƞan.
ø dasa kramaniƞ alaṅlaṅ bummi
denṗunprayatna rinaya krama
rag̈anta denṗuwany aƞel
manawi kamṗiṙr iṅ ḍukuḥ
ṛgĕp ḋe nta kaṅ silayukti
priḥ cipta manehara,
solaḥta de/lus
ṣaṅgyakaruna denkĕna
ki surajaya depunwikan iƞ aƞīri
madura heṅ waçana
//0 manawy ana manaƞṣaheṅ gati,
nadya/n kita winehi paƞucap
sora na ṇorana palane
pesiƞgiḥhniṅ wuwus
ḋenṗrayatnaha ƞiriṅ budi,
raga denwa/ni haṇḍap.
yoganta haja śurud.
cupĕn wĕtuniṅ wiṣya
laḥ bapa hiƞĕtiƞĕt hayo taṇ eliṅ
denṗrayatna
ø samṗun tĕ/las ḋera mituturi,
hadan ṗamuhun ki surajaya
hatuṙ sĕmbaḥ taṇ aśuwe
maƞaṙcamaneṅ guru
hasmu kepwan cipta/ saƞ ade
tṛsna maƞun saṅśaya
manḋra kĕmbĕṅniṅ luḥ
sakweḥniṅ sanak ṗagoçaran
sami tṛsna kapulut rasaniƞ ati,
maṙma sapaƞu/bon.
ø aƞāmĕṙ lamṗaḥ datan apṛgi,
lwiḥ pyuḥ rasani daya kaṇḍĕg̈
tan wiṅ paranane
layat laris tan ṣurud
lamṗa/ḥhira ki surawani,
hapralalu hawak braja
mati huripa teṅ śun
hapan tan wikaniw anlaḥ
deḋine sarira lamon kapalis
laḥ kadi punapaha
ø śaḥ maṙmaniṅ manaḥ luris
wimuṙcitani wṛdaya
maṙgarum maƞuƞāṅ ƞare
katon ṗaparahipun
ma/nḋra lamat riṅ majapahit
koƞaṅ daṙme ḋaṙmañaṙ
ki waṇī hamuwus
mona ri daḷm ṗramana,
tuhw alaƞĕ gañjaranira saṅ waṇi
ha/soṙ darana manaḥ
//0 aƞantunantun laky amatitis
winiweka paraniƞ aƞeca,
śaḥ sakiṅƞ āṙdi lamṗaḥhe
ha/nut sadawataguṅ
maƞ√ mihat saṅƞ amoṅ kapti
sadagatya nambayaṅ
mrik ṣumaṙ kaṙdyatu
waƞini saṙwwa kusuma
liṙ manaƞoni rum./wuṙywaṇi kentaki,
lumraƞ anilanila
ø antwanta laƞĕni maṙga radin
hanut gĕg̈ĕṙ kawiṅkiṅ juraṅ
heṙtambaṅ/ śumyok ṣwarane
siraṅ ri kuƞkaṅ humuṅ
cuṅgareret muni hawanti
wany aƞuṅkuli maṙga
hane tahĕn ruhuṙ
haƞrik ṣwaraniṅ/ cantaka
liṙ makilayu sata halasnya saṅg̈ane
kady akon manoliha
ø puṗuk munya santun lan kaḍasiḥ/
caça mihat kadi magiraṅ
meñcya ne wṛksa guṅ mak
dya setra kukunyā mlas ayun.
ƞṛsna koci munya raraƞin
kokol kadya taƞara,
wilisan munya kuṅ
wṛgo mnĕṅ tanṗa waly
apiṇḍa kawƞan mulatan kawala girin.
wwaya tṗĕṅniṅ maṙ/ga
//0 lṗas lamṗahe ki surajaya
kweḥniṅ pradesa keriṅ kahaṙsa
śig̈ra tan ṣurud lamṗaḥhe
lumakw asaƞu bañu,
pi/raṅ dina luput iṅ bukti
hanḋuṅkapeṅ nagara
pnĕt ṣuku pyuḥ
hyaṅƞ aṙka dum tiga kilyan
tan kawaṙṇnaheṅ maṙgga lakunya la/kunya laris
ki surawaṇī pyuḥ kakeƞelan.
//0// puḥ buḃukṣaḥ //0//
taƞeha kawaṙṇaheṅ wu/wusṣ
aƞamo ciptamet laku
halasalasan kapaƞgiḥ
kalihan rasaniṅƞ ati
kadya maƞgiḥ paƞabtan.
lƞĕƞ a/lƞĕ hasimṗaṙ
saksna rerwan kaḷson
liṙ tanṗa jiwa daya woṙ
ø haliƞgiḥya samahaṙja
miƞkiƞākĕn bañu
hinupajara/ kabeḥh iƞ
anḋoṅbaṅ lan kayupuri
samipa ƞāna jamiraḥ
hajajaṙ lan ṗisaṅ tataṙ
jaƞgakasturī siliḥ/ rok
hamiḷt iṅ puçaṅ hanom.
//0 tuhwaṅniṅ paraṅƞan loṙriṅ ḍukuḥ
toyanya muñcaṙ haputiḥ
muni gumoroñjoṅ
haḷpniṅ wuƞkal. śwaranya suṅm
<gu>muruḥ hadṛs humili,
tumibeṅ paraṅroṅ
ø lalaƞon tinuṇḍeṅ wa/tu
pinarigi taṅ baḃatuṙ
taluktak munya ƞidĕri
tarate hasamaṙ sari
sarasija maƞun ṣkaṙ
masara ƞambyakĕn gag̈a
tameṅ rawit./saṅƞ agugon
ṗrataksa gawe lalaƞon.
ø siraƞ amuṙwwa ḍukuḥ
lalaƞṣaran sakiṅ guṇuṅ
haṅlampaḥ/hī haƞawasi,
nastiti tan lupeṅ sadi
nitya sagiṅ raka haparab
ki hamoṅraga liṙ moda
paƞuṅseni woṅ manohara
hambĕ/ke tan wiroda
//0 biniseka haraniṅ ḍukuḥ
riƞ adisukṣma rahayu
kaçaṙyyan ki surawaṇi,
lumitu/ hatwaṙṇani tulis
halalakon ramayana,
paṗateniṅ kumbakaṙṇna
śurasara ri palugon
tinub ḋeni wre tan katon./
ø kacakreƞ ulat saṅ mu
deniṅra saƞ apaluƞguḥ
wikan. yen ana taẗami,
sakṣana makwa mḋali,
ki wa/ṇi hanāwaḥ sila
wruḥ nayakaniƞ aƞeca,
taṇ aluhuṙ wacanasoṙ
madura sip.ta g̈inugon.
ø laḥ kaky aliƞgiḥha ta pukulun
ḋiƞaṙyyan saṅƞ amoṅ kapti,
tikaḥhi ḷson
saṅ bagya riṅ ḍataṅ hasmu kusut
hyaṅ kabayan wahu kamṗiṙ
pi/ṇḍaniṅƞ alamoṅ
//0 ki surajaya liṅnyarum
tan ṗoly atanya pukulun
karaniṅsun alalis
ṣaƞṣaya hamoṅ, saṅ kapti,
huni/ wwaṅ sakiṅ prawwata,
saḥ ṣahkiṅ saƞ adituwa,
haƞulati śwarani woṅ
tilasiƞ amriḥ lalakon.
ø ki hamoṅraga/ haluƞguḥ
byaksa saṙwwa pala ṇuṅśuṅ
lamṗaḥ ri saƞ añaṙ prapti
duṙyyan ṗijĕtan lan magiś
cacaḥputiḥ saśayadan
ḋibyakweḥ waṙṇani/ raka lyan
ta leleṙ kaçaṅƞ ījo
laḥ ta ḍahaṙ saƞ alamoṅ
ø samṗunya saji
pĕpḍĕk sami haliƞgiḥ
hanomma/nom wruḥ hiƞ apti,
tmeṅ dasaśila yukti
prasama wikan i naya,
haƞiriṅ krammaniṅ tuhan
ki hamoṅraga nya lon
hasamun tan ṗoly aḥ/takon.
//0 laḥ kaky atanḋuka skul
ḋenṗrapta gwaniƞ awantur
akapribudī hayo hajriḥ
densakca sa/pun gigesin
manawy akuṅ salaḥ rasa,
ki surajaya liṅnyalon
maka so kaṙyeṅƞ alamoṅ
ø samṗuniƞ aḍahaṙ taṇ asantun
boga wus binakta muliḥ
samy aniga kaṅ woṅ
kawoƞan hantiga hatanya śun
maṙmaniƞ aƞeca kaki
pajaṛn ta/teƞoṅ,
punaṗa bapa sakaniṅ murud
halalisakiṅ waṇadri,
ja<t>enana teƞoṅ
ø taṇn ana jarunanipun
kesa hatiƞgal. ra/hayu
tan wruḥ haƞapusi budi,
nipun mitra saƞṣaya kaki,
wikana krammaniƞ aƞeça,
wruḥha laƞniṅƞ aśramma
hapti/ wikana kateƞoṅ,
suka dukaniƞ alamoṅ
//0 riṅ guṇuṅ tanṗa baḃatuṙ
hamumuṭut kaliḥ tahun
haƞuratyani sa/ƞ adi¡,
kaƞelan kabuntaṅ bantiṅ
soṙ kaƞ ahutaṅ salaksa,
ṣarira dene kapyuḥhan
hudana panas linako/n
hamaṛkakĕn kaƞ adoḥ
ø riƞ ĕnḋi gwaniƞ aśurud
nug̈rahamet sabḋa hayu
manawi kakī ri wilis
hakweḥ kawruḥ/hiśun kaki,
riṅ kamṗud miriṅ maƞilyan
kabeḥ sanak ṗagocaran
riṅ niṙbayā kakĕn katoṅ
haƞupadesa/ kateƞoṅ
//0 sugut ḋenira muwus
mĕnĕṅ tumuṅkul saṅ tamu
śumimṗĕn wacana niki,
yeṇn aƞucapṗa riṅƞ ati,
ywakĕn sanak sahĕṇḍĕkan
tuƞgale¡ saki niṙbaya,
hamuwuśwaraniralon
manira ywaƞkĕn woƞ anom.
ø /añaṙ baya praptiha mumuṭut
ṗan iśun taṇ amnaṅƞi,
kapuƞkuṙ deniƞoṅ,
sawusiśun kesaḥ baya rawuḥ
hagante saṣaka/ praptīne
kawṛtane woṅ
kaliƞane sira kaṅ winuwus
kaṅƞ aparab ki surawaṇi,
jayeṅ sastra ṛko
//0 /ḍuḥ pasaṅyogyariniśun
bage masku yen rawuḥ
lwiṙ panuntuṇiṅ hyaṅ widi
kapṛnaḥ sanak sawṛti
reḥniṅ tuƞgal sapula/wa,
hagĕṅ rasane wṛdḋaya,
paran kawikananiƞoṅ,
halamī tan maṛk mako
ø lamon tan jaṇĕk īṅ guṇuṅ
ya/yī haja sira laƞut
haḍuḍukuha hi riṅki,
haja winalaṅƞ ati,
denira tan ṗaraṅ
malaṙ wwantĕna hiṅri wwaṅ
yen aḍahaṙ su/kĕt roṇḍon
sami kinĕmbulan maṅke
//0 akweḥ bayaniƞ haṅlaƞut
haja kḍik ṣukanepun
sarira/ yen samṗun. kṛti,
midĕra ṇuṅku bummi
hamet ṣukani raga,
tan katkan ṗan was titaḥ
priṅgadoḥ tan kĕṇa dinon
hapuwarā raga mayoṅ
ø siśip sĕmbĕṙ kaki laku
sira saṅƞ agugwaṇ ḍukuḥ
hakḍik ḋeniṅ kasilib.
lwiḥ mon sira bawa/ti
gaƞaƞlaƞlaṅƞ ḋenagaṅsaṙ
maka panudaniṅ mala,
tanĕm tuwuḥ sukĕt goḍoṅ
sañjataniƞ awiwikon.
//0 hĕ/nḋy aƞuṙ tapa saṅ tinut
haƞecalan abaḃatuṙ
norana dinum ṗiniliḥ
denira saṅ wus amagiḥ
luƞa puna/peṅƞulatan
bawatiya tanṗa sana,
haƞi tuƞgal sarine woṅ
nastiti juga linakon.
ø ƞḋi kaṅ duḋokna sa/mi laku
denira sa wruḥ hi sarīsa,
ulaḥhani woṅ
luhuṅ si mon wikan gĕlaṙripun
saṅƞ āmriḥ sidḋa kari/hin
saṅ lṗas tan katon.
//0 ki surajaya ta hyun
mĕnĕṅƞ amihaṙsa wuwusṣe
yen aƞuçapa riƞ ati,
prawikan aƞiriṅ
sa/tata maḍaƞi dḋaya,
śumiriṙ jñaṇa mihaṙsa,
tanṗa kĕliṙ śwara winoṅ
ki waṇy aƞukih hatakon.
ø /aḷp wijili pamuwus.
tulusakna pukalun.
pamilasani ra kaki
malaṙr aweta mumuri,
ḍuḥ yayī samṗun makana,
samṗun turida riṅ manaḥ
hadṙs waçaṇa teƞoṅ
hataƞgĕḥ denira lamoṅ
//0 hakweḥ wijili pamuwu/s
ḋuranḋun sabḋanipun
malaḥ śurup saṅ hyaṅ rawi,
laḥ yayī maƞko muliḥ
samī hasare riṅ griya,
samomno deniƞ amo<la> kĕ/n
hamoṅraga daya toḥ,
honĕṅ hañaṙ raka wanom.
ø saƞ apaliƞgiḥ wus mantuk
saƞ amoṅrasmī haduluṙ
prapti/ ṗammaranten kaliḥ
dḋawĕg̈ ta yayy amaranti,
tlas anjiṇaḥ sayana,
tiḍĕm titis we kirana,
prasama sare punaṅ woṅ
paḍa haduḋwan ṗa/turon.
//0 ki śurajaya hanuṇuṅśuṅƞ isun
holiḥhira ƞurateni,
jatenana teƞoṅ,
manawī kapra/cayeṅ pamuwus
rakanira guru hari,
mapan lagī mayoṅ
ø ki surajaya hamuwus
ṗunapeṅƞ ucapukulun
maṅsa murudā pun. yayi/
maƞgiḥha waraḥ jati,
saṅ gurw aƞuñci waçaṇa,
satata riṅ wƞī nala
tan ḋata jaty awaraḥ daṙmma tos
hasewa kami ta/nṗa don.
//0 tan lyan ṗaśraniṅ pamuwus
ṣaṅƞ adi waraḥhiṅśun.
haƞiṅ wirati kikin
sarira pinatīpati
ki hamoṅrag̈a wacana,
haƞel natara lumkas
wiratī haƞi linakon
saṅkaniƞ amaƞgiḥha don.
ø nora lyan sira la ri śun
ri kunā/ dwaniƞ aṅlaƞut
haƞ√kiḥha sewaka hamriḥ
raina wƞi hakurati,
haṅlakoni habeta ḍaƞan
hamriḥ wƞiṇiṅ wacana,
haƞukiḥ ka/mi hatakon
kula hilaṅ budi hasoṙ
//0 tan ṗwaly aƞukeḥ palakwa
hamit ƞoƞ asanā batuṙ
habhaṛp. ḍu/kuḥ pribudi,
ḋady ana ma<ƞa>mĕṅ kampiṙ
tlas kaṅ wukiṙ sagara,
hanḋum amidī riṅƞ amṗaḥ
haṅlamoṅ tan aṙsa gug̈on
raga kasihan linakon.
ø /putusi parasa wus aḷmbut
niṙ kapiƞgiƞaniṅ tawi
tatwani lalakon
limṗadḋiṅ kagunan samṗun
cakṣyuḥ salokagama/, pinaṣṭi
ñumanaṇe katon.
//0 irika gwaniƞ anmu
sajatya wa hiriṅśun
tatyaniṅ buwaṇa rusit
ḍapuṙriƞ aṇuṅ winasit
ṗupu/siṅ waṙṇna wiśeśa,
witaṇni sabḋa rinasa,
wṛcitanira sa manon
hamuṙwwa gawe saṅ katon.
ø maka pawini/hanipun
saṅ meƞĕt ḋatan katuduḥ
ḍuḥ śwapa wikana kaki,
wulikĕn ḋepunabaƞkit
sira saṅ wasṗadeṅ tiƞal
nis.taya wruḥha riṅ sira,
kawasa hānon tan tinon
huripiṅ jagat saṅ manon.
//0 rakaṇira kaky aṇuśuṅ
wṛty aguru rakwa teśun
kawƞan ra/saniṅƞ ati,
denira wasṗadeṅƞ urip.
wruḥ ṗamkasiṅ waçana,
hawaraḥ jatiniṅ rupa,
tumon bakti heṅ raṙrw aƞon
lamon karuhan ka de/n ƞon.
ø haśuwe nora katmu
yen ṗitĕṇn iṅ luhuṙ guṇuṅ
denṗuraṅ waṇiy aƞliḥ
samṗun iƞucap tasaktīn
sawaniḥ/ tuƞgaliṅ bawa
jñaṇane hapaliriƞan
haƞalusa waṙṇnanya woṅ
milu prahiƞ awiwikon.
//0 ragane paṇḍita rupa wiku/
hasamaṙ mmanahe cliḥ
walaka tan katon
tan ramṗĕdakna kakī laku
rag̈a ḍewek ṣun wañceni
tan mulateṅƞ adoḥ/
ø ki surajaya śumahuṙ
hakḍik siṣipāṇiśun
manira kaky aƞulari
waniḥ saṅƞ atakitaki
hakweḥ wiku nora tapa,
walakā waṙṇna/ paṇḍita,
bawane depungawe soṅśoṅ
budeneku hakaki cloṙ
//0 nora lyan ḋenagu ha/g̈u
sagupnya numbak anumṗu
tĕguḥ kaṅ denrasani,
pulukĕt lawan ṗaciṙ
lwiḥ lamon kasaḍaƞan
ḋaluwaṅ taṇ iƞ unaƞa
kala wisaya winowoṅ
laku tapā sayakty adoḥ
ø norana kapahenipun
riƞ are lawan ri guṇuṅ
maƞka/naha saṅƞ āƞawasi,
ṣatata guƞakĕn waṅsit
ẗaṇ atut gĕlaṙ ñumana,
habaḃaru holiḥ sa wulan
milu haƞrasani kuwoṅ/
raga winastu tkeṅ don.
//0 pari polahe tan ketaṅ
pañcanḋriyane śumaput
hamilt amig̈nani/
tṛṣna lulut aṅranĕhi,
ƞāśiḥ lulut aṅrajaḥ tamaḥ
ragaṇe dengawe hedan
midĕr aƞon ṗujañ caron
hamet u/taṅ gawenya woṅ
ø yeṇ ana lbaḥ hasuṅśuṅ
puṗuji manahe koñjuk
ṗaksa munaḥ danakitri,
hapan tu/ƞgal sakiṅ pṛtiwi
syapaweḥ sapa sinuƞan
tuƞgal. wṛtiniṅ sarira,
mantraṇe lamon aƞeṇḍoṅ
sariniṅƞ imul ginu/gon.
//0 kaliƞane kaki laku
saṅ wruḥ pamĕgatiṅ wuwus
makiṇn ajana hiƞ isṭi,
taṇn ana winas./tu lwiḥ
punapa ƞelaṇiṅ śabḋa
pan tanṗa saƞu sayatra
haja ƞucap. dḋene katon
kukuse mlĕk sakiṅ doḥ
ø utamaṇiṅ tapa mo¡n katmu
galuga hasuśun sari,
nari taƞ āmriḥ don
hakweḥ wwoṅƞ aƞucap laṗat lĕbut
haƞi/ si tan aṇāniṅ bukti,
raga tumoṇḍol
ø ki surajaya liṅnyarum
wus kramaṇiṅ woṅ tumuwuḥ
suka dukā manaḥ niki,
samṗuṇiƞ uniƞa ka/ki,
balikan tulusṣakna
haywa miroṅ
śuda rasanyatiniƞoṅ
//0 haja saƞṣaya hariśun
malaṙ kapaƞgiḥ/ya ḷka
saƞkaneƞ ati wiƞit
samṗunya yayi walaƞ ati,
salaḥ tuƞgal kawasaha,
rakaṇira milw abuƞaḥ
haƞĕntasā śarirani/ƞoṅ
mewĕḥ hulaḥ riṅ wwaṅƞ anom.
ø tanṗa kliṙ denya muwus
wĕƞaṇiṅ daṙmma rahayu
ki hamoṅraga sujati,/
ki waṇy arisun kaki
taṇn akweḥ sabḋa ƞuniƞa
swapa witi kamoksaṅkan
ḋuk sira humori saṅ katon
taṇ adoḥ pṛnahe/ koṇno
//0 siramriḥ śabḋa rahayu
hapan sira yayi wwitīpun
bapaneḥ lamon kasilib
ṗan sara/ witira sanḋi¡,
śwapamet ṣwapeƞulatan
tuƞgal wijiliṅ sarira,
kaƞ akweḥ bapa makwa niṙ don
magĕṅ pamastuṇiṅ kuwoṅ
ṇ kamulaṇi_ ky aharanipu
śarirakna ywa kumuḥ
puṇika wṛdinĕn maneḥ
patitisniƞ √ri
paṅrupkiṅ tigamaya,
sari/ra tan kakĕmulan
koruƞan maṅkin tan katoṇ
niṙ sakiṅ jat mur adoḥ
//0 madyaṇī wƞi yasapun samun
tiḍĕmniṅ sakutukutu
ki sura/jaya mamaƞgiḥ
mas miraḥ komala manik
winaraḥ jatiniṅ sabḋa,
taṇ aƞel wus katarima,
katmu saƞṣayanya/ woṅ
musṭikaniṅ rag̈a winoṅ
ø tan koṇiƞaheṅ pamuwus
ri wƞi paƞucapisun
ki śurajaya winisik
ḋeṇira ki hamoṅbudḋi
hnĕṅ/ƞakna saksana,
gantyaṇiṅ jñaṇa ƞambara
hanḋalame śwaranyawoṙ
dḋorani kawy apet laƞon.
//0 ki daṙ/mmakawi waly anaṇeṅ śun
saśomaḥ tan lyan kahisṭi
ki hamoragadoḥ,
alami tan mareṅ ḍukuḥ
satahun tanṗa tutuwi,/
honĕṅ brata wiro
ø awuƞuhā anakisun
ṗarawan aja boturu
hataƞī ni tejasari,
haṅlusṣ a/mimiru wastra
hamuwus tan karakasa,
grahita rasaṇiṅ manaḥ
hapiṇḍa maras kateƞoṅ
sarira lupa tan wri ton.
//0 a tutuṙ śupnanipun
haƞipi hala katesun
ṗaraniṇ ipenira nini,
haƞipi hana woṅ prapti
hamaya naga duk./ tka
hatma<ha>n wulan
lagi haburu hiṅri ƞoṅ,
hamiḷt ḋadi tan katon.
//0 haparan waṙṇane woṅƞ iku
paṇḍita hanomm a/bagus
jatmika solaḥ niki,
kajahit rasaṇīƞ ati¡
wṛtinya nukṣmakĕn riṅma
tan tutug̈ ḋenya wacaṇa,
hanuli/ luƞa tanṗa wot
haƞalamalami panon.
ø ana den saƞṣayā hanakīsun
ṣupnanireku nini,
laḥ samunĕn maƞko/
wus aja sinabḋa kaṅ puniku
dulurana sakiṅ bakti,
puja brata winoṅ
ø kantuna kitanakiṅsun
maṇira tiñjowa/ ḍukuḥ
halawas kakaƞira nini,
halawas iśun tan ṗrapti,
mara heṅ ki hamoṅraga,
hagug̈wan iƞ adisukṣma,
halami ƞoṅ taṇn ani/ñjo
karuƞwa laba ki hamoṅ
ø baṅḃaṅ wetan ṗun titimuṙ
ka sata kukuluyu
haśraṅsraṅƞan ṣwaraniki,
hasaƞga/nī paṛṅ muṇi,
śwarani paksi hamijaḥ
humuṅ swaraniṅƞ agĕntaṅ
riṅ taṇī rahina maƞko
sumiḷb wintaṅ tan katon.
//0 paḍa babaṙyyan tumurun
sakweḥniṅ para maƞuyu
hamet bras mariṅ ra taṇi,
kakasinomanya halitẗalit
ṗrasama mikul gaba/ḥhe
saśomaḥ paḍe mṛdḋana,
hatak winaḍahan wajoṅ
hatut maṙga g̈uguyon.
//0 tan kawaṙṇnaha lakune riṅ/ ƞnu
praptī ḍuśun taṇ asari,
panaban kalakon.
meh anḋukap ḋe salamṗaḥnyasra
haduḋwan ṗaran maṅkya gli/s
ki maƞuyw adoḋol.
ø ki skaṙṣara liƞipun
laḥ rowaṅ samy dum wayu
hajana winalaƞ ati¡,
manawa teṅsun karihi
sa/laḥ tuƞgal ṗṛgiya,
paḍa pagut ṗaƞubaya,
ki skaṙṣara karoron
lan ṗalaƞane maƞko
//0 /lumṗaḥ hanut gug̈uṇuṅ
tgal ṗriƞga tṛjuṅ
kaduṅkap bañjaran iki,
prapti ḍukuḥ sig̈ra nuli
kapaƞgiḥ ki surajaya,
haliṅ/ƞgiḥ hamaṅku pada,
gaṙjita manahe tumon
hana pasabḋanya maṙmalon.
ø ampiṙ biḃi kateśu/n
ḋi sanakapukuṙ
ranakta tanya hajati¡,
sumahuṙ saṙwy amaranti,
tan ṗolwa tanya hiri wwaṅ
hagug̈wan saṇeṅ rajuna,
dwan iśun mara ṅke maƞko
hasaśahosṣa ki moṅraga
//0 ki surajayaglis makin tut
majaṙ yyen aṇa tata/mi,
tu...maƞka mdali
ki hamoṅrag̈a liṅnyaris
ḋiƞaṙyyan ṗunapa kaṙyya,
hagĕṅ rasaṇī wṛdaya,
halamī tan mareṅ ri/ ƞoṅ
taliƞni baya rasadoḥ
ø masamṗun sinambramā saƞ asuguḥ
tumahap ka boga pṛg̈i,
wusnya baksa ma/ƞko
ki surajaya hamoƞ aluƞguḥ
ri sira saṅ maka ti,
tṛpti dayanya toṅ
//0 aglis ṗaƞucapaṇiśun
saṅƞ asgĕḥ pala/ wibuḥ
tiga rasa cumariciṅ
laḥ ta muçaṅ saṅ tami¡,
samṗun tumahap i jiwa,
hamuwusṣa wahu praṗti,
hatatanyā/ swaranyalon
ki surawaṇī pṛnaḥnya takon.
ø aḷp wijiliṅ pamuwus
hañaṙ bayā sakiṅ guṇuṅ
hapuṗuḍe mareṅ ki/
sumahuṙ ki surajaya,
tan ṗoliḥ deṇiƞ ataṇya,
ranakta woṅ katalaya,
haƞumbara raga winoṅ
ha/met saƞṣaya kalaƞon.
//0 ki hamoṅraga hamuwus
wiƞi sontĕn iku rawuḥ
kaƞlihan lamṗaḥnya ƞliḥ
maṙmanya rereṇ iṅ riki,
manira ƞalaƞi lamṗaḥ
reḥ woƞ anomm aƞeca,
baya duṙgama linakon
maṙme la/mṗaḥh ataƞgĕḥ ƞoṅ
ø halawas ḋeniƞ amaƞun
tĕ biƞi kaliḥ tahun
sarira duka kaseśiḥ
nastapa saṅkaṇiṅƞ alit
katigal iṅ/ bapa hibu
naraka kasuraṅ śuraṅ
hatuwa midĕr iṅ guṇuṅ
hawakiƞoṅ
//0 wasṗada pratameṅ smu
pamuniṅ janma/ lawu
satriya ƞuƞṣi waṇadri,
ḋi pradesanīri
kina duk aneṅƞ amṗaḥ
ki surajaya wacaṇa,
majyapa<hi>t saṅkaṇiṅƞoṅ
haƞiṅ ta/ biḃi tanṗa don.
ø sapa ta kakī namantā tanya śun
warahĕn kamī denjati,
saƞṣayatiniƞoṅ saṅ tabe/
paƞeran ṗati kutu
ramanira saṅ halali
swape ƞaran karo
//0 sira mṗu sakala tuha
niṅ jatī, haraṇiƞ ibu
ma/nira heliṅ tan eliṅ
halit wayahiśun kari
pjaḥhera ramaṇiṅwwaṅ
ni maƞuyu tbaḥ jaja,
luḥ mijil manaḥ/...n wriṅ kon
kadya ƞipi ṗolaḥnya woṅ
ø ki surajaya hamuwus
ṣaƞṣaya biḃi twas iṅśun
ṗunapa dyani luḥ mijil
ṣumahuṙ saṙww anaƞis
ṗulunaṇiśun sira,
ramanta kapṛnaḥ sanak
ḋuk. buḃaṙr iṅ jro kaḍaton
ramanta pisaḥ/ lan maƞko
//0 duḥ bag̈wa kita hanakiṅsun
kapaƞgiḥ sira riṅ ḍukuḥ
liṙ panutuṇiṅ hyaṅ widi,
laḥ bapa miluheṅ wukiṙ
haba/ḃatuṙra heṅ rika,
hakweḥ pasanakaṇnira,
hatuluƞa sukĕt roṇḍon
samṗun kaky alamoṅ
ø Apakah aku tidak akan berbuat apa-apa
jika engkau mengaku
orang yang menderita sengsara.
Jika engkau tidak sudi,
duhai, Nakmas, benar-benar
semakin menderita sengsara saya, sayangku".
"Nah, marilah (kita) pergi, Nakmas, anakku,
selagi (....?) berjalanlah perlahan".
ø Segera (Surajaya) pergi setelah minta diri.
Ki Hamongraga menghibur,
"Adi, bersabarlah".
Ki Surajaya minta diri, lebih dahulu
menghaturkan sembah bakti.
Suaranya perlahan,
ø (Hamongraga),"Jangan berlama-lama adikku,
janganlah tidak kembali,
masih rindu aku.
Sudahlah, hati-hatilah, Adi".
Surawani minta diri,
lalu pergi, jalannya perlahan.
// 0 // Pupuh Hartati // 0 //
Cepat jalan Ki Surawani,
telah jauh tertinggal Adisukma.
Sampai di jalan besar langkahnya dipercepat.
Indah sepanjang jalan,
matahari baru saja condong ke barat.
(Ia) berjalan kepanasan,
karenanya berteduh pada dedaunan pohon,
di tepi jalan. Terkuasai
jurang-jurang terjal. Ia pergi dari perkampungan, berjalan
sampai di kaki gunung.
ø Hutan dan jurang sudah terlewati.
Rimbunan pohon kayumas berjajar
di tepi jalan, meluas.
Pohon-pohon memprihatinkan keadaannya,
kacau balau oleh angin.
Sulur-sulur jangga dan katirah
membelit pohon
suwarna, sedih kelihatannya.
Ki Sekarsara berkata sambil tertawa keras,
"Kakang bersumpinglah".
ø Ki Surajaya tersenyum, menoleh,
diberi daun dan bunga sanggalangit,
Ki Sekarsara yang memberi.
"Berpura-pura seperti kera, adikku,
memberi daun dan bunga sanggalangit.
Engkau bersumpinglah pula,
kakang tidak ingin (bersumping).
Ketika sedang menahan diri,
seorang wiku yang sedang mengusahakan tapa dengan keras keinginan bersumping itu (sama dengan)
menghidup-hidupkan indriya".
ø Harum angin menebarkan (wangi) bunga.
Hujan menghilang. Tertiup angin,
mega-mega menyebar
bergerak dan bergeser menebar.
Agak gelap, matahari tidak tampak,
bianglala tampak di timur.
Hujan gerimis, halilintar menggelegar.
Burung cantaka terbang tergesa-gesa,
(berbunyi) sayup-sayup di langit seperti menangis
mengharapkan derasnya hujan.
ø Lamalah jika diceritakan perjalanan itu.
Sudah terlewatilah tempat yang tentram itu.
Jalannya cepat tanpa istirahat,
Ki Surajaya berkata,
"Mana desa yang terlewati?".
Ni Manguyu berkata,
"Benar-benar terpencil
yang diinginkan desa Madana".
Dengan segera mereka berjalan, hampir sampai di Sitiputih ,
dengan tidak memperhatikan ia bertanya,
ø "Sepertinya ada desa terlewati
mempesona, peninggalan orang terkemuka.
Apa nama
pertapaan, itu?".
"Samering namanya, Ngger,
di sebelah timur Petungrata,
sebuah pertapaan besar
menuju ke Wanapala".
Sesampainya di taman, jalannya terhuyung, perlahan,
capainya kaki menimbulkan kesulitan.
ø Sampai di rumah ia tidak duduk.
Ki Surajaya berjalan hati-hati,
Ki Sekarsara kemudian berkata,
"Silakan kakang terus saja.
Kakang Surawani salah sangka".
"Adi, jangan begitu
karena maksudku
menuju kepada dia yang memelihara keindahan".
Seperti mendapatkan jalan Ni Tejasari,
remuk redam hatinya ketika menatap (Surajaya).
ø Jika siang hari perasaan batinnya ditidurkan di hati,
menjadi kenyataan isi mimpinya.
Sama wajahnya, sungguh tidak masuk akal.
Bertindak hati-hati, hati pun hancur lebur.
Hati Surajaya bergetar
karena cinta asmara, hatinya tergelincir,
roman wajahnya serba salah(?).
Ni Manguyu berkata,
"Tegurlah kakangmu, Ni Tejasari,
persilakan (dia) untuk makan sirih.
ø Jangan salah sangka, Anakku,
dia saudara misanmu.
Dahulu ketika di lembah sana
saudaraku dekat
berputra seorang laki-laki,
yang ditinggalkan wafat.
Itulah sebabnya ia (Surajaya) ingin mati.
Kami berjumpa (dengannya) di gunung (lalu)
Ki Surajaya kuajak kemari.
Hendaklah kau ketahui (hal ini), Nini".
ø Kemudian (Ni Tejasari) menyerahkan perasaannya dengan cara melakukan tugas yang harus dilakukan kepada Sang Tamu,
agak malu karena tadi menatap.
Bingung tidak tahu apa yang akan diucapkan.
Tidak antara lama kemudian
Sang Gadis berkata lembut,
salah duga pikirannya,
tersenyum sambil berkata,
"Tenangkan hati,
silakan makan sirih, yang mulia, sebagai jalinan kasih
ikatan persaudaraan".
ø Ketakutannya dalam ucapan (menimbulkan) kemanisan yang menyegankan.
Pertanda mereka yang sedang berhadapan tampaknya
baru saja menjadi kuat (ikatan) jiwanya.
Ditangguhkanlah hasrat asmaranya.
Hyang Asmara mengganggu dengan cinta.
(Mereka) sama-sama terkuasai rindu,
disatukan perasaan batinnya,
benar-benar sedang sakit.
Surajaya masakan urung melakukan tapa
mengelilingi bumi.
ø Ki Surajaya menerima tanda penuh arti
(dengan) mengetahui ucapan salam (Tejasari).
Bergetar rasa hatinya.
"Jiwaku (...?).
Sapaan manisnya tercampur pada kening
yang selalu bergerak cepat sulit diatur,
dihiasi dengan tawa
dan isyarat mata bertujuan menarik perhatian, membangkitkan pesona.
"Sangat berterimakasih kakangmu ini, Nini.
(Aku) menerima kehormatan".
ø Ki Sekarsara bertanya mendesak
karena si ayah (Ki Darmakawi) tidak tampak:
"Si Adi pergi kemana?".
Tampaknya mendengar langsung
akan ucapan itu, lalu segera (Ki Darmakawi) pulang.
Ki Darmakawi melihat
ujudnya Sang Tamu.
Turunlah Surajaya.
Dalam hati Ki Darmakawi tahu, berkata halus,
"Duduklah Pangeran".
ø Ki Surajaya menunggu
kemudian menghormat kepada pamandanya.
Ki Darmakawi kemudian berkata,
"Selamat datang Sang Tamu,
dari mana asalmu wahai yang punya kehendak?".
Berkata Ki Sekarsara,
nadanya agak keras,
"Tidak kenal kepada keponakan sendiri!".
(Ki Darmakawi) diberi tahu tentang asal mula Ki Surawani.
Ki Darmakawi tertegun.
ø "Apakah tidak ada kecocokan denganku, Nakmas
jika berniat untuk menjadi teman dalam kesusahan?.
Tinggallah di sini,
dengan segala keterbatasannya".
Setelah itu kemudian ia segera menyuruh memasak makanan (?).
"Nakmas, silakan makan;
makanan sudah dihidangkan".
Ni Tejapuspa ada di rumah,
memperhatikan dari rumah dari balik penyekat,
matanya mengintip.
ø Ki Surawani tahu akan hasrat,
pada penampilan Ni Tejasekar.
Air mukanya tidak terlalu kentara
tingkah lakunya tampak
kalau bingung hatinya.
Sadar kalau ditatap
tetapi (Tejasari) pura-pura tidak tahu.
Tidak mau tampak kentara
kalau terpesona, penuh hasrat, hatinya terpikat.
Tampaknya tidak berhasil maksudnya itu.
ø Dapat menyembunyikan perasaan hatinya
dia yang menyuguhkan makanan dengan penuh perasaan.
Perasaan cintanya sebagai pengiringnya.
Muncullah Si Gadis cantik
dari dalam rumah dengan mata mengerling.
Ki Surajaya menyongsong (pandangan)
dengan raut wajah serba salah,
khawatir kalau-kalau kentara.
Hatinya yang kacau disembunyikan, ditahan dalam hati
roman mukanya (juga) tidak kentara.
ø Hancur perasaan hatinya, gugup penuh rahasia.
Keindahan yang ada pada penyair hilang tidak berguna,
kemahiran pun musnah tanpa hasil.
Berkata-kata hatinya (Ni Tejasari),
"Tidak seperti badan ini
mati jika (aku) tidur. Tidak
mendesak hati untuk bersatu
tidak baik kalau dipagari dan dibatasi dengan "turus".
Tidak tabu, siarkan cerita ini meski pada lempir yang telah ditulisi".
Lembut, tersenyum (Tejasari) pada saudaranya itu.
ø Demikian kata hati Si Gadis,
sangatlah besar cintanya. Dia yang berhasrat
bingung tidak terkira pikirannya
seperti mati lemas
terkena cinta. Yang dicintai di hatinya
adalah penyebab mimpinya itu
terus menerus tidak surud
meski dia saudara dari rantau.
Ki Surajaya merupakan teman yang tepat untuk mati
(demikian) kata hatinya.
ø Jiwa pun kacau pada mereka (?) yang sama tujuannya dalam kehendak.
Raga menjadi lesu pada mereka. yang terkuasai asmara.
Sulit untuk dipisahkan, tidak terkendali.
Pudar matahari, tenggelam.
Malam. Hilang cahaya matahari.
"Surajaya, tidurlah
di balai-balai, Anakku,
dengan Ki Sekarsara.
Kakangmu menemani tidur".
Ki Darmaguna pulang.
ø "Ki Sekarsara hiburlah hati ini".
"Nah Kakang, engkau tidurlah.
Ajarilah (aku)
menembang, melantunkan "kakawin" ,
aku senang. Kakang
mahir dalam mengidungkan bacaanbacaan.
Ajarilah aku".
Ki Surajaya berkata,
"Kakangmu ini, Adi, sebodoh-bodohnya orang di muka bumi".
"Engkau mengelak!".
ø Kemudian (Surajaya) mulai melantunkan kidung
"gula wuluh". Hati terkuasai rindu.
Indah mempesona suaranya,
sehingga orang sangat ingin mendengar.
Barang siapa mendengar (suara itu bagai) tersayat hatinya,
terharu menyayat hati,
kesedihannya disembunyikan.
Kagum yang mendengar,
tidak bisa tidur orang-orang yang mendengar, (mereka)
ingin melihat wajah (yang sedang mengidung).
ø Diam, terpesona, hancur hatinya.
Menimpali dengan kata-kata Ki Darmaparipta,
berkata sambil tersenyum yang meluluhkan
tertuju pada dia yang berhati bodoh(?),
diperindah oleh Ni Wasi.
Darmaguna berkata,
"Nakmas, selesaikanlah.
Saya tadi mendengar.
Tampaknya kidung hasil gubahan itu baru.
Luar biasa!".
ø Di tengah malam ucapan dia yang unggul.
Ki Surajaya muram hatinya,
kentara dari segala tingkahnya.
Kesengsaraan raganya yang diingat,
tidak mempunyai tempat tinggal menderita sakit cinta,
batinnya tidak pernah merasa senang
seumur hidup.
"Kini hatiku merana
jiwa terpesona pada perwujudan yang menyegankan
semakin tidak sabar saja.
ø Berapapun perolehanku bertapa
tidak akan berbuat rendah. Malahan akan hilang
jika melakukan perbuatan dengan tidak tenang
tidak mencapai tujuannya menjadi wiku".
Padahal terlanjur sengsara, badan lemas.
Pendapat hati,
menghalangi laku.
Banyak hal yang menjadi sebab urungnya tapa,
ada pada rasa cinta, menyusup dalam cinta asmara,
dorongan hati dilawan.
ø Dirasa-rasakan tidak tidur sepanjang malam.
Jika memikir-mikir buruk baiknya perbuatan,
terperhatikan semua
sebagai laku yang paling baik.
Ia (Surajaya) ingat kepada Sang Guru utama yang memberi pesan,
kini terasa pada raga.
Tanpa mendengar suara,
menyusup di hati tidak jauh
yang selalu mengingatkan tujuan baik yang rumit.
Kini (aku) mendapatkannya dimana-mana.
ø Dahulu ketika aku baru saja datang,
dia yang sempurna menahan(ku).
Batin tidak ada yang menyimpang,
satu tujuan kepada kebaikan.
Meski dipikirkan oleh para perempuan
hatiku tidak goyah,
tidak menginginkan perempuan cantik.
Ni Rumita kasihnya berlebih.
Ni Warna selalu memikirkan (Surajaya), membangkitkan hasrat.
Ni Taki tergila-gila,
ø bertekad turut untuk melakukan percintaan.
Ni Rumita mengganggu perjalanan.
Ni Warini seperti kanak-kanak
yang sangat ingin turut.
Sangatlah besar rasa kasihnya, tidak aku perhatikan.
Pada pendapatku agar terus menerus
sempurna berpikiran baik.
Kini menjadi salah tujuan.
Cinta persaudaraan kuputuskan". (Surajaya) selalu
berbicara dalam hati.
ø Dihibur-hibur hatinya, tidak nyata (hasilnya).
Mendesaknya hati melewati batas.
Sepertinya simpang siur pikirannya,
antara baik dan tidak baik.
Kini malam hari tidak dapat tidur,
Ki Surajaya merasa kesulitan
mengendalikan keinginannya.
Hati gelisah
pula penampilannya terkena cinta asmara.
Sang Gadis dijelmakan kehadirannya (dalam angannya) .
ø Kesunyian orang tidur, tidak ada yang terjaga.
Ki Darmakawi tidur dengan istrinya,
nyenyak tidurnya.
Ki Sekarsara tidur,
mengigau merintih-rintih.
Tersenyum Ki Surajaya.
Malam ia tidak tidur.
Membanjir munculnya pertanda
sudah bersatu jiwanya, bercinta
dengan Ni Tejakusuma.
ø Munculnya godaan terus menerus.
Ki Surajaya tidak merasa nyaman
seberapapun usahanya kini
desakan yang lain menguasai.
Diperhatikan Si Gadis yang tajam roman wajahnya.
(Surajaya) sangatlah terkena asmara.
Malam hari jiwa Ki Surajaya tidak tidur.
Bantal basah karena air mata yang menetes
di pipi, mengalir.
ø Mendesah, tidak dapat tidur,
wajahnya menelungkupi bantal.
Derasnya air mata mengalir.
Jelaslah bahwa badanku
besar penghancurannya yang mendatangi yang tidak senyatanya
sebab raga tidak patut dicontoh.
Kini mendapatkan kehendaknya,
kebetulan sanak saudara.
Dimana pun (aku berada) (aku) diberi luka hati
yang menembus tiada terkira.
ø Reda air matanya, diseka tidak ada yang tersisa.
(Jika) mengikuti hati akan tiada akhir
bertindak tidak terpuji dan bodoh.
Kemudian ia mencuci muka
supaya lenyaplah rasa rindu itu.
Sepertinya bingung, menyimpang,
remuk, pikirannya lesu
tidak ingin berhasrat kepada gadis itu.
Kutinggalkan bila sungguh tahu caranya.
Alangkah suci murninya.
ø Anak muda tahu tempat untuk menunggu
tidak malu jika pun tertangkap basah
sirihlah sebagai alasannya (untuk dapat bertemu).
Ia (Ni Tejasari) memakai "kampuh" berwarna putih
bergambar indah, kain rangkapannya berwarna hijau.
Dibiarkan telinganya tampak
semakin cantik , wajahnya ayu.
Dia muncul sambil membetulkan lipatan wiru kainnya,
jalannya agak membungkuk(?), merasa malu
hatinya bercampur takut.
ø Cepat jalan Si Gadis,
menghaturkan sirih sebagai alasan berhasrat akan saudaranya itu.
Seperti gula cair, manis kata-katanya,
seperti lautan madu.
Isyarat dia yang baru saja datang
sesuai dengan keinginan jangan (...?) tidur.
Ada pencuri menerobos pada malam hari.
"Kau bangunlah,
wahai orang yang baru diinisiasi".
Sayup-sayup terdengar (suara) dalam mimpi.
Sekejap baru saja terlelap Ki Surajaya terjaga,
kacaunya hati jadi bingung.
ø Hilangnya jiwa nekad untuk mati.
Diam memikirkan tindakan (yang sesuai dengan) hatinya.
Ki Surajaya tidak tahu keadaaan.
"Ni Tejasari sayangku,
kakangmu ini tidak urung mati,
menjadi makanan Batara Kala
karena munculnya tidak pada saat yang baik.
Ada apa (kau) datang?".
Ni Tejasari semakin mendekat,
"Saya ingin bertemu.
ø Ki Surajaya, kakangmasku, Kakang.
Ada sirih racikan seorang gadis".
Diterima segera (pemberian itu)
digenggam tangannya (Ni Tejasari).
Surajaya berkata halus,
"Si Kakang menerima
sirih pemberianmu,
tetapi masakan dapat dibayar kembali".
(Surajaya) terkena asmara, tanpa melepas tangan
tercampur dalam kata-kata rayuan.
ø Berdesah seperti tanpa daya,
remaja yang baru saja menginjak dewasa itu,
gadis, cantik wajahnya.
Ia hampir menangis, berkata,
"Alangkah baiknya jika abadi kasihnya".
Surajaya berkata
merdu suaranya,
"Kacau rasa hati ini
karena (kita) bersaudara misan (mestinya) tanpa halangan
tetapi lain dalam hal menahan nafsu".
ø Kehendak hati mendesak, tidak nyata.
Ki Surajaya seperti memangku,
menggebu-gebu rasa cintanya,
melakukan persetubuhan,
dengan hati penuh gairah, sambil menciumi
Sang gadis terkuasai.
Setelah sadar kembali kemudian ia mengingatkan tentang
keadaan sesungguhnya yang diperbuat.
Menjauhnya pertanda, kembali (mereka) berbuat baik yang diperhatikan.
Semakin sengsara raganya.
ø (Surajaya) melepas (pelukan) disertai kata-kata,
"Yayi mas, juwitaku,
(....?) (aku) Yayi.
Kini apa yang sebaiknya kita perbuat?.
Menikah denganmu, Yayi,
meski dihalang-halangi?.
Jika pun (perbuatan kita) dapat ditiru,
sungguh luar biasa akan dikatakan orang;
seribu tahun akan dibicarakan dengan tidak baik.
Hal itu dapat diduga.
ø Maksud hati melakukan hal yang sulit, akhirnya sungguh terjadi.
Ki Surajaya hampir tidak berdaya,
dari kata-katanya tampak semakin terjerat.
Khawatir hatinya
bahwa ia melakukan perbuatan yang tidak seharusnya (dilakukan).
Semula ketika aku naik (ke gunung)
itulah yang dipikirkan,
ditinggalkan ayah ibu,
dahsyatlah nestapanya badan; (lagi pula) selalu
dijauhi sanak saudara.
ø "Jangan sampai lupa, salah satu
bangunkan, Yayi, kesadaranmu.
Sebab tidak terampuni
jika nafsu diikuti,
luas tidak ada akhir kasih.
Jika engkau kelak menikah,
aku membantu.
Tetapi masakan terlewatkan
jika memberi hadiah sebagai pembeli "kain ragi" (?) (dan),
menyumbang "lepana".
ø (...?) hati Sang Gadis,
bergetar hatinya, lemas bercampur takut,
bingung, tidak dapat berkata-kata.
Susah tidak dapat tidur
karena pasti kacaunya hati.
Kehilangan daya, sia-sia,
hancur batinnya tidak berdaya.
"Nah kau tinggallah-
adapun aku kembali pada keadaan semula (seperti orang) yang bertepuk sebelah tangan.
Aku mendoakanmu.
ø (Aku) ingin tidak pergi dari sini.
Sungguh susah rasa hati ini".
Ni Tejasari, katanya,
"Ki Purun, Kakangku,
biarkan kata orang (meski kita) sama-sama mati.
Kakang, anggaplah (aku orang) lain
(....?) dan aku
terkena asmara, barusan bertemu.
Engkau, yang mulia, sebagai jalan kematian(ku).
(Demikian) petunjuk dalam mimpi(ku)".
ø Ki Surajaya agak kehilangan kesadaran,
sejenak tidak berkata-kata.
Terlepas jiwanya,
merana, terkena kesusahan,
mendengar perkataan yang muncul:
"jalan kematian"
menyelinap ke hati.
Segalanya masakan dapat menghibur.
"Perkataan yang mulia kumulyakan,
aku hendak menuliskannya".
ø "Teruskanlah kasihmu, Nini,
lindungilah aku, Yayi.
Jangan sampai tersiar pada orang banyak
perbuatanmu denganku.
Hendaknya sembunyikan, simpan di hati
untuk dianggap sebagai hutang
yang hendak dibayar kembali dengan kebaikan.
Engkau sebagai bekal ketika aku pergi.
Ni Tejasari sebagai saranaku untuk menjadi kuat
ketika harus lewat neraka".
ø "Seperti gula cair ucapanmu, Kakang.
Seperti kaca jatuh di batu,
remuk, sangat manis
seperti rebusan air nira bercampur madu,
galak di bibir tidak sampai di hati".
Surajaya berkata,
"Celakalah (kalau aku berkata) bohong.
(Kini engkau) pulanglah barangkali ada orang
melihat. Engkau mengantuk tampak lemas".
Patuh (Ni Tejasari), ia pun bergerak pergi.
ø (Ia) pergi dari tempatnya menunggu dengan tergesa-gesa,
dengan sembunyi-sembunyi, seperti pencuri, (...?).
(Ni Tejasari) segera sampai di dalam rumah,
kemudian duduk termenung
agak malu terasa sampai ke hati.
Adapun Surajaya
hatinya heran,
rasanya seperti didatangi
perempuan cantik dari Suralaya,
hatinya sangat terpikat.
ø Tidak mencapai sasaran, nafsu pun mereda.
Dia Sang berolah rindu tidak menyadari akan lawan
yang tersamar- besar bahayanya.
Meski pergi kemanapun pikirannya,
sabda utama yang dicari,
menyelinap menyembunyikan diri
(malah) godaan dijumpai.
Ki Surajaya mendapat kesulitan,
menjalani hal yang tidak menyenangkan dalam kenyataan samadi,
karena mengagungkan lima indriya.
ø Jiwa bergolak, hati bergetar,
linglung hatinya mengembara.
Kehendak yang kuat terhalang ketidaksabaran,
seperti mabuk, kacau,
bingung, diam tanpa suara,
sambil menahan hati.
Sakitnya sebesar gunung.
Begetar hatinya tidak bergerak.
Besarnya cinta menggenangi hati, menguasai,
derasnya air mata mengalir.
ø Dirasa-rasakankan desakan asmara datang,
"Aku pastilah mati,
kalau dinyalakan yang menjadi kehendaknya.
Apa kehendaknya?.
Berbuat mencuri hati?.
Jika saja dia (Ni Tejasari) bukan saudara
dapat diminta.
Aku berusaha terhadap diriku sendiri
kelak dapat berjumpa (dengannya), saling menyayangi jika takdirnya demikian
sebab tidak dapat ditahan.
ø Duhai sayangku Ni Tejasari,
engkau pandai membuat kacau
hati, memberi kegelisahan.
Besarlah cintaku.
(Aku) tidak mampu jika harus memutus hutang kasih sayang".
(Demikian) suara hatinya.
Hati menjalani laku,
tubuh ini barangkali berhasil,
(tetapi) pikiran mengembara seperti kera, menakutkan
seperti kain sutra di api.
ø Akan panjang lebar ucapanku, Kisanak,
(menceritakan orang yang) terkena asmara".
Bersambutlah cinta asmaranya,
cinta sama-sama menyatu,
diatur jika benar-benar kuat.
Sesungguhnya nafsu itu maya
kuat selalu menembus.
Keinginan nafsu menguasai
muncul dari kening berganti rupa pada orang yang unggul
yang berujud Tejasari.
ø (Ni Tejasari) seperti burung cantaka mengharap derasnya hujan,
keluh kesahnya membangkitkan belas kasihan.
Masakan urung menjadi lebih cepat
kematianku.
Hidup pun mendapatkan sakit asmara
menyebabkan raga mengembara.
Jika sudah terlanjur mendalam
rasa hati sudah menyerah.
Hati-hati pada desakan yang dahsyat dan nyata,
di dalam (rasanya) mendesak-desak.
ø Ki Wani tidak dapat memejamkan mata sepanjang malam,
merenung-renung diri manakala menyadari perbuatannya.
Kini diceritakan pagi hari,
ayam berkokok bersamaan dengan
tanda waktu dibunyikan satu kali. Segera bangun
Ki Darmakawi, bersuara,
(Ki) Sekarsara (juga) bangun.
Pagi pun benar-benar muncul.
Agak khawatir hati Sang Tamu
(karena) keunggulannya cacat.
ø Perasaan hatinya bergetar,
sudah terlanjur. Mau apa lagi?.
Ki Darmakawi duduk di balai-balai,
Surajaya ditatap
tampak tidak ceria hatinya.
Wajahnya pucat kekuningan,
menjawab sedih,
"Sesak rasa hati ini,
badan terasa sakit, semalaman tidak dapat memejamkan mata
jiwapun gelisah".
ø Ni Tejasari belum bangun,
masih meringkuk(?) berselimut(?).
Agak malu, hatinya hampa,
sedih seperti merana.
Darmaguna berkata lemah lembut,
"Tumben anakku,
pagi-pagi belum bangun.
Tidak ada asap dupa,
sepi. Kemudian bangun, Si Gadis bergegas
segera ke tempat mandi.
ø Sejumlah gadis bertemu
dengan janda muda dalam tujuannya ke perigi.
Pembicaraan di jalan tidak lain tentang
tamu mereka di selatan situ
yang bijaksana, dapat ber"kakawin"
membuat hati takjub.
(Mereka) mendengar kidung,
semalaman tidak ingin memejamkan mata.
Mereka menjauh tertawa nyaring,
ramai saling mencolek.
ø Ganti (topik) tidak ganti cerita, muncul
karena hati yang waspada. Bohong
membanjir tidak surut munculnya.
Keluar kata-kata
jauh agak menyamping.
Alasannya bercerita
dengan maksud untuk penghiburan
menutupi hati yang (...?).
Ki Suranata diperkirakan saatnya menemukan wisik
dituangkan pada alat tulis.
ø Satu konsentrasi Sang Penyair,
Ki Surajaya sebagai puncak cerita.
Artikanlah segala yang tampak.
Tejasari diceritakan.
Lihatlah, perhatikanlah dalam hati,
perbuatan yang penuh teka-teki
luhur dalam laku.
Semuanya (berisi) nasehat yang amat berharga.
Jika (hal ini) dapat ditemukan, itulah ujudnya Sang Darmajati,
yang sebagai isi perumpamaan (syair ini).
ø Selalulah untuk mengingatkan menggubah puisi,
agar selalu mencipta dengan berlimpahnya pengetahuan.
Raga berlagak seperti penyair namanya itu,
tidak binasa dia yang menyalin.
(Seorang) anak perempuan memberi tahu yang senyatanya,
membuat gubahan
mengikuti kebodohan,
membuat terbukanya hati;
sebab menulis tanpa sumber,
kemauannya ada di dalam pikiran.
ø
sengkalan puisi ini diciptakan.
Hitunglah mulainya yang dengan isyarat itu.
Dimana tempatnya menyusun syair ini,
ketika diceritakan. Ki Surawani
selalu jelas terbaca.
Ki Sanata mengurangi kesedihan (dengan)
menyusun (syair ini) dengan sangat hambar.
Terpesona pada keindahan gunung Kawi,
dengan berbekal susah dan malu.
ø Akan panjang pembicaraan penyair
karena menemukan tanda-tanda peperangan.
Sudah menjadi bawaannya,
sebagai senjata adalah perkataan.
Ki manguyu bangun,
matahari pada bulan Magha.
Ramai mereka minum-minum,
sangat gembira hatinya.
Para manguyu sibuk ber"kakawin"
meniru seperti (peninggalan) jaman dahulu
ø Lima hari lamanya berjaga,
di luar, selalu ada di dangau.
Siang malam ada keramaian
dengan tuak yang terus menerus
mengalir tidak ada surutnya, tetap terus (mengalir).
Telah siap lauk empat rasa.
Ki manguyu mabuk,
riang gembira bernyanyi bersahutan,
melontarkan kata-kata "plesetan", itulah tidak lain yang dibicarakan,
yang lain membicarakan judi (?).
ø Para muda-mudi banyak jumlahnya masih kecil-kecil.
Ni manguyu dan yang lainnya turut ber"tandak".
Ni hindang senang hatinya
berputar salah tingkah,
ramai ber"tandak" melengking-lengking
menghabiskan tenaga.
Senang Ki manguyu,
mabuk semakin agak kurang ajar (sembrana),
ucapannya tidak karuan, tangannya menggapai-gapai, menenggak minuman,
tempat minumnya terlepas.
ø Yang lain jatuh dari duduknya,
hilang keadaan semula, berantakan.
Ada yang muntah di tempat menari,
mabuk tidak perduli aturan,
kacau semua meraba-raba.
Ada yang jatuh terlentang,
pening kepalanya,
bangun lalu jatuh terlentang
seperti orang gila, kotor keadaannya, membawa pula pikirannya
sedikit bercampur muntahan
ø Sudah puas ketika bangun.
Pagi hari kini diceritakan.
Ni hindang kini turut serta
mereka berkampuh serupa.
Diceritakan Ni Tejasari
yang sebagai pemimpinnya
telah berganti memakai "kampuh"
(berwarna) putih bercorak sayap burung nuri.
Ia memakai kain berwarna meriah, halus dengan dasar putih,
pantas, anggun tingkahnya.
ø Rampingnya pinggang yang putih bersih,
gemulai seperti anak panah
yang dicabut dari kantongnya.
Wajahnya menarik, tenang,
roman mukanya dan tatap matanya memancarkan cinta.
Alis yang lengkung datar, mengkilat
membuat hati rindu.
(Matanya bagai) bunga padma seperti permata kencana,
rambutnya seolah-olah awan mengandung hujan,
dengan hiasan kepala kelembutan.
ø Putihnya gigi barusan dipoles,
terselip pada bunga katirah
seperti buah manggis merekah. Ketawanya
seperti mengulum madu
dan air gula yang tumpah di gula.
Kelihatan roman muka,
tajamnya tatapan (mata)
memberi sakit pada yang melihat.
Kesusahan mendalam pada pikirannya. Ki Surajaya tidak habis
rasa kasihnya, bagai tidak sadar.
ø Sejumlah perempuan terasuki asmara.
Ni Rutarja, Ni Sekar, Ni Dosa
yang lain Ni Ratnasari
mengikuti, mereka berusaha memikat.
Sedangkan Ni Rumawit dan Ni Rumani
(Ni) Suwarna,
Ni Padma tidak ketinggalan
sama-sama muda cantik wajahnya.
Yang seorang lagi lembut, seorang wanita manis
bernama Ni Witarja.
ø Ada dua bersaudara wajahnya seperti lukisan,
bagai kembar wajahnya.
Ni Sumarsa seperti ibu lakunya,
pantas tingkahnya halus.
Ni Rumawit perilakunya,
(...?) tingkahnya
menjadi pembicaraan para perempuan.
Tidak ada yang seperti kakangmbokku Ni Tejasari
yang sebagai bunga desa.
ø Ni Rutarja warna kulitnya kekuningan.
Ni Ratnasari bagai pisang ranum,
kuning warna kulitnya (...?).
Ni Suwarna warna kulitnya kuning
seperti bunga kuranta. Adapun
wajahnya seperti daun kepuh bentuknya,
roman mukanya tenang.
Mereka berjalan bersantai santai.
Gemulai pembawaan Ni Padmasari,
seperti pohon tertiup angin .
ø Para perempuan riang gembira,
hati berkelana, cerah roman mukanya,
sudah selesai berhias
enggan (pergi) kerasan di desa.
Gadis gunung pandai bertani,
jika memakai kain berbeda dari
kebiasaan (orang-orang),
jika memakai selendang seperti orang memakai "kampuh".
Mereka memakai bunga priyaka yang memenuhi telinga
yang karenanya mengusap-usap.
ø Ni Tejasari tidak lain yang dipuji-puji,
yang menjadi buah bibir para pemuda.
Diceritakan tingkah lakunya
agak malu-malu ulahnya.
Banyak (pemuda) yang menginginkan tetapi bertepuk sebelah tangan.
Tidak berbeda pula halnya Ki Surajaya
hatinya merindu, (tetapi)
disembunyikan, tidak gegabah .
Meski hati sakit (asmara) disamarkan di dalam hati
tidak muncul dalam ucapan.
ø Sejumlah gadis pertapa perempuan
tergila-gila, hatinya sedih.
Tidak lain tujuan hatinya
adalah Ki Surajaya yang diperhatikan.
Dicoba untuk didapatkan daya pikatnya pada isi
sindiran dalam ber"tandak".
Rintihan orang yang merindu,
disajikan dalam syair.
Mendapat kenikmatan Ki Surajaya
karena banyak yang berhasrat (padanya).
ø Ni Tejasari sebagai yang pertama,
Ni Sumarsa dan Ni Witarja.
Ni Sekar, Ni Dosa berikutnya
berurutan bersama-sama,
tampak bagai bidadari
yang bercengkrama di taman
(mereka) berusaha mendapat pesona keindahan.
Ni Sari sebagai pusat di tengah,
Ni Rutarja, Ni Ratnasari, Ni Warini,
Ni Rumawit terakhir.
ø Sudah pergi dia yang membawa keindahan.
Ki Surajaya pergi berkeliling,
Ki Sekarsara menemani.
Para pemuda menghantar,
semua berhias bersumping.
Tidak diceritakan di jalan,
jauh yang dituju,
sudah ke arah tempatnya berguru.
Ramai-ramai(orang) ber"tandak" dengan sungguh-sungguh, kemudian diteruskan lagi
selalu berganti tembang.
ø Serupa mereka bersumping
bunga pakaja, mempesona hati.
(Hal ini merupakan) kegembiraan para perempuan muda dan tua(?) semua.
Semua berwajah cantik
hanya satu yang unggul
tingkahnya ceria
berbadankan "gadung";
kecubung kasihan pun alah.
Demikian penampilan Ni Tejasari
seperti jamur intan.
ø Bertambah cantiknya (Ni Tejasari) dengan caranya bersumping
dengan pucuk katirah disematkan pada bunga kenanga
seperti gunung kembang meluas,
memenuhi tanpa getah.
(Ia) memakai "pamelar" daun tal yang diputihkan
seperti gunung yang terhiasi tampaknya
tetapi tidak sempurna,
menimbulkan kasihan berada di gunung.
Tidak kelirulah ia sebagai bunga pertapaan itu
dijaga oleh pembantu-pembantunya.
ø (Ia) tidak mempunyai keluarga, tidak cakap juga tidak mahir
dalam bersyair,
tidak bebas(?), tanpa sarana,
kasihan tidak ada yang mencintaimengharukan, gundah.
Mana yang menjadi sebab dari perbuatan masa lalu
tidak jauh dari badan.
Satu ikatannya
sebab tidak dapat dikuasai (?).
Samadinya sungguh-sungguh, lakunya hebat
hasilnya bertapa brata
ø "Oṃ kara" sabda bergema kesana kemari
dari dia yang berkelimpahan pengetahuan.
Ki Hadal mencari
arti yang satu, (yaitu):
berapa banyak isi bumi,
yang penuh sesak tidak bersela.
Tidak bolehlah hal itu (dilakukan).
Samudra keindahan ilmu bahasa,
tetapi satu tujuan perwujudan sang kawi
yaitu selalu bercerita.
ø Bagaimana orang yang disebut penyair itu?.
Jarang yang tahu keadaan sesungguhnya hakekat sang kawi.
Duhai dimanakah tempatnya
dia yang merangkai kata- kata.
Surajaya mencari.
Dasar anak muda tidak tahu kearifan-
mencari Sang Hyang Hayu,
padahal sudah ada di badannya (sendiri).
Karena itu (ia) mendapatkan kesulitan besar yang menguasai hati,
menghibur dengan laku.
ø Menguasai lima indriya yang membelenggu,
sudah lama menimbulkan belas kasihan.
Tambahan lagi tanpa surut kehendaknya.
Besarnya kasih membanjir tidak surut,
tidak sabar, menderita luka
bahkan mati pun (rela)
asalkan aku kesampaian maksudnya.
Hampir genap tiga bulan
menderita sakit, sangat merana
tidak dapat diobati.
ø Menguasai hati (tetapi) tidak berhasil.
Agak bingung pertimbangan hatinya.
Nasehat panjang lebar pun tidak ada gunanya,
tidak mampu melakukan dengan gigih.
Sepanjang jalan Ki Surawani
memikirkan dengan hati-hati,
tidak ada yang menanggapi.
Tidak diceritakan di jalan.
Sampai di rumah perjalanan sang pemuda
kemudian mandi.
ø Ki Surajaya kasihnya tidak habis,
karena itu ia ingin pergi.
"Hatiku, sayang sekali, mendapat kesulitan;
lebih baik aku pergi".
Setelah siap kemudian minta diri,
"Engkau tinggallah,
saya hendak melanjutkan perjalanan.
Semakin menjadi-jadi derita asmaranya.
Tenanglah, engkau jangan merasa kehilangan. Selamat tinggal,
sayang, sehat-sehatlah selalu".
ø Sangatlah cintanya dia yang minta diri.
Ki Darmakawi menghalangi kepergiannya,
bergumam bercampur khawatir
atas permohonan pamit keponakannya itu.
Suami istri itu (Darmakawi) menegur,
menanyakan sebab apa (Surajaya) pergi,
"Ki Wani, Anakku",
tidak malu air matanya ditelan,
"Jangan pergi, Ki Surajaya, Anakku".
(Surajaya) memaksa pergi jua.
ø (Surajaya) pergi dari pintu gerbang dengan tidak perduli.
Sedih, ingin tidak terus (tetapi)
dipaksakan, dipercepat jalannya.
Berkelebet tepi kampuhnya
tertiup angin, berkibar, bergetar
seperti lambaian tanda persetujuan yang menimbulkan perkiraan
mengajak bercinta.
Sampai di persimpangan menuju ke mata air
(Surajaya) berpapasan jalan dengan Ni Tejasari.
Bergetar hatinya ketika menatap.
ø Hilangnya jiwa seperti tersembunyi
tidak berkata-kata, seakan-akan raganya tanpa jiwa.
Terharunya hati disembunyikan.
Ramah ucapan yang muncul,
kata Ki Surawani;
"Yayi, (engkau) jangan merasa kehilangan,
kakangmu ini mohon diri.
(...?) (engkau) segera mendapat lamaran".
Terbata-bata perkataan Ni Tejasari hampir menangis,
"Ke mana tujuannya (engkau) pergi?.
ø Apakah hal ini karena ketidakacuhan
ku, Kakang?. Ketahuilah olehmu
jika (engkau) tinggal sendiri
tidak terdengar (kabarmu) olehku
membuat khawatir hati (ku)
yang menguasai,
membuat hatiku terluka".
"Sudah lama aku menaruh hati padamu, Nini,
hati tidak lagi dapat merasakan kegembiraan.
ø Itulah sebabnya tidak merasa terluka
Kakangmu, Nini, mudah-mudahan kesampaian maksudnya.
(Engkau) tinggallah, saya akan berlaku seperti "kulanṭe"".
Dipercepat jalannya
pergi, menyelinap, menghilang, tidak menoleh,
diputuskan dalam ketabahan.
Si Gadis yang tertinggal termangumangu.
Tapa yang hebat bukan tempatnya untuk bersenang-senang.
Jika diperhatikan di dalam hati menimbulkan rasa hormat.
Sepertinya hanyut jiwanya.
ø (Ni Tejasari) sangat tertegun. Tidak lain yang dipikirkan
Ki Surajaya yang ada di dalam hatinya.
Jika malam hari, ia tidak dapat tidur
karena memperhatikan
dia yang penuh hasrat. Kesanalah hati tertuju.
Rasanya seperti terbayang di mata.
"Kakangku, Ki Purun,
rindu, katanya ketika pergi.
Jika diperhatikan seperti ingin mati saja
jika engkau tidak datang".
ø "Sembunyikan saja sakitmu, wahai (engkau) yang tinggal ".
Demikian kata dia yang bertujuan pada keindahan.
Diceritakanlah dia yang terkena asmara,
disebarang tempat melamun,
sakit asmara, (padahal) tapa yang dicari
pada pikirannya. Tidak terkira
kematian yang diinginkan.
Ia pergi membawa kesedihan.
"Kemanapun raga ini yang kucari
adalah mati ditempat yang lapang".
ø Beberapa bulan lamanya ia terkena sakit asmara.
Ki Surajaya (kini) berada di jalan besar.
(Keinginannya) segala tempat untuk dicapai
tujuannya untuk bersuka cita, bersenangsenang.
Ia (pergi) ke tempat tinggal para ajar, yang pertapaannya indah.
Ia tinggal di seluruh tempat pertapa perempuan
disebarang tempat.
Banyak yang tertarik pada wajahnya (Surajaya).
Aduhai!, ada pula yang ditinggalkan (Surajaya) menangis,
ingin turut pergi.
ø Banyak wajah yang menarik, tetapi tidak diperhatikan (oleh Surajaya).
(Surajaya) menjadi pusat perhatian tetapi ia tidak berhasrat.
Tidak lain yang dipikirkan kemana-mana
hanya dia yang membekali rasa rindu.
Dalam hati dipuji-puji.
Satu yang ada pada pusat jiwanya
tidak lepas dipeluk
yaitu agar dia yang tinggal berbahagia dan selalu sehat.
Ni Tejasari sebagai tali
... dalam menjalani laku.
ø Sudah dijelajahi semua sesuai kehendak hati
seberapa pun besarnya Gunung Pawitra,
jajaran (pegunungan) malahan semuanya
juga semakin ke selatan.
Sudah ditinggalkan Gunung Mandara yang suci itu.
Semakin tertunta-lunta (Surajaya)
menyusuri lereng gunung
mulai dari Gunung Rajuna,
bersikeras untuk sampai di timur Gunung Kawi.
Nekad untuk mati.
ø Kesengsaraan badan menimbulkan belas kasihan.
Selalu ingat dengan jelas
Jalan yang sulit dilalui, rumpil.
Pikirannya seakan-akan terdorong
untuk melakukan brata, yang menyebabkan badan lemah.
Seperti layang-layang putus (benangnya);
mati, jiwanya merana
hilang ke hutan belantara tidak terkira.
Sejumlah bahaya yang menyulitkan tidak diperhatikan
sudah nekad untuk mati.
ø (Ia) terus berusaha tidak undur karena sudah menjadi niatnya.
Dirinya seakan-akan ingin terjun ke jurang
untuk mempercepat kematiannya.
Berlagak berani (...?)
Tidak sabar untuk tetap hidup,
tidak mampu menjalani
karena pikiran yang tidak suci
lebih-lebih karena aku tergila-gila,
terkena asmara berhasrat pada perempuan cantik,
lemas menderita sengsara.
ø Perlahan Ki Surajaya berjalan.
Berulang kali menoleh, berulang kali berhenti,
pada dia yang memberi rasa rindu.
Hancur, hilang jiwa pun lebur
terkuasai oleh Ni Tejasari
yang seperti bayang-bayang.
Semakin terpikirkan,
patah hatinya,
raga lesu, bingung, sangat sedih,
sesak rasa hatinya.
ø Sampai di jurang jalannya,
lemah bergetar kaki kecapaian.
Dipaksakan diperkeras kemauannya.
Di tepi jalan besar
Ki Surawani berhenti beristirahat
di bawah beringin besar.
Setelah duduk termangu
segera ia merasa mengantuk.
Seakan-akan menyuruh segera memejamkan mata, suara burung gending
yang berkicau memenuhi jalan.
ø Sejenak terlelap segera disadarkan lagi hatinya
seperti kera yang bangun.
Kemudian ia melanjutkan perjalanan dengan tidak peduli.
Mendesau suara angin
agak miring (jatuhnya) titik-titik gerimis yang deras.
Burung cantaka berbunyi bersahutan
seperti minta hujan,
berbunyi ramai mengangkasa,
menimbulkan belas kasih seperti tangisan perempuan
hakilayw ahanut lamṗaḥ
ø hamĕwĕhī/.....ṇiƞ ati,
mĕṅgaḥ maƞṣaḥ ri sadawata,
saƞṣaya lṗas lakune
kweḥṇiṅ desa kapuƞkuṙ
kaliwatan kaṛp ka/ṗeriṅ
prapta riṅ kag̈nĕƞan
jĕṅ karasa gupuḥ,
sigra tumanḋuk i daṙmma,
tuṣṭa ṗanusuṅ pañjraḥniṅ saṙwwa śari
kadyatuṙ mara rima
//0/ /........ƞ aliƞgiḥ
maƞĕ mihat rasminiƞ udyana,
pañjraḥni saṙwwa pusṗa kweḥ
sumanaṙsa mṛpadu/,
mayat mĕkaṙ kadyatuṙr wwaƞi,
piṇḍapiṇḍa masinaṅ
mĕṇḍuḥ saṅƞ ākuḍu,
sulastri tenupi yatak
haṅsokahasti lan taṅ ka.....
...danta maƞalaṣa
//0 umyaṅ sabḋaṇi brahmara ƞuśi
wṛdaḥ hāmukti sarini kĕmbaṅ
jaƞgaka/sturī rumaweh
alum ṣkaṙnya luru
kweḥni darā rupamet sari,
humuƞ awijaḥ
daṙpa saƞṣi madu
ramya tuƞgalan ṗatrapa/ ...
........... kusuma ciptani kawi,
kweḥni skar amijaḥ
ø mrik ṣumawuṙ wwaƞini kumuniṅ
pañjraḥniṅ kanaƞa maƞ√/n aṙsa,
çiṇḍaga hatuṙ wirage
kalak ḍosa hanuṅsuṅ
kadya sgĕḥ waƞiniṅ sari,
mayaṅ mkaṙ tumahap.
mrikniṅ skaṙ tañjuṅ
kentaki paṛṅ ha/.....
.....ƞṣawoya sumaṙ mrik miƞi
wenot i samirana
//0 tibrani ña lwiṙ kadi kanin
ṣyu siṙṇā/dḋaya kadi kawƞan
rasmini jro daṙmma penet
waṙnaṇira saṅ kantu
øiṙ gumawaṅ kacakreƞ ati,
kadya nukṣma heṅ kĕmbaṅ
rasaniṅ gugu/....
....... kalƞĕƞan
nī tejaśarī lwiṙ kapaṅgiḥheṅ daṙmma
g̈ĕṅṇi kawulaƞunana
//0 ki surawaṇi mi/hat waṙṇnani tulis
halalakon mahisa tan ṗgat
sumĕkeṅ prawwata hamet
ṣwami saya kagug̈u
waṙṇnanira saƞ aśu braṅti,
............
... kataman lulut
ragasamaya kocapa,
saka wetaṇni kawī hamoṅ karasmin
menḋra taṇ aṙse kaṙ/yya
ø na datan tĕṙsne kadaṅwraga ƞikis
ṗrapta mahamer√ hana roṅ wulan
lamṗaḥhe saya maƞilen
hamoṅraga kalaƞo/
...... teƞ arini,
haƞaloṙ tan wriṅ maṙga
lakune kumuñcup
kadukapiṅ kalaraban
sigra lamṗaḥhira pra/pti ḍatƞe kawi,
tan kaṇḍĕg̈ ṗunaṅ pada
//0 layatiṅ wṛdḍaya karasa wrin
ṗriṅgani maṙga duk ṗrapti blatan,
tuṅgal maṅka bayane
kro/.........rusuḥ
hamaksakĕn tindaknya pṛgi,
lamṗaḥ prapti kajnĕṅƞan
wutuḥ dayanipun
ṗan tanṗa cipta huripa/,
rag̈asama lagya kaknan titiṙ
duk tĕkeṅ kag̈nĕƞan.
ø lwiṙ panḋaṇiṅ hyaṅ nugraha widi,
ragasamaya kaṇḍĕg lamṗaḥnya
rere/....
......... ka.....
hamiweka sakalaṇi daṙmiṅ
malawasiṅ gopura,
sakakalanipun.,
muṙtiniƞ ā/met. nugraha,
sapamaṙta punya hanakitri
punaḥ taṅ paramuka
//0 rag̈asamaya sakṣana liṅgiḥ
wikaṇ i naya ki sura.....
sumusuƞ aḷp wuwu
pasaṅ yogya sa rawuḥ
di pinakanira hamoṅ kapti,
ragasamaya namṗani
sipta wriṅ la/ku,
tan ṗoliḥ denya taṇya,
saka wetan ṗun mitra budi kapalis
haƞoṅ datanṗa sana
//0 manira ganty ata/.......
hadi pṛnaḥhiƞ amaƞ√ṇ aśrama,
ki surajayadan liƞe
salawasṣi tumuwuḥ
tanṗa saṇā haƞidĕ/ri bumi
duruƞ abaḃatura,
halaƞut satuwu
haƞuniƞa bogaṇi lyan
waṛg lara braṅta kasmaran i budi,
haƞecareṅ/......
...i...juna
ren tigaṅ saṣi¡,
braṅtani ciptā haṙse wuwujaṅ
maṙmani raga ƞulanṭe
tan kawasa/na hĕnĕkuṅ
mon karasa de¡ṇiṅ kasiśiḥ
mitane tan panaƞgal
hiḍĕp ṣalaḥ wtu,
sinamun mareṅ pawitra,
hatitiraḥ kaṙ/..........
....ni tigalana
//0 ragasamaya rumakseƞ ati,
pawaraḥhira ki surajaya,
saṅjatī hala hayune
cloṙri budḋi campuṙ
kawisaya manaḥ rasmi,
ḍuṣṭa marupa tapa,
tañ jatī yeṅ laku
rag̈a ........
.....ƞgal ḋeṇiƞ anamun lara śiḥ
sami lan ṗakaṇira
//0 hadi kaṅ sinanjya haƞe/ca maṅkin
ṗanalimuraṇi raga wihyaṅ
ki surajaya hujare
hapti wikana teṅsun
kasub rame riṅ kayutaji¡,
saṅ śipta masĕmbu/ra
............ teṅs
n
taṇḍĕś riṅ ranubawa,
maṙmmaniṅ ragā wihyaṅ kadya matitis
haƞaraḥharaḥ lamṗa/ḥ
ø punapa dyaṇiƞ aƞetan maṅkin
riṅ kayutajī śiṙṇna rinuraḥ
pahe lan wiƞi baƞīwen
ṗunaḥ dugama luyut
ṗaṅha/........ta yamīdi,
talaya ni mahenḋra
tan wuruṅ katmu
woṅ guṇuṅ maka paƞawak
maṙmani sukṣma tatwa niṙ ta/nṗa gati,
talib ḋeni nuraga
ø balik aṇĕṅguḥ rame ri kawi,
wṛtani pratamā moṅƞi lamṗaḥ
kayutajī ka/....leṇ
nurageṅ sunu laƞu
ri baḃahan rakya mirate,
hadiniṅ wana para jñaṇa
kaṅ minaka ḍapuṙ
tuhu/ muṙtẗiniṅ patapan
ḋawĕg ṗaƞeran haƞeça mari kawi,
taṇn amun maṇaḥ rimaṅ
//0 puṇnapa tan kasukaṇniṅƞ ati,
lamo.................
pasa ....gya teṅśun make
muwaḥ patanyaṇisun
wriṅƞ īṣti manira samiṙ
swapa wṛtini tapa,
pa/saṅtabe pukulun
haparab ki surajaya,
hagyanta tanya śwapā ṗarabta kaki,
pusṗa ragasamaya
//0 hasoṙ panaṙpaṇira ki sura/....
..... deṇira wilasa,
ta sanak ṗaḍa ƞulanṭe
rag̈asamaya muwus
kamayaƞan hyan ṣira sudi,
dwi kaṙyya/ṇi waçana,
kaki dera muwus
wriṅ naya ragasamaya,
pakanira paƞeran maka tutudḋiṅ
manirā baya kakaṅ
//0 ki surajaya/........
..... ḍatƞeṅ pasaṙ
wwantĕn ḋĕmi tigaṅ kepeṅ
tubasakneṅ pi wruḥ
hasmu guyu saṅ minakari,
ya ḍu/h antuk ṗunapa,
kaṅ dmi tĕtlu
kuraṅ patukuwa kĕmba
punika kākaṅ wwantĕn haṙta kakaliḥ
patukuwā tutumpaṅ
//0 ki ragasamayā,/......
.........paṅ prapti ṗasamohan
walanḋāne lima kepeṅ
sḍaḥ woḥ kaṅ dentuku
le palaga/ntuṅ haji kakaliḥ
lawan kĕmbaṅ pulawa,
sipi nisṭanipun
gaṛm holiḥhe haminta,
pinaka sĕṣḍĕpiƞ apawṛti,
samṗun prapti ......
...........ru wus ṗinasṭi
kajĕṇĕƞaṇiṅ hyaṅ widy āwilasa,
haśuṅ pamasta ƞawake
paṇug̈raha/niṅƞ ayu
śurajaya waçana haris
laḥ yayi marakeya
ƞoṅ sḍĕpi masku
ki ragasamaya prayatna,
hatuṙ sĕmbaḥ tummĕkul rasaṇiṅ/..
.........
..... tlas ṗrasida sanak tumitiḥ
ki surajaya hādan lamṗaḥ
saḥ ṣakiṅ daṙmma lakw aki
ra/g̈aśamaya tumut
hasmu hegaṙ ñana sumiriṙ
saksat muƞgiṅ swapna
sukaṇi raga kuṅ
tkeṅ juraṅ raṇḍĕgan
ki surajayā migrakĕn la/.....
.......rup saṅ hyaṅƞ aruṇa
//0 tiḍĕmmi tṛnalata sumilib
manḋra ṛmĕṅ tejani kirana
kumĕ/ṇḍĕṅ kaṅ mega kilen
liṙ galuga sinawuṙ
śurajaya mojaṙ linyaris
hadoḥ ḋukapiṅ desa,
pañiptani laku
ṗunapa ka/.......
..........rasa ƞliḥ
hanurut rakaṇira
//0 hĕƞniṅ manḋira pṛnaḥnya mṛgil
kĕmbiṅniṅ wa/ṇapriƞga duṙgama,
datan kawaṙṇnaheṅ kule
ḍawuḥ piṅ rya pi tlu
praṗta hataƞī saṅƞ aƞeca
hadan lumamṗaḥ rahina
kawuwu....
...........
.. hyaṅ diwaṅkara munyañjrit
satawana sahuran.
//0 maƞilyan lamṗaḥhi/ra taṇn aglis
ṣalƞĕni maṙga tĕpini waṇa,
wwaƞ anom ṗaḍa ƞulanṭe
taṇn ana gawe ketuṅ
sami menḋra hamoṅ saṅ kapti,/
............naḥ
lwiṙ kĕmbaṙ lumaku
paḍa jajaka riṅ paran
ki surajayajmuṙ manahe braṅti,
sanake halipura/
ø kasaya kaluntalunta matitis
jĕṅniṅ prawwata dukapiṅ lamṗaḥ
tṗini gag̈a maṙggane
guṇuṅ katut kapuṅkuṙ
ta datan ṣurud/ .........
.........mĕmṗya
śwaraniƞ amupuḥhu
dalañcaṅ kadyasuƞ egaṙ
manḋramanḋra śwaraṇika wwa ma/riñci
hawagita hañaṙ
//0 ki surajaya tibra çipta siƞit
milaƞniṅ sakamaṙga
lumraḥni tanḋuṙ masaṇe
paṅrikni kuwwaṅ/......
..........k
n ṗaksi,
hane raƞgoṇ amijaḥ,
pariṇne denta
hana ta gag̈a kapisaḥ/
wwantĕn ḋikanya togya mawisik wisik
taṇn adoḥ sakiṅ maṙga
//0 ki ragasamaya mesĕm lumiriṅ
hamam ṣmita ritnīṅ panambaya,
...............
tan lan ṗinare smu
ywani maṙgga maƞgiḥ pawestri,
maṅke hantuk nugraha
de¡ni śuṇ ala/ƞut
wriṅ smu ki surajaya,
sakaṙsahanira yayī hadumm amiliḥ
siṅ kaṅge pilihĕn.
//0 hantya ta yayī gmuhipunta
lwiṙ kĕmbaṅ baya pa/....
...............
....yen ṗinareṅ smu
ṣaṅ tarunī kariya blik
menḋrahā tataṇḍakan
myapan witiṅ smu,/
ujare baya jajaka,
haweḥ hulat gumuyu datanṗa kliṙ
wuwusṣe śalaḥ paran.
//0 samṗun lĕpas lampaḥhira ba/.....
..............nya maṙga,
hasmu guyu paƞucape
maduraṇiṅ wacana,
ram halis mayat winor i liriṅ
samṗu/n eca tanya maṙga
woṅƞ īlaṅ katesun
malaṙ wikana riƞ utaṅ
pakaṇira bibī maṙgahe kapalis
cĕloṙ wījili sipta
ø hasmu he/........
............ tan. kumlab
linawanan sabḋa leteṙ
kaṇḍa daluwaṅ tuhu,
pakanirā na wwa/ƞ añoloṅƞi,
yaḍuḥ tan makanaha,
sawakyani tan wruḥ
nawy akweḥ simṗaṅƞiƞ awan
ṗakaṇira wnaṅ majati he kami,
maṙmmaheṅ ........
...........deṇira hisṭi,
niṙ taṇn ana sajyaṇiƞ aƞeca,
sakweḥniṅ batuṙr ane
punika paraniśu/n
lumarisa maƞilyan kaki,
maṙga hiṅnusaṛƞga,
riƞ anḋoṅƞ alaƞu
hawaṇi gĕgĕr asana,
laḥ kariya samṗuṇa rupa priyatin
maseśun a/.......
.........kĕn rasminiƞ ati
ragasamaya bisa ñjajawat
woṅ mahameru tahu leteṙ
bisa bo/gakanyā muwus
guntuṙ manis tanṗa keriṅ
saya katula tula,
luwu
kaṅ tuƞgal maṅka sanaka,
yan jatmikā rupane hanomm apkik
muṙti tanṗa/....
...... bañjaran aris
kumlab kamṗuhe katiwaṅtiwaṅ
kumitiṙ kadi yaƞawe
tkapiṅ ṗawaṇa rurum
ḋa/tan tĕmaṅ maƞĕh anoliḥ
sigra maƞgiḥ bañjaran
tĕpiṇiṅ maṙgaguṅ
lagya tataruka hañaṙ
kamṗiṙ ka surajaya niṙ saṅ tumitiḥ
lumaju punaṅ/.......
............... kayupuriṅ
sigra lamṗaḥhira saƞ aƞeca,
ri widḋasari duṅkapeṅ
juraṅ hamṗo ka/puṅkuṙ
riṅ paniron kaṇḍĕga liṅgiḥ
daḋy ana woṅ lumiwat
ṣurajaya muwus
manira punaṅƞ ātanya,
warahĕn iƞoṅ, namaṇiṅ gĕg̈ĕṙ ka......
..............
... moja ... sa... tinakonāṇ asamiṙ
siƞgiḥ pinaka hadiniṅ pataṗaṇ
i widapusṗā harane/
paƞuboṇnan awwa
wwantĕn kaṙyya hi riku kaki,
hanĕṅgo mras ṗatapan
ḋana pulya wibuḥ
ki surajaya waçana,
hadumm ayu riṅ maṙga ri sun lumari/...
..................
... haṣṛtiṅ lamṗaḥ hageñjo¡ṅ aris
kaduṅkapamkasiṅ bañjaran
sapta sora ti tabuhe/
sami gaṙjitanḋulu
hamuyyanī waṙṇnaṇiṅ tami,
wruḥ nayaṇiṅƞ aƞeca,
siṇuṅsuṅƞ i guyu,
hadi kapuṅkuṙ punaṅ lamṗaḥ
tanṗa sanā haƞe/......
.............pa
//0 kadyana pamitrane kapaƞgiḥ
ki satawaṅ rumehakĕn kaṙyya,
wruḥ yeṇ ḍataṅ/ kakasihe
ye sami wruḥ mitra lulut
laḥ bageyā kaṅ surawaṇi,
mulat. yaye śwapna
hlaḥlaḥ teṅśun
ri nā du kinā duk i naṙba/...
....................ḥ
pamurukaṇna guṇa
//0 kumona saji raka pinaṣṭi,
dawĕg̈ ta kakaṅƞ amara/ntiya,
wusnya liƞgiḥ piṇḍa śupe
tlas anata luṅguḥ
tumahapā saṅ wiku rari,
hana haṅlimas ṗatra,
hana saji bañu
ni pusṗi...........
........ brata netṗĕ
saṙww aliƞgiḥ hajajaṙ
//0 wusnya tanḋuk bojana kahapti,
ka sura/jayā pinikahotan
hulamulaman tan ṗan
leṙleṙ kukup alumut
jamuṙ ragī linubeṅ lwiḥ
lyan ta jaƞan laraƞan
samṗunya rara/.......
.................
.... samaya prapta deneƞ ābukti,
roṅ dina maṅgiḥ lapa
ø tan temaṅ deƞ amoṅ/ƞ ābukti,
ki surajaya nala sumimṗaṅ
kasṗĕṙ lulut aśiḥha
pinareṅ cipta cawuḥ
nī skaṙjā ƞa<ƞ>gĕƞ iƞ ati,
mahw amuṙyyaṇi sana
ni ḋa/......
.......... panṇ
ni skaṙjā gumtĕṙ rasaniƞ ati,
dinukiƞ ulat ḋrawa
//0 tuhu paƞuñcaṅƞi la/ra midḋi
ki surajaya tanṣaḥ dinuta,
kaƞelan ḋeṇe hiḍĕpe
ni skaṙjā siwuṅ
manaḥ g̈iwaṅ tan kawasa ƞli,
kadi wayaṅ kinu/...
...
... pinareƞ √lat∑ira
paṗag tikṣnaniṅ mata halinḋri
ḷyĕp tan ṗarimana
//0 ta/n sipi ƞeliƞ ambĕk ṣumakti,
saƞ asajyayu kinuliliƞakĕn
tinog rineḥ kajatine
winoṙr i tṛsna lulut
wruḥhu tuṣṭa ......
.............ḥ sanak
tumuluseƞ ayun
tanṗa nutugakĕn ḋiṇa,
wiwaraniṅ tṛsna lumakw amnuhi,
sĕśĕk ta/nṗa ligalaran.
//0 bummi ṣaśwarani kawy amariñci,
saƞ asgĕḥ wadya pan akaṙyya
saksana luwaran kabeḥ
ramyadum kaṙyyanipun./
.................
.........ḥ mṣaḥ
kadya wuru gaḍuṅ
kumucup tĕmpuḥhi wlas
ki śurajaya tan lyan ṗaraṇiṅƞ ā/ti,
saśolaḥhe śumlaṅ
ø manḋra ṛmĕṅ praba saṅ hyaṅ saksi
lagi katawƞan lamadlamad
jalaḋā swĕḥ rumawe
ḍaƞgal saptamī jmuṙ
paḍa/ .............
......... taṇḍak.
rasmyapet kalaƞun
hana tan tuhuni brata
lwiṙ wadwanā hañaṙ lumakw/ ahakili,
haparab ni rawita
//0 gug̈urane sinuk tan ĕnti,
kayeƞnum hamĕtwakĕn śwara,
denṗolahakn awake
lwiḥ denya/........
.................dasari,
kasub. yen bisa taṇḍak
hakweḥ wwaƞ awuyuṅ
kawiḷt iṅ wadujaṇa,
kasma/raṇ iƞ ulat liriṅ
bikṣukaṇiṅ makaṙyya
//0 ana śraweca maho tataki,
milw iṅ pañcaḥhira saṅ nuraga,
g̈una yado ......
..............ru
kadi yagriṅ harikiṅ rikiṅ
kĕneṅ liriṅƞ aram
karatahita riṅ taṇḍak.
gumuyu raga/samasaya
piṇḍa hewā tumiƞāl iṅ para kili,
haƞĕntekĕn tanaga
//0 haluwaran sakweḥniṅ pawestri,
śuṇya niṙmala madyaneṅ/.....
...........
... saṣaka sumunu
hagancaran mani latri,
ramya giha carita,
saṅƞ amoṅ kalaƞ√n
hu/mnĕṅ ki surajaya,
amiweka hamutĕṙ wijiliṅ sanḋi
manaḥ malad. pinĕgat.
//0 ki satawaṅ liṅnya hatanya liṅnya hari/...
........................
.... ṗa gug̈wan batuṙ maṅke
hanut lakw añjĕṅlƞut
dan aƞeçā ri ƞare kami,
saḥ śa/kiṅ niṙbaya,
hanḋaru kateṅsun
ṣumĕṅka mareṅ rajuna,
rakaṇirā paƞeran halawas kamṗiṙ
hareren tigaṅ wulan.
//0 ta/................
...maƞuywan goṇiṅƞaƞecā
riƞ ĕnḋi kakaƞ arane
riṅ waṇapala tuhu
wwantĕ/n wragaṇnisun kapaƞgiḥ
pamann iṅ pakawahan
lumakwa maƞuyu
hanḋoleyaṅ rakaṇira
sakaṙywaṇe paƞeraṇ iṅsun ḋeniri
daha.............
.......ṅsun. yayī hatoliḥ
dalu deniƞ anamun saṅśaya,
pinaliṅ tiƞal. tan sareḥ
swĕ/ḥ dyutaṇiṅ lulut
gĕṅṇiṅ wlas. yayī tan sipi,
pun kakaṅ kasarakat
haƞon budi cawuḥ
tan kawasa naṇḍaṅ lara,
punaṗa laranera kaṅ/ ....
......................
ø kariwƞan ḋayanipun hyayi,
waçanaṇira kaṅ surajaya,
jatenaṇa teśun maṅ/ke
ya ḍuḥ katy ariniśun
rakanirā dameṅ pawestri,
wkaṇira paman
ḋaṙmakawi hayu
puṇika maṙgaṇe luƞa
hlāhlā katṛsnan hati/....
.......................
//0 punapa kakaṅ yen sira hapti,
wnaṅƞ akramahā mimisanan
ṗan oranā wicara/ne
hakweḥ panoṇisun
laḥ maṅśulā manira ƞiri
rayinira haṅlamara,
haśuƞa patuku,
manira kalaha beya
śwape namā pa/......
............. wikana
//0 pusṗita nama ni tejasari,
wayahe lagi hapasāṅ jaja,
daṙ/pa denya suṅ wirage
tṛsnaniśun tan ṣurud.
rumni kanya hanom ṗra kawi,
wekan
wagid. pratsayu
di pṛnaḥhiƞ amaṅgiḥya,
hu...........
.........
//0 ḷyĕp ṣumaput rasaniƞ ati,
lwiḥ lamon kaƞĕn siḥ/ye kataṙka
kaṅƞ atī duḋu rasane
salawasiƞ amuwus
waṙnaṇira ni tejasari,
ketaṅ denya wilapa,
ḍuḥ masmiraḥhisun
sira saṅ/..........
............... ƞit
jiwa tanṗa puwara
ø ḍuḥ tan ḋarana kamw aniƞali,
ṛmĕkniṅ cipta kadi/ sinĕnḍal
gumtĕṙ kaƞ awakabeḥ
yen sahulat saguyu
gulā drawa mayat ẗaƞ alis
gatrag̈atraniƞ ulat
hesĕm hyayaḥ juruḥ
haƞ√keḥ/ .........
......n ṣambata muliḥ
mesĕm ragasammaya
//0 dukatiƞgal kari hasmu taƞis
ma/yat ṣwaranye hataƞgĕḥ lamṗaḥ,
ratna kanaka hujare
mariƞ ĕndi kaṅ purun
rakaṇira yayī hapamit
kantuna gĕg̈ĕnĕpa
ƞwaƞ ato/.........
............riya linamaṙ
tan kawasa monahā amĕgata taƞis
tṛṣna ri rakanira
//0 tuma/ƞgĕḥ ta renā sajalwistri,
piṇḍa rudita ƞawara lamṗaḥ
hasṛṅ hañaṇḍĕt ẗanṗa weḥ
yayi paluƞāṇniśun.
kneṅ taṙka kaṅ su......
...........
saṅ minaṅka hibu
manawa wruḥ yeṇ aƞaraṅ
hayu dahat kaṅ surajaya liniriṅ
kweḥniṅ tutuṙ/ karasa
//0 ki surajaya praṗañca kapti
kawaṙṇna ruparune ni skaṙja,
umnĕṅ bawuṙ ñanaṇe
ragasamaya turu
ti satawaṅ mawa/....
...............reya,
samaṅśani wuwus
laḥ kaky aturuwa huga,
g̈awṛdahĕn harinku katamawan asṭi,
kakaṅ/ prahiƞ amuraḥ
ø śuṇya gag̈ana canḋra sumilib
tan. kĕne mṛma hasṛṅ pakṣani dyutā
kumuñcup kaṅ tanṗa ƞne
tutur ayu kaburu/
.....................
..... bañcaṇa
hyaṅƞ asmara ƞadu,
sami pinaliṅ jñana,
wus kag̈iwaṅ taṇ eliṅ salaḥ/ sawiji,
kawīguṇa wus ṛbaḥ
//0 epuḥniṅ cipta maƞkiṇ arusit
ki śurajayamĕs karasa,
lamṗus tan ana kgĕlen
tiḍĕmni wwaƞ a/ ....
..................
..... hasaśaran.
ṣurajaya bĕnḋu,
pagĕḥniṅ yoga tan gig̈aṅ
ni skaṙjā/ hapaksa ñidra heṅ wƞi
tan tĕmaṅ kasaputan.
//0 sinalimuṙ saƞṣaya kahesṭi,
densamun ṣihe maṅkiṇ ujola,
mĕṅ ..........
................da kuṅ
menḋra maras liṙ tanṗa galiḥ
metra tan maƞga mṛma,
tanṗayuṇ aturu,
ka/dya maƞan jamuṙr ibraṅ
sa wahu praptī kaṙyya ṛtaṅƞiƞ ati,
kaya tan binasaja
//0 sinawuṅ riṅ tṛṣna lulutẗ asiḥ
dinaranakĕn maṅkin amuraṅ/
....................
.... deni wulaƞun
hamƞakĕn. kori taṇn aglis
lagya ṅƞadg iṅ nataṙ
kepyan manaḥhipun
waṇi ma/ƞa desanya mara,
ki surajayā mihat sigra h√dani,
pradateƞ una praya
ø hamaksakĕn ṣṛṅni ragajuti,
yen matiya, samṗu/.......
................
.... ṇ eraƞ ārakul
ṗatenana tesun kaki,
masa ṣira wikana,
raśanyatinisu/n
ṗĕtĕṅ tanṗanoṇ ḍaratan
ṗakanira hagawe laraṇiƞ ati,
śumaput ẗan ṗaḥiƞan.
//0 hasmu kepwan. wṛdayā kumtiṙ
ha/................
... jaya hemĕṅ maṅke
pyuḥ rasani rag̈a kuṅ
hamiweka raśyaniƞ ati,
ri sun/. tan wuruṅ pjaḥ
haparan riḥhaniśun
hĕƞiṅ kawasa parana,
wus wayahe mati wĕkasiƞ ahurip.
laḥ kadi puṇapa
ø patiwasā pa.......
.........
katiḍaṙsa teṅśun maṅke
paran uripaṇisun
hapan mati reḥhi tan. yukti,/
luhuṅ si mon tulus aṙśa,
kanṭi woƞ alaƞut
samṗunini kataragal.
yen tulus aṙśa pe¡tĕn saṅkaṇiƞ aśri,
haja gawe pocapan./
...................
...śesānisun aṙsa ri sira,
suka pjaḥha ƞoṅ maṅke
tan sipi laraniśun
ṣṛṅni wa/don sinĕƞguḥ lañji¡,
masa laƞgĕṅƞe
sabḋani taṇ ayun.
tkanaṇa larani wwaṅ
laḥ ta luƞā paƞeran yen sira haśiḥ
ri sun tumute si/...
................
sihira tan kumapaḷƞa,
ni skaṙjā paƞuçape
maṅko sariraṇniṅśun
sa denira ha/reya kaki,
samṗun. tĕlĕṅ ñana,
tan munḋureṅ laku
gumtĕṙ rasaṇiṅ jawa,
ki surajaya haṛgĕp tutuṙ tan ṗoliḥ
cipta wus tapĕṗĕsan.
ø /........................
.... ṗunapa tesun ḋenira,
woƞumbaran tanṗa wise
kaperes iƞ alaƞut
nisa/ dḋamā pun ṣurawaṇi,
moṇisṭa śi yaƞapa,
wus. tĕlĕṅƞi kayun
saṅśayani cipta lara,
nora gawok manira riṅ suka sugiḥ
hamĕmla ....
........muƞwakĕn gati,
tan ketaṅ ragā kasuraṅ suraṅ
haṅlamoṅ saṅkaṇi rare,
katiṅ/gall iṅ yayeh ibu
kanarakā saṅkaṇiƞ alit
niṙbag̈nā tan karasa,
tṛṣnā hagĕṅ sumaput
ḋedya tmahan wacana,
ki suraja/ .....
............. lali lupa
ø paƞucape lwiṙ madu sinaṅliṅ
ki surajaya kaṇḍĕhan raras
gĕṅniṅ/ tatalī kacanṭel
ḋadya wahu pitutuṙ
ni skaṙjā denipunkatoliḥ
sawisayāṇiṅ driya,
taṇn ulaḥhanisun
kaƞ alaku ha/......
...............ini¡,
haƞin sinamaṙ samaṙ
//0 kasaya hembuḥ tṛsnane tan sipe
maṅ/kin tanṗā ƞuwakĕn luƞeyan
siṙna luyut. tṛsna lane
taƞise haƞukweḥ rum
tan kawḍaṙ hamlas aśiḥ
haƞṛs. cipta mihaṙ/.....
..................
........... ran
karahitaṇiṅ sabḋa haƞariḥ hariḥ
lamat wijili śwara
ø na dataṇ eraṅ/ saṅƞ āmoṅ karasmin
ki surajayā maṅsa ho<l>i ya
ṗānaṅkisi driya haguṅƞe
ni sĕkaṙja rinakul
buja mahas. tanṗeṅ pan siha
........
..........ṇni... paƞi
....tine muksa bayaƞan
ṗatiwasa jajaka bisa ƞaṛki
tanti punaṙdaya/
//0 tusṭa manaḥ hyaṅƞ anaƞga midḋi,
tasuṅ wig̈nani tapa mohita,
saḥ śakiṅ raga mirage
mareṅ śunyata yamuṙ
śurajayā kaṙyya mari/....
.....................
...di yegya ketuṅ
tuture saya karantan
ṗamtuni bañcaṇā hakweḥh anoƞi,
ci/pta kadya nālaƞṣa
//0 kadyana sobawaniṅ wwaƞ ataƞi,
ragasamayā wikan i taṙka,
nhĕṙ kawuṙyyan kakaƞe
kawiḷt iṅ tan sa/...
...................
....bḋa tan karakasa,
ṗaran riḥhanisun
kabañcanā rakanira,
ni skaṙjā saha mara ri/ƞ awƞi
haśṛṅ haƞajak luƞā
ø ragasamayā duka mawiṣṭi,
laḥ sahakna woƞ iku kakaṅ
paran rupanira maṅke
luhuṅ yen taṇ anaha/.....
................. kerid.
poma sira munḋura,
samṗun kadaluruṅ
yen ṣira hayuṇ akrammaha,
harabi/yā kakaṅ saƞkaṇiƞ ābcik
ṗetĕn sakiṅ byantara
//0 punapa kakaṅ yen wontĕn kapti,
kneṅ rarasira ni skaṙja,
denpuñu.......
..........ku duḋu,
taṇ ulahaniƞ alamṗahi,
poma sira maśula,
iḍĕpĕn katesun
byanta/ra depunkoniƞa,
ni skaṙjapet sarasaniƞ abcik
g̈aty agawe tan sambarana
//0 laḥ ƞoṅƞ īḍĕp sabḋaṇira kaki,
denira/ ............
......... samṗun kumalƞe
depuntuhu riṅ wuwus
kakaƞirā manawwa lalis.
ri śun kare/ kelaƞaṇ
niṙ don ḋera muwus
ḋa hantya tan eṅ wacana,
kusuma waṙsa bapa de¡npunkatoliḥ
tuhune kakaƞira
ø sipi tṛsna ni/.........
...... lulute ki surajaya,
ḷṅḷṅni nala rumawe
kariha liƞgiḥ maƞu
sa minaka dyu/tā matitis
ñanā hanuṅgal i raga,
solaḥhe kagug̈u,
karasa kaṅƞ √la hala,
kadya ƞipī kaṅƞ awak mareṅ saṅ tami
lwiṙ tanṗa tmaḥ/....
......jaya mnĕṅ tanṗa liṅ
ragasamaya mṛdḋi saloka,
sabḋa mesi gamaṅ pinet./
ya ḍuḥ saya katmu
calorira kaṅ surawaṇi,
manimṗĕn ḋyatakala,
tañ jati hiriśun.
yen ana kaṙsani maṇaḥ
sahujaraṇira ......
............
//0 kaskayaṇiṅ yoga lawan smanḋi,
ƞāƞukweḥ prasidḋahaniṅ lamṗaḥ
kapuraṅ/ yen dudu dṛbe
wus ṗawṛtẗiṇiṅ tuwuḥ
kasaṅkala deṇiṅ pawestri,
wowohaṇiṅ sarira,
tan wuruṅ katmu
liṇuƞan lagī kapĕṇḍak./
............... wtuṇiṅ titiṙ
wruḥha ta jawanana
ø wyaṙ kaṅ tutuṙ hilaṅ tanṗa ganti
rasa datanṗa sambu/tan hilaṅ
taṇn ana kacanṭel.
lwiḥniṅ budi kemuṙ
hapeṅ raga lwiṙ tanṗa galiḥ
sinĕlimuṙ gumiwaṅ
sinambut murucut
halaniṅƞ ambĕk ṗrapa/....
................snā mĕṇuhi,
lwiṙ wwa deṇiṅ prayatna
//0 kaṅ surajayā kaya tan kawi,
wus kato/ṇn ulahira saṅ muḍa,
siśip sĕmbiṙ patakaṇe
matipaniṅ tan wruḥ,
ƞeli kawī lamon kasilib
ḋalu paṗa kalesa,
yen ṗaṛƞĕṇiśu/....
.....ton ....ṣ...ne... b
waṇa,
h...i rupane śwaṙg̈a patakajñā mani,
wawayaƞaṇniṅ sabḋa
//0 akweḥ bisā ƞuca/p kumalwiḥ
haƞi kasīlib iṅ lalamṗahan
mapan wus ṗrahi wwaƞ akweḥ
waneḥ ṛkweƞ amuwus
ṗiṇḍa lṗas raraga kari,
yen taṇn atut iṅ na ....
...............
hawis ka jati tuhuwa,
ki surajaya puṅgĕl rasaniƞ ati,
hawtu krodḋa sabḋa
//0 laḥ sa/mono śwaranira kaki,
hamwĕhi praṗañca widḋaya
ye¡n tan kemutan ƞoṅ maṅke
jabuṅ nawi tan keku
pañcanḋriyā nukupiy ati,
misan ḋe/........
.............
....ggaṇiƞ amukti saṙga
rayinirā amuƞu tutuṙ tan poliḥ
kakaṅ sakayuṅnira
ø ta/ƞeḥ pamuṙsintaṇiṅ saṅ kawi,
tan ṗoliḥ don ḋeṇiƞ arancana,
rahina wri reḥ
ki satawaṅƞ awuƞu
kakaṅ paran ḋera rasani,
kaṛƞ/............
......śun
sa deṇiṅ punapa,
tan lyan kaṅ g̈inunĕm nastapanku kaki,
weti raga kasiyan.
//0 /baṅbaṅ wetan ṣigra hada taƞi,
tuṣṭa manaḥ saṅƞ anāṇḍaṅ kaṙyya,
ramya hadan busana serega
haśuci laksana rum
wanya nambut buda hapra/...
. ...ṙyya .......ƞan
rowwaṅ rowwaṅƞupun
ramya kuṅ g̈uṙwyaniṅ manaḥ
ni skaṙjā tan tĕmĕ rasaniƞ ati,
datan mi/lu ṇuraga
//0 hadaṇn amuhun ki surawaṇi,
hantya toliḥ lamṗāḥ tan ṣiṇuƞan
ki satawaṅ kaṅƞ ora weḥ
hatĕnĕn kaṙyya haguṅ
ha...................
...ḋaƞ āharesa,
hyaṅ nini tanṗa suṅ
paḍa hakoṇa ƞatīya,
samṗun luƞa ki heca ƞinṗa/ manaḥ
hantĕnĕn kaṙyyaniwwaṅ
//0 pada hyaṅ nini tan ṗinisiṅgiḥ
sama deṇiśuṇ amoṅƞi kaṙyya
samṗun apiṇḍo gawe
paraṇujaraṇiṅ/....
............mpaḥta kaki,
denṗunṗrayatneṅ maṙga
sumurudḋa teṅsun
wus mintaṙ ki surajaya,
ragasama/ya wya taṇn adoḥ haƞimbaṅƞi,
śumilib lamṗaḥhira
ø dengĕlis lamṗaḥhe ki surajaya,
tĕlas kapuƞkuṙr i priṅga,
ri widḋamaya du/.....
.................
hamuṙywani ki surawaṇi,
g̈ĕnĕp gariwanan
lĕyĕp muhara kuṅ
hantyan kapiṅ ṗatapan
liṙ/ tatwaṇiṅ kusumā ta batuṙ hadi,
gambiraniƞ aśramma
//0 kaṇḍĕg lamṗaḥhe nhĕṙr aliƞgiḥ,
pamiḍaƞaṇi yasa laraƞan
saṙww ano/.....lis rame
rasamayā muwus
saṙww aliƞgiḥ haṅripta tulis
halalakon ṗunapa,
kakaṅ surat iku
suma/huṙ ki surajaya,
bomantakā laṅgaṇa hanḋaga hajurit
habaṅsa lan. yayaḥ
//0 kasalimuṙ maṅke manaḥ ṇiki,
deniṅ kasa........
........paraṇe
ha rag̈a samṗun wutuḥ
ni skaṙjā wwaṙ taṇn ana katoliḥ
surajaya hadan mintaṙ
la/mṗaḥheran ḋaruṅ
tan koṇiƞaha ri maṙgga
kaduṅkap iṅ baḃahan karasa ƞliḥ
pyuh anĕkani juraṅ
//0 rag̈asamaya me¡sĕm ṣaṙwwa/..
............... paƞubonan
haṗupuḍe tamaḥ pinet.
rakanira mintuhu
hamahonī busana ṇnīki/
manḋra manḋrani sipat
hamwĕhī bagus
ṣiśimbaṙ tiniti waṙṇna,
lamat lamat ṣwĕḥ titisṣ iƞadum manis
ṣinahasa ri kĕmbaṅ
ø pañcawara po/......
...samaya ƞambyakĕn tinḋak
g̈umĕsĕṅ parismune
ki surajaya kusut.
ḷkĕniṅ manaḥ tanṗa suśum./piṅ
budī tan kaṇuragan
basajani wiku
manḋaha yeṇuragaha,
ḷḷmbaran ḋene hakweḥ braṅti,
ginunm i wuwuja
//0 tanṗa tmu/........
...iruniṅ baḃahasahankriṇ
i bañjaran ṣumare,
tinuṇḍa tuṇḍeṅ wwatu
sidatapa, no/ƞī talu
ratna pakaja sina
sari roṇḍon aduluṙ
saruni paṛƞ āmijaḥ
tañiri rakta cihna skaṙnya rawit
liṙ ḍatu sinahasa
......ni kakaliḥ
sami wayaḥ hutamani rupa,
hulate hapiṇḍa leteṙ
sabḋa meswi hawoṙ/ guyu
ki surajaya maṇḍĕg anoliḥ
mesĕm ki ragasamaya,
hapan wruḥ riṅ smu
hatanya winor i tiƞal
baya wnaṅ jaluw arereṇ iṅ ri/...
....................
ø hadi ḋiṙyyan ṣumahura hisin
hasmu wiraṅ hamapageṅ wulat.
reḥ paḍanom wayahe
me/sĕm ṣaṙyya tumuṅkul
nora wikan katesun kaki,
haƞi si baya wnaṅ
lamon waṅƞ abagus
lĕstariya punaṅ lamṗaḥ
nora wawahu/....piṙ
saḥ śaṅkaṇniƞ āƞeca
ø hawuliḥ pataṇyaniśunini,
punapa liƞgani waṇaśramma
hula/te medm aṅlare,
siƞgiḥ batuṙ hawu
ri sacari kal minaka di,
hanḋaruṅ punaṅ lamṗaḥ
saṅ jyaḥ kari maƞu
dṛsṭini jñanā kumñaṙ
ki suraja/ .....
ṗrapta ri paƞubonan.
//0 sambramma padḋa hyaṅ nini,
saḍatƞa ra wahu katiƞal
ḋi saṅkaṇi/ra ƞulanṭe
haḷp mampa wuwus.
ranakira ƞubara,
tanṗa sa teṅśun
waṛg lara nuti lamṗaḥ,
hadan rakā pada hyaṅ nini saṣa ...
....las tut
... iṅ sab....
//0 sigra pamuṙsitaṇniƞ amṛdi,
tan koṇiƞaha de¡niṅƞ aḍahaṙ
śumarire jiwa/ lwiṙre
hantya toliḥ yalaku
rakanira hayuṇn apamit
kariya gĕg̈nĕpa,
baśukiya raḥhayu
laḥ bapa dipunṗrayatna
hanaƞo/......nak mami,
lakw ayo salaḥ kaṙyya
ø tumḍun anut bañjaran aris
mayat kaṇḍĕg lumako lo/lonan
ḋenwikis babasahane
kamṗuhe hasmu kusut
habaƞ irī winaweṅ sari
hasabuk gula tina
hamĕwĕhi bagus
hagawe haṙsa/.....
.....ḍak ṗawestrī wṛdaya siƞit
karahitaṇn iṅ mulat.
//0 waniḥ kari braṅta wula/ƞun kapti
maƞumaƞu dwatan kĕṇe paƞan
ṣmaṅ wirotṣa gawene
kataman ulat guyu
saƞ aƞeçā kaciptaƞ ati,
liṙ gu/....
........reṅ gaḍuṅ
waniḥ kari puja brata
no¡ra ketaṅ sasapon ṗijĕṙ priḥyati/n
sa kataman kapita
//0 saparane hatiƞgalarasiḥ
ki surajaya pinareṅ tṛsna,
dana sawaṙṇnaheṅ lamṗaḥ...
............
juraṅ sĕṅkan samṗun kawuri,
kaṛpraṗti ya geñjoṅ lamṗaḥnya
layat kaṇḍĕg maƞu
ra/g̈asamaya wanwaçaṇa,
di sinĕjyā kakaṅ pṛnaḥhiƞ amṛgil
manawi hadoḥ desa
//0 niṙ taṅ lamṗaḥ noraṇeṅśuṇn i/....
.....ra...ni... raga wihyaṅ
kaṙswaneƞoṅ tuwuka
pisan ḋeṇiṅ tan luhuṅ
ka narakā sarira ƞliḥ
wruḥ glari/ƞ aƞeça,
maṅko raganisun
haḍahaṙ si sga mƞa,
lamon ana lwiṙ modaṅ śuka kaṅ budi
taṇsaḥ hamaƞan ḋana
ø tuwu rame patapa/...
.......haniṅ wiku nuraga,
ciptaṇiṅ lampaḥ hareren
hanonton apalaku
parikrammaniƞ ala/mṗaḥhi,
kadya maƞgiḥ talaya,
bawuṙ nalanisuṇ
ḍuḥ katuwoni skaṙja,
patibrata solahe tanṗa kekeriṅ,
samunĕṇ iku ka/....
........ya mojaṙ liṅnya haris
ṣuka dukā kakaṅ riƞ aƞeca,
tan sipi guƞe sukane
lwiḥ/ lamoṇ upupul
ṗaḍa menḋra lipuṙ kaṅ budi,
tanṣaḥ hapaṗañcĕhan
manaḥ kasalimuṙ
sumahuṙ ki surajaya
de¡ne dukāpa........
n
sṗala t
ku kakaṅ
/0 kasaya lṗas lamṗaḥhira pṛgi,
hatut maṙgga tan lyan kaṅ sinabḋa/
ƞeliṅ sarira tan sareḥ
nisṭaṇi range ketuṅ
tan ṗoliḥ don ḋeniṅƞ akiṅkin
manaḥku hanḋaluya,
cipta kadya wuru
tulya/ ......
tẗapiṅ ludra kaṅ...wa kadya ƞoṇ aƞin
lumakw añjalamega
ø hamaƞgiḥ bañjaran lamṗa/ḥ niki,
he¡ṙpaksanika wahu tinalaṅ
prapti sukṣmā kawy areren
kamṗiṙ reṅ batuṙr aguṅ
saƞ aƞecā hadan aśuci,
haƞusapi/ ....
sam...unnya rarahup
tumanḋuki surajaya,
hatuṙ sĕmbaḥ hanista śaƞ apaliṅƞgiḥ
laḥ samya maranteya/
//0 prayatnani saṅ ṣiksa kurati,
hayuna<sā> ji raka tinulak.
rag̈asamayā hujare
sarira lagya lasu
pnĕd ḋeni juraṅƞ ā/...
..... mojaṙ
halĕp ṣraṅṇiṅ wuwus
bayadoḥ deṇira lumamṗaḥ
saka wetan ṗun ṣurajaya/ mo kapti,
hanut brataṇni cipta
//0 ḍawuḥ hekā kilyan saṅ hyaṅ rawi,
hadan ṗamit saƞ anaraweça,
hawot ṣĕkaṙ sabḋa...
..............kulun
hatitiheṅ pataranadi,
hapugut. paƞapura,
saśipta rahayu,
sabḋa tuƞgal kinĕmbula/n
samṣamṗun ḋonḋon heḥ kakī, denira kamṗiṙ
kapaƞgiḥ walenana
//0 kakaṅ di pṛnaḥhaniƞ amṛgil
surupane batuṙ/...
...nak ḋeṇīra ƞolakĕn
hamariñcīy akiduṅ
muḍasarā lawan aṙtwāti
wirasanira saṅ kumba,
taṇḍi/ƞĕn kaṅ putus
pet kaṅ tuhuṇiṅ carita
mĕne ta wiwekaṇe madyaṇi wƞi
samṗun prapteṅ dunuƞan.
//0 ragasamayā hagli/...
prapti
tuṙre ki muḍatiwās
maṅgalaṇiṅ pra kawy āmet
ṗatiƞaliƞ aṅlaƞut
swara sgĕḥ karuna budi,
ba/geya saṅ ḍataṅ
hañaṙ wikan tesun
tiḷm ḋeṇira saśañja,
haƞli hapiṇḍa ƞliḥ
hanlaṅ pamṛgilan.
ø śurupniṅ saṅ hyaṅ siki gumanti,
ra/...................
wusnya byaksadḋan akule
ki muḍatiwas mantuk
tabĕḥ pisan kalaniƞ awƞi,
taraƞgane kamawa/s
liṙ kadḋi sinawuṙ
tumĕṇḍaṅ ta jaladara,
ṛmĕƞiṅ mahenḋra śṛṅniṅ mega prapti
ri tawaṅ mawiḷtan.
//0 mṛƞĕs gatrani cā....
.....ranamet jalada,
ri ta...mega rumawe
ḷmĕp wintaṅ makmul
kilat mayat lumraƞ aganti/
heraṅ sapaduloṇ
aśṛṅni wulan aguṅ
haṣṭamī ri sukla paksa,
tusṭa śwaraṇiṅ cuçuṙ munya saṅgaṇi,
kadya mumuƞu lara
//0 dalu sa/....guliṅ
ki surajayā yamiweka lamṗaḥ
mañcĕṙ mĕḷḷṅ ñanaṇe
saya kaƞĕn kagug̈u
pira lawasṣiṅ ha/ṗaḥhi,
raga mukti saƞara,
katetela ketuṅ
hagraṣṭahā tanṗa beya,
tan sipi kāsiyani raga limṗadḋi,
niṣṭani sabuwana
ø /........... raśiḥ
punika maṙmani tibraniṅ wlas
malecaṇi raga leteṙ
ni skaṙjā kyagug̈u
ni sumaṙ/sa laṇi rumawit
kataman tos na raga
mṛta rasmini kuṅ
punika lamon karasa,
pira holiyaniśun atakitaki,
tan tuhu ri wacaṇa
//0 /...... ṗa ṅlaliṙ
muṙti tan aṇa simṗaṅƞi daya,
śurajaya paƞalme
ya ḍuḥ kaky ariśun
tu/hu jatī karuna budi,
muṣṭikāṇi jajaka,
purusani laku
rakanira kumalamaṙ
hapulaṅśiḥ rajaḥ tamaḥ hanhĕ
haƞi tan sinatma ...
.........ga sawƞi
deṇiṅƞ amaṙna dyutani raga,
saƞara wus ṗawṛtine
ḷyĕpniṅ metra la/yu
śurajaya nhĕṙr aguliṅ
saṅ hyaṅ hatma siluman
hadoḥ paraṇipun
hanukṣma he¡ṅ nilambāra
kapaƞgiḥ ta muṙtine ni tejasari,
hama/.......
...niṅ saṅ hyaṅ canḋra dum akaliḥ
ki surajaya baƞun kaƞelan
henak ḋenira sare
duratma lu/ƞa laƞut
hasraṅśraṅƞan siḥhe kapaƞgiḥ
sukṣmanira ṇi tejāsari,
pamuƞu lulut
katon rowwaƞiƞ ṣajiwa,
ki surajaya mukti sari/...
..................
//0 caliḥni jñaṇā basamet silib.
ragā lit nityasa mawe ṇuraga/
hamukti rum ĕni jro laṅse
śaṅ jyaḥ tlas ṗinaṅku
wruḥ maƞamĕṙriṅ wacaṇa
sinahasā ri basa,
riṅ basa hanawaṅ madu juruḥ
maṙ muksa/...
...... muṙ...wa karas...in
...u...uṅ gantyaṇiṅ waja
ø ṛsĕpni daya ƞambyakĕn gati,
lo/lya ktĕṙ gupe nikī kanya
wus atitaḥ dṛwya mule
sarisari winaƞun
sinahasā ri lulut asiḥ
kinĕnan. re tejwala,
sgisgiḥ ni ....
................
...........lati¡,
lupu piṇḍani śwara
//0 sapiḥniṅ canḋradipa haƞti,
su/rajaya tṛsne śwupna,
kumtĕṙ jiwa woṙr aƞelan
tan sipi laraṇipun
mĕṅgaḥ hoswaḥ ruditeƞ ati,
dṛsni luḥ manḋrawayan
ri piṗi/........
.........kuyaṅ kayiƞa...
rag̈a l
pā kapnĕtan larani śiḥ
ruwe datan ṗgat.
//0 pajaṗaja/ṇiṅ lara sawukiṙ
pira lawasiṅƞ aƞeça
he¡mbuḥ tanṗa ṅloṅ ciptaƞel.
tṛsnagĕṅ rob tan ṣurud
luwaṙ tanṣaḥ hamig̈naṇi
de¡ni/........
...kṣma lwiṙ panḋuṅ
pugĕlniṅ kawy aƞambara,
tutur iṅlaṅ katawƞan. lulut aśiḥ
humor iṅ kanura/gan.
ø tan ṗarimana wtuni titiṙ
ciptane masa wuruƞā pjaḥ
taƞeḥ kawaṙna te kale
meḥ rahina kawuwus
kweḥni paksī munya/....
......wetan
makin tṛsna lepuḥ
hawuƞu rag̈asamaya,
hadan busana riṅ samṗuṇnira haśuci,
hu/mijil saṅ hyaṅƞ āṙka
//0 hasmu gaṙjita rasaniƞ ati,
ragasamaya miyat i kakaƞe
tan ṗṛnaḥ suka budḋine
punapa wa .....
.........ka mawiƞi¡t ,
sawƞi mĕṅgaḥ kĕsaḥ
waṙṇnanira luru
haturu turu taṇn inak
ka suraja/yā ya tansaḥ hāƞoƞaḥ haƞiḥ
lwiṙ kna winahita
//0 ya ḍuḥ hariṇiśun masku kaki,
tan ṗahiƞan tĕñuḥhi ñana,
laran ku/..........
wkasira hanḋulu
rakaṇira ............ti,
kakaṅ samṗun makana,
warahīn katesun
ṗunapa/ jarunaṇira,
mawaraḥ kāraṇnani raga priyatin
kepwan ragasamaya
ø kakaṅ ṛƞĕ wacanananku kaki,
hiḍĕp ḋuṙga maƞeka ye/...
.....paṇ .....ṇ ana t...age
...gĕp ....... ...
... bayu siḍman kaki,
øira kneṅ swapna,
doḥ paraṇiṅ tan tu/hu,
cipta lanā balayaƞan
wowohaniƞ aturu kakaƞ aƞīpi
solaḥ kacakrabawa
ø yaya hedan manah iƞ akiki/...
......................
...... n urupe
kaya tan woṅƞ abagus
ṗakaṇira dameṅ pa/westri,
kaya dama parawan
samṗun ṗatikudu,
ḍuḥ yayī tan maṅkanaha,
tĕmbya tan kaṇḍĕg lamṗaḥku lamon kapaƞgiḥ
kalṗi.........
ø ....................mit
lumaris hanaƞoṇni hayu,
saƞ apṛnaḥ maṅke la/yat
lakw aƞadehaḋe
duṇuṅƞane kapuṅkuṙ,
praṗti maṙgga kaṇḍĕg alīƞgiḥ
madyaniṅ parerenan
ki surajaya muwus
haśṛti/....
.......................
.... ṗoliḥ deṇira saṣanak.
ø ragasamayā/ hatĕnku kaki,
laḥ kariyā yayi gĕg̈nĕpa,
tan siki tan sipi wlasiśun maṅke
milu ƞeliṅ tan luhuṅ
salaḥ tuƞgal kariya ƞī/....
....................
................
........tumiƞāl
ki ragasamayā sumahuṙ hawoṙ luḥ/ mijil
tṛsna ri rakaṇirā
//0 tan maṅkanahā kaṙsaṇiśun kaki,
najyan tutug̈a wkasi jagat
lamṗusa denera ƞulanṭe
tan ka/........
.... bayaniƞ aƞgĕṅ braṅti,
manawi kapĕṗĕsan
ḋenera namun lulut
hakweḥ paƞuniƞa/ṇniṅwwaṅ
sera saṅ kātaman ṣiḥ hamriḥ kapatin
taṇ amaṙga byantara
ø tuturira kakaṅ denkatoliḥ
taƞekna samṗun ta.....
........kt
rame
saṅ prasidaṇiṅ laku
hamiseśā riṅ tiga mukti
lwiḥ byaḥ raja yoga/,
sawijiliṅ tutuṙ
maṅkana rakwa lumamṗaḥ
dinpuntulus kaṣi yanḋanawirati,
prihĕn maṅko balaka
//0 kakaṅ nadyan sabu/...
...soƞa...
...
....ton hĕnḋi parane
saṅ kasaṅg̈a riƞ ibu
gag̈añjara/niṅ tapa sakti,
saṅ darana kawasa,
ṣiƞgiḥ paraniṅpun
hisiṇiṅ wukiṙ sagara,
tumarimā laƞniṅ pawestrī lwiḥ
pinaka gag̈añjara/...
................
............suka,
hapan taṇ ana paḍa saṅke
maṙggaṇe priṅga he/wuḥ
niṣṭa ṗalā kakaṅ surawaṇi,
kaswaraniṅ wuwujaṅ
kalud. rara guṇuṅ
tan mapī sira paṅgiḥya,
kaliƞna tan tan ṗenḋaḥ gula/....
.......
....śun masku rusit
haƞel bapā natariṅ waçana,
sabḋa/ ƞāmbara hiku kabeḥ
tan kaṛƞĕ deṇniśun
hapan raga tan ṗatipati,
haguṅ kaṅƞ amiseśa,
hamgati laku
kemƞan. ra....
...............
....ṙmmanya baƞun kaṙsa
//0 hadan laku sigra tanṗa noliḥ
ha/mṣakĕ kaṙsaṇiṅ manaḥ
wusṣ apralalu rag̈a ƞel
harine tanṣaḥ puṅkuṙ
maṙmma ƞiriṅ kadya sarati,
wañcak ḋaṙyya ri lamṗaḥ
ra/............
..................
..... puƞkuṙr i guṇuṅ kawi,
lumaku tut ṗanaban.
ø maṅ/kin tan ṣurud tinḋaknyā pṛgi,
ki surajaya duṅkapiṅƞ aksa,
wus mĕntas i śabraṅ kilen
ṗrapti ƞamen lumaju
lamṗaḥhirā/....
...................
.......ṗt
... smu
dawĕg ta kakaṅƞ asiram
kaṇḍĕg lamṗaḥhe ki sura/jaya haś√ci,
laḥ yayi hadusṣa huga
//0 samṗuṇa toyā sarira pṛgi,
hadan lamṗaḥ saƞ anaraweca,
mayo/....
.....ṇnoliḥ saṙwwa muwus
surajayā liƞe hatoḍi,
punapa kajƞibaṅ
śuṇn abaƞun tu/rut
ḋi sajyaṇiṅ lumamṗaḥha,
laḥ kakaṅ tā puṗuḍe campakajati¡,
yayi sakaṛpira
//0 halonloṇan lamṗaḥ ...
........u hatut walaha
gaṙjita saƞṣayatine
ritniṅ paraƞ aluhuṙ
haśraśraƞan taṅ siriwi/ti,
wwany aƞuṅsi wiwara,
matuƞgalan ṣuśuḥ
kacaṙyyan tas i lumiyat.
rekaṇi wuṅkal tujalā waṙṇna riṅgit
waniḥ tulwa/....
ø Dihentikan (cerita) tentang Ki Surawani yang
baru saja beristirahat di tempat para ajar
tiga hari lamanya.
Memelihara dengan cara hidup yang penuh kasih
dia Sang Penguasa padepokan.
Dihentikan sejenak (cerita tentang Surajaya). Lain cerita-
di sekeliling Penataran,
bulan muncul pada tanggal tiga belas
paro terang di hari minggu.
// 0 // Pupuh Pangad // 0 //
Diceritakan Sang Raja
dan para prajurit sudah siap
banyak kuda .(...?) dan kereta.
Segenap prajurit bersemangat.
Indah dalam berpakaian para abdi istana, bekerja.
Dipastikan siap kereta kuda itu.
ø Sang raja telah memakai perlengkapan kebesaran.
Bertabur permata, pakaian Sang Raja,
cemerlang bersinar seperti matahari yang terbit
dari balik gunung di ujung timur.
Kilaunya menyebar, gemerlapnya permata
seolah-olah tergambar seperti kerdipan mata.
ø (Sang Raja) memakai kain putih yang benar-benar halus
bersulam benang emas, berkain pinggang gringsing, motif wayang.
Memakai keris, bertangkai dengan "blengker" berhias rumit.
Bergelang "kami tuwuh", berikat pinggang motif "luba"
berhias bunga teratai yang mengitarinya.
Hiasan lengannya dari emas tanpa rumbai.
ø Tiga kudanya sudah siap,
bersinar emas di pelananya.
Dahi dan bulu surainya tertutup
(dengan) hiasan emas, "jurjeng" namanya.
Bagian bantalan dan hiasan leher gajahnya
dihiasi dengan batu mulia tertentu.
ø Sang Raja sudah naik
di keretanya. Gemuruh langkah prajurit
dan para abdi dengan senang dan patuh mengiringkan.
Para "gusti" memakai kampuh dengan motif sama
dengan para "mantri". Para penduduk desa dan yang lain
menjadi satu dalam kereta berhias.
ø Banyak kereta tertutup beririg-iringan,
cemerlang bersinar, berjalan mendahului gajah-gajah.
Suaranya sambung menyambung dan saling mendahului dengan (suara) kuda.
Kelompok abdi kerajaan "Pangalasan", masing-masing dengan payungnya sendiri.
Kendang dan gong suaranya perlahan saling bersaing dan saling mendahului,
berbunyi bergantian karenanya berbunyi gemuruh.
ø Sang Raja tidak undur
segera perjalanan bala tentaranya sampai di Palasa
kemudian berkemah. Diceritakan Sang Patih
Senapati (bernama) Rangga Kanduruhan dan
Ki Juru Pangalasan segera mengiringkan.
Seperti guruh suara merdangganya.
ø Kendang dan gong bertalu-talu, berbunyi bersama.
Riang hati orang-orang yang baru pertama kali (melihat),
turut mengiringkan tidak tahu isyarat,
yang kemudian menjadi kecewa hatinya,
bagai mimpi pikiranya turut bangkit.
Barusan saja mengabdi
demikian dia yang mahir dalam rasa.
ø Pasukan "Papanḍen" seperti hujan gerimis (banyaknya)
kesana kemari berkelebet, berjumbaijumbai emas,
banjir dan tidak surut. Banyaknya orang lagi pula hebat
ada pasukan "Sridanta" yang lain para mata-mata(?),
membanjiri datang di Labuhapi.
Orang-orang yang memakai benting adalah para penjaga lumbung (?).
ø Orang-orang mengiringkan lebih dahulu
menanti dengan sabar.
Para prajurit "nyutra" dan pembawa bendera,
orang-orang yang memakai pakaian pertunjukan(?) tidak ketinggalan
dengan anak buahnya mulai tampak. Orang-orang pandai mengikuti
dengan sembunyi-sembunyi, tandunya(?) seperti lukisan
mereka berhenti untuk berkumpul.
ø Sampai di Makasar(?) (mereka) penuh dengan kegembiraan.
Ketuanya bertanda khusus di kepalanya
yang berwarna merah emas dengan hiasan bertumpuk.
(Ia) berjalan memimpin dengan semenamena di jalan.
(Ia) bertugas secara istimewa dengan anjingnya, menakutkan orang-orang desa,
bergerak kian kemari dengan mencolok. Ki Pora banyak bicara.
ø (Mereka) berbaris tampak di jalanan
bersegera tidak undur, datang di Panataran.
Penuh sesak jalan mereka para prajurit raja
semua bersama-sama tinggal di kemah.
Banyak yang bersantai-santai ke tempat pertapaan (?) juga Sang Nareswari.
Puas bercengkrama menopang kesedihan.
ø Sangatlah berani perbuatan
dia Sang penguasa tempat. Perbuatan baik
berdananya dilakukan.
Terkenal di seluruh bumi.
Banyak tanpa henti mereka yang menghaturkan (upeti) (?).
Semuanya serba indah, ada di luar semua
berwarna keemasan, sudah diterima.
ø Setelah memberi penghormatan berturut-turut
perbuatan yang berpahala dari tapa sudah berhasil.
Pulanglah mereka para pengikut yang menghadap
didahului orang-orang desa kemudian para pertapa
melakukan kerja masing-masing. Para ksatriya berikutnya
meninjau kemah sejenak.
ø Segera malam pun terceritakan.
Matahari baru saja tenggelam,
rembulan bersinar.
Ramai seluruh perkemahan,
suara bersahut-sahutan berbunyi bersamaan,
seperti dijawab oleh ringkikan kuda.
ø Gending berbunyi keras
bagai membangkitkan kesedihan.
Dia yang dilanda cinta terbangun. Dia yang unggul barusan mendapat kebahagiaan
menambah keindahan dalam berkidung yang terkemuka.,
Yang lain berlatih; para penjaga itu.
Di timur laut terdengar
orang memainkan "guntang".
ø Kira-kira pukul tujuh (jam 4.30 pagi)
menjadi pucat sinar rembulan. Fajar menyingsing
menjelang pagi, matahari pun terbit.
Ki Surajaya kembali dibicarakan
sedang menenangkan diri, enggan, tidak mampu mengikuti,
mengendalikan pikiran yang kacau.
ø Tidak berhasil menenangkan (hati)
jiwapun semakin tidak berdaya,
lebih-lebih tidak berdaya pikirannya.
Tidak terperhatikan jalan menuju ke kematian,
semakin menderita sekali karena cinta asmara. "Duhai
jangan melakukan samadi dengan khusuk, tiada tempatnya
sebagai jalanku untuk mati".
ø Seperti ada suara terdengar,
berita dari Ki manguyu memberikan petunjuk
“Tidak tahukah (kalian) bahwa ada perang di Jebugwangi?. Para mantri
berperang tanding ,Tuanku.
Ramai demikian berita yang beredar. Tidak ada yang menyamai,
pertunjukan di Rabut Panataran".
ø Gembira hati mendengar (hal itu).
Ragasamaya berkata, "Kikislah
sedihmu lalu (kita) pergi dari sini.
Saya semakin ingin tahu Jebugarum".
"Nah sambil melihat dan mencobai perang".
Patuhlah Ragasamaya.
ø Tersendat-sendat kata-katanya tidak keluar,
"Ragasamaya adikku,
seperti petunjuk Hyang Widi,
aku mendapatkan jalan, Adi.
Kakangmu ini
Nah laksanakanlah. Kakang berlakulah berani
karenanya aku ikut menyerang lebih dahulu”.
Adiknya (Ragasamaya) berlari turut ke perkemahan
hendak merusak tempat suci (?) di depan Palah;
sepagi mungkin (sampai) di Palburajah.
Sangatlah kasihan (orang) yang mendengar
tahu akan kebaikan bicaranya (Ragasamaya).
Sungguh sulit jadi penyebab orang mati
di medan perang. Ragasamaya agak terbawa hatinya jatuh kasihan,
memegang kesetiaan, tidak lekat pada kehidupan
dengan berani dan kuat. Sungguhsungguh saudara (orang yang demikian).
ø Seperti diolok-olok oleh rasa cinta asmara yang menguasai
membuat mabok kepayang dalam bertapa.
Maksud baik Hyang Widi menghalangi (dengan) cinta asmara.
Sebab orang muda banyak desakannya
terbelit rasa cinta, karena itu (bisa) menyimpang,
pikiran gentayangan jika dibawa-bawa.
ø Perginya Hyang bagai tanpa memberi tahu
jika langgengkan kejahatan hati.
Karena itu budi yang dalam yang sebenarbenarnya terarah
pada pintu. (Bila hal itu terjadi) hati bagai menemukan (sesuatu).
Dan semakin terasakan petunjuk dia yang unggul
bebas selalu terkuasai cinta.
ø "Ragasamaya, adikku.
Pikiranku mendapat rintangan, seketika,
kemudian memenuhi semua, menjadi gelap rasa hati(ku).
Kini menjadi terang hatiku.
Nah Adi marilah kita pergi, berangkat ke Wilis
sambil melihat-lihat Penataran.
ø Senang rasa hatiku".
Ragasamaya berkata, "Sekehendakmu
saja, aku patuh asalkan Kakang tidak bersedih.
Sedemikian besarnya engkau menanggung rindu, mabok.
Sadarlah jangan tidak memperhatikan
karena kesedihan dan duka nestapa".
ø "Benar katamu, Adikku.
Sangat baik, kini semakin terasa
nasehat dia ketika berada di gunung Kawi.
Tidak kuperhatikan sementara pikiran merana
hati terkuasai rindu, tidak ada yang diperhatikan,
lupa karena hati terhalang.
ø Nah marilah kita pergi, Adikku".
Setelah minta diri mereka segera pergi
dengan tidak bersedih hati. Sudah sampai di Gariging
berjalan terus ke barat. Banyak orang searah (dalam perjalanan itu)
juga orang-orang yang berpapasan, yang mengikuti, yang bersama-sama.
Pedagang tiada henti-hentinya mencari dagangan.
ø Cepat langkahnya, berjalan terus
Rabutbuntel pun terlewati.
Sampai di daerah tegalan menuju
wilayah Daliring.
Ketika sampai di Jaganlung kemudian perlahan-lahan
menuju ke Rabutsiwalan. Kemudian mereka duduk
di tengah-tengah batu di tepi sungai.
ø Setelah selesai mencuci muka
mereka mandi membersihkan diri
kemudian pergi dengan sempoyongan, perlahan.
Sangat kasmaran hatiku melihat
menatap lereng curam, tebing terjal dan goa-goa. Daerah sulit menghadang
menimbulkan gamang hati barang siapa yang melihatnya.
ø Lamalah jika diceritakan di jalan,
Ki Surajaya sampai di Lopat. Perlahanlahan
jalannya sampai di Karanglagundi.
Ingin datang di Kapulehan tampak lelah.
Setelah membeli sirih mereka istirahat, duduklah
Ki Surajaya sambil bertanya,
ø "Tidak ada belokannyakah jalan ini".
Ia kemudian melanjutkan perjalanan sampai di Panataran.
"Benar Pangeran tidak ada persimpangannya,
lurus mengikuti jalan agak ke selatan".
Segera kemudian mereka pergi. Matahari waktu itu
baru saja (condong ke) barat ketika mereka sampai di Kabaṭaran.
ø "Di sanalah Kakang tempatnya
beristirahat- demikian keinginanku
bersama-sama mengerjakan sesuatu yang baik".
"Sekehendakmu saja, Adi".
Ki Surajaya jalannya menuju ke arah
dia yang bertapa yang menyapa pada Sang Tamu yang
senang akan manisnya sapaan.
ø "Duhai selamat datang Sang Tamu",
disongsong dengan sapaan manis, "(Saya) tidak (tahu)
dari mana asalmu, wahai yang baru datang".
Ki Surajaya menerima dengan senang hati
kata-kata yang penuh perhatian, seperti manisnya gula.
Mendesaknya pikiran menyerupai boreh.
ø "Jangan bertanya yang mulia.
Si Surajaya ini tidak mempunyai tempat tinggal, di gunung
mengikuti kerinduan hati, pikiran seperti menggembalakan angin.
Seperti menginjak (tumpuan) tapi meleset sehingga pikiran pun seperti mabok.
(Saya) berjalan, bergerak tidak ada yang dimaui
masih samar-samar keinginan badan ini".
ø Tanggaplah dia yang diberi isyarat, tahu gelagat
yaitu dia Sang Tetua padepokan. Karena inti rasa itu
samar-samar, hampir tidak tampak untuk mengetahui akan kesejatian rahasia.
Sudah banyak di gunung-gunung, cerita dipadukan
dengan ajaran para dewa, seperti halnya kebijakan-kebijakan raja.
Songkok pun sudah diterimanya.
ø Ajaran para resi disusun
diatur asal usulnya.
"Ki Surajaya anakku
Angger,
hendaklah bersamadi tidak bertempat tinggal. Hal ini (anggaplah) seperti ibu:
yang mengikat batin orang mengembara, menaungi
(selama) "bayu sabda hidep" belum terpisah.
ø Ki Surajaya aku bertanya
bagaimana, Ngger, ujudnya dia Sang Terang(?),
bentuknya (bagaimana?). Beritahukan aku yang sesungguhnya,
tetapi jangan terlalu sedih dalam kata-kata.
Apa yang dicari (dalam) kelebihan yang unggul?.
Mana yang dianggap lakunya mahluk hidup?".
ø "Duhai maafkanlah yang mulia
hamba memberanikan diri menghaturkan keterangan.
Sebenarnya tidak maulah saya. Hendaklah dihindarkan dari kutuk dan kekuatan magis
Si Surajaya ini". Ramah munculnya katakata.
Sang Pertapa berkata," Maksudku, Ngger
orang muda jika mahir dalam olah rasa
ø tidak tahu pada arahnya kata-kata,
sangat bodoh. Dari keburukan seluruh dunia
masih bodoh (orang yang) tidak waspada
karena menuruti kehendaknya, pergi kian kemari dengan pikiran kosong.
Malam hari (...?) mencari tetapi tidak berhasil,
bimbang, ragu-ragu tidak tahu arah tujuan.
ø Meski mendapatkan sepuluh gunung,
meski telah terkuasai dunia
perenungannya, Angger, tampak sia-sia
jika tidak tahu ajaran dia sang wiku.
Laku menjadi sia-sia, hati yang prihatin pun menjadi lemah.
Duhai (mudah-mudahan) yang meragukan itu tidak ada padamu.
ø Berapa lamanya engkau menghiburhibur diri
tanpa tempat tinggal. Surajaya anakku,
apa yang kaucari, Angger?.
Engkau, Angger, songsonglah laku itu
perolehmu untuk mendapat kesenangan. Adapun aku yang berada dalam kelompok guru,
sungguh jelas karena janji".
ø "Jangan bertanya padaku,
tambahan lagi tidak dapat dipastikan
karena jalan yang buruk, tambahan lagi
karena tertutup oleh cinta asmara.
Si Surajaya telah berkeliling (untuk mencari) keunggulan-keunggulan yang bagai permata
dengan sengsara. Hakekat mantra pujian suci
sudah banyak (dicari) dalam hakekat cerita.
ø Ajaran Siwa dan Budha sudah diikuti
dan Sang pengikut Siwa dan penganut Budha telah didatangi
(juga) para dewaguru dan mereka yang bercara hidup
mengembara (seperti misalnya) kelompokkelompok religi yang hebat sudah (didatangi).
Patokan untuk mendapatkan kesenangan (sudah) dicari (tetapi) tidak didapatkan.
Itulah yang menyebabkan (saya) tanpa tempat tinggal.
ø Banyak halangannya
juga bagi dia yang mahir dalam berkata-kata;
jelas keinginannya
yaitu utama dalam petunjuk wangsit.
Tidak bingung karena (pengaruh) mata, kata-katanya mengalir.
Jika menguraikan sabda tahu pada tempat yang pantas,
Berkibar-kibar tanpa samadi di bumi.
ø Sama (saja), saya tetap dalam kebingungan
mendengarnya, sulit rasa hati ini
lebih-lebih jika ada pustaka utama yang memuat pengetahuan unggul
meski mendapatkan satu pikulan.
Semakin memantapkan hati, hatiku diingatkan
karena bertekad (menunggu) munculnya ajaran.
ø Barangkali ada petunjuk padaku,
(wahai) engkau yang betul-betul tahu akan segala kegembiraan, tanpa halangan
yang beralasan melakukan brata mengitari bumi".
Sang Tetua pertapaan dalam keadaan bingung
mendengarnya, hatipun tidak memperhatikan
mengikuti munculnya suara.
ø " Benar katamu, Anakku,
jangan tidak bebas dalam menyempurnakan arti
sudah kau temukan semua, Ngger
hati-hatilah. Yang jelas tidak dapat disombongkan".
"Duhai tidak mungkin, yang mulia, hamba ini terlalu berani
sepertinya kagum Si Surajaya ini.
ø "Dan selanjutnya (karena) anda, saya menemukan
Sabda yang amat berdaya hidup yang memberi nasehat pada hati".
Dia yang terhanyut dalam lamunan kini telah mahir dalam tuntunan rahasia
guru sejati. Komposisinya sudah ditemukan
kecil tidak bersekat, lagi muda, cakap.
"Orang yang tahu laku,
ø ada batasan-batasannya, Angger, dalam berkata-kata.
Engkau yang pertapa mengembara dengan saleh
dan yang mengetahui hakekat sabda yang sesungguhnya
berlagak unggul, berlagak mampu tidak undur,
mengurai kata-kata. Kelompok darmahaji
diurai menjadi 3 sebagai galah."
ø Ki Surajaya berkata ramah,
"Seberapa besarnya badan jika dibandingkan dengan jagat raya ini,
penuh sesak, tambahan lagi ada darmahaji.
Kurang malam jika harus membandingkan pengetahuan .
Meski mendapatkan hal yang 3 itu, hendaklah dimengerti dengan jelas, sangat
unggul dia Sang Pembuat sabda".
ø Demikian kata dia yang mengerti sepenuhnya dalam penglihatan.
Campurkanlah sejumlah perasaan,
kalah oleh yang tanpa rasa di hati.
Segala kemahiran mahluk sungguhsungguh mahir,
lebih baik dari pada kebodohan yang penuh larangan dan rumit.
Dia yang utama pikirannya berlagak bodoh.
ø Kira-kira menjelang petang
telah tenggelam matahari.
"Anakku Surajaya (kini) sudah
malam, (sudah) waktunya aku mempersilakan.
Tiada lain kenikmatan untuk tidurpun datang".
Meluasnya perkataan tiada habisnya.
ø Sang Tetua padepokan turun
masuk ke dalam rumah, tinggal
Ki Surajaya yang terus memikirkan akan
gencarnya sabda yang muncul.
Tidak diceritakan perkataannya pada waktu malam hari
dan lagi di (...?) alat musik berbunyi.
Pagi pun sempurna matahari muncul.
ø Kliwon pagi terceritalah.
Mereka berbareng datang segenap pahlawan perang.
(Datang pula) orang-orang darma, akuwu bersemangat dan sejumlah prajurit
"jabuwi" semua datang. Sudah beristirahat
juga orang- orang Lamajang, semuanya sudah diberitahu
masing-masing.
ø Para pengawas sudah berdatangan
(demikian pula) sejumlah Kuwu tidak ada yang terlewatkan.
Orang-orang dari ngarai Gintir datang pada pagi hari;
orang-orang dari timur Kawi datang lebih dahulu.
Sejumlah orang yang gagah berani dengan ciri-ciri seorang "mantri" dialah
yang memberi perintah kepada para "tanḍa".
ø Orang "darma" telah berkumpul;
sejumlah "kabayan" datang.
Orang dari Balitar sudah beristirahat
dari belakang dari Waturit.
Para "manguri", orang dari Pakandangan datang,
yang lain orang dari Polaman, orang-orang dari Buntĕl datang lebih dahulu;
bersama-sama muncul dari sebelah selatan hutan.
ø (Mereka) sepakat (...?) tidak undur.
Gagah berani Kabayan dari Urawan,
tetap kebal, tidak takut.
Dengan perlahan barusan dikeroyok, tidak bergeming
ditombak tidak surut.
Tiga bersaudara dari Gegelang
ø Ki Sora dan Ki Samun
Gajahpaningset yang bungsu.
(Mereka) ditinggalkan ayah ibunya
itulah alasannya berperang
karena kesusahan hatinya menimbulkan belas kasihan.
(Mereka) berusaha mencari takdir, senang jika mati
gugur di medan pertempuran.
ø Sudah dipenuhi oleh para prajurit bayaran
segera mereka dengan tergesa bersiap
berusaha keras agar bisa berbaris di tepi.
(Orang-orang) senang mendengar bunyibunyian bergemuruh.
Suara gong berbunyi bersama-sama;
yang lain (suara) kendang, gong riuh berbunyi gemuruh.
Sang pahlawan berada di punggung
gajah, ramai beriring-iringan
dengan Pengalasan. Kemudian pagi
senanglah para Tandamantri.
Segenap bangsawan muda yang gagah lebih dahulu
sampai di Laburajah. Sudah sampailah
Ki Surajaya segera ke pertapaan.
Tidak putus seperti "sulung"
dari timur; berduyun-duyun para prajurit bayaran dari Kembang.
Para Kuwu semua sudah datang.
Ramai perang lembing itu, para Kabayan berhadap-hadapan,
diserang habis-habisan (...?) seperti babi hutan diadu.
Gembira bercampur takut hati para pemberani berperang.
ø Ciri-cirinya Raja muda
berlima tersebut adalah mampu (berperang) meski
menghadapi musuh 30 orang.
Pahlawan yang gagah berani mati-matian,
dari keluarga bangsawan bernama Lalanasambu
dan Banyakputeran, Kala Huwahhawih,
Mahisaboṭo dan Panjiwisaya.
ø Menghadapi sosok para Kuwu,
Lalanasambu berjanji (akan)
bertindak seperti angin ribut
(ketika) disongsong oleh para prajurit.
Tidak bergeming menyongsong, saling berjanji:
berani, bertempur sama-sama berani saling menyerang mengalahkan.
Sangat senang Sang Raja.
ø Panjiwisaya bersemangat
seperti berbaur dengan musuh.
Ki Banyakputeran dan Kala Huwahhawih
bertindak seperti (...?) tertiup angin
ø Mahisaboṭo menyerang
tingkahnya merunduk-runduk.
Terkejut orang yang sedang bersiap mencabut
payungnya hancur, tidak ada yang kembali menyerang.
Segenap perwira kacau semua lari.
Kabayan Palah pergi kepada pengawal,
tidak ada (orang) yang menyongsong perangnya (Mahisaboṭo).
ø (...?) karena dikejar (kemudian)
berhentilah ia karena terluka, cedera.
Yang lain yang terluka kemudian mati.
(Ia) berusaha mati membawa serta musuh mati bersamanya.
Membanjir pahlawan di medan perang, tidak ada yang diperhatikan
diusahakan mati dengan saling berhadapan.
ø Tindakan gagahberaninya riuh rendah
bercampur dengan hiruk pikuknya orang jahat yang menyamar
berpura-pura baik, terbukti mencuri-
kemudian ditangkap oleh "Tanda" (menyebabkan) temannya mengamuk.
Para "Narahita" dari pasar lari sepertinya takut.
Para pedagang berlarian tunggang langgang.
ø Sejumlah “manguyu”
lari cerai berai badannya terhempas
lagi pula tergopoh-gopoh tidak tahu tujuannya
sepertinya terbebani. Tersadar kembali ni manguyu,
lari bergandengan, anaknya menangis
ketakutan oleh sorak sorai yang terus menerus.
ø Lamalah keadaan kacau itu tidak juga surut.
Terkejut orang yang berperang riuh, karena hancurnya pasar.
Orang-orang yang ditusuk itu membalas menusuk, melukai
tidak terluka, dengan mengerikan menghunus keris.
(Seperti) kerasukan suatu yang jahat ia berdiri kokoh
mengamuk tidak ada yang menyamai.
ø Alat tetabuhan bersuara keras,
gembira hati para "kuwu"
dan para "darma" (mereka) bersama-sama lari.
Alat tetabuhannya tidak bersuara.
Mulailah perang watang. Menyerbu orang-orang dari selatan
ramai (berdengung suaranya) seperti lalat. (Mereka) saling menangkis
ramai tidak ada yang merasa kalah.
ø Perang lembing berpasang-pasangan.
Ki Sora berkata," Hentikan
jangan terbawa (emosi) tidak ada kesudahannya perang kalian, Ki Sanak.
Perhatikan satu persatu syarat-syarat upacaranya perang (kalau hal itu) sudah selesai.
(Ketika) sampai di (...?) tidak banyak yang memperhatikan sopan santun
ketika melakukan perang".
ø Sudah undur Kabayan
dipisahkan dalam perang watang. Mereka sudah menyudahi perangnya.
Beriringan dengan orang-orang yang menonton,
mereka pergi ke (...?), ramai lari saling mendahului.
Jalan kudanya segera sudah sampai.
(Mereka) beristirahat di bawah naungan pohon beringin rimbun (?).
ø Matahari sudah terbit di sebelah timur,
kemudian berjalan dari tempatnya berada.
berwarna emas yang
dibentuk istimewa, berjalan seolah-olah
di Suralaya (menurut) pikiran orang yang melamun.
Surajaya melihat dengan jelas perang yang baru saja terjadi
seperti bermimpi ketika melihat (perang) itu.
ø "Sangat sedih hatiku melihatnya (perang itu).
Berlebih anugerah dia orang yang unggul".
Rasa senang meliputi semuanya dan kudakuda mengiringkan
segenap para raja muda yang berjalan kaki di jalan
membawa panah yang indah semuanya berkilat-kilat
dan pakaiannya berciri warna emas.
ø Di jalan penuh sesak banyak (orang)
tiada henti-henti bagaikan air laut pasang
seperti banjir. Dalam pendapat sang kawi
seperti gunung bunga. Berkelebetnya bendera
dan jumbai-jumbai (pada tombak) berbelitan. Prajurit "wrĕgu" berjalan mengiringkan
kereta, kuda di jalan.
ø Sejumlah prajurit bayaran menyerbu,
orang-orang "darma" membawa tombak.
Tetabuhan berbunyi seperti disanjungsanjung.
Berjalan cepat Ki Sora dan Ki Samun,
Gajahpaningset tindakannya unggul.
Mereka memakai senjata tajam model lama.
ø Ki Sora berkata,
"Gajahpaningset, Adikku, Pangeran,
dan Ki Samun, jangan jauh-jauh dariku.
Nanti bila Lalanasambu bertindak
dan juga Banyakputeran, hendaklah kau hati-hati- menyingkirlah
dari daerah peperangan.
ø Mahisaboṭo kuat
Panjiwisaya berjanji (untuk)
teguh. Sudah siap dengan sempurna
Ki Lalana Howahhawih.
Tidak ada yang berani menyongsong (ulah) prajurit bayaran.
Segenap Kabayan sudah ditundukkan, sepertinya ketakutan.
Orang-orang dari Palah sia-sia membunyikan tanda (titir).
ø Ki Samun katanya menjawab,
"Hah tidak ada gunanya
takut kepada Lalanasambu
sama-sama menginjak bumi
dan sama-sama makan nasi.
Meski seluruh bumi kalah, aku tidak takut,
meski diadu oleh Sang Raja.
ø Gajahpaningset menjawab,
"Kami bertiga, Kakang, punya tugas istimewa.
Dia yang unggul kusongsong sendiri
Jika (aku) undur satu “ḍĕpa”, aku malu".
"Duhai jangan begitu pikiran seorang prajurit,
sayang sulit dilakukan, Adi, dengan kata- kata.
ø Menimbulkan tertawaan orang -orang yang mendengar.
Kesanggupan Ki Kabayan sempurna.
Hebat keberanian orang ini.
(Ia) pergi dari tempatnya duduk, sudah terlanjur
datang di tempat penyamaran, sebuah arena yang melingkar
segera berhenti yang berperang.
ø Sudah siap tidak ganas
perang watang itu. Mulai bergerak para prajurit bayaran.
Berputar, bergoyang watangnya ditegakkan,
perisainya dipegang. Memukul dibalas dengan memukul,
tersenyum sambil membidik. Senanglah para perempuan,
yang lain disuruh mundur.
ø Ada prajurit bayaran agak kikuk,
tindakannya kacau,
turut bergembira berlagak bisa,
mencibir (sambil) berjalan berpegas-pegas;
terhuyung-huyung hampir terjebur sumur.
(Ia) berjalan mundur sambil mengerling, mata dipenuhi dengan warna putih mata.
Kata para perempuan; "Mudah-mudahan kena".
ø Tombaknya bengkok hancur lebur
leher (tombaknya) menjadi rumah kumbang
dan lagi penuh serbuk (.......?)
(...?) hasilnya mengumpulkan,
menggotong barang rampasan, tengahtengahnya hangus
dari kejauhan seperti bambu pikulan.
ø Kain pinggang pendeknya dililitkan tiga kali
disambungkan dengan "daluwang" dibuat pancung,
tampan. (Ia) membawa keris "baḍog".
Anting-antingnya timah senilai 2 ribu
dikira perak, simpainya "upih"
diberi nama "satru randa" (musuh janda).
ø (Ia) mengangkat watang dengan kuat
tidak tahu bahwa anak-anak tikus yang masih merah berloncatan,
kumbangnya terbang satu demi satu.
(Si prajurit) melihat ke angkasa (..?). (Hal ini membuat) sejumlah prajurit bayaran tertawa.
Semakin banyak (orang) yang disengat (kumbang), sebagian berusaha (bertahan) (dengan cara)
dipukul-pukulkan tombaknya jadi empat.
ø Rakyana Patih menemui
segenap orang kuat. Bersama-sama (mereka) sudah
datang menunggu.
"Juburuh jaba" dan " juburuh jro", serta (para)"gusti" tidak ketinggalan.
Belum lagi orang "bapang" diharapkan tidak ketinggalan,
lainnya lagi para "paribon" sudah siap.
ø Orang-orang dari timur sepertinya diatur.
Tindakan menyerangnya bersama-sama.
tidak takut bahaya. Serangan itu ditujukan
kepada orang Lamajang, yang diserbu, (mereka)
tidak takut, berani seperti raksasa. Musuh lebih banyak
menimbulkan kecil hati, mujur tidak mati,
diteriaki oleh para"darma".
ø Lalanasambu memberi semangat,
semakin tidak jujur.
"Perintahkan, Kakang, supaya aku maju".
Perangnya (Lalanasambu) menakutkan.
Menonjol perbuatannya, temannya tidak ada yang tahu.
Waspada Ki Sora, adik-adiknya dilirik.
Ki Samun mengencangkan celananya.
ø Gajahpaningset tahu gelagat.
(Ia) mengusap tanah, senjata “tĕwĕk”nya di"ḍĕpa" tiga kali
tetapi tidak berani (menyerang), menunggu situasi.
Orang-orang "darma" pulang dari berperang “watang”, mati.
Ki Sora waspada, “jĕbĕng"nya siap di atas.
Lalanasambu dipelototi.
ø Ketika (...?)
(...?) datang dari timur laut, (yaitu)
riuh rendah suara burung gagak.
Lalanasambu bergerak (tidak tenang) badannya,
gelisahnya mata menandakan bergetarnya hati,
jatuhnya bahu kiri menandakan kesedihan.
ø (Ia) teringat mimpinya:
Lalanasambu dan Panjiwisaya
gembira sepertinyaa beriringan naik (perahu).
(...?) Diangankan dalam tindakannya itu.
Sampai di tengah lautan tampak
perahunya tenggelam seluruhnya.
ø Tindakannya terasa lemah
Lalanasambu tidak tahu lawan atau sekutu.
Ketika ditusuk tetap berdiri kokoh tidak menangkis.
(Ia) terluka, tampak dadanya
tembus ke tulang belikat, tidak mampu membalas
................(?).
ø Orang-orang dari timur takut (kemudian) lari
atas kematian Lalanasambu.
Banyakputeran mendengar
bahwa sekutunya sudah mati.
Panjiwisaya wajahnya bagai disemprot
dengan "galuga" pohon tal, marah. Ia berbela mati,
seolah-olah hendak meremas besi membara.
ø Mahisaboṭo berkata
menantang, hatinya kemudian
(......?) Howahhawih.
Waspada Ki Sora yang unggul dalam membaca gelagat.
(Ia) tidak takut, benar-benar prajurit sejati,
menuju ke sasaran belum dapat diraih.
ø Ramai saling mengejar
dalam perang watang dan perang perisai "dadap", ramai gemuruh,
dibarengi dengan jeritan sekutu yang ketakutan yang bersahut-sahutan.
Orang-orang yang menonton semua lari
karena (...?)
ketakutan, ngeri mencari tempat pengungsian.
ø Ki Sora segera dikeroyok, diserang
beramai-ramai oleh Kabayan (dari) Panataran.
(Ki Sora) segera ditolong-diketahui oleh Sang Raja
yang sedang berperang "jĕbĕng" yang riuh rendah berdesakan,
tidak bisa dipisahkan. Sejumlah prajurit bayaran mati
terluka kena perangkap.
ø Panjiwisaya (...?)
tidak ada yang menyamai dalam menyerang.
Hampir kena (...?).
Waspada (ia) menangkis
(ketika) diserang, didesak oleh karena kewajibannya. Ki Samun,
Ki Sora sakti juga saudara mudanya
Gajahpaningset segera menandingi.
ø Ki Sora berjaga di selatan.
Mahisaboṭo dan Banyakputeran
musuhnya itu, diserang tidak takut.
Panjiwisaya diserang dari samping, dari arah selatan-
ditusuk, kena, terkejut lalu menoleh.
Luka lambung kirinya, (ia) melawan.
ø Gajahpaningset menusuk
Ki Samun segera mambantu.
Ki Sora waspada melihat
adiknya diserang habis-habisan, didesak.
Orang "darma dan “akuwu" lari
meninggalkan senjata watangnya, berlindung pada "pangawin", yang
mengambil senjata karena rasa takutnya.
.... Huwahhawih lari,
Mahisaboṭo dan Banyakputeran,
para saudara-saudaranya melarikan diri gemetar badannya.
Panjiwisaya dan Lalanasambu
saja yang sebagai dituakan yang menopang, semua mati
(apalagi) badan ini mustahil tidak mati.
ø Takutlah para kepala "kuwu".
Para perwira lari menutupi
telinga. Seperti angin topan
menerjang para prajurit yang mengikuti.
"Jaburi" .... dalam tugasnya
lari bersembunyi terusir ke utara melarikan diri.
Orang-orang Lamajang semua meninggalkan senjata watangnya.
ø Tombak, senjata barudi bertumpuktumpuk
berserakan yang lain tertindih mayat
yang seperti orang tidur. Adapun keadaan prajurit bayaran
dan yang lain bernafas tersegal-segal terdengar mengaduh.
Lukanya ditempat yang mematikan karena tajamnya keris.
Kepuasan bergelora mengharapkan ...
... serempak
bersahut-sahutan dari arah tenggara.
Semua (orang) merasa kasihan pada keluarganya.
Rintihannya menimbulkan belas kasihan.
Sepertinya menutupi suara sorak gemuruh yang
sampai ke angkasa itu yang seperti ombak bertabrakan
berdebum berbunyi gemuruh beriringan.
ø Diiringkan dewa maut
Sang Perwira dipisah semakin menjadijadi
gemertak ...
...
(Mereka) pergi mencari perlindungan ke dalam rumah. Kala Huwahhawih
lari mengungsi ke tempat Rabutlayat.
ø Semakin menambah cemas
dan kacau semua yang menonton perang.
Sekelompok orang kacau balau oleh Gajah(paningset) yang marah,
berteriak, menjerit, menusuk mengenai 8 orang.
Semakin ...
...
... lari
ketakutan karena ulah yang mengamuk;
ke pasar tujuannya
barangkali masih bisa hidup.
Mendapat mangsa (?) karenanya gempar gemuruh.
Seperti hutan keris banyaknya pedang dengan leluasa
merusak medan perang.
ø Sang Raja marah
...
para mantri ...
Sang Raja berkata agak songol suaranya,
"Undurkan para prajurit!".
Kemanapun pikirannya orang-orang "darma".
ø Ki Dojwa katanya menghaturkan sembah,
"Benar, yang mulia, yang bernama Si Sora
dan Si Samun, Paningset yang bungsu
dari Urawan tanpa tempat tinggal.
Sang ... prajurit muda".
Diberi (hadiah) kain geringsing wayang (prajurit itu).
ø Sudah lerailah perang itu disetujui.
Ki Sora dan Ki Samun
diikuti Gajahpaningset
selalu dekat dengan Sang Raja.
Diceritakan para prajurit bayaran yang berusaha menang lagi
dimanfaatkan dalam keadaan sulit ini, menghancurkan.
Banyak orang yang disudahi di medan perang.
ø Diberi kain dan ikat pinggang
... dengan gembira di medan perang,
sebagai hadiahnya dia yang pemberani menyabung nyawa.
Ki Sora tidak lain kesayangan Sang Raja
diberi hadiah, diberi seperangkat (senjata?) baru.
(Ki Sora) diperintahkan untuk memilih harta benda.
ø Diceritakan Lalanasambu dan
Panjiwisaya beriringan
ke sorga. Rohnya
sudah sangat mulia.
Sorganya orang yang berjaya di medan perang. Semua tidak mendapat kesulitan.
Prebawanya gunung emas yang serba emas,
mendapatkan bunganya angkasa.
ø Banyaklah yang harus diperhatikan dalam kata-kata
tidak akan habis oleh Sang Kawi(dalam) merangkai kata-kata
buruk dan baik. Kini diceritakan
Ki Surajaya dijadikan "lakon"
semakin tahu, keramaian yang berlebihan
ada keinginan untuk mengetahui akhir dari cerita ini.
ø Lerainya baru saja kemudian (mereka) undur.
Tempat duduk sejumlah anak-anak raja
indah. Berturut-turut di seluruh daerah, pengawal mengiringkan.
Sejumlah "tandamantri" mengiringkan, lega (hatinya), diikuti
sejumlah orang yang berperang di "darmakuwu". (Kemudian mereka) bubar.
Sunyi sepi tengah medan perang.
ø Ki Surajaya hatinya trenyuh
asyik bersembunyi ditengah penyamarannya
kemudian ia berkata," Duhai adikku, Di,
sangatlah perkasanya dan utama dalam pengetahuan
sekelompok orang segala abdi istana (?), carilah maknanya, Adi,
Apa perolehanmu melihat (perang) ini?".
ø Ragasamaya menjawab,
"Pertimbangan hati hendak membuat syair
Sang Kawi memandang anugerah dengan menikmati
yang ada pada diri raja yang sebagai permulaan keindahan,
penguasa dunia, tidak ada yang mengalahkan
(sebagai) badan dunia".
ø "Hah tidak begitulah dalam hal laku.
Mudah, Adi, tidak ada halangannya.
Ada tetapi masih bodoh untuk menerangkan, Adi.
Jangan dibicarakan budinya sudah meliputi
terbentang di kerajaan, munculnya dalam diri raja menurut Dharma.
Tiga pertahanan(??) membangkitkan kesunyian.
ø Termangu-mangu kami, membangkitkan kekaguman
atas matinya Lalanasambu
dan Panjiwisaya yang sudah mulia;
yang gagah berani tidak ada
pengiringnya. Mereka berlima sanggup tidak undur
hatinya tertinggal. Menurut perkiraan.
Ki Sora unggul tidak ada yang menyamai.
ø Sangatlah beraninya Ki Samun,
Gajahpaningset tidak dapat diperdaya,
sulit dilaksanakan untuk jadi penyebab kematiannya.
Ragasamaya berkata sambil tertawa,
"Siapa yang menyamai, carilah (orang) yang berani
dan tentu kalah oleh Ki Sora".
ø Di jalan sudah sepi
kemudian pergi Ki Surajaya perlahanlahan
jalannya; adiknya tidak jauh mengikuti.
Sampai di kabuyutan segera (mereka) duduk
di pendapa sambil menulis karangan
(berjudul) di Imanimantaka kedatangan utusan rahasia.
ø Ragasamaya berkata,
"Kakang, silakan melihat-lihat ke bagian dalam (bekas keraton?) sekalian.
Semakin saya ingin melihat keindahan yang unggul".
"Sekehendakmu Adi, aku menurut".
Segera mereka pergi bersuci di kolam dari batu.
Dia yang memelihara keindahan sepertinya takjub.
ø Sampai di dalam (bekas?) istana (mereka) disongsong dengan
datangnya angin yang bagaikan menghaturkan bau-bau
harum yang menyebar, seperti gadis menyambut dengan ucapan selamat datang.
Tersebar segala bunga sepertinya membangkitkan asmara.
Dengungan lebah hitam serupa (suara) perempuan
yang sedang melakukan persetubuhan dengan kekasihnya.
ø Kasmaran, hatinya terhanyut
termangu menatap takjub pada perasaan hati.
Keindahan "meru"dan aneka bunga
seperti di Suralaya. Perasaan hati yang berbunga-bunga
dalam hati tersebar membuat lupa daratan, merana
melihat warna yang serba emas.
ø Ketika mengitari "batur"
mengikuti rasa hati, Ki Surajaya
menghitung sengkala "mĕlok", sengkala "milir"
dan sangkala "koci" saat pembuatan semua ini, ketika itu,
sejumlah relief-relief cerita, gapura dan
taman raja yang luas (dan) bende sudah dihitung.
ø Ragasamaya berkata,
kakaṅ pi/.....
.....basukiniƞ akikin
rupaṇniṅ guna yaśanira saṅ ratu
miliriṅ pratamā/ ji wijaya ƞukweḥ
tri habaƞun ṗarastra
ø lawasiṅ bobot ṗinayu
øanag̈a nahut buntut sewu
samṗun ketuṅ la/.....
............
.... bale pañjaṅ pinayu
kabeḥ winiweka puṙwwakaniṅ kitri,
tila/sira saṅ samṗun ṗrasidḍa
//0 tlasiṅƞ amoṅ kalaƞun
ki surajayā kaliḥ ragasamaya,
hadan lakw asaḥ śakiṅ jĕbugwaƞi/
...............ntun
hanḋukap mahana lagya piṇḍa pṛgi,
duṙggaṇiṅ maṙga muṙwwa baya
ø /sigra lamṗaḥira hanḋa[la]ruṅ
ki surajaya tan ṗanaha priṅgalas.
wyaṙ tan ketuṅ tbĕṅne kaṅ maṙga ƞrit
ṗraptaƞ a....
.....ka dum ṗisan kilyan maṙma nuli,
kawƞen ḋuk ṗrapti guṇuṅ p[ptya]gat.
//0 /hana ḍukuḥ tuhalaƞu
haƞuhaṅ luraḥ puṇika,
kakaṅ sīnadja saṅ kaduṇuṅ
śurup hyaṅƞ aṙka wƞi
kadukap ḍawu pisan ṗi ro piṅ tlu
saksa/...
.....ƞgiḥ hadḋan ṗan akaṙyya
ø rahina tatas kawuwus.
ṣira saṅ nata/ koṇiƞaheṅ wacana,
sami mantuk ṣakweḥniṅ wraga mantri,
saḥ sakiṅ panataran lamṗaḥnya daruṅ
sigra prapti dahā tan wuwusṣĕn ma/....
........... ra
//0// pu haṙtati //0//
ki surajaya/ samṗun apamit
hadan mintaṙ haśṛṅ ta lamṗaḥhira
kemƞan cipta risṣaƞel
ketaṅ sariranipun
sĕwĕḥ deniƞ anutī bu/...
..........
....
g
ṅ
wikalṗa pulaṅ saƞāra,
haprawĕñca tan tuƞgal kaṙsaniṅ ha/ti,
kweḥniṅ jnaṇa praṗañca
ø pira lawasṣiƞ amoṅ karasmin
hanut lamṗaḥ datan wriƞ enaka,
ki surajaya cipta ...
.........
..... karasmin
hamoṅ menḋraniṅ ranaḥ
sakaṙsane tinut
budi lanā/ tinamtaman
haƞumbarā bañcana kaṅ denulati,
tapa brata rinusak.
//0 luwaṙ tansaḥ raga namun kapti
ketaṅ saṅ/....
......... karam
s kabeḥ
kag̈orawa kagug̈u
lwiṙ tanṗa tmaḥ rasaṇiƞ ati,
kayaka/ya maṅsula
ke¡taṅ nisṭinipun
lali yen luhe tumiba
mangrawayan tan ṗantya lantaran ṗipi,
hasamaṙ punaṅ maṙgga
ø cinaṅki/....
..............dawata,
lamṗusṣ adoḥ sinadyane
prapteṅ wilis kaduṇuṅ
tig̈aṅ/ canḋra lawasnya nuti,
śṛṅniṅ raga saṅśaya,
siṅ batura lawu
hamet ṣukani wṛdaya,
tan ṗoliḥ don keḥni wigraha ka/....
..........
ø hamwĕḥhī cañcalaniƞ ati,
sokaniṅ cipta baƞun saṅśaya,
makin tan kaṇḍĕ/g lamṗaḥhe
harine dyatan kantun
hamaksakĕn budi karismin
ṗrapta luraḥh urawan
kumuncup tan ṣurud.
prawateƞ aṣṭī ...
..............pt
marapi
tan mare karuruƞan.
//0 hanuwuki sakaṙsaniṅƞ ati,
wusṣ a/pralālu suka matiya,
jĕṅ warapuḥ tan karasa ƞel
ṗrapti guṇuṅ damaluṅ
kweḥniṅ desa kaṛp kaṗeriṅ
denṣṛṅ dene lumam/...
....... kapukuṙ,
... niṙ tanṗa kaṙyya
praṗti kupaṅ luwano tlas kawuri,
hapti wruḥheṅ samudra
//0 a/smu kepwan ragasamaya liṅ
layat mihat ṗriṅgaṇiṅkaṅ wana,
kakaṅ dḋi paraṇiƞ amet
sabḋa manira lĕsu
kaliḥ dina luput i bukti,/
..........ƞelan
ma
as c
pta layu
...ḷṅƞ apuwara hilaṅ
ḍuḥ kaṅƞ awak masa tan daḋiya dmi
haƞawula/ tan jawa
ø ragasamaya haƞasiḥ haśiḥ
ya ḍuḥ kakaṅku ki surajaya,
lamṗaḥhira kumaḷƞe
wyaṙ tanṗa naṙka kewuḥ/
........
n iƞ ap
i,
ṗama hi... n i slam
bisa ƞruṗak laku
halamat ṗamete glaṙ
hañjawurā paṇḍita/ dengawe picis
jinuwali malaka
//0 ritni wanaƞel taṇ ana waṇi,
haƞambahā kakaṅ dera para
tuhu sarira gi...
........ṙ...mewuḥ
tan kag̈iwaṅ ki surawaṇi,
hantaka maka dana
pranā maka tawuṙ
paripaksa pakani/ra,
lumamṗaḥ hanut ṗiṅgiriṅ wa hudaḋi,
rayinira kepyuḥhan.
//0 maṙma kaṇḍĕg lamṗaḥhira liƞgiḥ
madyani sela ƞuƞāṅ/...
...ĕ
ĕ.. ..pane ḷḷntreḥ,
madana hacumm aluru
dahat ḋeniṅ naraka ƞliḥ
tutug loṙ kidul weta/n
ḋeṇe tan katmu,
saƞ aśuṅ braṅtaṇiṅ mana
niṛ tan lamṗaḥ sumilib kaṅ deṇulati,
katawƞaṇuraga
ø ragasamaya hantĕnku kaki
ka/.....
....... amoṅ wirage
lṗās liṙ yayeƞ āñut
haƞulati hayu ta/n ṗoliḥ
winulik asnĕtan
binuru malayu
hadi goṇane katmuwa,
hmas maṇik miraḥ saṅ wkasiṅƞ ayu puṗuji
haƞapus ṗakaṇira/
.......ga nora kapaƞgiḥ
kinuraƞan ṗaƞan sa nora,
ƞoṅ pet iṅ samadya hawa/ke
lamṗus nora katmu
winahita rahina wƞi
masku maṅkiṇn ahewa,
manaḥku kabutuḥ
pinet kulon hana wetan
ṗi.... kapaƞgiḥ
manaḥkw amet hyay edan.
//0 ragasamayā mesĕm lumiriṅ
haḷp wi/jili sabḋa tinuna
swapa wikaṇa parane
kakaṅ manira tan wruḥ
hulatana riṅ kawiratin
wrulikn iṅ mudḋīta,
pagĕhaniṅƞ ayu
dentu/......na,
sa
deṇiṅƞ alaƞut ḋipunbawati
baliḥ praptaheṅ sira
ø taḍaḥ sawetniṅ bra/ta ƞu<la>ti
hapuwara maƞgiḥ kopaswaṙga
braṅta deṇira ƞulanṭe
ta gug̈on kaṛpeśun
hapuhara matiya ƞiƞkiṅ
liṅƞe ki su/....
.........tuhu,
........sani..ƞ apṛnaha
ƞo¡ṅƞ anurut ṗaƞeraṇniṅ sila yukti
ta moƞī/ tapa brata
//0 pira lawasira haƞg̈ĕṅ brati,
hamoṅ menḋrani cipta kasmaran
sapta canḋra mwaṅ lawase
lumaky amilaṅ guṇuṅ
riṅ/
maluṅ riṅ man...rag̈ni
guṇuṅ sumbiṅ śunḋara,
balaṅbaƞan samṗun
riṅ comboṅ ṛsi madana,
riṅ prabo/ta buraṅraṅ tlas kag̈ĕrit
ṗṛgaṇi guṇuṅ cṛman.
ø wus kalamṗaḥhan sakweḥniṅƞ āṙdi,
prapti śuṇḍa law√ wus kedĕ ...
........ ṗa maƞgiḥ riḥ
mayoṅ maṇḍĕga waluyu
hamriḥ hayu maƞkin ṣumilib
ṣwĕḥ kala duṙgama
saƞgo/ne katmu
hakweḥ sukṛtaniṅ lamṗaḥ
sinikiran wigraha dyuta ƞulati,
samantaraṇiṅ raga
//0 saya maƞetan lamṗaḥnya ha/...
...
.....ṗteṅ kadoƞan
ṣumaṛg ta karasa haƞe
lwiṙ wilalan tanṗweku
paksa barat ra/hina wƞi
lumaku maṙgajita,
harine yamuwus
ṗnĕtiṅ pada kaƞelan
huwusana lamṗaḥta kakaṅ surawaṇi,
duwĕg ta gu/....
...........n ka...ti....ṅśun kaki,
tamaƞun aywa hyaṅ hyaṅ pramriḥyan
hadini giri panṗen
laḥ ta/ nunut iṅ juṅkuṅ
surajaya mituhw iƞ ari
wus oliḥ panunutan
mintaṙ kaṅ parahu
tan koniƞaheṅƞ eṙṇnawa,
piraṅ wu/...
igra praṗta lmaḥbaṅ
//0 samṗun mĕntas ki śurajaya glis
kaƞliḥyan hanumṛmi pa/ƞabtan
raga<śa>maya rowaƞe
hamṛgil kaliḥ dalu
suka manaḥhira ki wasi
haparab rujaksela,
haƞamĕṅ satu....
..........ṇa,
aƞulati paṇḍita tuhu pra kawi,
sa wruḥ tatwani basa
//0 halalamban sa/bḋanya haƞukweḥ
ragasamaya namṗani sipta
ki rujaksela tame reḥ
hapuḍatan wru smu
tan katara tibaṇiṅ waṅsit
kaṅƞ a/....
boño, sabḋaṇipun
ṗaƞeran maṇira tanya
pira lawasira hamoṅ budḋi kara/smin
lumakw amaṙbwajita
ø rag̈asamaya namṗani waṅsip
mitrenira taṇ amaṙbwajita,
hamaṙgajita harane
pan tan ṗa/...
.......... wƞ
ni.. ...etra pabajaƞan
ṗṛnaḥhiṅƞ aturu
ki rujaksela waca/na,
pira holiḥhira desa haṅlamṗahi,
punaṅ tan ṗarimanaḥ
ø kweḥniṅ desa kaṅ sun lakoni
ye¡n ketaƞ a/...
masa hana kiraƞane
sami deniṅ kabutuḥ
haƞuniƞa weraṇiṅ bumi,
tan wruḥ ka/ƞ iƞulatan.
rujaksela muwus
ṗira hisiniṅ buwaṇa,
saṅ kasoƞaṇniƞ awa pajaṛn kami,
manira guruya....
... ki surajaya mesĕm lumiriṅ
ragasamaya dinukiƞ ulat
wri tiƞal maṙmanya gotek
tuhu/ kamuḍaṇisun
hamihaṙsa paraṅṇiṅ kawi,
haja pati turida
śwaraṇiṅ wulaƞun
kaṅ sinĕṅgw isiniṅ jagat
saṅka hulat saka wiweka ri/...
...............
//0 awaḷṙ dweniƞ amṛdi maniḥ
denira hānateṅ sini praja,
ñummana/ hĕnḋi rupane
buwana winḋu
rujaksela swara tan gisiṙ
tan adoḥ lawan sarira,
liṅṇiṅ praja pitu
hĕnḋi rupaniṅ wayaṅ
paƞuwu/...
.... kweḥniƞ ambara
ø na datan turida manḋureṅƞ ati
ragasamaya tinog iṅ/ paƞrasa,
rujakwatu panagihe
halamat ajalan rambut
ki śamaya prāyatneṅ siṅśiṙ
wruḥ panaṅkisiṅ sabḋa
pinet ḍapuripun
hawa/.....
hapan minaṅka liṅgaṇi kaṅ sapta bummi
tinog̈ ki rujaksela
ø hayo sinabḋa/ kaƞ awarusit
ḋudu tapa tan wruḥheƞ ambara
wkase hucapĕn maṅke
tumṗaṅtumṗaṅƞiƞ aṇuṅ
wasṗadane hanata sanḋi,
pa....
..........tan kĕneṅƞ ucap
hamet ṗinet haƞulatẗana ƞulati,
mewuḥ wruḥ heṅƞ utama
ø /rujaksela kawatgateṅ waṅsit
ragasamaya nĕmbuṅ wacana,
hajojolan tameṅ rame
śurajayapi tan wruḥ
paƞuwusan hano/ga ....
....nasan
ṗatakonaṇniṅśun
ṗunapa wastuni tiga,
kasaƞṣayan ṗun mitra wikana ri tri,
maṙ/gajita waraha
ø hakweḥ waṙṇnaniṅ tiga mṗĕki
sayakti maṅke hisiniṅ buwana,
bayu sabḋa hiḍĕp tĕsṣe
guruniṅ tiga duluṙ
satus tu/....
..........ga
panugalaṇipun
rujaksela kapĕṗĕsan
hataṅgal ṗrasitā hamṛdi/di waṅsit
liṙniṅ sabḋa rinasan.
//0 tuhu pratyaksa wiweka ƞiriṅ
pawarahira saṅ maṙgajita
wiwara tĕs ko mirage
tulu/...
.....lasaṇnira saṅ tami,
hĕnḋi paraṇniṅ sabḋa
kaṅ tan wruḥhan iṅsun
tamapi ṗaraṇiṅ sĕmbaḥ,
maṙmmaṇ/ iṅśun ṗuniki na riṅsun midĕr iṅ bummi
hniṅ kaƞ iƞulatẗan.
//0 ragasamaya budi kasilib
tunaṇniṅ sabḋa mṛdi paṅrasa
hapa....
ki surajaya muwus
kapi boñcaḥ saṅ ṣiṗta mijil
taha tan makanaha,
sawakyaṇi tan wruḥ
la/ḥ kakī hawasakna
lamon wikan mani kaky amumuri,
ri suṇ anuta lamṗaḥ
//0 wkasiṅ ṣabḋa denira hulati,
hapti wikana para/....
.............
tuhu mewĕḥ saṅ wiku
kapaƞgiḥhā kaṅ deṇulati,
maṙmaniƞ aƞolemṗra/ḥ,
tanṗa gug̈oṇ ḍukuḥ
puṇika ƞiƞulatan
hakĕmbulan wacana kateṅsun kaki,
kalawan ṗakanira
ø nadyan ṗiṅ sapta/...
..... guru maṅsa holiya,
kaṅ sinasayakĕn tose
hatuka guṇuṅ sewu
śumĕ/mbaḥhā nistayanika
wruḥha rupani rupa,
kaliṅƞaṇe hewuḥ
hagamṗaṅ denira sa <wi>kan i naya
swapa mulane¡ ragaṇira ki wa/...
.........ṇnana
//0 ulataṇna wukniṅƞ ati,
denapatitis ṗarani yoga,
hiḍĕp rin√/pĕk tan wineḥ
mariptahā ta sadu
sabḋa laƞgĕṅ bayu simṗĕṇniṅ
pri wtuniṅƞ ajñaṇa,
ragā hiḍĕp ṣuwuṅ
wruḥ yeṇn ana nwara
de.... lawan pra...wi,
øira kneṅ sa kocap.
//0 sinĕṅgy adoḥ bali laṇ iṅ kliṅ
lwiḥ doḥh/ iṅ sabḋa kamuksakan
ḋatan katon ṗaparahe
granā kalawan tutuk
tanṗa kliṙ hamĕṛpĕki,
hadoḥ ḋeniṅ wacana,
sipi ṗaṛ/...
...ra saṅ w
kan.... ...
,
saṅ sukla niṙmala wruḥ sariniṅ sari
yeku parani sĕmbaḥ
ø rujaksela ƞo/ƞ atakon kaki,
puna rupane sabḋaṇira,
kaṅƞ iƞ√capira kweḥhe
tamapi ṗṛnaḥhipun
ṗantĕs baya ƞrasani hniṅ
dwi katatwani/...
.........sun
ṗunapa ḍapuriṅ raga
maṙmmaniśun kĕneṅ suka duka ƞliḥ
pajaṛn ƞoṅ paƞeran/.
//0 rujaksela wruḥ riṅ nayapati,
tan do miweka puṗusiṅ jala,
sariniṅƞ anta ka pinet
maṙmanya rob tan ṣurud
a/...... wacana lwiḥ
tatwaṇiṅƞ adiḋrawa,
tuƞgal iṅ pamuwus
ṗun mitra hawas taṇn awas
manawi taṇn ado/ḥ lawaṇila putiḥ
talaṇni tawon tuƞgal.
ø punika patakoṇiṅsun kaki,
saƞ amaṙgajita mawaraḥha
gĕƞiṅ saƞṣa....
.......kisuṇ aṅruƞu
waṅsitirā saṅ śida lwiḥ
puṗusi gĕbaṅ tuƞgal
ḋiwaṅkara sewu
nila butuḥ ta/nṗa saṅkan
gubaṙ suwuṅ punapa saṅkane muni
hamṗĕki buwaṇa
//0 ki śurajaya namṗani wasit
horana pamgati wacana,/
.........kweḥ
wikan tan wruḥ katesun
ḋensatahun sabḋanĕn kaki
nisṗalaā koṇiṅƞaha,
mi/tranira puƞguṅ
punika twasi wirasa,
ṣaṅ kawasa mawat buwaṇā harusit
saṅ wruḥ glaṙ ñumana
ø wasṗada sikutiṅ pranata huri/...
.............. nora,
n tan iman wasṗadeƞ akweḥ
lagiman wruḥ riṅ tuhu
truya kamy awaṅsa nitya/ ƞliḥ
prapti yaktini jñana,
sa kahiḍĕp rawuḥ
kawasa raga prakamya,
sapṛnaḥhe tan tumut ḋuṙga sajati
yeku wkasiƞ ujaṙ
ø /.............. kak
tanṗa waṅsit mapan tanṗa waṙṇna
kaƞ awak tan wruḥ rupane
budi lagi muyuṅƞ
raṅ/ ṛp manĕmbaḥ byaktya ƞastuti,
rujaksela wacana,
ḍuḥ paƞeranriṅsun
sakṣat ahamaƞgiḥ mas miraḥ
hiya paƞeraṇ iku...
..........
//0 ki śurajaya gadgaḋa haƞliṅ
hasmu cĕḥ sinogateṅ sĕmbaḥ
pra/yatna soṙ paƞucapi
tan makana reḥnipun
ṗasaṅtabe pun ṣurawaṇi¡,
hyaṅ hyaṅ parani sĕmbaḥ
pati sṛṅ pukulun
samṗun a/...
........n maṙgajita mawiṣṭi
tan kag̈ĕm iṅ wṛdaya
//0 tulusakna śiḥhira kaki,/
pun rujaksela pinupu sanak
nawy awet laku ƞulanṭe
haƞuratyanana teṅsun
hanḋĕlepa hatura bukti
lamon ja/...
.............guru he kaki¡,
tan kariyā saparaniṅƞ aṅlamṗaḥhi,
manira lbuṙ tamṗak./
ø piṇḍo kaṙyya sabḋanira kaki,
hapan sirā yakti kakĕn sanak
nisapala yen tanṗa mule
pira sĕṅkĕriƞ ibu
saṅka/.... hadi
tuƞgal ka..ƞ amiseśa,
baḃaneḥ yen tan wruḥ
sakatoṇni ya raganta/,
laḥ kariya ki rujakwatu sun amit
hatoliya prawwata
//0 ki rujaksela kari mawiƞit
haṙsa tumuta para....
...... reḥhe
...ṙ
jita wruḥ
nawi katon hanaƞṣayani
pun i kakaṅ tinaha,
maṙ/mmaniƞ anḋaruṅ
ki wasi kari saƞṣaya
yeṇn agug̈oṇna sanā ki surawaṇi,
hadoḥha ri śun mara
//0 tan kawaṙṇnahā ri maṙ/...
.........ṇī wus ṗrapta
riƞ aṙdi miri len
ki ragasamaya muwus
ḋenapaƞgĕḥ rasaṇiṅ/ƞ ati,
kaka keraƞan ṗunapa
ṗĕpĕk gunaṇiṅ wruḥ
maṅke ta gug̈oṇni tapa,
ṗan wruḥ satĕlas ṗamantĕsiṅ śabḋa ganti
haƞiṅ ha/...
.........
saƞ akikin
tusṭani rāga kadya nupnaḥ
ki surajaya hujare
ya ḍuḥh mas mira/ḥhiśun
sabḋanira hayywa misani,
lwiṙ sitaṇiƞ awṛdaḥ
wruḥ śurupiṅ laku
laḥ yayi tulusakna
haṅlamṗaḥhī¡ denkadi saṅ gag̈aṅ/...
................
....ni pṛnaḥhaṇniƞ ataki taki,
samono deniṅ budḋi ṇuragan
saya/kti nora tiwase
lara lapa katmu,
ragasamayā haƞīṅ tan matiy,
apulaṅ lara wiraṅ
hasuśuṇn atimbuṇ
ḍuḥ kakaṅ hajĕṅ ƞuni...
..............
pṛnaḥhaniƞ aśramma
//0 anītihana sṛƞgani smĕṙti
hudaksina li/ƞgaṇiṅ patamṗan
rayiṇira ƞimbaƞa
met ṗaƞutiya sun
kaṅƞ alayarana raragi,
ri suṇ atataniya,
dinpunsami laku
hamintuhu ra/...
...........l
laṇiƞ ati,
sami lan rakaṇira
ø ki surajaya ƞada<ƞ>ga ƞiṅkis.
raragasama/yā sigra hatuṙ sĕmbaḥ
haṅraṅkul ṣuku wuwuse
poma depuntumulus
haje ƞeta saṅƞ aśuṅ braṅti,
maṙgahani kawasa,
paniṅsti laku/
...........
......rine dentoliḥ
kajahit ṗunaṅ daya
//0 maƞkana pamaṙnaniƞ amṛ/di,
ragasamaya wus ṗraptiƞ imbaṅƞ
āpisaḥ lawan kakaṅƞe
hamaƞgiḥ batuṙ śuwuṅ
wusnya pṛnaḥ tṛpiniṅƞ ati,
waluyane wacana,
śura/...
........gu
... ....
naraban batuṙre riṅ śunyagati,
tataƞgarini rupa
// / 0// puḥ mesalaƞit //0//
taƞeḥ kawaṙṇnaheṅ tutuṙ
parañcaṇanira saṅ kawi
sabḋa tuƞgal marupa ...
.....niṅ tal
kawi basa pinariñci
saṅsiptaṇira saṅ wruḥ
tkĕniƞ ataki taki/
ø hakweḥ sanake muditeṅ laku
lkase ki surawaṇi
hapan wus aneƞ ake
maƞka hajidaṙmma putus
ḋinuluran tapa brata
galu/...
trasna gĕṅ maka tatali
//0 sarira siṅṛṅ piniśu
saƞṣara hakuru/w akiṅ
hamiweka rehiƞ akweḥ
katuwon sariraṇiṅśun
haƞi taja kumapalaṅ
deṇisuṇn amriḥ kapatin
ƞoṅ buwaƞe satu/....
//0 satata ƞgati kayun
kapyuḥhan rasaṇiṅƞ ati
kweḥniṅ bañcaṇa rumawe/
sumurupi tṛsna lulut
ṣṛṅniṅ driya haƞelinawan
ṣumĕkiṅ daya pnuḥhi
rajaḥ tamaḥ haƞimuṙ
kala wisaya mĕgati
ø dramba/....
.............ƞisiṙ
pamuruṅ hi tapa waneḥ
pira kaskayaṇniṅ tutuṙ
talib ḋeṇi wi/nḋu cipta
sukṣma lalanamriḥ giƞṣiṙ
hanḋoḥhakĕn raḥhayu
hamaṛkakĕn tan. yukti
//0 haƞiṅ tuƞgal musuḥhipu .....
.......
.....niṅ
rira kabeḥ
sumurupiƞ ala hayu
hamriḥ śurudaṇiṅ lamṗaḥ
wasṗada/ ki surawaṇi
hatwĕḥk budi yalus
ḍaḍape yoga samadi
//0 bayu sabḋa hiḍĕp sinamun
rinupĕk ta buwaṇa lis
ṗuja brata/...
......... turu
mrakasa larani rag̈a
hamraḥ sidahaniṅ kapti
karasa niṣṭaṇipun
karata/n kataƞitaƞi
ø sinamun ṣaya kagug̈u
ṗolahe midĕṙr iṅ bumi
lakw ahaƞeliṙ tanṗa gawe
manaḥ lana saƞu wuyuṅ/
..ƞi sanḋi
ḷṅḷṅ pṛmmana lusuḥ
ki surajaya luḥ mijil.
//0 manaḥ/ rusak ṣṛṅ sinamun
rinupĕk wacaṇa gati
denipuk saya kacanṭel
midĕr aƞulari batuṙ
ki surajaya wacana
katuwon sari/....
... haƞoƞaḥhaƞiḥ
//0 pira lawasnya baḃa<tu>ṙ
hawyatara sa/pta saśi
habaƞun ṗatapan wriḥ wriḥ
tatarukan añaṙ tuṙhw alaƞut
bañjarañ cinaracara
riƞ anḋoṅ wahu haliliṙ
hamṗĕki ba...
ø ......na
kaja haduluṙ
sari roṇḍon ṣwiḥnya noƞi
sidatapa masa skaṙ/re
mĕṇḍuḥ cinabra tatmu
sinḋura ƞapit babahan
tutug bañjare paƞgi
lyan tan kañiridatu
śulasiḥ laṇ goṇḍaṅkasiḥ
cammara ƞu/....
....ƞgutaṛsi rumawe
drammaji habra śumunu
kañiƞaṙ lagya pada/ṗa
kacaṙyyan ki surawaṇi
miyanya sĕlyani batuṙ
tumkul. rasaṇiƞ ati
ø heṙpas wahu tinutun
jiṇalatuṇḍa marapit
hanu/....
............. walagyaha
jaladara tibra liwĕran
layat ṣṛṅṇiṅ pawaṇa lis./
hawawaṅson tumuḍun
riṅ juraṅ kadyamet siƞkiṙ
//0 ƞrikni sumipaṅṇiṅ batuṙ
priƞgaṇi paraṅ kawiƞkiṅ
tƞuḥniṅ cipta ma/...
hawantiwanti hamlasṣ aṙsa
colorok munya saƞgani
katisnan/. piṇḍanipun
mulat waṇiƞa kiƞkin.
ø rupane hanomm abagus
ki śurajaya lamṗahi
harusak. raga samaṅke
waṙ .........
.... rupa sarira,
kaya kasalir iƞ aƞin
lumaku riƞgariguṅ
saƞṣara hariƞkiṅ/riƞkiṅ
//0 tahuw ambuñcal amupus
iṅ bratā hakweḥ denlakoṇi
hakumm akakaḍaṙ lire
haƞloṅ swaṙwy anĕṛmbu
sinaṙwi/....
.... jaya satuwuḥ
lkase midĕṙr iṅ bumi
//0 amati ra/g̈a sinkuṅ
siṅ brata lkas wus keriṅ
panamun wisayarane
śurudḋaṇiṅ manaḥ camṗuṙ
siḍĕmmaniṅ dasenḋriya,
pakoliḥ taṇn ana/...
ø puṗujaṇira tan luśuḥ
suralaksaṇe samadi
samada/ mmakatejane
rahina wƞiṅ kumutug
pa harumm anilanila
saṅ tapa haƞel aƞliḥ
denṗriḥ patiyanipun
sinakitan rag̈a ṇi/....
hamriḥ hilaṅƞane kabeḥ
sawisayaṇe tan sadu
ḋa/samalaṇiṅ sarira
ki surajaya haƞukweḥ
wruḥ
rupaṇnipun
jatini raga kaṅ pinraḥ
//0 linagilagi tiṅ katmu
tig̈aṅ ......
.....tatan kĕṇe paƞan turu
hoṛg rasani sari wradaya,/
sarira kaknan titiṙ
wisayani nale pyuḥ
mahaḥ mahu
ḥ munyañjrit.
//0 gumiƞsiṙ ta kalakaṭuṅ
sukya lalana tṛsna śiḥ
ṣa/.....
................ḋuṙ
rapane kagilagila,
hana hambaṅ hana putiḥ
muṙ miƞgat lama/t. ñmut
hagihalaƞe ri
//0 ki surajaya lwiṙ tugu
g̈rana sikanira titiḥ
sarira hakweḥ pamtune
pĕ/.....
................
ri tawaṅ patiṅ blĕrik
hana halit hana haguṅ
tumuruṇ a/met ṗagiƞṣiṙ
//0 gĕṅṇiṅ bañcaṇa lumintu
tan tĕlag kag̈irigiri ḷwiḥ
pṛyatnane maƞke
ki surajaya tan keguḥ
laṅ/....
........ tan giƞṣiṙ
punaḥ tan ṗṛda muṙ
pan ḋeṇiƞ aywa maṛki
//0 wru/ḥ paja pajaṇni tamu
sṣa minak ripniṅ sanḋi
hajñaṇa hoywa mirage
pṛmmana moliḥ pinku
gṛayatna ki surajaya,
wika.......
........w
ṅ
haƞuluwuṅ tanṗa galiḥ
//0 rahina sada katmu,
taṇn anakasa prati/wi
hamnĕ tan kĕna pinet
buwaṇa niṙ tan katuduḥ
raga tan katon sakṣana,
maṙgaṇiṅ sukṣma humijil
haƞli saṙwwa haguyu
humnĕṅ ki surawa/...
................
.......ṗĕki
tan. tma pariyogahe
ḍuḥ śurajaya hanakisun
sa/mono denta kammaṇusan
raganta saḥhna khi
waṅsuḷn sakiƞ ibu
deneliṅ parane muliḥ
ø woṅƞ anom tame paƞawru/...
saṅ katon lan sa
ƞu
saṅ kocap lan siṅ kajñaṇa,
paƞawa/kiṅ tapa sakti
wru kite tata suku
jati wiseśaṇiṅƞ urip.
//0 maṙmmaṇiƞ alara wuyuṅ
kedanan ḋeṇiṅ pawestri
śilib lali/....
.....tan kapĕṗĕtan
ḋe nta ƞen bapa kasilib
maṙmane sala wtu
byapa/ra budḋi kagiƞṣiṙ
//0 denalon bapa riṅ la
saṅ wikw aja sala ƞgĕ
ṛgĕp ḋe nta hayo haƞel
ṗan kita wikana ri sun
ṗa..........
...nis ....
wa jati .... tuhu
kalaguṅ bapa nalibi
//0 kṣayakti ñu/mmanaṇipun
tawuḥ saƞ amriḥ kapantin
hakweḥ mule riƞ awake
muṙtine lupa tan ketuṅ
saṅ tataƞguƞakĕn kala
maṙmane tan wruḥ/...
.... karasm
n hawisa
ø
ḋe nta yo tan ke<ta>
hiƞt ayo la/li
mulanira hana keṇe
punika bapa den.ketuṅ
plĕṅ sarasaṇiṅƞ ora
de¡nkĕṇa dentarima ṗnĕ
sabḋa yo salaḥ wtu
śurada/....
...salina kita wṛti
kamy asu nugraha maṅke
hantakarana rahayu/
pusṗakaniranakiwwaṅ,
parabaṇnira sahakiṅ ƞniṅ
niṙmala maƞgiḥ hayu
sukṣma tatwa titi hniṅ
//0 samono pawaraḥhisu/...
............
...... śuwe
hyaṅ sukṣma tiƞgal ṗitutuṙ
sa tapa linya wacana
hatuṙ sĕmbaḥ/
ya ḍuḥ muṙtiniṅ śuwuṅ
tulusakna tikuṅ siḥ
//0 katisnan ṗacĕh aƞuƞun
hantakaraṇa mamaƞgiḥ
ciptane kadi paƞipen
haṛ .......
............karima,
samṗun ṣumare riƞ ati
śwaraniṅ kuwo mtu
nugrahaniṅ tapa sakti
ø hni/ƞakna rumuhun
saṅ tapa maƞgiḥ pawṛti
hayuniṅ wacana winalen
ragasamaya kawuwus
bawati hana riƞ imbaṅ
tatanmane hamukti/
... tutuwi
ø lumakuha datan ṗaƞuju
saḥ ṣakiṅ bañjaran iki
prapti maṙga la/mṗaḥhe
ragasamayā hanḋaruṅ
honiƞa lawas tan mara,
hasakĕp babaktan iki
tan kawaṙṇnaheƞnu
sigra lamṗaḥhira prapta/
..... kaṅ wahu aliƞgiḥ
sinuṅ sĕmbaḥ sabḋa mule
hantakarana hanusuṅ
laḥ ya/yi hamarantiya,
ragasamaya haliƞgiḥ
hasmu haṙsa tame hyan
takarana wisṭi
//0 ḍuḥ bagya kitariniśun.
deṇi/....
.....ƞ iśun maƞke
ḍataṅta kadya nĕnmu,
saksat katurunan ṗirak
raka/nirā walaƞ ati
hḋi pranaḥhiƞ aḍukuḥ
manawa hadoḥ, sakiṅƞ i riki
ø nḋataṇn adoḥ ḍukuḥ riṅ sun
maṙmane ta.....
..........ṇi.. gawe
pun yayi kakaƞ asadu,
hantakarana ...
na,
kaṙyyanta kaki krammaniṅ ba/ḃatuṙ
kaṙyya panalimuṙ budḋi
//0 saṅ tapa wahu haśug̈uḥ
jaƞan kulub kamañja ri
poṗogiṅ makaḍahare
tan kari/...
.......
tan
tan wruḥ rasaṇiṅ raragi
kasiyan ragaṇipun
niṙ tanṗa mtuṇiƞ urip
hawya/tara tƞaḥ tahun
la<wa>se yātape wukiṙ
nastapa haṗuwaraƞel
saṅsara hapulaƞ āwu
manis manise taṇ ilaƞ
anawaƞ āṙju/....
ṣuk
jatmika ƞanḋĕli
//0 wƞi paƞucapṗaṇiśun
hya prabaƞkara sumili/b
ṗtĕṅ masaniƞ akule
surup tejaṇiṅ kakayu
tṛsna paksani kartika,
saptami masaṇiṅ marati
hantakaranā hamuwus
laḥ/.....
.....gasamayā hariniśun
ƞo waraḥ waraḥ ta kita yayi
mu parabiśun maƞke/
hantakaranaraṇisun
ki surajaya tiniƞgal
ḋrawali watĕk ṗawes.tri
tanṣaḥ bañcaṇa teśun
haparab ki surawani
....l i nugraha kaki
hantukiƞ amaṙna ḍewek
hamṛda parab katesun
saṅkana/ṇe bawatiya
śamono deṇiƞ awiƞit
lawasiƞ āḍukuḥ
ciptaku haƞuƞaḥhaƞiḥ
//0 ragasamayā hariniśuṇ
ḍataṅta/...
........ maƞke
ḍuḥ yayi kalawaṇ iṅśun
ṗupuƞĕn rarakaṇira
tan ṗaramane/ śun kaki
weniƞ amaƞun ayu
gĕg̈nĕpā riśun muliḥ
ø kakaṅ di paraṇira mantuk
ṗajaṛn katesun kaki
taṇn ana sinajya ṛke/
waraḥhira saṅ paƞeran
jati taṇn ana kahiṣṭi
ṗaṇn ana saṅƞ atuduḥ
glarira saṅ ka/rihin.
ø seƞī pamĕmĕkasiśun
ṗat waraḥhira saṅ kawi
natarira sa tame reḥ
sira saṅ samṗun anmu,
warahyaṅ tan kĕ/...
............ma rusit
maṙgaṇiƞ ametẗ ayu
beneḥ yayi ta.. ..i
ø maṙgaṇni suka katmu
sari/ra pinatipati
satata ƞmasi luwe
ramene lamon katmu
sira sa jatiṇiṅ suka,
ragasamayā haƞukweḥ
swarane ka ......
........maƞgiḥ
//0 taṇn ana goṇe katmu,
salawasi...
lati
hamet ƞoṅ, data/n ṗoly amet
raganta yayi witipun
hawaraḥ ka winarahan
sarirā witira sanḋi
lakyaṇi si ramihin
giƞṣiṛn kalanta kaki
//0 /............
sanono de, ta tanĕm
masa liwata saṇḍaƞe
najyana brata haguƞ
āƞukiya/ kasugiḥyan
tan katĕkan ṗan wus.wṛti
sawisayaṇni jabuṅ
sahna prihĕn ṗateni
//0 gaṙjita wṛdayaṇipun
rag̈asamaya napa/...
........denṗutus
hantakarana wacaṇa,
tuƞgal. ragaṇira kaki
haƞīṅ du/ru katmu
ronsi linagilagi
ø mewĕḥ saṅƞ amaƞgiḥ sinu
katmuwaṇ iƞ awas
ṣariniṅ manon taglen
sa katon lan saṅ/....
gat
rag̈anta parane muliḥ
nirakna ta puniku
saṅ taƞgal ṛgĕpiƞ ati
ø ra/ga n tan. kna winastu
tiga taṇn ana kahisṭi
lamon wruḥ pamugĕrane
prasidḋa maƞgiḥ hayu
ragasamaya riniwwaṅ
puṇika ḍari......
....... .....
kawaspada parane muliḥ
//0 aƞel. yen ḋuruṅ katmu
maṇḍĕga ri babad ya/si
twan sipi guƞe bedane
bañcanaṇipuṇ atambun
ri ƞaṛp lawaṇ aƞaḍaṅ
kapuƞkuṙraṇa marapit
ṗira yatnahanipun
kweḥ musuḥ/ .....
............luṙ
haguṅ balane tan anti
ruwatuṇi bañcana kabeḥ
sakamakama suma/wuṙ
porakaṇi kalanya śuña
kaka tan siƞkiṙ tan ṗoliḥ
dalu deṇika buru
wus kaṣusaṅ kajumṗalik
maṅko ta sarirani/...
..... don ka wiƞi baƞiwen
ḋeṇiƞ alaku tan sadu
kaganaleh amukti paṗa
gĕ/ ri sarira kaṗalis
tuhu kaṗalayw aku
donḋoṇanira saṅkari
ø ragasamaya hamuwus
kakaṅ ta saṅ śida jati
kasaksana/.....
............. pun hanuhu
tumukule kawawaṅƞan
ṣwapa weḥ dukaṇiƞ ati
hapan witiƞ ala/ hayu
sarira juga mupusiṅƞ
āyu nutuṙ puṇiku
hapuwara //0 hado manaḥ,
sarira yen saṅƞarane
balikan ḋepuntu....
..........
hantakarana maƞkya kis
tuƞgal wacana
śun
laḥ kaky atanṗa sapṭik.
//0 sa/pṭik sakaṇī ni wuduṅƞ
akikin
makana saṅƞ amaƞgiḥ reḥ
ruḥ paraniƞ ala hayu
sapṭik sakaṇi lṗas
nadyan oliha roṅ/...
............
yen tan wruḥ parane muliḥ
ø pacĕḥ dayaṇiƞ aruƞu
waja rasaniƞ ati
ta/n ketaṅ tanĕm tuwuḥhe
tan ketaṅ laṇiṅ batuṙ
ragasamayā hamihaṙsa
wuwuse śidajati
kasmarañ ciptaṇipun
make ta/....
............ tatas kawuwus
hyaṅ sidwa kiranā mijil
saṅ tapa hasuci maƞke
hatiṙ/ta ri samṗunya rarap
hanambut sapwa mumuja,
kumutug̈ kaṅ samidā mrik
hadan arupĕt bayu
sabḋa hiḍĕp ṗinatitis./
............nipun
tĕlas ḋeṇira puṇnagi
hantakaranā lamṗaḥhe
hamaƞun saṅ/saya wuyuṅ
kapaƞgiḥ kaƞ iƞulatan
saṅƞ asuṅ brataṇniṅƞ ati
ragasamaya tumut
sakṣanā ƞukweḥ pamanḋi
ø a............
......praptani kapatin
ragasamaya paksane
tumuture kakaƞipun
sam ṗrasida wi/naraḥ
ki yantakaranā misik
samṗun kagraha riƞ ati
//0 hawyatara sapta dalu
lawase hamriḥ kapatin
lila niṙmmala/...
........... paƞawruḥ
holiḥhiṅƞ atapa brata
pinisaḥ taṇn ana kari
hni lila niṙwastu
pumu/ruṅ deṇati yati
ø uwus amatitis ṗunaṅ hya
kumañcup daḋanṗa cantri
denarahara pane
tan saṣaṙ tĕmṗuḥhiṅ kayun
ḋaṙma/.......
......dohakĕn kapti
suwuṅ taṇn ana ketuṅ
wṛdaya liṙ kadi manik.
//0 pĕ/ṗĕtẗa galihiṅ kakaṅ
wuluḥ wuwaṅ praṗta kami
rasaṇiṅ raga taṇn aƞel
haḍaƞan liṙ kadi pusuḥ
tlasṣiṅ yoga pinunaḥ
taṇn a/.....
..............wa muwus
heḥ rag̈asamaya kari
ø kakaṅƞ antinĕ <ka>te sun
laḥ yayi/ depuṇnapṛgi¡,
rag̈asamaya kasawen
tṛsne kadḋaṅ wṛgaṇnipun
ṗrapañca kweḥ ka koṇiƞa,
sawisayaniƞ ahurip.
.........
....... ranhi
//0 abyatniṅ manaḥ kalun
ṙ
pan lagya maṅƞakĕn waṅsit
ẗan wruḥ glaṙ ñuma/nane
ragasamaya liƞipun
manira nora kawasa,
śarira gupeƞ haƞliḥ
tan wruḥ maṙgahaniśun
laḥ kita kariya sakti
//0 /...........
......ṗaḥhira saƞ aƞta lit.
tlas ṗrasida lakune
kadukāparani laku
taṇn ana/ni saṙga katwaḥ
luwuti rahina wƞi
niṙ śunyaṇipun
ñamut ḋatan kĕnaƞ aṣṭi
ø bina śunya piṗitu
lamṗaḥhe sa śida ja/...
...............ne
niṙmala taya kapuƞkuṙ
riṅ śunya taya kahaṙsa,
riṅ śunya jati kaperiṅ
tlĕ/ paraṇniṅ laku
datan. kneṅƞ ucap manaḥ
ø arine kari yawuyuṅ
samṗuya hatuṙ paƞabakti
lumaku haƞade/....
............pun
hasapajara yen luƞa,
hasala he batuṙ niki
hawaraḥ saṙwy asaṣa/du
taẗagane haƞecaṇi
//0 hniƞakna rumuhun
rag̈asamaya gĕṅ braṅti
samṗun ṣumiwiṅ batuṙre
saṅ pṛsida kṛ ....
.....cana,
wuwus ni tejasari
haƞgĕṅ braṅtaƞ āƞuru
kasiḥhe taṇn ana lyan kahiṣṭi
ø /haƞṛƞĕ paśraṇiṅ wuwus
ki śurajayā wus laliś
ri pamriḥyan himbaṅ kilen
ṗranaḥhe maśiḥ paṅlaku
ni teja<śa>ri hamihaṙsa,/
......... piṗi,
sambatira mlas ayun
haƞatiya yen sira haśiḥ
//0 muƞgaḥ riṅ pataro/ṇnipun
kajaṅ siraḥ dḋenṣukĕmi,
luḥ mijil adṛs tan ṗante
tibraṇiṅ lara saguṇuṅ
polaḥhe saƞṣaya ketaṅ
tan sipi/....
.............
ƞ atini cipta maṙgaṇniṅ pati
//0 kadyana śabḋa karuƞu
sabḋa tan mantra ƞuku/li
hakwen muliḥheṅƞ awake
øi tejasari wkanku
samono de nta kamanusan
gĕnĕp ta ṗunaginta
øn aƞ√si swaṙganta/.....
.............ḋari
//0 haƞṛƞĕ panḋaṇniṅ wuwus
makin taṇn ana katoliḥ
tan tṛsna yayebu ma/ƞke
sakṣana hadan ṗamuhun
ṣwara lwiṙ manisi kilaṅ
pamite ṇi tejasari
hatuṙ sĕmbaḥ linyarum
bapa taẗaƞiya kari
ø .........yakaruƞu
da..mmakawy aliṅ tanya ris
tan sipi
ni ...ejasari mas miraḥhiśun
hĕ/nḋi paraṇira cala,
tanṗaweḥ ramanta nini
sajalwestri haƞipuk
ṗan alawas ḋenawiƞit
manawi luƞa hasuṅsut
ci/...tane ki daṙmmakawi
tan wruḥ larane ṇ
yen tibra damesa lamṗus
hucap ni tejaskaṙ
mareṅ jro wi/sma hakuñca
hahinba talutub
samṗuṇ amasṭi kasisig.
haglis kawaṙṇnaheṅ laku
sira saƞ amriḥ kĕpatin
<ki daṙ>ma kawi kemuṙ ta/...se
katu....
....ƞinum
ṣadina tansa ḍatƞĕn
tri
uṙywa luput i nasi
ni tejasari layu
lolya/ni cipta gumtĕṙ
ø tlas ḋenira hĕƞituṅ
pārakuti pati hurip
ḋewatani rag̈a kabeḥ
muwaḥ jabā dalmipun
ṗṛ/..............
pṛmana samṗun ḋiṇasil
hamura maṙga lamṗus
mi jiwa raga kari
ø kĕktĕg sa/samṗuṇn asamun
ṣaḥ sakiṅ rag̈a hasṗi
layone kari sumare
ḷyĕpi metra lwiṙ madu
keƞisi waja lwiṙ gu....
........we sari
padma hawnis aluru
lwiṙ padapa ṗinet latri
//0 pṛpta waṙsa śit ṣumĕmbuṙ
wi/not i maruta ris.
mrikṛ swarane tan ṗanten
sabḋa tuƞga piṅ tlu,
hanaƞis. yen kadi woƞa
patine ni/ te
,
tedḋa ṛbaḥ kumĕṇḍuṅ
pṛḃawaṇira saṅ muliḥ
ø ki daṙmakawy aparimut
gadgaḋa wṛdaya niki
hĕ/ntiṅ larane hatine
taƞisirā sapajalwestri sigra tulu
sawane denkuswakuswa
ṗaran poliḥhiṅ nini
tanṗa/ sakan masiśun
hatiƞgal brataṇiṅƞ ati
ø ḍatan kadaṅ wṛg̈aṇnipun
humuṅ swaraniƞ anaƞis
halara da/meƞ arine
ki skaṙsara liƞipun
hamaƞu
kas
t..pan
sṛgani pṛwwata sṗi
tan ṗahiƞan tĕsipun
ṗatine ri sa/.......ni
ø taƞeḥha kawaṙṇnaha laku
larane ki daṙmmakawi
samṗun ...ineseka maƞke
la/yonera saƞ ahayu
sapaṗalini palastra
pagalaƞan wusumiji
lanastare kaki samṗun
gumṗaḥ swarani taƞi...
...u....ni... rag̈a kawuwus
ṣarira
bat aƞliḥ
lakwa haloṇn aƞa... hade
ḷƞĕni tṛsna la/nḋulu
kalaƞni jaṇapada,
kasmaraṇ ni tejasari
gas
mṗaḥnya daruṅ
mantuk waluya śulastri
ø saṅ śupraba tuñjuṅbiru
sa/...... ni hyaṅhyaṅ tansari
sa...nḋra tusṭa mamahe
karunatisaya nusuṅ
śa kuranta mawancana,
kakaṅku saṅ tu/ñjuṅputiḥ
bagya ta mita yen rawuḥ
pari puṙṇna ....kitri
ø saṅ lambemnur anusuṅ
gag̈aṙmayaṅ tan kari
saṅ nilotama/ rowaƞe
lyan ta saṅ ḷṅḷṅmaṇḋanu,
kale saṙ wwara menaka,
prabasiny ator aśiḥ
kamayaƞan./ yen rawuḥ
hantĕnku saṅ tuñjuṅputiḥ
//0 hana tapsari haƞību
sumuṅsuṅƞa ri saṅ praptiṅ
hadan ṗayas lumakw age
hasaśampuṙ ha/....
mĕṅgĕp asiñjaṅ wawara,
haƞg... sayaṇnipun
ṗi lumaku miƞgamiƞguḥ
hilehilene ta/n inti
ø wusnya sĕśṛbĕṅ kucubuṅ
widane hapu lan kuniṙ
hasuśumṗiṅ padma piƞe
hawiraga luṅƞi gaḍuṅ
hasipat bot la.....,
.....ros gatraṇiṅ piṗi
papantĕṇe taṇ.....u..ud
lumaku haƞumikumik.
//0 hali/mbeyan ṛnjaḥ punjuḥ
hamolaḥhakĕn ṗanṣiha
kol asekol ṗoholaḥhe
milupra hiƞ apet iƞduḥ
lumaku ha/....kaḥhikaḥ
mesĕm sakweḥniṅ tapsari
prapta he sa śiṇu.....
ramya wijaḥ hamĕkul ṣiḥ
ø hamwĕḥhī/ suka katmu,
sakenḋran hanodtani
samṗun biniseka rame
kinulawisudeƞ ayu
rinuwat iƞ gaga tiṙẗa,
ya paka ri kuṇḍi mani/....
temanaḥ hayu
datan kawaṙṇnaha manaḥ
//0 rag̈asamaya winuwus
ḋenira ƞuƞṣi kapatin.
ha/mriḥ sidaniṅ gawe
tumuturiṅ kakaṅƞipun
ƞi hama katkana,
gƞiṅ saƞaraṇiṅ bummi
mapan samṗun tiṇuduḥ
gĕlaṙ reṅ tiga/ .....
....tasi byatya kalaƞon
tikĕl taṇah iƞ aƞgarit
ki surawaṇa wri rame
harañcana haƞa/pus laƞut
kasmaran brati wikalpa,
salawasiƞ alamṗaḥhi
kataman trasna lulut
sinamuṇn i do wiṣṭi
ø karanaṇniƞ aƞapus
kalaƞniṅ wṛdaya mriḥ
saṅ sipta kweḥ pamtune
hahaƞi tan hana ṇiṅ laku
winawa riṅ soƞaṙ gawa
rane saṅ ƞudi karasmi/n
jumawa gawe guyu
wañceni de sa pra kawi
//0 dĕg̈niṅ dwapara winaƞun
hatakarana girit
haṙtinĕn jaba dalme
hisi/ni gitā tatĕlu
lanaṅ roro wadon tugal
kaƞ araṇitejasari
śurajaya kaṅ ketuṅ
raga g̈inupi/
//0 hantakaranaṇipun
kapi ṙwaṇira winĕṙtri
wira
nĕn wirasane
datadi lamoṇn ana wruḥ
sira kapw ana maca,
kaƞ aripta/ deṇe ....ib
mama mayoṅ kabutuḥ
hupaswaṙga duruṅ wya kawi
ø
las ḋiwasani laƞu
paguywaniƞ añamṗa/hi
sabḋa taṇ ana tlage
øadyan oliḥya sa
kul
halusa roṇiṅ siwalan
tatan an wigālan iki
wṛdaḥ bañcaṇa pnuḥ
saṅƞu/.......
ø sukalapaksa niƞ eka rum
kaṙtikaṅ wu
manahil.
dite manis was tujoniṅ
śri haṣṭawa/raṇiṅ wuku
catuṙwara nuju jaya,
kawusaṇniṅƞ aƞgarit
kapayuheṅ saṅ putus.
roṇi raṙrwa nom kumawi
ø itiḥ śurajaya .......
..........
hantakarana wkase
hamṛdi hantuk ṗa
ke
ri tlasira cinitra,
ri wijyatcala hasṗa
śu/saḥ taṅ prawwata muṙ
ḷƞkara maṅkya ri bumi
ø mintaṇe alawas ṣuwuṅ
sinukṛwa golaḥ niki
denira saṅ tame kyati
sarat ṗṛwwana m
ri/............ṇurat
haƞimuṙ budḋi karasmin
maṙmanya gugon. ḍukuḥ
haƞīpuk brataṇiƞ ati
//0 tataruk/an goṇya nusup
hasṗi taṇn ana kamṗiṙ
norana śudiƞ awake
lagya tatarub sawuwuṙ
saśakane kayu jarak
hatĕpe ro/ni ...riƞin
.......ya denyahalus
habcik. lwiṙ sirap adḋi
ø tiƞkaḥhe kadi tan luhu
hanom tan. dṛman lamṗa/ḥi
kneṅ guna bisa ṛke
hujarira saṅƞ amu
siptakna g̈raha
pjaḥ mati hurip maniṅ
karane hanjĕmuṙ
winĕntaṙrakn iṅ kawi
ø wikana ṇira/ saṅ kambaḥ
ha
..... yen mati
tĕtĕƞĕre heliṅ ṛke
hanurat hantuk saśuru
cinacaḥ haneṅ wa/wacan
siptanira saṅƞ anulis
ḋuk alumaku wwaṅ biƞuṅ
mako sudamala
niṙ hilaṅ g̈mut ṗa lamṗus
niṙmala cipta mahniṅ
kawa.....
..........
.........
.....kakne waniṙ di
sakti mantra te laku
sumi/we he wanakaṙti
rañcana kawy alumbu
rukal mareja gyan iki
dianggap manis gula
kelapa yang dibuat gula cair
manisnya seperti "kilang"
tiba-tiba jatuh sehingga tumpah di bunga
pikiran (...?)
dianggap mungkin manis.
Tanpa ujung kata-kata itu,
terkenal, sudah dikuasai
oleh dia yang menemukan sebabnya
tercampur pada roman muka dan tawa
jika saja sama-sama tahu
sengsara sudah dari dahulu.
Tidaklah sulit bagi dia yang sudah menemukan
terbentang pada perbuatan baik
//0// Sudah selesai, disalin di lereng gunung Kanisṭa, sisi timur laut, lereng Cemarajajar (...?) diselesaikan dalam menulisnya pada hari Senin Pon, wuku Maktal, hastawara: Yama, nawawara: Kerangan, sadwara: Paniron, caturwara: Sri, triwara: Byantara. Wuku dalem: Soma Kaliwon, Wuye, itulah lamanya menulis. Aksaranya besar kecil, tidak rata, renggang rapat, membentur, menusuk, mencakar, menendang, memengkal, menghujam- tidak teratur seperti bekas cangkul, tidak mengikuti aturan sastra, seperti be ...